
Gadis 19 tahun itu panik sendiri dan terus saja merasa cemas dengan kondisi tuan Kaiden yang ada di dalam kamarnya seorang diri, setelah suara barang yang pecah terdengar begitu kencang dari dalam sana, hingga setelah dia berteriak dan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tetap saja tidak ada sahutan dari dalam, justru yang ada malah suara ringisan yang terdengar begitu menyayat hati bagi Olivia.
"Aaarrkkkkk..." Teriakkan dari tuan Kaiden dari dalam kamarnya yang terdengar begitu kesakitan.
Mendengar hal itu tentu saja Olivia semakin panik dan cemas dengannya, dia tidak bisa diam saja dan terus mengetuk pintunya semakin kencang hingga lama kelamaan dia tida memiliki pilihan lain dan terus saja mendobrak pintunya dengan sekuat tenaga yang dia bisa, bahkan Olivia berani untuk menendang pintu kamar tuan Kaiden menggunakan kakinya sampai dia merasa kesakitan dengan kakinya sendiri.
"Tuan tunggu aku, bertahanlah, aku akan menolongmu." Ucap Olivia sambil terus mendobrak pintunya dengan sangat kencang.
Hingga dalam tiga kali dia mendobrak dan menendang pintunya dengan kencang, akhirnya pintu itu dapat dibuka juga dan betapa kagetnya Olivia saat melihat tuan Kaiden yang terduduk bersimpuh di lantai dengan memegangi tangannya yang berlumpur darah saat itu, dia langsung saja berlari menghampiri tuan Kaiden dan langsung saja membawanya untuk bangkit berdiri dan menjauh dari tempat yang terdapat potongan kaca di lantai saat itu.
"Ya ampun tuan, ada apa denganmu, kenapa bisa seperti ini? Ayo cepat bangkit menjauhlah dari sana." Ucap gadis kecil itu membantu tuan Kaiden bangkit berdiri dan segera mendudukkannya di salah satu sofa yang ada di kamar tersebut.
Olivia segera mencari obat merah dan perban di kamar tuan Kaiden, hingga setelah kesulitan tidak bisa menemukannya, gadis manis yang terlihat panik tidak jelas itu langsung saja berteriak memanggil bibi Lil untuk meminta bantuan kepadanya.
"Bi...bibi tolong, aduh dimana sih dia menyimpan obatnya itu." Gerutu Olivia terus saja kesulitan sekali.
__ADS_1
Hingga tidak lama kemudian bibi Lil datang ke dalam kamar tersebut dan segera saja dia kaget melihat kondisi tuan Kaiden yang masih berlumuran darah di ujung kamarnya saat itu.
"Ya ampun nona apa yang terjadi dengan tuan Kaiden, kenapa tangannya bisa sampai seperti ini?" Tanya bibi Lil membuat Olivia sedikit kesal dengannya.
"Bi ini bukan saatnya bertanya, tolong ambilkan air dan obat merah untuknya, dan jangan lupa cepat bersihkan kaca disana dengan hati-hati, biar aku yang akan mengobati tuan Kaiden." Ucap gadis itu yang langsung saja dianggukkan oleh bibi Lil dengan cepat.
Saat bibi Lil sudah kembali dia segera mengambil obat tersebut dan mulai membersihkan darah dan luka di tangan tuan Kaiden yang terlihat cukup dalam, terlebih itu terdapat pada telapak tangannya dan darahnya itu sulit sekali untuk berhenti, tapi untungnya setelah beberapa saat Olivia terus mengobatinya dan memberikan obat merah kepada lukanya tersebut, akhirnya bisa berhenti juga dan segera saja dia balut dengan perban dalam beberapa lilitan saat itu.
Tuan Kaiden terus saja meringis kesakitan memegangi tangannya tersebut.
"Apa masih sakit?" Tanya Olivia kepadanya.
"CK.... Bukannya berterima kasih aku sudah membantumu, kau malah berbicara seketus itu padaku." Balas Olivia dengan wajah yang kesal dan dia terus saja mengikatkan perbannya lebih erat sampai membuat tuan Kaiden semakin meringis sakit dengan mengeratkan giginya sangat kuat saat itu.
