Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Cemburu Diam-diam


__ADS_3

Mereka duduk di depan meja makan yang berukuran cukup besar dan Seno dengan telaten menyajikan minum untuk tuan Kaiden dan Olivia saat itu.


"Silahkan di minum dulu." Ucap Seno begitu ramah menyambut tamu, padahal sebelumnya dia membentak tuan Kaiden karena dia pikir hanya tuan Kaiden saja yang datang menemui dirinya, tapi sejak dia tahu bahwa ada Olivia juga, dia pun langsung mengubah ekspresi wajahnya yang tadi kesal menjadi lebih ramah dan bersahabat.


"Ada apa kalian datang kemari, apa kalian mau mengunjungi rumah baruku?" Tanya Seno saat itu yang langsung mendapatkan ultimatum dari tuan Kaiden karena dengan penuh percaya dirinya Seno mengaku bahwa rumah itu miliknya.


"Heh, jangan sekali-kali kau mengaku rumah ini milikmu, ini rumah ibuku dan masih menjadi milikku, seenaknya saja menumpang malah mau mengakui!" Bentak tuan Kaiden sangat kencang dan tatapan mata yang begitu tajam.


Membuat Seno langsung menelan salivanya susah payah sebab kaget melihat emosi tuan Kaiden yang ternyata bisa juga membentak dia seperti itu di depan istri kecilnya sendiri, dengan cepat Seno meminta maaf dengannya dan mengatakan bahwa semua itu hanyalah bercandaan darinya saja.


"Ahaha..ayolah kakak ku tercinta, aku kan hanya bercanda saja, lagipula semua ini masih atas nama dirimu, apa yang perlu kau khawatir, aku juga tidak akan merebut apapun yang menjadi milikmu, aku kan hanya menumpang sementara saja, terimakasih kau sudah mau menerimaku tinggal disini." Balas Seno sembari tersenyum lebar untuk menutupi kegugupannya bicara santai dengan tuan Kaiden yang selalu bersikap serius dan bicara sangat formal selama ini.


Sedangkan Olivia sendiri masih menatap kebingungan ke arah kedua pria yang berdebat di sampingnya kala itu, langsung saja Olivia menghentikan perdebatan diantara kedua orang itu sebelum semuanya akan semakin runyam.


"Aishh sudah sudah kalian ini hal seperti itu saja masih dipermasalahkan, tuan kenapa kau tidak memberitahu aku kalau ternyata Seno pindah kemari, tapi Seno kenapa juga kau pindah kesini, memangnya kau tidak punya rumah?" Ucap Olivia menghentikan suasana canggung diantara kedua orang yang sama-sama keras kepala tersebut.


Tuan Kaiden langsung memalingkan pandangannya ke samping sekaligus berdecak pelan sedangkan Seno dengan cepat menjelaskan alasannya pindah ke tempat itu pada Olivia. "Aahh begini sebenarnya aku tinggal di apartemen sebelumnya, tapi karena perusahaan ku mengalami sedikit kegagalan dalam proyek yang mengakibatkan kerugian besar, jadi aku terpaksa menjualnya untuk tetap mempertahankan perusahaan milikku, jadi sekarang aku tidak punya tempat tinggal dan tidak mungkin bagiku jika tinggal di kantor seterusnya, jadi ayah menyarankan agar aku tinggal dengan kakakku sebab dia tahu jika mension kak Kaiden cukup besar, yang akhirnya aku tinggal disini sebab Kaka Kaiden hanya mengijinkan aku tinggal terpisah dengannya." Balas Seno menjelaskan semua yang terjadi dengan begitu detail dan rinci kepada Olivia saat itu.


Mendengar cerita dari Seno, membuat Olivia merasa kasihan kepadanya dia pun mulai penasaran dengan apa yang membuat bisnis Seno bisa sampai gagal seper itu.


