
Olivia sangat kesal dia tidak bisa bersabar lagi, terlebih melihat Seno yang hanya diam ketika dia terus mendesaknya dengan banyak pertanyaan. "Kak Seno tolong jawab setidaknya satu saja pertanyaan dariku, aku hanya ingin kau jujur." tegas Olivia lagi.
Akhirnya Seno pun mau angkat bicara, walaupun dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan masih terus menutupi apa yang dia rasakan saat itu. "Begini Olivia, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih, dan aku pikir kamu tidak akan mau kembali lagi pada Kaiden, dia tidak cukup baik untukmu dan aku merasa cemas jika bukan aku sendiri yang menjagamu, jadi aku menyembunyikan semuanya darimu, aku harap kamu tidak membenciku atas hal ini." balas Seno mencoba untuk mendapatkan simpati dari gadis kecil tersebut.
Olivia percaya begitu saja dengan penjelasan yang di katakan oleh Seno, dia memang tidak pernah berpikiran buruk kepada siapapun, sehingga hanya bisa terdiam dan terus memaafkan semuanya. "Ya sudah jika begitu aku tidak akan marah denganmu, tapi kak Seno mau bagaimana pun tuan Kaiden adalah suamiku, aku masih ada di bawah tanggung jawabnya, aku rasa dia benar-benar mencemaskan ku, aku juga masih ingin meminta janji yang belum dia tepati padaku." balas Olivia memutuskan.
Seno menghargai keputusan Olivia dan dia mengijinkan Olivia untuk pergi menemui Kaiden, namun dia tetap akan menemaninya.
Malam itu juga Seno memberitahukan pada tuan Kaiden bahwa Olivia aman berada dengannya serta berniat mengantarkan Olivia ke rumah tuan Kaiden esok pagi.
Tuan Kaiden yang tahu jika Olivia ternyata tinggal dengan saudara tirinya selama ini, dia langsung saja marah besar, bahkan sampai memecahkan banyak barang di kamarnya, emosi dalam dirinya sudah tidak bisa terbendung lagi, walau dalam panggilan telpon dirinya nampak santai dan tidak memberikan reaksi apapun, tetapi di kenyataannya tuan Kaiden benar-benar dipenuhi emosi yang menggebu. "Oh jadi selama dia menghilang kau yang menyembunyikannya dariku? Pantas saja aku begitu sulit untuk menemukannya. Bagaimana, apakah kalian sudah bersekongkol sekarang," ujar tuan Kaiden dalam panggilan telpon yang diperbesar suaranya oleh Seno.
Sehingga ucapan itu dapat terdengar langsung oleh Olivia yang duduk dan mendengarkan percakapan mereka saat itu.
"Tuan, bisakah kau tidak berpikiran buruk padaku dan kak Seno? Kami tidak ada hubungan apapun apalagi bersekongkol untuk menjatuhkan dirimu." balas Olivia yang langsung menjawabnya.
Tuan Kaiden begitu kaget, dia tidak menduga jika Olivia mendengar semuanya, sehingga dia berusaha untuk memperbaiki ucapannya tadi dan langsung menutup panggilannya. "Ekmmm... Ohh begitu, ya sudah cepat kau kembali atau aku yang akan menyerang si Seno sialan itu." Ancam tuan Kaiden.
Saat Olivia hendak membalas ucapannya lagi, panggilan telepon sudah di tutup sepihak oleh tuan Kaiden, membuat Olivia semakin kesal dan terus merutuki tuan Kaiden dengan ucapan refleks yang keluar dari mulutnya. "Heh tuan kau...tuan...aishh kau benar-benar mematikan teleponnya, sial dasar manusia batu!" bentak Olivia dengan wajahnya yang memerah menahan amarah begitu besar.
"Sudah-sudah tidak ada gunanya kamu merutuki Kaiden seperti itu, nanti kamu bisa kualat diakan suamimu," ujar Seno sambil mengusap pundak Olivia saat itu.
"Cih menyebalkan, kenapa aku harus punya suami sepertinya? Tuhan benar-benar mengujiku." balas Olivia sambil segera bangkit dan pergi ke kamarnya.
