Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Perayaan Keberhasilan Tuan Kaiden


__ADS_3

Disisi lain tuan Kaiden sendiri terus tersenyum kecil mengingat apa yang dilakukan oleh gadis kecilnya untuk membela dirinya di hadapan seorang Risa, dia semakin percaya diri dan merasa yakin bahwa Olivia mulai menyukainya.


Hingga beberapa Minggu berlalu kini Olivia sudah bisa masuk ke salah satu universitas terbaik yang dia pilih dalam belajar bahasa asing, sejak dia masuk ke universitas, waktu Olivia lebih banyak digunakan untuk belajar dan pergi dengan teman-teman kampusnya, tanpa dia sadari bahwa kampus tersebut merupakan kampus tempat Malara dan Serli menempuh pendidikan, hanya saja mereka berada di jurusan yang berbeda, sehingga wajar saja jika saat pertama kali Olivia masuk ke sana dia belum pernah bertemu mereka.


Saat ini kebetulan saja Malara yang melihat Olivia lebih dulu tepat ketika Olivia tengah mencari buku di perpustakaan umum yang ada disana. "Olivia, sedang apa kamu disini?" ucap Malara penuh keheranan.


Olivia menoleh dan menatap wajah temannya dengan datar, antara kaget dan bingung yang bercampur jadi satu, dia segera menjawabnya pelan karena tahu bahwa di samping Malara ada Serli yang menatap dia dengan sinis.


"Ah... Aku sedang mencari buku." balas Olivia begitu datar sambil lanjut mencari buku yang dia maksud.


Namun tiba-tiba saja Serli menyentuh tangannya menahan Olivia saat dia hendak meraih sebuah buku yang ada pada rak paling atas. "Ada apa, kau mau buku itu juga?" tanya Olivia kepadanya.


"Ikut denganku!" tegas Serli sambil menarik tangan Olivia secara tiba-tiba dan membawanya pergi dari perpustakaan dengan cepat.


Olivia terseret dan tidak sempat menahan dirinya, sedang Malara berlari di belakang mereka mengejar ketertinggalan saat itu, hingga saat sampai di luar barulah Serli melepaskan tangan Olivia dan langsung membentak Olivia dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


"Untuk apa kau ada di perpustakaan ini? Apa kau menerobos kesini untuk menemukan Malara? Kau pasti mau mengganggunya lagi iya kan?" bentak Serli dengan semua sangkaan buruknya.


"Serli aku pikir kamu sudah berubah, ternyata masih sama saja ya, aku disini karena mencari buku dan aku sama sekali tidak tahu jika kalian juga kuliah disini," jelas Olivia kepadanya.


Sayangnya Serli sama sekali tidak mempercayai hal itu, dia tetap terlihat kesal pada Olivia, dan malah menertawakan jawaban yang diberikan oleh Olivia barusan.


"Ahahah apa? Jadi maksudnya kau juga kuliah disini begitu?"


"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu pikir kalian saja yang bisa kuliah disini, ini kan universitas untuk umum, siapapun bisa menempuh pendidikan disini jadi apa salahnya?" balas Olivia mulai tidak senang dengan reaksi yang diberikan oleh Serli saat itu.


Sebab semua yang di perlihatkan kepada Olivia semuanya nampak terlihat menyebalkan, seakan-akan Serli menertawakannya dan mengolok-olok dirinya dengan cara seperti itu, sedangkan Malara sendiri hanya diam berdiri di samping Serli tanpa memberikan sedikitpun pembelaan kepadanya.


"Ahaha.. Ayolah Olivia, apa kau pikir aku bisa ditipu olehmu, mana mungkin kau sanggup untuk membayar biaya kuliah disini, ini adalah universitas favorit dan terbaik yang ada di kota ini, semua mahasiswa yang masuk ke sini adalah mahasiswa elit, mereka orang kaya dan cerdas, bukannya orang kampungan, miskin dan konyol sepertimu, berhenti bermimpi Olivia, ahaha konyol sekali." balas Serli semakin merendahkan Olivia.


Kedua tangan gadis itu dikepal sangat kuat, dia berusaha untuk menahan amarah dalam dirinya, namun Malara langsung menarik tangan Serli dan mengajaknya untuk pergi dari sana, serta berhenti mempermalukan Olivia di depan umum seperti itu. "Serli sudah cukup, ayo kita pergi saja dari sini, tidak ada urusannya jika dia kuliah atau tidak ayo cepat kita pergi saja. Jangan mengganggunya lagi," ucap Malara yang berusaha menjauhkan kedua sahabatnya tersebut.


"Kau benar Malara tidak ada gunanya kita menanggapi ucapan manusia halu ini, sebentar lagi palingan satpam akan menyeretnya keluar dari sini." balas Serli sambil berlenggang pergi dari sana bersama Malara.