"Hmm begitu ya, tapi kenapa bisnismu bisa gagal begitu, harusnya kamu kan sudah meriksa semuanya dengan teliti dan sudah merencanakan semua pembangunan proyek seperti itu dari jauh-jauh hari, sehingga tentunya kamu akan tahu bagaimana kondisi disana sebenarnya, iya kan?" Balas Olivia kepada Seno yang membuat tuan Kaiden mulai kesal sebab dia merasa emosi karena istrinya tersebut nampak begitu akrab dengan adik tirinya yang sangat dia benci itu.


Langsung saja tuan Kaiden menarik kursi yang di duduki oleh Olivia agar lebih mendekat ke sampingnya dan tuan Kaiden merangkul gadis kecil itu, membuat Olivia yang tengah bicara serius dengan Seno menjadi salah fokus dan kini dia mulai menatap ke arah tuan Kaiden yang ada di sampingnya, dengan kedua alis yang dia naikkan dengan kuat. "Ehh, tuan apa yang kau lakukan, kenapa kau malah merangkul pundakku, ada apa denganmu?" Tanya Olivia kebingungan dibuatnya.


Dengan santai tuan Kaiden menjawabnya asal.


"Apa? Aku hanya merangkul istriku sendiri memangnya kenapa? Apa kau keberatan?" Balas tuan Kaiden balik bertanya.

__ADS_1


Dengan cepat Olivia langsung melepaskan tangan tuan Kaiden yang merangkul pundaknya saat itu sembari menjawab tuan Kaiden bahwa dia memang sangat keberatan disaat tuan Kaiden merangkul dirinya dan terus saja mendekatkan dia dengan dirinya.


"Keberatan, aku bahkan sangat sangat keberatan sekali, apa kau tidak lihat disini aku sedang bicara dengan adikmu, kau malah menggeser kursi yang aku duduki seenaknya dan malah merangkul aku seperti ini, membuat aku merasa tidak nyaman dan sangat kesulitan dibuatnya. Jadi lepaskan tanganmu itu!" Balas Olivia kepada tuan Kaiden sambil menatap sinis dengan menggeser lagi kursi yang dia duduki dan kembali fokus bertanya kepada Seno, karena dia sangat penasaran. Sedangkan tuan Kaiden malah kembali cemberut dan dia terus saja menatap tajam ke arah Seno, merasa dendam dan kesal dengannya karena dia sudah membuat istri kecilnya itu mengabaikan dirinya sendiri.


"Seno ayo jawab pertanyaan dariku tadi, jangan pedulikan tuan Kaiden, dia memang sangat menyebalkan." Ujar Olivia yang semakin membuat tuan Kaiden naik pitam bahkan sampai membelalakkan matanya sangat lebar dan langsung saja mendengus kesal.


"Aishh..bisa bisanya dia bicara seperti itu tentangku di hadapan adik tiriku sendiri, apa dia sedang menguji kesabaranku atau bagaimana?" Bati tuan Kaiden menahan kekesalan saat itu. Sedangkan Seno justru merasa senang karena dia pikir ini kesempatan yang luar biasa agar dia bisa mendekati Olivia, karena sebelumnya sulit sekali untuk dia dekat dengan Olivia jiga menggunakan cara yang dia lakukan dengan sengaja.


"Hmm begini nona Olivia, awalnya aku pikir tanah di pegunungan itu akan bagus karena tempatnya juga nampak strategis untuk di bangun villa indah, sebab ada banyak pengunjung dari luar dan dalam negeri yang berkunjung kesana dan mereka sempat kesulitan mencari tempat beristirahat atau untuk menginap di sekitar sana, jadi aku memutuskan untuk berinvestasi bagi tempat wisata itu, dengan membangun villa indah yang bisa menjadi tempat beristirahat para wisatawan yang datang dari tempat yang jauh, sayangnya aku salah dalam memperkirakan tanah yang bagus, jadi kemarin saat pembangunan baru saja hendak dilakukan dan semuanya sudah lima puluh persen, tiba-tiba saja tanahnya ambles, aku jadi rugi karena semu bangunan rusak dan terbawa tanah ambles tersebut." Jelas Seno kepada Olivia yang berhasil membangunkan rasa empati pada diri gadis kecil tersebut.