Sebuah senyum kecil tergambar di wajah Seno tatkala dia melihat wajah Olivia yang sangat manis dan menggemaskan ketika marah barusan, tanpa sadar Seno nampaknya mulai menyimpan perasaan kepada gadis kecil tersebut, entah sejak kapan dia malah menyukai karakter gadis itu, tapi yang dia tahu Olivia sangatlah berbeda dengan wanita pada umumnya. "Astaga...tidak tidak, aku tidak boleh menyukainya, aahhh diakan istri dari musuhku, ibu bisa menghajarku jika tau aku menyukai musuhku sendiri." Gerutu Seno sembari menggelengkan kepalanya keras.
Dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terus berlarut dalam perasaan yang salah menurutnya, tapi siapa yang tahu, cinta terkadang datang karena terbiasa dan tanpa disengaja, siapa saja dapat jatuh cinta tiba-tiba, entah pada orang yang baru dia lihat, atau pada seseorang yang dia benci, karena begitulah hakikatnya cinta, tidak tahu tempat dan kadang bersama orang yang kurang tepat.
Esokan paginya, Seno benar-benar mengantarkan Olivia kembali ke kediaman tuan Kaiden, kebetulan hari ini tepat hari Minggu, tuan Kaiden sudah berdiri sejak pagi-pagi buta dan menyuruh bibi Jil untuk menyiapkan banyak menu sarapan pagi ini, dengan alasan nafsu makannya yang bertambah dan akan kedatangan tamu hari ini, padahal bibi Jil sudah tahu bahwa tuan Kaiden hanya gengsi untuk mengatakan bahwa semua persiapan ini untuk menyambut kedatangan istri kecilnya tersebut. Dia berdiri bersama bibi Jil di samping kiri dan sekretaris Dep di samping kanannya, serta beberapa pelayan lain yang berbaris di pinggiran jalan menuju rumah utama. Tepat ketika mobil yang di tumpangi oleh Olivia berhenti dan dia keluar dengan dibantu oleh Seno, semua pelayan langsung menyambut kedatangannya dan tuan Kaiden terus menatap tajam dengan kedua tangan yang dia simpan di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Selamat datang kembali nona muda," ucap semua pelayan serentak.
Bukannya fokus pada tuan Kaiden yang sudah menunggu lama kedatangannya, Olivia justru malah salah fokus dengan keberadaan bibi Jil di sana, dia sudah lama sekali tidak bertemu bibi Jil yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri, sehingga saat baru turun dari mobil Olivia langsung tersenyum lebar dan wajahnya nampak bahagia, dia terus berlari menghampiri bibi Jil sambil merentangkan kedua tangannya.
Membuat tuan Kaiden salah paham dan merasa gugup karena dia pikir Olivia akan memeluknya dan merindukan dia saat itu. "Cih, dia benar-benar kekanakan, baru berpisah denganku beberapa hari saja sudah mau memelukku di depan umum begini," batin tuan Kaiden saat itu.
Saat Olivia semakin dekat dan dia menyebut nama bibi Jil, barulah tuan Kaiden tersadar dan wajahnya langsung berubah kecut, dengan mata tajam menatap ke arah Olivia yang berpelukan dengan bibi Jil di sampingnya. "Bibi aku sangat merindukanmu, kenapa kau tidak bilang jika akan kembali secepat ini." ucap Olivia mencurahkan rasa rindunya.
"Nona, saya juga merindukan nona muda tapi nona apakah nona tidak merindukan tuan Kaiden juga, dia sudah menunggu nona cukup lama." Balas bibi Jil mencoba untuk menyadarkan Olivia sebab bibi Jil paham jika tuan Kaiden tengah tidak senang dengannya saat itu.
Seketika Olivia melepaskan pelukannya pada bibi Jil dan dia melirik ke arah tuan Kaiden dengan tatapan yang sinis. "Dih, mana mungkin aku merindukan dia, melihat wajahnya saja membuatku muak dan darah tinggi, ayo bi kita masuk saja, pasti bibi memasak banyak makanan untukku kan?" ucap Olivia yang malah mengabaikan keberadaan tuan Kaiden.