Lagi dan lagi Olivia di tinggalkan dalam kondisi dirinya yang penuh amarah serta kekesalan, tapi sebesar apapun emosi yang ada dalam dirinya, Olivia tetap tidak bisa membenci sahabatnya sendiri, dia segera menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang dan berusaha mengeluarkannya perlahan, mengatur deru nafasnya yang tadi sempat tak terkendali, juga mulai kembali fokus dengan tujuan awalnya untuk kuliah di tempat tersebut.


"Fyuhh.. Sabar Olivia sabar, ingat tujuan awalmu kuliah disini untuk mewujudkan mimpimu, aku harus membuktikan kepada mereka bahwa aku mampu mewujudkan semua mimpiku dengan caraku sendiri, aku juga tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan tuan Kaiden yang sudah menghabiskan banyak uang untuk kuliahku. Iya semangat Olivia!" ujarnya berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Disisi lain tuan Kaiden mendapatkan hal baik, dia proyek yang di berikan oleh tuan Kandensus serta Seno yang gagal di tangan mereka, kini justru sudah berhasil dibangun kembali oleh tuan Kaiden dan mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat, salah satunya sebuah mall besar yang dibangun di tepi pantai mulai mendapatkan banyak sekali pengunjung sehingga para penjual yang bekerjasama dengannya untuk menyediakan berbagai macam produk olahan serta yang lainnya berbahagia, semua produk yang dipasarkan di mall tersebut laku keras, karena banyak warga asing yang membeli barang-barang mereka untuk dibawa pulang ke negeri mereka masing-masing sebagai kenang-kenangan, tuan Kaiden juga mendapatkan pemasukan yang sangat besar darinya, dia segera memberitahukan tuan Kandensus tentang keberhasilannya itu, dan mendapatkan respon yang sangat baik dari ayahnya.


Bahkan kini untuk pertama kalinya seorang tuan Kandensus mengundang dirinya bersama sang istri untuk menghadiri makan malam di kediamannya secara langsung, padahal tidak pernah ada siapapun yang diundang dalam acara seperti itu secara resmi oleh tuan Kandensus sendiri, apalagi saat ini tuan Kandensus meminta tuan Kaiden membawa Olivia dengannya, padahal sebelumnya tuan Kandensus jelas tidak menyukai sosok Olivia meskipun dia menyetujui pernikahan mereka berdua.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain nyonya Asila yang tengah mengecat kuku-kuku cantiknya dikagetkan sebab mendengar kabar dari anak buahnya bahwa tuan Kandensus membuatku makan malang spesial untuk merayakan keberhasilan tuan Kaiden dalam proyek yang diselamatkan olehnya, mendengar hal itu nyonya Asila sangat kesal dan marah dia tidak terima jika suaminya terlihat kembali dekat dengan putra kandungnya itu.


"Sial, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, aku harus melakukan sesuatu untuk mempercepat pergerakan Seno dan Risa, ya mereka harus segera menikah." ucap nyonya Asila yang mulai mempercepat rencananya tersebut.


Dia pergi menemui Seno dan terus mendesak putranya itu untuk secepatnya menikahi Risa, karena hanya itu satu satunya cara yang bisa membuat seorang tuan Kandensus berpihak lebih besar kepada mereka.


"Seno ibu tidak mau tahu, kau harus segera menikahi Risa dan memiliki anak darinya!" teriak nyonya Asila yang baru saja tiba di ruangan Seno saat itu.


Membuat pria tersebut merasa heran sampai mengerutkan kedua alisnya sangat kuat, Seno segera mengesampingkan pekerjaannya dan mulai menanggapi ucapan ibunya tersebut.


"Bu ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba seperti ini, bukankah pernikahan aku dan Risa sudah kita rencanakan sebelumnya, lagi pula Kaiden dan Olivia mereka juga belum saling cinta satu sama lain, tidak mungkin mereka akan memiliki anak lebih dulu dariku." Tegas Seno saat itu.


"Hei, apa kau bisa tahu kapan mereka melakukan hubungan suami istri? Apa melakukan hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang saling cinta saja? Kau pikir dengan otakmu itu Seno, Kaiden seorang pria dewasa dan Olivia adalah gadis kecil yang polos dan bodoh, mana mungkin mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu setelah tinggal di satu rumah yang sama hingga satu tahun lebih lamanya? Apa kau idiot?" balas nyonya Asila sangat kesal dalam menjelaskan semua itu pada putranya.


