
Di kantor tuan Kaiden sangat kaget ketika melihat ruangan pribadinya begitu berantakan dan disana juga ada sekretaris Dep yang tengah membereskan meja kerjanya termasuk merapihkan beberapa berkas yang berhamburan di lantai, dengan raut wajah yang menahan marah, tuan Kaiden berjalan cepat sembari bertanya pada sekretaris Dep. "Dep apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ruangan ini berantakan?" tanya tuan Kaiden dengan nada yang cukup tinggi.
"Saya juga tidak tahu tuan, saat tadi saya baru masuk, semuanya sudah seperti ini, saya rasa memang ada seseorang yang menyelinap masuk ke ruangan anda." balas sekretaris Dep sedikit takut.
"APA? Bagaimana bisa? Di depankan ada penjaga?" bentak tuan Kaiden yang tidak habis pikir dengan semua ini.
Sekretaris Dep hanya bisa menggelengkan kepala pelan sebab dia sendiri nampak kebingungan dan tidak tahu apapun tentang masalah tersebut. Hembusan nafas dalam dengan mengusap kasar rambutnya, tuan Kaiden langsung bertanya lagi mengenai hal penting lainnya.
"Sudahlah, tunjukkan bukti yang kau miliki itu, dan informasi apa saja yang telah bocor." Tambah tuan Kaiden berusaha tetap tenang dalam menghadapi masalahnya.
Dengan cepat sekretaris Dep mengambil laptop miliknya dan dia segera menunjukkan beberapa informasi yang berhasil diretas serta di berikan kepada perusahaan musuh, yang tidak lain adalah cabang nomor dua dari kepemilikan tuan Kandensus, dari sana tuan Kaiden mulai mencurigai sang ayah dengan amat besar, sebab dia merasa keamanan yang digunakan oleh perusahaannya sudah sangat baik dan tidak pernah mengalami kebocoran data sedikitpun sejak lama. "Tuan apa mungkin tuan besar yang melakukan semua ini padamu?" ucap sekretaris Dep yang memiliki pikiran sama dengan bosnya tersebut.
"Kita belum bisa memastikannya, tapi kau coba untuk mencaritahu lagi bukti-bukti kuat lain, agar aku bisa mendatanginya dan bertanya langsung dengannya." balas tuan Kaiden tegas dan segera menyuruh sekretaris Dep untuk keluar dari ruangan pribadinya tersebut.
Saat sekretaris Dep sudah pergi, tuan Kaiden mulai merenung sendiri dia juga tidak diam saja, segera mencaritahu informasi lainnya dan mulai memeriksa rekaman cctv rahasia yang dia simpan sejak lama di ruangan pribadinya tersebut.
Betapa kagetnya dia ketika melihat ada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan pribadinya tepat beberapa menit sebelum kedatangan sekretaris Dep saat itu, saat tuan Kaiden berusaha untuk melihat wajah dari seorang pria yang mengacak-acak ruangannya, sayangnya pria itu terus membelakangi semua kamera cctv yang ada di ruangan tersebut termasuk dengan cctv tersembunyi, sehingga tuan Kaiden tidak dapat melihat ataupun memastikan secara jelas siapa orang tersebut dan apa tujuannya masuk ke dalam ruangan pribadinya lalu mengacak-acak meja kerjanya kemudian keluar kembali tanpa membawa apapun dari ruangan tersebut.
"Sial, siapa pria ini sebenarnya, dari postur tubuhnya kenapa aku merasa dia tidak asing." gerutu tuan Kaiden terus berusaha memikirkannya.
"Tapi untuk apa dia hanya datang mengacak-acak meja kerjaku? Sementara tidak ada apapun yang dia ambil, ini sangat mencurigakan." tambah tuan Kaiden yang dibuat semakin bingung oleh-nya.
Walau begitu tuan Kaiden tidak bisa diam dan hanya mencari bukti-bukti tabu saja, dia segera menyelesaikan pekerjaannya yang lain, mulai dari memeriksa data perusahaan yang diretas sampai mengecek lokasi proyek yang juga mendapat teror dari orang misterius tersebut, semuanya terlihat sangat kacau dan tuan Kaiden mengerti bahwa semua yang terjadi saat ini seperti sudah direncanakan secara matang oleh seseorang di belakangnya.
Rapat besar pun digelar, tuan Kaiden meminta semua pimpinan staf perusahaan untuk lebih teliti dan berhati-hati lagi dalam mengolah dan menyimpan data rahasia proyek mereka ataupun data perusahaan lainnya yang sangat penting, selain ini mereka juga mulai menyusun strategi baru untuk meningkatkan produksi produk elektronik yang lebih canggih, sehingga dapat melawan proposal dari perusahaan saingannya.
Setelah pembahasan panjang selesai, tuan Kaiden nampak begitu lelah dan lesu, beberapa kali dia memijat keningnya dan memutuskan untuk menambah waktu kerjanya. "Dep kau pulanglah, aku akan pulang satu jam lagi." ucap tuan Kaiden.
