
Tuan Kaiden terus saja menyandarkan kepala Olivia di pundaknya dan dia terus memegangi pinggang Olivia agar dia tidak sampai jatuh kemana-mana lagi, walaupun saat itu hati tuan Kaiden tidak bisa merasa tenang dia terus merasa gugup tidak karuan dan hanya bisa diam mematung tanpa mengatakan apapun lagi atau bergerak sedikitpun, sedangkan sekretaris Dep yang menyetir di depan dia mulai menggoda tuan Kaiden yang merupakan bos besar sekaligus teman dekatnya tersebut.
"Ekhm...tuan kenapa kau terlihat gugup begitu, sampai keringat muncul di dahimu. Apa jangan-jangan dugaanku selama ini benar ya, kau sudah tertarik dengan gadis kecil itu?" Tanya sekretaris Dep yang langsung ditanggapi oleh tuan Devon dengan celetukan singkat.
"CK..mana mungkin aku suka dengan kurcaci nakal dengannya, menyetir dengan benar, jangan banyak bicara!" Balas tuan Kaiden sangat sinis dan berdecak kesal sesaat.
Tapi walau bagaimanapun pun sekretaris Dep tetap tidak bisa dihentikan dengan cara seperti itu saja, sebab akhir-akhir ini dia selalu memperhatikan tingkah laku tua Kaiden yang amat berbeda dari biasanya, apalagi ide dari tuan Kaiden yang berinisiatif membawa Olivia berlibur di pulau pribadinya sudah cukup memberikan jawaban untuk sekretaris Dep, sebab sebelumnya tidak ada siapapun yang pernah di izinkan untuk pergi ke pulau tersebut kecuali dia saja, itupun hanya untuk menemani tuan Kaiden menenangkan pikiran disaat dia mulai merasa suntuk, tetapi dengan Olivia dia bisa begitu mudahnya membawa gadis itu pergi ke sana bahkan sampai menginap di villa putih kesayangan tuan Kaiden sendiri.
"Aku yakin tuan Kaiden pasti menyukainya." Batin sekretaris Dep saat itu. Tuan Kaiden terus menatap sinis ketika sekretaris Dep mulai mencoba mencuri-curi pandang kepada dirinya lewat kaca spion depan kala itu.
Dan hal itu membuat tuan Kaiden kesal sekaligus tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Dep, langsung saja tuan Kaiden menegurnya dengan cepat.
"Heh. Berhenti mencoba mencuri pandang padaku, apa kau sudah beralih fungsi menjadi mata-mata sekarang?" Bentak tuan Kaiden dengan sorot mata tajam dan penuh kekesalan terhadap sekretaris Dep, yang langsung membuat sekretaris Dep menjadi gugup sambil memalingkan pandangannya ke depan dan kembali fokus dengan jalannya.
Saat mereka baru saja tiba di kediaman tuan Kaiden tiba-tiba saja mereka merasa ada yang aneh karena di depan gerbang sudah ada dua mobil yang berhenti disana dan itu membuat sekretaris Dep dan tuan Kaiden merasa kebingungan. "Tuan ada dua mobil di depan gerbang, tapi sepertinya salah satu mobil itu nampak tidak asing." Ucap sekretaris Dep kepada tuan Kaiden yang langsung saja di perhatikan oleh keduanya.
Saat melihat plat nomor pada mobil itu dan memperhatikan ke arah kaca jendela mobil yang perlahan menurun hingga menampakkan wajah ayahnya, hal itu langsung membuat tuan Kaiden kaget dan terperangah. "Tuan Kandensus? Ayah?" Ucap mereka berdua bersamaan dengan ucapan yang berbeda dan saling lirik satu sama lain.
__ADS_1
"Ada apa dia datang kemari?" Gerutu tuan Kaiden merasa heran.
Dia segera menyuruh sekretaris Dep untuk membawa masuk mobilnya karena saat ini tuan Kaiden tidak mau bertemu dengan ayah kandungnya tersebut yang sudah pasti akan membawa nyonya Asila si biang kerok dan penghasut handal tersebut.
"Dep ayo cepat pergi, aku malah menghadapi mereka." Ucap tuan Kaiden yang langsung di turuti oleh sekretaris Dep yang juga tidak suka kepada nyonya Aslia beserta putranya Seno, yang selalu membuat kegaduhan setiap saat.
Mereka masuk ke dalam rumah dan dia mobil yang tadi mengikutinya dari belakang, hal itu membuat tuan Kaiden sedikit tidak nyaman namun dia berusaha untuk tidak memperdulikan sama sekali, hingga ketika tuan Kaiden keluar dari mobil dengan menggendong istri kecilnya, langsung saja nyonya Aslia kembali mencari muka dengan berpura-pura mencemaskan Olivia saat itu.
