Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Ketiduran


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya dia melihat sesuatu yang begitu indah dan nampak sangat mewah seperti ini, sebab sebelumnya dia bahkan tidak pernah pergi ke perpustakaan ataupun minimarket yang ada di dalam rumah siapapun, memang mension tuan Kaiden ini sangatlah besar yang terdiri dari tiga lantai bangunan, lantai satu tempat para pelayan tinggal dan ada lift di dalam mension ya tersebut, lantai dua tempat dimana Olivia dan tuan Kaiden menghuninya selama ini sedangkan lantai satu selalu digunakan untuk urusan bisnis dan tempat kantor pribadinya tuan Kaiden selama ini, tapi ini benar-benar membuat Olivia sangat kaget jika ternyata di lantai satu ada sebuah ruangan yang sangat besar dan mewah bak seperti minimarket dengan ruang perpustakaan yang begitu indah, rapih juga bersih seperti itu.


"Wahh....bi..bibi...cepat kemari bi!" Teriak Olivia terus memanggil bibi Lil untuk mendekat kepadanya, sebab dia sudah tidak sabar untuk menanyakan semua ini kepada bibi Lil agar menjadi lebih pasti lagi.


Bibi Lil dengan cepat menghampiri gadis tersebut sembari membawa sebuah troli belanja yang berukuran sedang, membuat Olivia kembali terperangah kaget melihatnya.


"Ayo non kita cari makanan yang banyak untuk nona." Ujar bibi Lil saat sampai di depan gadis tersebut, membuat Olivia kembali merasa aneh hingga menaikkan kedua alisnya lagi dengan mata terbuka sangat lebar.


"Wahh...bi apa ini sungguhan, kenapa bisa ada ruangan sebesar ini di lantai bawah?" Tanya Olivia kepadanya.


"Ini sebenarnya ruang perpustakaan tuan Kaiden, disini ada banyak buku yang di simpan pada setiap rak, dan awalnya tak buku itu berada di bawah dan berjajar rapih kayaknya perpustakaan buku biasa, hanya saja belakang ini semenjak nona Olivia tinggal di mension tuan muda menyuruh kami untuk membuat ruangan khusus sebagai mini market yang lengkap dengan semua jenis makanan agar nona tidak pergi keluar juga, sedangkan kami tidak ada tempat lagi sebab rumah mendiang nyonya besar di tempati tuan muda Seno, jadinya tuan Kaiden merubah ruangan ini menjadi keduanya, sehingga bisa digunakan sebagai perpustakaan termasuk tempat jajannya nona Olivia, tapi tuan bilang nona tidak boleh memakan makanan apapun di meja yang ada disini ataupun di dalam ruangan ini sebab di dalam perpustakaan tidak boleh makan apapun." Ucap bibi Lil menjelaskannya semuanya yang membuat Olivia tersenyum senang.


Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada tuan Kaiden saat dia tahu bahwa ternyata tuan Kaiden benar-benar mempersiapkan semua kebutuhan bagi dirinya, mulai dari kamarnya, semua pakaian dan barang untuknya bahkan cemilan dan makanan seperti ini tuan Kaiden masih saja memikirkannya hingga berani merombak ruang perpustakaan dia sendiri demi dirinya.


Hal itu membuat Olivia merasa senang sekaligus terharu dan dia sangat berterima kasih kepada bibi Lil karena sudah mau memberitahukan semua itu kepada Olivia sehingga Olivia tidak perlu merasa cemas atau kesal lagi dengan apa yang sudah dilakukan oleh tuan Kaiden yang selalu melarang dia untuk pergi keluar lagi.


"AA..ahh... ternyata begitu ya, aku pikir dia tidak akan sampai melakukan hal seperti ini, terimakasih sudah memberitahuku tentang ruangan ini bi." Ucap Olivia kepadanya.

__ADS_1


"Sama-sama non, kalau begitu apa kita akan pergi mengambil makanan atau tidak?" Tanya bibi Lil lagi dengan Olivia yang langsung dibalas dengan anggukan olehnya.


Olivia pergi mengambil beberysnak dan coklat, dia tidak terlalu menginginkan banyak makanan lagi karena sebelumnya baru saja memakan cemilan yang diberikan oleh bibi Lil kepadanya sehingga Olivia pun hanya bisa mengambil beberapa makanan saja.


Mereka kembali ke ruang tengah di lantai dua dan Olivia meminta bibi Lil untuk pergi saja sebab dia juga tidak mau melakukan apapun lagi hari ini, sampai ketika bibi Lil pergi melajukan tugas dia di dapur dan memeriksa semua pekerjaan pelayan yang lainnya, Olivia malah duduk menonton film kartun sembari terus mengunyah snak yang dia bawa dari gudang makanan sebelumnya. Olivia sebenarnya tidak benar-benar menikmati film yang dia tonton tetapi dia hanya terus saja berpikir tentang alasan tuan Kaiden mengapa sangat menjaganya begitu ketat seperti ini, hingga apapun yang dia butuhkan semuanya tuan Kaiden berikan bahkan dia bawa masuk ke dalam rumahnya sendiri bagaimana pun caranya.


"Aku aneh, kenapa dia bisa melakukan semua ini denganku, padahal kalau dia tidak mau aku keluar dari rumah ini dia kan juga bisa melarangnya secara langsung seperti yang biasa dia lakukan kepadaku, tapi kenapa aku merasa sekarang orang itu berbeda ya?" Gerutu gadis kecil itu memikirkannya.