Jawab dari nyonya Asila berhasil membuat Seno tersadar dia mulai diam dan memikirkan semua itu, namun yang ada di kepalanya saat itu adalah rasa cemburu dan kesal dia tidak terima jika semua itu benar-benar terjadi, sebab tanpa dia sadari sejak awal dia memang memiliki perasaan lebih terhadap Olivia. "Ibu benar, tapi tenang saja cepat atau lambat aku akan merebut Olivia darinya." balas Seno yang tidak sengaja keceplosan.


Nyonya Asila kaget bukan main dia seketika membelalakkan matanya sangat lebar dan menggebrak meja kerja Seno sangat kencang.


"APA? Kau mau merebut gadis itu dari Kaiden, wah wah... Seno jangan bilang jika kau menyukainya juga?" bentak nyonya Asila sangat kencang sambil menggelengkan kepalanya pelan


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala putranya itu, sedangkan Seno mencoba untuk menjelaskan semuanya.


"Bu semua ini tidak seperti yang ibu pikirkan, lagi pula Olivia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perebutan harta warisan ini, dia hanya gadis luar yang tidak sengaja terjebak serta di manfaatkan oleh Kaiden, dia sama sekali tidak bersalah Bu, jadi tolong jangan membawa namanya dalam hal ini," balas Seno dengan berani membela Olivia di depan ibunya.


"Dia tidak menyukaiku Bu, dia juga hanya memanfaatkan aku agar Kaiden cemburu namun sepertinya dia juga keliru sebab aku yakin Kaiden sama sekali tidak pernah menyukainya, sorot mata Kaiden kepadanya begitu kosong berbeda dengan bagaimana Kaiden menatap Olivia dan memperlakukannya, jadi tidak akan ada masalah jika aku mengejar Olivia, Risa tidak akan keberatan dengan hal itu." balas Seno yang tidak sengaja di dengar oleh Risa.


Rupanya sejak beberapa saat yang lalu Risa sudah berdiri di depan pintu ruangan Seno dan tidak sengaja menguping pembicaraan antara anak dan ibu tersebut, sehingga dia berani menerobos masuk dan mulai ikut dalam perbincangan tersebut tanpa di duga sedikitpun oleh Seno maupun ibunya.


"Anakmu benar, ada bagusnya jika Seno menyukai gadis kecil menjengkelkan itu, dengan begitu akan lebih mudah untukku memisahkan mereka berdua, kau ambil gadis itu dan Kaiden akan menjadi milikku." ujar Risa dengan senyum sinis di bibirnya dan tatapan licik pada nyonya Asila.


Mereka tersenyum licik satu sama lain, dan entah rencana apa lagi yang akan mereka lakukan untuk memisahkan Olivia dan tuan Kaiden, untuk saat ini Risa masih harus masuk dalam kehidupan tuan Kaiden lewat tuan Kandensus dan Seno, mereka tetap melancarkan aksinya untuk menggelar pernikahan dengan cepat.


Hingga malam pun tiba, Olivia masih nampak gugup dan ragu-ragu ketika tuan Kaiden mengajaknya masuk ke dalam Mension mewah kediaman ayahnya tersebut.


"Kenapa lagi?"


"Tuan aku rasa aku tidak pantas untuk diundang oleh ayahmu, aku takut dia kan tidak menyukai aku sejak awal, pertemuan saat itu saja tidak berujung baik, apalagi sekarang." balas Olivia sangat takut dan penuh kecemasan.


Untungnya tuan Kaiden selalu berada di sampingnya dan dia langsung menggenggam tangan Olivia lalu menaruhnya di gandengan tangannya, memberikan kepercayaan diri pada gadis kecil itu dan terus berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Bocah kau tenang saja dulu saat kau bertemu ayahku, kau masih anak kecil yang polos dan tidak tahu apapun, sekarang kau sudah jadi mahasiswa dengan nilai yang tinggi dan kau juga sudah 20 tahun, dia tidak akan memandangmu anak kecil lagi." jelas tuan Kaiden memberikan sedikit kepercayaan diri padanya.

__ADS_1


"Ehh kenapa kau tahu jika usiaku sudah 20 tahun?" tanya Olivia sedikit kaget.


"Aku sudah membuat KTP baru untukmu, dan aku tahu semua tentangmu gadis kecil, jangan meragukan diriku." balasnya membuat Olivia semakin takut untuk menyembunyikan sesuatu darinya.


Bahkan kini indentitas yang Olivia sembunyikan paling baik tentang usianya saja sudah diketahui oleh tuan Kaiden apalagi rahasia terbuka tentang masalahnya dengan Malara yang belum selesai sampai saat ini, Olivia malah semakin cemas dan memikirkan tentang hal itu dibandingkan dengan ketakutannya dalam bertemu tuan Kandensus saat ini.


"Sudah, ayo kita masuk." ucapnya sambil segera membawanya masuk ke dalam.