"Ya ampun sayang ada apa dengan istrimu?" Tanya nyonya Aslia saat itu.
"Lepaskan tanganmu dari istriku!" Balas tuan Kaiden dengan wajah yang sinis, membuat nyonya Aslia perlahan melepaskan tangannya yang memegangi tubuh Olivia saat itu.
Mereka duduk di ruang tamu dengan suasana yang begitu mencekam dan cukup membuat keadaan menjadi sangat dingin, berkat tatapan tuan Kandensus dan tuan Kaiden yang sama-sama serius, tajam dan menusuk. Tidak heran jika tuan Kaiden begitu kejam karena ayahnya tuan Kandensus memilih watak yang sama persis dengan dirinya.
"Untuk apa kalian datang kemari?" Tanya tuan Kaiden memulai pembicaraan dengan sangat serius.
"Aahh sayang ibu sangat merindukan kamu jadi ibu meminta agar ayahmu mengantarkan ibu kemari untuk mengunjungi dirimu, apa kamu dan istrimu baik-baik saja selama ini?" Ujar nyonya Aslia yang malah menjawab pertanyaan dari tuan Kaiden.
__ADS_1
"Hei, aku tidak bertanya denganmu, aku bertanya kepada ayahku." Balas tuan Kaiden dengan tegas, membuat tuan Kandensus kesal dan langsung menggebrak mejanya sangat kencang. Bahkan nyonya Asila sendiri terperanjat kaget dibuatnya.
"BRAK!" Suara tepukan meja yang sangat kencang oleh tuan Kandensus saat itu.
"Kau berani bicara seperti itu kepada ibumu, apa kau mau aku mengambil seluruh harta yang sudah aku berikan untukmu, hah?" Bentak tuan Kandensus sangat kencang.
Tapi gertakan itu sama sekali tidak membuat tuan Kaiden takut, dia justru malah balik menantang ayahnya sendiri dan tidak pernah merasa takut meski harus kehilangan seluruh harta pemberian dari ayahnya karena dia memiliki harta dari ibunya termasuk harta kekayaan yang dia simpan sendiri selama ini.
"Silahkan anda ambil seluruh aset dan harta yang telah anda berikan padaku, aku sama sekali tidak takut sekalipun akan jatuh miskin, bagiku aku lebih senang hidup miskin tanpa gangguan orang-orang licik yang munafik dengan topeng tebal di wajahnya, dibandingkan harus hidup dengan penuh aturan dan terus dikekang oleh dirimu." Balas tuan Kaiden yang membuat ayahnya sangat kaget.
Tuan Kandensus tidak menduga jika ternyata putranya bisa bicara seperti itu dan mulai berani menentang dirinya, membuat tuan Kandensus emosi, tatapan matanya semakin tajam dan giginya dia keratkan sangat kuat.
"Oh, bagus sekarang kau sudah berani menentang kehendak ayahmu sendiri, bagus Kaiden, mulai sekarang aku akan menyuruh Seno untuk tinggal disini denganmu, dan kau tidak bisa menolaknya sama sekali!" Bentak tuan Kandensus yang membuat tuan Kaiden sangat kaget sekaligus tidak terima dengan hal itu, tuan Kaiden langsung menolaknya dengan keras.
"APA? Ayolah tuan Kandensus, rumah ini bukan penampungan anak yatim, aku tidak setuju dengan perintahmu itu, lagi pula dia kan sudah besar, dia juga punya apartemen sendiri, untuk apa dia harus tinggal menumpang denganku?" Balas tuan Kaiden dengan penuh kekesalan dan mata yang terbuka sangat lebar.
"Tidak bisa, Seno sudah menjual apartemen miliknya, bisnis proyek dia telah gagal dan villanya hancur, sehingga untuk memperbaiki kerugian itu dia harus menjual apartemen miliknya sendiri, dan dia tidak bisa tinggal denganku karena jarak dari rumah ke kantor sangatlah jauh, mension mu ini kan luas dan mewah ada banyak kamar dan ruangan disini, apa salahnya jika kau menampung adikmu sendiri untuk sementara waktu saja." Jelas tuan Kandensus memaksa tuan Kaiden.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat tuan Kaiden senang karena rencana dia sudah berjalan dengan lancar, bahkan lebih cepat daripada sebelumnya, tapi walau begitu senang tuan Kaiden terus menahan rasa senangnya itu dan terus saja memasang wajah datar.
"Jika dia yang gagal, kenapa harus aku yang ikut membantunya, dia punya perusahaan, kau ayahnya bukan jadi kenapa kau tidak memberikan uang untuknya agar dia bisa mendapatkan tempat tinggal, hotel begitu banyak di kota ini, rumah sewaan juga tidak terhitung jumlahnya, kenapa harus dipusingkan." Balas tuan Kaiden yang masih menolak keras untuk membantu Seno tinggal di rumahnya saat itu.