Seno dan sekretaris Dep menahan tawa sejak tadi, mereka tidak berani untuk menertawakan tuan Kaiden secara langsung, walau pada akhirnya Seno pun melepaskan tawanya. "Ffttt... Hahaha.... Kasihan sekali kau, istrimu sendiri bahkan tidak merindukanmu dan malah lebih sweet dengan pelayanmu, sepertinya kau harus banyak belajar dari bibi Jil, cara untuk meluluhkan hati istri kecilmu itu. Semoga beruntung hahaha." ujar Seno sambil menepuk sebelah pundak tuan Kaiden lalu pergi dari sana secepatnya.
Tuan Kaiden semakin kesal dia sudah mengepalkan kedua lengannya dengan kuat sejak tadi, sedangkan sekretaris Dep mulai memperbaiki posisi berdirinya sebab dia tahu tuan Kaiden pasti akan mencari-cari kesalahan pada dirinya dan melampiaskan kekesalan itu kepada-nya.
"Dep siapkan mobil untukku besok." perintah tuan Kaiden.
"Batalkan kunjungan ke pembangunan mall, aku akan menunaikan janji pada seseorang." balas tuan Kaiden tegas dan dia segera masuk ke dalam rumah meninggalkan sekretaris Dep yang masih kebingungan.
"Hadeuhhh... Terserahlah, apapun yang akan dia lakukan ujungnya tetap aku juga yang kelimpungan, nasib-nasib, kapan aku bisa menjadi bos juga." gerutu sekretaris Dep yang meratapi nasibnya sendiri.
Secepatnya sekretaris Dep menyiapkan mobil yang akan digunakan oleh tuan besarnya itu, sedangkan tuan Kaiden sendiri menghampiri Olivia yang sudah duduk bersama bibi Jil di meja makan, dia mulai mengajak Olivia untuk bicara. "Ekm...hei bocah, dengarkan aku, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu."
Olivia tidak terlalu memperdulikannya dia terus saja mengunyah pudding yang sudah di buatkan oleh bibi Jil sebelumnya, hanya membalas tuan Kaiden dengan anggukan kecil. "Hei apa kau mendengarkan ku?" ucap tuan Kaiden merasa kesal.
"Aku mendengarkannya, ayo bicara saja," balas Olivia dengan santai.
"Benar-benar menguras energi, aishhh sabar-sabar aku harus sabar menghadapi bocah tengil ini." batin tuan Kaiden menahan emosinya.
__ADS_1
"Hei kenapa kau diam, bukannya tadi mau bicara?" tanya Olivia mulai menatap ke arah tuan Kaiden.
"Huuuhh... Besok kita akan pergi ke kampungmu itu."
"Ohok...ohok....ohok... A..A... Apa? Tuan apa kau sedang bercanda denganku?" tanya Olivia sangat kaget hingga dia hampir tersedak saat itu.
Tuan Kaiden segera mengambil air minum dan memberikannya kepada Olivia dengan cepat, wajahnya ikut panik karena mencemaskan kondisi Olivia. "Hei hei apa kau baik-baik saja? Cepat minum dulu." ucap tuan Kaiden dengan wajahnya yang penuh kepanikan.
Olivia menatap diam tanpa bergerak sedikitpun, dia tidak menduga jika tuan Kaiden ternyata bisa mencemaskan dia sampai seperti itu, bahkan sangat cepat tanggap ketika dia dalam bahaya, walaupun itu hanya tersedak sedikit saja. "Tuan apa kau mencemaskan ku? Aku baik-baik saja." balas Olivia sambil tersenyum kecil.
Membuat tuan Kaiden tersadar dan sedikit salah tingkah, dia segera menjauhkan diri dari Olivia dan langsung membenarkan jasnya untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. "O..oo..ahh.. tidak, tadi aku hanya refleks saja, lagian kenapa kau bisa sampai tersedak begitu, apa kau ini bayi, makan pudding saja bisa tersedak." balas tuan Kaiden mengatai Olivia.
