Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Bertengkar di Mobil


__ADS_3

Sedangkan Olivia sendiri justru malah terlihat malas untuk mendengar ucapan dari tuan Kaiden yang selalu asik membanggakan dirinya sendiri hanya karena sebuah pujian kecil yang dia berikan saat itu, kini gadis 19 tahun itu malah merasa menyesal karena sudah melontarkan sebuah pujian kepada-nya. "CK... Aku menyesal sudah memuji orang yang salah." Gerutu Olivia dengan berdecak pelan.


Tuan Kaiden hanya menatap dengan tatapan yang sinis karena tanpa Yuki sadari ternyata tuan Kaiden masih bisa mendengar decak kan dan gerutuan yang dikatakan oleh gadis kecil tersebut beberapa saat yang lalu.


Olivia juga segera membenarkan posisi duduknya dengan cepat dan ikut memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil sambil terus saja berpura-pura menikmati perjalanan menuju ke pantai, yang dimana saat itu mereka benar-benar hampir sampai di pantai tempat tujuannya.


"Ekm....aahhh jalanan disini lenggang sekali, angin pantai sudah bisa aku rasakan, eummm segarnya, aku tidak sabar untuk main pasir disana." Ucap gadis itu memalingkan pembicaraannya agar tuan Kaiden tidak sibuk memandangi dia dan terus memberikan tatapan yang tajam seperti saat ini.


Namun sayangnya semua yang dia lakukan sia-sia saja, tuan Kaiden bukan seseorang yang dapat dia hindari ataupun dia bodohi seperti yang dia pikirkan saat ini, namun untungnya tuan Kaiden tidak benar-benar marah besar dengan Olivia.


"Heh, berhenti sok membuang muka dan berpura-pura memandang ke luar, aku tahu kau hanya memalingkan pembicaraan, kalau kau tidak senang denganku, kau bisa keluar sekarang juga." Ucap tuan Kaiden yang malah mengusir Olivia begitu saja.

__ADS_1


Membuat gadis itu seketika berbalik menatap ke arahnya dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar termasuk dengan sekretaris Dep yang juga menaikkan kedua alisnya, merasa kaget dengan ucapan dari tuan Kaiden yang malah mau menurunkan gadis kecil tersebut di pinggir jalan seperti ini dan mulai menyuruh dia untuk menghentikan mobilnya dengan cepat.


"Dep kenapa kau masih terus menjalankan mobilnya, ayo hentikan dan biarkan saja gadis ini turun, aku sama sekali tidak perduli dengannya." Ujar tuan Kaiden dengan wajah yang terlihat sangat serius dan ditekuk sangat kusut.


Dengan cepat Olivia berbicara kepada tuan Kaiden dan berusaha untuk memintanya agar tidak menurunkan dia di jalanan yang sepi seperti yang dia lewati saat itu.


"Eehh..tuan kau ini kenapa baperan sekali, aku kan hanya bilang begitu saja, ayolah tuan apa kau tega menurunkan aku di jalanan seperti ini? Setidaknya turunkan saja aku di jalanan yang ramai dengan rumah penduduk atau perkotaan, agar aku bisa menghentikan taxi untuk pulang nantinya." Balas gadis kecil tersebut yang malah semakin membuat tuan Kaiden marah besar dengannya.


Hingga membuat gadis tersebut tidak senang dengan ucapannya itu, karena pada awalnya mereka jelas sudah membuat kesepakatan bersama, dimana tuan Kaiden hanya akan menjadikan Olivia sebagai istrinya selama urusan dan nama baik dia telah pulih kembali dan keadaan sudah menjadi lebih damai seperti sedia kala, maka di waktu itulah dia akan melepaskan Olivia dan menceraikan dia seperti perjanjian yang tertulis diantara mereka berdua.


Tapi sayangnya kali ini tuan Kaiden justru malah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memberikan kebebasan lagi bagi Olivia, jadi tentu saja gadis kecil itu merasa sangat kesal dan tidak terima dengan keputusan yang dibuat secara sepihak oleh tuan Kaiden dan malah membentak dia seperti itu. Langsung saja Olivia membalas ucapannya dengan nada yang lumayan tinggi karena dia di kuasai dengan emosi dalam dirinya juga.

__ADS_1


"APA? Tuan kau ini yang benar saja, tidak mungkin aku harus terus menjadi istrimu selamanya, kita tidak saling mencintai dan jenjang usia diantara aku dan kau sangatlah jauh sekali, mana mungkin aku yang masih muda ini akan cocok menjadi istrimu aaahh tidak bisa, yang ada orang lain akan mengira aku adalah adikmu, atau bahkan putrimu." Balas gadis kecil tersebut yang sudah membayangkan pada hal yang terlalu jauh untuk di pikirkan, apalagi dijadikan pembahasan saat ini.


"Aishh..diam saja kau, semua ini hukuman karena kau sudah berani menggerutu dan berdecak seperti tadi di hadapanku, itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan, jadi kau harus menerima hukumannya, mulai sekarang semua keputusan ada di tanganku dan hanya aku yang bisa menggantikan isi kontraknya kapan pun aku mau, jika kau merasa tidak enak dan begitu terganggu, ya silahkan saja kau kembali pada asalmu lagi." Balas tuan Kaiden yang membuat Olivia hanya bisa pasrah dengan keputusan darinya.


Dalam diamnya gadis 19 tahun itu hanya bisa menatap sinis dan terus merotasikan matanya beberapa kali karena dia benar-benar sangat sebal dengan tuan Kaiden yang seenaknya dengan dia. "Aishh...aku sumpahi agar dia tersandung sampai tersungkur di lantai dan di tertawakan banyak orang, dasar manusia sialan!" Batin Olivia yang terus saja merasa kesal dan menyimpan banyak dendam dalam hatinya tersebut kepada tuan Kaiden.


Tuan Kaiden sendiri sebenarnya saat itu merasa senang dan kejadian tadi hanya dia jadikan alasan semata untuk menahan Olivia agar bisa terus menjadi istrinya dan tidak dapat melarikan diri dari cengkraman dirinya, karena hanya dengan begitu maka tuan Kaiden bisa merasa tenang, tanpa perlu cemas dan merasa takut lagi jika gadis kecil tersebut akan kabur dari perjanjian yang sudah mereka sepakati sebelumnya, terlebih saat ini dia juga masih harus menjalankan beberapa rencananya dalam melawan Seno, sang adik tiri yang terus saja tidak pernah berhenti untuk bersaing dan ingin menghancurkan bisnisnya sendiri.


"Haha....aku tidak menduga ternyata dia bisa juga aku berikan hukuman seperti ini, sekarang dia tidak akan bisa coba-coba kabur lagi dari genggamanku, dasar gadis bodoh." Batin tuan Kaiden sambil menatap Olivia lewat sudut matanya sekilas saja saat itu, mereka benar-benar terlihat seperti kucing dan tikus yang tidak pernah bisa akur.


Kini bahkan tempat duduknya pun saling berjauhan, Olivia menatap ke arah berlawanan dengan kedua tangannya yang dia lipat di depan dada begitu pula dengan tuan Kaiden yang terlihat melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Bahkan dia terlihat sangat kesal dibandingkan sebelumnya saat itu, hanya sekretaris Dep saja yang tetap terlihat santai dan tenang, sejak pertama kali memulai perjalanan hingga saat ini, ekspresi nya hanya berubah beberapa saat saja, ketika tuan Kaiden dan Olivia bertengkar dan kembali menggelengkan kepala dalam menanggapi kelakuan dua orang dibelakangnya tersebut.


__ADS_2