"Aaahh...hei kau sengaja melakukan itu ya!" Bentak dia sambil membelalakkan matanya dengan sangat lebar kepada Olivia.
__ADS_1
Setelah lukanya sudah di balut dengan perban sangat rapih oleh Olivia, tuan Kaiden justru langsung saja mendorong Olivia untuk menjauh dari dirinya dan terus saja tuan Kaiden semakin mendorong tubuh Olivia untuk keluar dari kamarnya dengan cepat, karena dia merasa hatinya sedikit merasa berbeda ketika dia menatap lekat kepada Olivia yang tengah mengobati lukanya dengan begitu serius dan sangat hati-hati.
"Astaga.. apa yang aku pikirkankan, aaahhh tidak-tidak ini tidak bisa dibiarkan saja, aku harus menjauh dari bocah ini." Batin tuan Kaiden dengan segera menyadarkan dirinya.
Langsung saja dia bangkit berdiri sekaligus sambil mendorong tubuh Olivia yang ternyata terlalu kencang sampai membuat Olivia terjatuh ke belakang dan menatap ke arahnya dengan wajah kebingungan dan merasa heran.
"Hah? Tuan apa yang kau lakukan kenapa kau tiba-tiba mendorongku?" Tanya gadis kecil itu dengan wajah yang sangat keheranan sendiri.
"Ahh...tidak ada, sana kau pergi dari sini, cepat pergi, untuk apa kau masih berada di dalam kamarku, sana keluar!" Bentak tuan Kaiden terus menerus sambil menarik tangan Olivia dan terus saja menyeretnya keluar dari dalam kamarnya tersebut.
Olivia menjadi sangat kesal mendapatkan perlakuan seperti itu dari tuan Kaiden, disaat dia sudah bersikap sangat baik dan membantunya untuk membalut luka, bahkan rasa sakit di sikutnya sama sekali tidak dia hiraukan demi mengobati tuan Kaiden, bahkan saat dia mendobrak pintu kamar tuan Kaiden sebelumnya untuk membantu tuan Kaiden dan mencemaskan tuan Kaiden yang saat itu menjerit kesakitan.
Tapi yang dia dapatkan justru malah hal seperti ini, mendapatkan perlakuan yang sangat tidak sesuai dengan apa yang sudah dia berikan kepada tuan Kaiden, padahal Olivia pikir tanpa tuan Kaiden menyeretnya dan mendorong dia dengan paksa seperti itu, dia juga akan pergi dari kamarnya karena dia juga sudah selesai untuk membalut luka tuan Kaiden. "Aishh..iya iya, aku juga akan pergi, lepaskan, kau tidak perlu mendo..." Ucap Olivia yang sampai tidak selesai karena tuan Kaiden langsung saja menutup pintunya lagi dengan keras.
Membuat Olivia benar-benar sangat emosi dibuatnya, dia langsung saja menggerutu kesal sendiri sambil terus menghentak-hentakkan kakinya dengan keras.
__ADS_1
"Aaarrghhhh benar-benar pria menyebalkan, seenaknya saja mengusir orang begini, aku benar-benar menyesal sudah bersikap baik kepadanya, aishh dia manusia menjengkelkan, awas saja kau, aku tidak akan membantu apapun lagi untukku!" Teriak Olivia dengan kencang dan dia langsung saja menendang pintu tuan Kaiden dengan cukup kuat dengan kakinya.
Olivia langsung masuk ke dalam kamarnya dan dia terus saja mengunci kamarnya dengan kuat dan menjatuhkan tubuhnya sekaligus ke ranjangnya tersebut, sambil tidak berhenti untuk menggerutu keras dan terus saja merutuki tuan Kaiden tanpa henti, sampai tidak sengaja tangannya justru malah terhantuk pada samping ranjang cukup kuat dan dia langsung saja meringis kesakitan memegangi sikutnya tersebut yang ternyata nampak lebam karena sebelumnya dia gunakan untuk mendobrak pintu kamar tuan Kaiden.