
Hingga akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga, Olivia sudah mengenakan pakaian lengkap yang rapih, bahkan bibi Jil membantu dia mengepang rambut nya dengan cantik, agar Olivia bisa bergerak dengan bebas tanpa kesulitan atas rambutnya yang hitam dan panjang, saat itu gadis kecil berusia 19 tahun mengenakan dress panjang semata kaki dengan aksen garis-garis kecil di bagian pinggangnya, serta terdapat bunga matahari kecil di ujung dress yang berwarna putih tersebut, dia nampak anggun sekali ketika mengenakannya. Lantas hati siapa yang tidak akan terpikat dengan kecantikan dan aura gadisnya, Olivia berjalan menuruni tangga dibantu oleh bibi Jil membawakan koper berukuran sedang yang telah diisi pakai persediaan untuk Olivia selama pergi ke desa tempat asalnya itu.
Sedangkan tuan Kaiden sendiri sudah berada di luar dan tengah memeriksa mobilnya bersama dengan sekretaris Dep, dia sengaja memutuskan untuk pergi berdua saja dengan Olivia sebab sekretaris Dep masih harus mewakili dirinya di perusahaan, sekaligus memantau semua proyek yang tengah mereka jalani, saat Olivia berjalan menghampirinya tuan Kaiden nampak tercengang dan terus saja terpesona melihat kecantikan gadis tersebut.
"Tuan....tuan Kaiden kenapa kau menatapku begitu, apa ada yang salah dengan pakaian yang aku gunakan?" tanya Olivia merasa heran sendiri.
Dengan cepat tuan Kaiden memalingkan pandangannya dan dia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terpesona dengan kecantikan gadis itu, walau dengan wajah yang masih gugup serta perasaan tidak menentu tuan Kaiden masih mengusahakan dirinya menjawab pertanyaan dari Olivia. "Aahh... Apa sih, ayo cepat masuk kau ini lama sekali, aku sudah menunggumu hingga hampir berjamur disini." balas tuan Kaiden memalingkan pembicaraan dan langsung menggerutu seakan dia kesal dibuat menunggu oleh Olivia.
Padahal saat itu Olivia merasa dia tidak menghabiskan banyak waktu sama sekali. "Ehhh? aku rasa ini sangat cepat biasanya aku tidak pernah secepat ini saat berganti pakaian, iya kan bi," balas Olivia sambil menatap ke arah bibi Jil.
Bibi Jil hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan, dia kemudian menggandeng tangan Olivia dan membukakan pintu mobil, mempersilahkan gadis kecil itu masuk ke dalamnya. "Sudahlah nona mungkin tuan Kaiden sedang dalam suasana hati yang kurang baik, ayo nona silahkan masuk," balas bibi Jil penuh kelembutan.
"Bi, bibi jaga diri disini baik-baik ya, aku baru saja bertemu denganmu setelah sekian lama, tapi maafkan aku karena harus meninggalkan bibi lagi." ucap Olivia tiba-tiba saja merasa sedih.
Tuan Kaiden yang melihat hal itu dia langsung mengerutkan keningnya dan merasa aneh dengan tingkah Olivia, bagi seorang tuan Kaiden yang bermental baja dan berhati keras, tentu saja hal seperti itu akan dianggap lebay dan terlalu menyebalkan untuk dilihatnya, berbeda sekali dengan Olivia yang sangat perasa serta sensitif akan apapun.
"Cih, untuk apa kau sampai menangis begitu, memangnya kau akan pergi selamanya? nanti juga balik lagi. Jangan lebay!" bentak tuan Kaiden menimpalinya.
"Diam kau, manusia berhati batu sepertimu mana paham bagaimana rasanya harus meninggalkan orang yang kita sayangi, semua kemungkinan di masa depan tidak ada yang tahu aku hanya ingin berpamitan dengan baik pada bibi Jil. Jadi kau jangan menggangguku, sana pergi!" balas Olivia penuh kekesalan.