Saat pintu utama Mension dibuka para pelayan dengan pakaian biru putih berjajar rapih menyambut kedatangan mereka berdua dan menyapa serentak sambil membungkuk kepada tuan Kaiden dan Olivia yang terus berjalan bergandengan, mereka di persilahkan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan khusus jamuan makan malam bagi setiap tamu undangan yang di persilahkan oleh tuan Kandensus, saat tiba disana rupanya Seno dan Risa sudah lebih dulu tiba dan mereka duduk bersampingan, membuat Tuan Kaiden berhadapan dengan Risa serta Seno berhadapan dengan Olivia saat itu.


Tentu saja Olivia kaget dan kebingungan saat melihat wanita yang sebelumnya bertengkar dengan dia ada di tempat itu.


"Tuan kenapa wanita itu ada disini, bukankah dia wanita yang membuat kekacauan di kantormu kemarin?"


"Dia calon istri Seno." balas tuan Kaiden sangat singkat padat dan jelas.


Olivia dibuat kaget bukan main hingga kedua bola matanya terlihat hampir keluar saat itu, dia tidak menduga jika wanita itu adalah calon istri Seno. "AA...apa? Tuan apa kau bercanda ya, mana mungkin Seno memilih wanita seperti itu untuk dijadikan istri?" bisik Olivia masih saja membicarakan hal itu.


"Berhenti bertanya denganku, kau tanyakan saja pada dia langsung jika sangat penasaran." balas tuan Kaiden yang sangat melas menanggapinya saat itu.


"Cih, bertanya begitu saja tidak boleh dasar menyebalkan."


Olivia pun terdiam dia hanya menatap sinis pada Risa dan nampak sangat tidak senang karena Risa terus saja mencari-cari kesempatan untuk berbicara dengan tuan Kaiden dan memegangi tangannya, seakan dia menganggap kehadiran Seno dan dirinya tidak ada di tempat itu.


"Aishh... Apa yang dilakukan wanita gila itu? Kenapa juga Seno diam saja dan seperti tidak perduli dengan yang dilakukan calon istrinya." batin Olivia terus keheranan sendiri.


Hingga Seno menyapanya dan mengajak dia bicara saat itu. "Olivia lama tidak bertemu, apa kau baik-baik saja selama ini?" tanya Seno dengan ramah.


"Ahh, Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu?" balas Olivia sambil tersenyum dengannya.


Mendengar Olivia menanggapi ucapan Seno tuan Kaiden mulai memperhatikannya dengan ujung mata yang tajam, dia sebenarnya sangat kesal dan begitu tidak senang ketika melihat Olivia cukup dekat dengan Seno, apalagi berbincang sambil tersenyum lepas di hadapannya seperti itu.


"Aku baik, kau terlihat lebih cantik saat ini, aku sangat merindukanmu Olivia." ucap Seno semakin membuat tuan Kaiden naik darah.


"Benarkah? Kau orang pertama yang memujiku cantik malam ini, terimakasih kak Seno hehe," balas Olivia terlihat senang mendapatkan pujian itu.


Tuan Kaiden langsung menarik kursi yang di duduki oleh Olivia sampai gadis itu tersentak kaget dan dia hampir saja jatuh dari kursinya sendiri, tuan Kaiden memberikan tatapan tajam kepadanya dengan kedua mata yang disipitkan dan membisikkan sesuatu padanya.


"Ohhh ternyata kau sangat senang ya mendapatkan pujian dari kak Senomu itu, hah?" bisik tuan Kaiden sambil menggigit sedikit ujung telinga Olivia hingga membuat gadis itu sedikit mendesah merasakan sakit di telinganya dan sedikit geli.


"Ssstt ....aaahh tuan, menjauh dariku, aaahh kupingku pasti akan bengkak karena kau gigit, apa kau ini semacam anjing?" bentak Olivia membisikan itu cukup kesal pada tuan Kaiden.

__ADS_1


Sementara tuan Kaiden senang mendengar suara yang keluar dari gadis itu dan berhasil membuat wajah Seno dan Risa menjadi muram, tuan Kaiden bahkan sengaja memegangi paha Olivia di bawah meja dan mengelusnya begitu lembut membuat Olivia kaget dan kesulitan menahan rasa geli pada tubuhnya.


Dia pun tidak banyak berbicara lagi dengan Seno dan terus memegangi tangan tuan Kaiden yang terus menjamah tubuhnya di tempat umum seperti ini. "Sialan apa yang dilakukan tuan Kaiden, apa dia sengaja melakukan ini untuk mempermalukan aku, bagaimana jika kak Seno dan Risa tau, aahh aku harus menghindarinya sebelum tuan besar tiba." batin Olivia saat itu.


__ADS_2