"Tapi tuan apa anda akan baik-baik saja, disini seorang diri?" tanya sekretaris Dep yang sedikit mencemaskannya.
"Tidak masalah, kau pergi saja, ini sudah bukan jam kerjamu lagi." balas tuan Kaiden lagi.
Karena sekretaris Dep juga sudah lelah dia pun mengangguk patuh dan segera berpamitan pergi dari sana.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
"Ya pergilah."
...****************...
Waktu terus berlalu, kini sudah jam sebelas malam dan tuan Kaiden masih sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di depannya, banyak sistem perusahaan yang harus dia perbaiki sendiri termasuk menambah keamanan di laptopnya yang harus dia jaga dengan baik, entah sudah berapa kali dia menguap dan menyeruput kopi miliknya, hingga lama kelamaan tuan Kaiden semakin tidak tahan dan memutuskan untuk pulang.
Dia berharap saat pulang bisa melihat istri kecilnya yang manis, mungkin itu bisa sedikit meredakan rasa lelah setelah seharian di rundung permasalahan yang besar, namun sayangnya ketika tuan Kaiden pulang, dia tidak menemukan keberadaan Olivia di kamarnya. "Kosong? dimana bocah itu?" ujarnya merasa kesal.
Tuan Kaiden sudah mencari Olivia di seisi rumahnya tetapi dia tak kunjung menemukannya juga, sehingga emosi dalam dirinya mulai memuncak, rasa cemas bercampur emosi menjadi satu membuat dia sangat kesal dan segera pergi keluar berniat untuk mencari keberadaan Olivia lagi.
Saat mencari ke taman tidak sengaja tuan Kaiden melihat Olivia yang baru saja keluar dari rumah tempat Seno tinggal.
"Dasar bocah kerdil, kenapa dia bisa keluar dari rumah itu." Gerutu tuan Kaiden dengan kedua alisnya yang sudah mengkerut sejak lama.
Dengan cepat tuan Kaiden langsung berteriak memanggilnya dan berjalan cepat menghampiri Olivia, memasang wajah kesal yang cukup menyeramkan untuk dilihat.
"Bocah kerdil." Teriak tuan Kaiden sambil segera berlari menghampiri Olivia.
Wajah gadis itu langsung terperangah kaget dan dia segera memalingkan pandangan ke arah lain, berusaha untuk menenangkan dirinya, karena Olivia sudah tahu apa yang akan dia hadapi jika tuan Kaiden mengetahui bahwa dirinya telah merawat adik tiri yang di benci oleh tuan Kaiden sejak lama.
"Astaga, gawat! Kenapa manusia harimau itu datang kemari, aaahhhh aku harus bagaimana menghadapinya, ayo berpikir Olivia berpikir." Gerutu Olivia yang panik tak karuan.
Mau tidak mau Olivia pun harus menghadapinya, meski saat itu dia sangat gugup dan merasa begitu cemas, tapi Olivia masih berusaha untuk menyembunyikan wajah gugupnya tersebut.
"AA...A..ahahaha... Tidak kok, aku tadi hanya tidak tau saja kalo ternyata kau yang memanggilku, aku pikir ada hantu yang meneriaki aku ahaha aku benar-benar terlalu banyak menonton film horor." balas Olivia beralasan.
"Astaga.... Olivia apa yang sudah kau katakan, aaaaa alasan tadi apakah akan dipercaya tuan Kaiden, benar-benar sangat konyol." batin Olivia yang berperang dengan dirinya sendiri.
Tuan Kaiden juga sudah mencurigai gadis kecilnya sejak awal, dia terus menatap tajam pada Olivia dan mulai melontarkan pertanyaan yang serius. "Kenapa kau bisa keluar dari rumah Seno?" tanya tuan Kaiden tanpa basa basi lagi.
"Hah? AA... Apa, aku tidak keluar dari rumah ini kok, tadi aku hanya berjalan-jalan saja iya, aku mengigau, kau tau kan ada beberapa orang yang bisa berjalan saat tidur, nah iya tadi aku begitu ahaha sudahlah disini sangat dingin ayo kita kembali ke rumah." ucap Olivia membuat alasan yang sangat konyol.
Dia benar-benar tidak bisa memikirkan alasan lainnya yang lebih masuk akal, sebab waktunya sangat mendesak, semakin dia lama menjawab maka tuan Kaiden akan semakin mencurgai dirinya, sehingga apa saja yang terlintas dalam kepalanya, itulah yang dia keluarkan sebagai alasan, Olivia segera berjalan sambil menggandeng tangan tuan Kaiden dan menariknya untuk kembali masuk ke dalam rumah yang mereka tinggali.
"Hei hei tunggu! Kenapa aku merasa kau berbohong padaku? Lepaskan tanganku, tumben sekali kau mau menggandeng tanganku lebih dulu." ucap tuan Kaiden sembari menatap ke arah tangannya yang masih digandeng oleh Olivia saat itu.