Padahal sebelumnya dia sudah sangat terharu dan terbawa suasana, tapi karena ulah tuan Kaiden yang masuk secara tiba-tiba dalam perbincangannya, semua suasana itu hancur dalam sekejap, hanya menyisakan kekesalan dalam diri Olivia dan tidak bisa fokus lagi pada hal yang sebelumnya ingin dia lakukan.
"Ahhh... gara-gara dia aku jadi lupa ingin berkata apa lagi." gerutu Olivia berusaha memikirkannya.
"Sudah nona, jangan mencemaskan bibi lagi, disini ada banyak pelayan lain dan ada sekretaris Dep yang bisa bibi hubungi kapan saja jika ada sesuatu, nona sebaiknya fokus saja bersama tuan muda, kalian bisa menghabiskan waktu bersama dan menjadi lebih dekat." ucap bibi Jil sembari menggoda Olivia saat itu.
"Aishh... Bibi apa apaan sih, tidak tidak, aku dan dia tidak akan pernah menjadi dekat, kalau begitu aku pamit ya bi." Balas Olivia sambil segera memeluk bibi Jil dan masuk ke dalam mobil.
Mobilnya pun melaju meninggalkan kawasan rumah mewah tersebut dan selama perjalanan Olivia terus merasa senang, dia sudah sangat tidak sabar untuk melihat makam kakaknya, sekaligus memeriksa bangunan rumah peninggalan orangtua dia yang sudah lama dia tinggalkan, suasana kampung halaman yang dia rindukan dan banyak kenangan indah yang dia simpan disana, wajahnya tidak berhenti berseri-seri dan terus menatap ke jendela mobil sambil tersenyum lebar. Hal itu membuat tuan Kaiden merasa heran dan langsung bertanya kepada-nya.
"Hei apa kau sebahagia itu? Kita kan mau mengunjungi sebuah makam bukan liburan," ucapnya yang memancing emosi Olivia.
__ADS_1
"Apa kau bilang? sebuah makam, hei tuan bagimu itu mungkin hanya sebuah gundukan tanah, tapi bagiku di dalam sana tersimpan seseorang yang sangat aku cintai dan dia adalah duniaku. Jadi tentu saja aku sangat senang." balas Olivia menegaskan.
"Cih begitu saja sudah emosi, dasar bocah,"
"tuan Kaiden yang terhormat, bisa tidak sekali saja jangan memandangku sebagai bocah kecil, aku sudah dewasa, aku punya KTP dan sebentar lagi juga 20 tahun, aku tidak sekecil itu!" balas Olivia yang selalu kesal setiap kali ada orang yang memanggilnya kecil.
"Mau bagaimana pun kau tetaplah anak kecil di mataku." balas tuan Kaiden membuat Olivia tidak bisa berkata-kata lagi.
Meski dia senang diperlakukan layaknya anak kecil tetapi bukan seperti itu yang dia inginkan, hanya perlakuan dari kakaknya yang selalu mengutamakan dia, menyayangi dia dan selalu bertutur kata lemah lembut kepada-nya, bahkan disaat dia melakukan kesalahan dan kakaknya marah, dia tidak pernah mendapatkan bentakkan dari kakaknya tersebut, perlakuan seperti itu yang sangat dirindukan oleh Olivia.
Hingga dia berpikir bahwa tipe laki-laki idealnya adalah yang seperti kakaknya, bukan dari rupa tetapi dari karakter dan cara seseorang itu memperlakukan dirinya.
"Dasar manusia menjengkelkan, untung saja saat ini moodku sedang baik, jika tidak rasanya aku ingin menjambak rambut dia!" Batin Olivia meluapkan emosi.
Karena tidak ingin memperpanjang masalah Olivia segera mengesampingkan tubuhnya dan kembali menatap keluar kaca mobil, dia sengaja menurunkan sedikit kaca mobilnya agar bisa merasakan angin segar di pagi hari menerpa wajahnya, dia menghirup udara pagi hari yang masih sejuk sambil menutup matanya dan membiarkan angin itu mengenai wajah begitu saja. "Eummm... Ternyata berkendara sepagi ini anginnya segar sekali." ucapnya merasa senang sambil tersenyum lebar.