Gadis kecil itu benar-benar merasa kasihan atas kejadian yang menimpa Seno, hingga membuat pria malang itu kehilangan rumahnya sendiri, semuanya dia lakukan untuk menyetabilkan perusahaan termasuk menyelamatkan gaji para karyawannya yang suda terlanjur bekerja keras dalam proyek tersebut, Olivia bisa memahami kesulitan yang dirasakan oleh Seno, itulah kenapa dia merasa iba dengannya.


"Oh begitu ya, kenapa kamu kasihan sekali sih, sayangnya aku tidak bisa membantu apapun untukmu, aku tidak punya uang banyak dan tidak tahu apapun tentang pembangunan proyek, tapi aku percaya kamu pasti bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi ini, kamu hanya perlu memulainya kembali dengan penuh keberanian, aku akan mendukungmu." Ucap Olivia sambil terus saja tersenyum lebar dan memberikan semangat tinggi dengannya, Seno juga merasa senang dan dia langsung mengangguk pada Olivia yang telah perduli dengan kondisi dirinya.


"Terimakasih kamu orang pertama yang tetap mendukungku dan memberikan semangat kepadaku, disaat aku dalam kondisi sulit seperti ini." Balas Seno sambil tersenyum senang, itu membuat tuan Kaiden semakin tida senang dan dia terus saja menarik tangan Olivia untuk membawanya pergi dari sana secepatnya.


Membuat Olivia sama sekali tida ada kesempatan untuk berontak apalagi menahannya sehingga dia hanya bisa mengikuti tuan Kaiden walau terus berteriak berpamitan dengan Seno. " Aduduh...tuan lepaskan tanganku, tuan lepaskan! Kenapa kau kasar sekali sih?" Bentak Olivia sambil menghempaskan tangan tuan Kaiden saat mereka baru saja sampai di mension tuan Kaiden.


Dengan wajah yang masih kesal tuan Kaiden berkacak pinggang menatap tajam dengan menyipitkan matanya dan terus mendesak tubuh Olivia hingga gadis itu terdesak ke dinding dan sama sekali tidak dapat lari kemanapun, sebab tuan Kaiden membelokkan bagian samping dengan kedua tangannya.


"Tuan sebenarnya kau ini kenapa sih, sedari tadi begitu sinis padaku dan adikmu, memangnya apa salahku padamu?" Tanya Olivia mengerutkan keningnya.


"Apa kau masih belum sadar? Kalau kau sudah membuat kesalahan yang fatal?" Balas tuan Kaiden meninggikan suaranya di depan Olivia.


Untuk beberapa saat Olivia berusaha untuk berpikir dan mengingat apa saja yang sudah dia lakukan, dia tetap saja merasa tidak ada yang salah dengan semua tindakan dan ucapan yang sudah dia katakan sebelumnya, tetapi tuan Kaiden malah bicara seperti itu seakan dia telah berbuat hal yang salah.


"Tuan memangnya apa kesalahan fatal yang kau maksud, aku sama sekali tidak melakukan apapun?" Balas Olivia yang masih tidak mengerti maksud dari suaminya sendiri.

__ADS_1


"Aishh kau ini benar-benar konyol atau bodoh sih? Bagaimana mungkin kau tidak sadar dengan kelakuan centil yang kau lakukan di depan adikku sendiri, kau membuat aku sangat kesal dan kau melepaskan rangkulan tanganku, kau juga membentak aku, mem-belototkan matamu kepadaku di hadapan adik tiriku sendiri, apa kau pikir seorang suami akan senang jika istrinya bicara seperti itu kepada dia di hadapan orang lain, itu sama saja dengan kau tidak menghormati aku sebagai suamimu!" Balas tuan Kaiden sambil terus saja bicara tanpa henti dan meninggikan suaranya.