"Kau yang membuatku kaget, tapi apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan tuan?" tanya Olivia mematikannya.
"Tentu saja, memangnya kapan aku berbohong padamu." balas tuan Kaiden membuat Olivia sangat senang.
Dia langsung memeluk tuan Kaiden tanpa sadar dan mengucapkan banyak terimakasih kepadanya sebab sudah mau menepati janjinya tersebut. "Aaahhh...tuan terimakasih banyak, aku pikir kau hanya menjahiliku saja,"
Seketika tuan Kaiden terperangah dan gugup, mendapatkan pelukan hangat secara tiba-tiba dari gadis yang selama ini tinggal dengannya dan sudah menjadi istrinya namun tidak bisa dia miliki sepenuhnya, bahkan ini sepertinya hal yang langka untuk dirasakan seorang tuan Kaiden. "Aishh... lepaskan! Kau ini apa-apaan sih, main peluk-peluk saja, menjauh dariku." bentak tuan Kaiden sambil mendorong tubuh Olivia darinya.
"Cih, kenapa sih, baru kali ini ada yang menolak pelukanku, aku kan hanya ingin berterimakasih." balas gadis itu dengan heran.
"Berterimakasih ya tinggal bilang saja tidak perlu sampai memelukku seperti tadi, sudah kau habiskan makanannya aku akan pergi ke ruang kerjaku." balas tuan Kaiden sambil beranjak pergi meninggalkan Olivia.
Gadis kecil yang lugu itu terus merasa senang dan tersenyum lebar sambil melanjutkan makannya, dia sama sekali tidak perduli atas apapun karena yang terpenting baginya saat ini dia akan segera menjumpai tanah tempat kelahirannya sekaligus mengunjungi makam sang kakak yang sudah lama tidak pernah dia lihat, Olivia sudah sangat menunggu momen tersebut, jadi wajar saja jika dia sangat senang ketika mendapat kabar tersebut dari tuan Kaiden.
Berbeda dengan Olivia tuan Kaiden justru malah berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang pintu, dia juga memegangi dadanya dan merasakan detak jantung yang semakin kencang, mencoba untuk menenangkan diri dan terus berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya yang ia rasakan setiap kali di dekat Olivia. "Huh...huh...aku harus mengatur dan mengendalikan diriku sendiri, jangan sampai gadis konyol itu tau kalau aku diam-diam menyukainya." ucap tuan Kaiden yang kini bisa mengakui hal itu sendiri.
Tapi sayangnya dia belum cukup berani untuk mengatakan perasaannya secara langsung pada gadis kecil tersebut, banyak hal yang selalu dipertimbangkan oleh tuan Kaiden, sebab selama ini dia terlalu fokus pada karir dan cara untuk mendapatkan kekuasaan yang besar, semuanya dia lakukan untuk mempertahankan warisan turun temurun dari ibu dan kakek neneknya, dia hanya tidak ingin semua itu jatuh ke tangan yang salah, terlebih seseorang seperti nyonya Asila yang sejak awal sudah mengincar harta dari ayahnya tuan Kandensus.
__ADS_1
"Tidak aku tidak boleh semakin jatuh cinta pada gadis itu, cinta hanya akan membuat aku lemah dan tidak fokus pada tujuan utamaku, iya aku harus menyingkirkan semua perasaan konyol ini!" tegas tuan Kaiden yang masih saja berusaha menghindari perasaan tersebut.
Kembali pada pekerjaan dan menyibukkan diri adalah satu satunya cara paling manjur untuk mengesampingkan perasaan resah dan cinta, itulah mengapa tuan Kaiden lebih senang berlama-lama di kantor atau ruang kerja pribadinya dibandingkan diam di rumah atau pergi ke luar tanpa tujuan yang jelas. Karena hal itu juga dia mulai melakukan semuanya sesuai dengan rencana awal yang sudah dia buat, mulai dari menepati janji pertamanya kepada Olivia sebagai balasan karena sebelumnya Olivia mau membantu dirinya dengan menjadi istri kontrak untuknya.