Tanpa disadari tuan Kaiden yang melirik ke arahnya sekilas, ternyata dia juga ikut tersenyum seakan terbawa dengan suasana dan ucapan dari gadis kecilnya. Hingga lama kelamaan Olivia yang selalu aktif dan terus sibuk menyaksikan keindahan ujung kota itu bisa lelah juga, dia tertidur dengan cepat, kepalanya menghantam dinding mobil membuat tuan Kaiden segera menahan kepalanya itu, mengharuskan dia menyetir dengan satu tangan, karena merasa sulit tuan Kaiden pun menaikkan kaca mobilnya agar angin tidak terus mengenai tubuh Olivia dan bisa membuatnya masuk angin, setelah itu dia juga menyandarkan kepala Olivia pada bahunya agar kepala Olivia bisa lebih nyaman dan menyelimuti tubuh gadis kecil itu dengan jas miliknya, barulah setelah itu dia bisa kembali fokus ke jalanan dan menyetir dengan kedua tangannya lagi.
"Cih, dasar bocah." ucap tuan Kaiden sambil tersenyum kecil menatap wajah polos Olivia.
Olivia masih sangat mengantuk sebab semalam dia tidak bisa tidur karena saking senangnya dan merasa tidak sabar untuk perjalanan hari ini, jadi wajar saja jika saat ini dia malah mengantuk tak tertahankan. "Hoamm...aku masih ngantuk, kau makan sendiri saja tuan." balas Olivia tanpa membuka matanya sama sekali.
Tuan Kaiden hanya menanggapinya dengan hembusan nafas yang menahan kekesalan, dia terus mencoba memaksa Olivia untuk bangun walau pada akhirnya tetap gagal total.
"Olivia cepatlah bangun, kau hanya perlu makan saja lalu nanti bisa tidur lagi, nanti kau akan sakit dan merepotkan ku jika tidak makan."
"Eumm tidak mau aku tidak bisa bergerak, ini sangat ngantuk," balas Olivia lagi dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Tuan Kaiden sudah sangat geram dengan tingkahnya, berkali kali dia melakukan segala cara dan mengatakan banyak alasan untuk membuat Olivia bangun tapi sayangnya tidak ada satu pun yang berhasil, hingga tuan Kaiden frustasi dan mengacak rambutnya kasar. "Aishh...ya sudah terserah kau saja, awas saja jika nanti kau lapar dan merengek minta makanan saat di perjalanan, aku tidak akan mendengarkanmu!" bentak tuan Kaiden yang habis kesabaran.
Olivia tidak memperdulikan ucapan itu sama sekali dia malah terus tidur dengan lelap, sedangkan tuan Kaiden langsung keluar dari mobil bahkan sampai membanting pintu mobilnya cukup kencang saking kesalnya mengahadapi Olivia yang gagal dia bujuk.
__ADS_1
Padahal sebelumnya tuan Kaiden tidak pernah membujuk siapapun, terlebih pada seorang wanita yang ada selama ini tuan Kaiden justru merasa risih, tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan selalu memberikan tatapan tajam pada setiap orang, hanya pada Olivia saja dia bisa bicara lebih pelan dan mau membangunkannya dengan penuh kesabaran, walau pada akhirnya kesabaran dia juga terkuras habis hingga ke dasar kemarahan.
Saat masuk ke dalam restoran tuan Kaiden merasa tidak tenang dan dia tidak bisa berhenti memikirkan nasib Olivia yang masih berada di mobil sendiri. Sehingga membuat tuan Kaiden terus saja memperhatikan mobilnya dari kejauhan. "Aishh...kalau begini bagaimana aku bisa menikmati makanan dengan tenang, ahhh dia benar-benar menjengkelkan." gerutu tuan Kaiden sambil segera bangkit dari kursinya.