Setelah tuan Kaiden membeberkan semua yang membuat dia kesal dan dia anggap sebagai kesalahan yang dibuat oleh Olivia sebagai istrinya, barulah gadis kecil itu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Olivia.


"Ohh...jadi itu alasan kamu kesal dan menjadi marah-marah tidak jelas kepadaku?" Balas Olivia sembari tersenyum kecil saat itu.


Sudah tahu aku marah masih saja dia bertanya begitu dasar konyol. Batin tuan Kaiden sembari merotasikan bola matanya kepada gadis kecil tersebut.


Olivia tiba-tiba saja memeluk tubuh tuan kaiden yang membuat pria 28 tahun itu kaget hingga membuka matanya sangat lebar dan terus menatap lekat kepadanya.


"Hei, apa yang kau lakukan,. lepaskan kenapa kau memelukku?" Ucap tuan Kaiden sembari berusaha untuk melepaskan tangan Olivia yang memeluk pinggangnya saat itu.


"Tidak mau, aku mau memelukmu agar kau tahu kalau aku ini istrimu, aku bukan wanita sembarangan yang akan menggoda adikmu sendiri seperti yang kau pikirkan, meski kau tidak mengatakannya secara langsung aku tahu kau cemburu kan tuan?" Balas Olivia menggoda tuan Kaiden dan terus saja menatapnya dengan senyum kecil tergambar jelas di wajah manisnya itu, tuan Kaiden menjadi sangat gugup ketika dia mendapatkan tatapan seperti itu, dia tetap melepaskan tangan Olivia dan segera pergi menghindari gadis tersebut, agar wajah gugupnya tidak terlihat oleh Olivia.


"CK, yang benar saja, aku tidak mungkin menyukai gadis kerdil, sepertimu, jangan ke gr an kau, aku saja berani untuk menjadikan kau santapan bagi macan kesayanganku, apa kau pikir orang yang menyukaimu akan tega melakukan itu?" Balas tuan Kaiden yang sangat menampar kenyataan bagi Olivia, dan seketika mengubah ekspresi wajah gadis itu menjadi kecut.


Sementara tuan Kaiden segera pergi dari sana secepatnya, menaiki tangga dengan terburu-buru dan terus saja menatap ke arah Olivia hingga dia tidak bisa memperhatikan jalannya sendiri dan membuat dia tersandung keras hingga hampir jatuh, tapi walau begitu tuan Kaiden masih saja menjaga image dalam dirinya.


"Aaahhhh...." Ringis tuan Kaiden yang tersandung dan terus saja mengangkat sebelah kakinya yang terasa sangat sakit kala itu.


Olivia sempat kaget dan merasa cemas dengan kondisi tuan Kaiden sehingga dia refleks untuk membantu suaminya itu, tapi dengan cepat tuan Kaiden mengangkat tangannya dan bicara kepada Olivia bahwa dia baik-baik saja. "Hei, tuan apa kau baik-baik saja?" Tanya Olivia sembari berniat untuk menghampirinya.


"Aku baik-baik saja, sungguh aku sangat baik." Balas tuan Kaiden dan terus berjalan pincang menahan sakit pada jempol kakinya tersebut.


Olivia sendiri hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu, entah kenapa saat itu dia merasa sakit hati dan tidak tahu mengapa dia merasa kosong seperti itu, semuanya bermula saat dia mendengar ucapan dari tuan Kaiden yang mengatakan bahwa dia sama sekali tidak cemburu dengan dia.


"Kenapa ya dia bersikap aneh, kadang baik tapi kadang sangat kejam, apa dia memiliki dua karakter yang berbeda? Jika benar kenapa satu diantara dua karakter itu tidak bisa dihilangkan." Gerutu Olivia bicara pelan dan dia ikut masuk ke dalam kamar karena dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, berbeda dengan tuan Devon yang malah pergi ke ruangan kerjanya, tempat paling nyaman dan sangat sama yang disukai oleh tuan Kaiden sebagai tempatnya menenangkan diri, berpikir keras dan mengerjakan semua pekerjaan kantornya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2