__ADS_1
Dengan cepat Olivia melepaskan genggaman tangannya pada tuan Kaiden dan berusaha untuk bersikap normal di hadapannya.
"Haha... Apa-apaan kau ini, bagaimana pun aku kan istrimu, jadi ya wajar saja bukan jika aku menggandeng tanganmu, lagi pula aku kan sudah bilang, tadi diluar itu sangat dingin jadi aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah, itu saja."
Tuan Kaiden sama sekali bukan orang yang mudah untuk dibohongi apalagi dikelabui dia sangat teliti dan sangat cermat, tentu saja semua alasan yang dibuat oleh Olivia itu sudah diketahui kebohongannya oleh tuan Kaiden sejak awal, namun dia sengaja membiarkan sampai Olivia mau berkata jujur dengannya, sehingga saat terakhir kali Olivia beralasan, tuan Kaiden hanya diam dan menatapnya dengan tajam, memberikan rasa ancaman kepada Olivia.
Membuat gadis kecil itu semakin gugup dan takut, Olivia bahkan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri, dia terus memalingkan pandangan ke arah lain dan masih saja berusaha untuk meyakinkan tuan Kaiden bahwa semua yang dia katakan adalah kebenaran.
"APA? Berhenti menatapku begitu, apa kau tidak percaya denganku?" ucap Olivia kepadanya.
"Apa kau bisa dipercaya, hah?" balas tuan Kaiden sambil menaikkan kedua alisnya.
"Aishh...iya iya baiklah aku akan jujur denganmu, tapi kau harus berjanji dulu padaku." balas Olivia yang pada akhirnya menyerah.
"Dasar manusia intel, sulit sekali membohonginya." batin Olivia menggerutu dengan menatap sinis pada tuan Kaiden.
"Janji apalagi, kau yang jelas-jelas berusaha membohongiku, kenapa aku yang harusnya dihakimi,"
"Pokoknya kau harus berjanji untuk tidak marah denganku, atau mempermasalahkan hal ini, kalau tidak mau ya sudah aku tidak akan mengatakan apapun denganmu." Ujar Olivia yang membuat tuan Kaiden menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Iya aku berjanji denganmu, cepat katakan kenapa kau keluar dari rumah itu semalam ini?" balas tuan Kaiden menyetujuinya.
Olivia pun mulai menjelaskan semuanya, sejak awal dia melihat Seno yang sakit termasuk dengan semua tindakan yang dia lakukan dalam merawat Seno, tuan Kaiden yang mendengarkannya mulai merasa kesal, wajahnya memerah dan kedua tangannya sudah mulai dikepal sangat kuat.
Belum juga Olivia selesai menjelaskan semuanya, tuan Kaiden sudah lebih dulu membentaknya dan menyuruh Olivia untuk diam. "Cukup, diam kau! aishh apa kau bodoh hah? kenapa kau mau dimanfaatkan olehnya?" bentak tuan Kaiden yang nampak geram.
"Dimanfaatkan bagaimana? jelas-jelas dia sedang sakit, aku tidak mungkin membiarkan dia sendiri, lagipula aku hanya merawat dia, membuatkan dia bubur, memberi obat dan mengompres tubuhnya, hanya itu saja, kenapa kau harus marah, kau juga sudah janji tidak marah, malah mengingkarinya." jawab Olivia tak kalah kencang.
"Astaga, kau ini terlalu polos, dasar bocah kerdil, bagaimana pun aku suamimu, kau tidak boleh merawat pria lain jika tidak mendapatkan izin dariku, dia kan punya asisten pribadi, ada sekretaris dan ada pembantunya sendiri, kenapa harus kau yang mengurusinya." Jelas tuan Kaiden kepadanya.
"Mereka sedang ada halangan jadi aku menggantikannya sebentar, kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada sekretaris kak Seno, dia sendiri yang memohon padaku." balas Olivia lagi yang malah semakin menyulut emosi suaminya sendiri.
"Hah? Apa kau bilang barusan? Kak, hahah.... si Seno sialan itu kau panggil kakak? Tidak ku sangka ternyata kalian sudah sedekat ini dibelakang ku,"
"Eh, maksudku tidak begitu, aku hanya menghormati dia sebab usianya lebih tua dariku, sama dengan aku menghormatimu." Jelas Olivia meluruskannya.
__ADS_1
Sayangnya emosi yang sudah meledak ledak dalam hati dan pikiran, tidak bisa membuat tuan Kaiden tenang dan berpikir jernih, dia sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi dari Olivia, sehingga hanya bisa tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya pelan seakan dia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Olivia saat itu. Tuan Kaiden pergi menaiki tangga dan langsung menutup pintu kamarnya sangat kencang, hampir saja saat itu mengenai kepala Olivia yang berusaha untuk menahannya.
"Tuan tunggu, kau kenapa sih, tuan Kaiden tuan dengarkan aku dulu TUAN!" teriak Olivia merasa kesal karena dia tidak di dengarkan sama sekali.