Dia pergi ke kasir dan lebih memilih untuk membungkus pesanan yang terlanjur sudah dibuat, saat kembali ke mobil tuan Kaiden melihat Olivia yang masih tertidur dengan lelap dan nampak baik-baik saja, itu sedikit membuatnya lega dan dia menikmati makanannya di dalam mobil hingga selesai dan kembali menyetir lagi, sampai beberapa menit kemudian, akhirnya Olivia terbangun wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya dan dia segera mengusap wajahnya dengan tisyu basah, membenarkan posisi duduknya lalu mengambil air mineral yang ada di dekatnya. Tuan Kaiden refleks menghentikan tangan Olivia saat hendak menegur air di dalamnya. "Eh..eh... jangan minum airnya!" bentak tuan Kaiden saat itu.
Olivia menatap dengan heran, menampakkan kerutan di dahinya dan terus saja menghempaskan tangan tuan Kaiden yang menahan dirinya. "Aishh... lepaskan kau ini kenapa sih, aku haus, apa aku tidak boleh minum?" balas Olivia sangat kesal.
"Bukan begitu tapi itu botol bekas minumku, botol airmu ada di belakang, ambil sendiri." ucap tuan Kaiden padanya.
"Memangnya kenapa sih, aku kan tidak punya penyakit, sudahlah aku minum yang ini saja, punyaku sulit dijangkau." balas Olivia yang terus saja meneguk airnya meski tuan Kaiden berusaha keras menahannya.
"Ahhhh...segar sekali." ucap Olivia setelah meminumnya.
"Heh, dasar bocah apa kau tidak tahu kalau kau minum di tempat yang sama denganku itu artinya...." ucap tuan Kaiden tertahan.
Olivia menatap semakin heran hingga menaikkan sebelah alisnya dan menatap penuh kecurigaan kepada tuan Kaiden saat itu. "Artinya apa? Kenapa kau tiba-tiba saja berhenti bicara?" tanya Olivia mulai penasaran.
"Ahhh.. sudahlah, lagi pula kau sudah melakukannya." balas tuan Kaiden menyuruh Olivia mengabaikan semua itu.
Padahal dalam hatinya tuan Kaiden berpikir bahwa hal tersebut sama seperti ciuman tidak langsung antara dirinya dengan Olivia, namun dia ingat jika dirinya memberitahu hal itu pada Olivia, mungkin yang ada gadis kecil sepertinya menertawakan dia karena mempercayai hal tidak mendasar seperti itu, sehingga tadi tuan Kaiden mengurungkan niatnya untuk memberitahu Olivia hal yang sebenarnya dia pikirkan.
Saat keheningan di dalam mobil tercipta, karena tidak ada percakapan apapun lagi diantara keduanya, tiba-tiba saja suara perut Olivia yang nyaring berhasil memecahkan keheningan tersebut, membuat wajah gadis kecil itu tersipu malu dibuatnya.
"Kreokk... Kreokkk" suara perut yang cukup kencang.
Mereka saling tatap satu sama lain untuk beberapa detik dan Olivia langsung memegangi perutnya, dia berusaha menahan perut itu agar tidak kembali mengeluarkan suara, namun sayangnya dia gagal karena perutnya sama sekali tidak bisa diajak bekerjasama. Suaranya malah semakin kencang dan lebih nyaring dari sebelumnya.
"Aishhh...perut ini benar-benar bikin malu, semoga tuan Kaiden tidak mendengarnya huhu." Batinnya penuh harap.
"Apa kau lapar?" tanya tuan Kaiden tiba-tiba.
__ADS_1
Olivia langsung tersentak kaget, rasa malu dan lapar berbaur menjadi satu, dia hanya menatap penuh gengsi kepada tuan Kaiden yang ada di sampingnya saat itu.
Sedangkan tuan Kaiden sendiri terus saja berusaha menahan tawa saat melihat ekspresi wajah istri kecilnya yang sangat menggemaskan bagi dirinya, saking sulitnya menahan tawa untuk menjaga perasaan Olivia tuan Kaiden sampai harus mengesampingkan pandangannya terlebih dahulu dan berpura-pura batuk untuk menutupi gelagatnya itu.