Dia kemudian merubah posisi duduknya menjadi merentangkan kaki dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada tepat di depan tv tersebut, semua jenis gaya duduk dan tiduran sudah dilakukan oleh Olivia sambil terus mengigit coklat yang dia bawa sebelumnya, dan malah memikirkan tentang tuan Kaiden terus menerus yang sama sekali tidak dia temukan jawabannya itu.


"Kalau aku terus tinggal di rumahnya begini, bagaimana aku akan bertemu Malara, aku masih harus menemui dia dan menjelaskan semuanya. Hmm apa kabar ya Malara dan Serli sekarang ini, aku sudah sangat lama tidak berjumpa dengan mereka berdua lagi." Gerutu Olivia terus saja memikirkan kedua sahabatnya tersebut.


Tapi walau begitu dia tetap saja masih memikirkan semua itu, hingga lama kelamaan melamun dan memikirkan hal tidak penting begitu, Olivia pun mengantuk dan tidur dalam posisi kaki ke atas sandaran kursi sedangkan kepalanya malah berada di bawah, dia benar-benar terlihat sangat konyol saat itu, bibi Lil yang tidak sengaja melihat kondisi Olivia tidak seperti itu, bibi Lil kaget sekali dibuatnya tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun lagi sehingga bibi Lil tidak berani untuk membenarkannya dan hanya menghubungi tuan Kaiden dan memberikan foto Olivia yang tidur dengan posisi terbalik seperti itu, sedangkan saat itu tuan Kaiden tengah meeting di kantor dan dia tidak memegangi ponselnya jadi tentu saja tuan Kaiden tidak tahu tentang hal itu.


Bibi Lil juga melanjutkan pekerjaannya yang lain dan melarang penjaga untuk membenarkan posisi tidurnya Olivia karena sudah tahu bahwa tuan Kaiden pasti akan marah jika ada orang lain yang menyentuh istrinya terlebih jika itu seorang laki-laki, yang ada mungkin pelayannya itu yang nanti akan mendapatkan hukuman berat dari tuan Kaiden nantinya.


Sehingga mereka semua pun hanya bisa diam saja membiarkan Olivia terus tidur dengan posisi terbalik di atas sofa dengan televisi yang menyala sendiri dan channel-nya adalah film kartun yang biasa di tonton oleh anak kecil.

__ADS_1


Sampai waktu terus berlalu dan tuan Kaiden masih saja belum memeriksa ponselnya, sedangkan disisi lain Seno yang kebingungan karena lupa membawa laptop kerjanya di rumah tuan Kaiden karena sebelumnya tadi pagi dia pergi dahulu mengambil sarapan di rumah tuan Kaiden tapi saat dia kembali dan keluar dari sana laptopnya malah tidak sengaja tertinggal, saat baru saja sampai di kantor Seno yang mau turun dari mobil dia malah kebingungan mencari laptop yang dia rasa ditaruh di samping jok mobilnya justru malah tidak ada dan barulah dia teringat dimana terakhir kali dia menaruhnya.


"Astaga, dimana laptop milikku, perasaan tadi aku taruh disini, biasanya juga disini?" Gerutu Seno kebingungan dibuatnya dan terus saja memeriksanya kesana kemari dari seisi mobilnya saat itu hingga dia kelimpungan dan bingung sendiri.


Tapi sayangnya sudah sekian lama Seno terus mencari keberadaan laptopnya tersebut, tetap saja tidak dapat dia temukan dan Seno mulai terdiam berusa untuk mengingat-ingat dimana laptopnya tersebut dia taruh, sampai tidak lama kemudian akhirnya dia ingat juga jika dia meninggalkannya di rumah tuan Kaiden lebih tepatnya diatas kursi makan yang ada di ruang makan saat itu.


"Ya ampun! Aku lupa, pasti aku meninggalkannya di ruang makan si Kaiden itu, aahh..aku harus mengambilnya lagi kesana." Gerutu Seno merasa sangat kesal dibuatnya.


Dia pun segera saja berangkat kembali memutarkan mobilnya sekaligus menuju mension tuan Kaiden dengan secepat yang dia bisa karena saat itu Seno juga tengah terburu-buru, ada meeting penting yang harus dia lakukan saat ini sekaligus semua dokumen pentingnya ada di dalam laptopnya tersebut, sehingga dia pun melajukan mobilnya sangat kencang tidak perduli dengan apapun yang akan dia lewati saat ini.


Beberapa menit berlalu hingga akhirnya tidak lama kemudian Seno pun tiba di kediaman tuan Kaiden, dengan cepat dia langsung masuk dan berbicara kepada penjaga disana bahwa dia hendak mengambil barang tertinggal miliknya di ruang makan, sehingga penjaga pun mengijinkannya dengan mudah, Seno masuk ke dalam dan segera saja pergi ke ruang makan hingga benar-benar menemukan tas laptopnya tersebut.


"Nah kan, sudah aku duga ternyata memang ada disini, haduhh ada-ada saja, kenapa harus lupa sih jadi untung saja masih ada waktu." Ucap Seno sambil segera mengambil laptopnyanitu dan berniat untuk segera pergi dari sana, namun disaat Seno melewati ruang tengah, tidak sengaja matanya melirik ke arah sepasang kaki yang menjuntai di balik sandaran sofa yang ada di depan tv saat itu.


Dia dikagetkan saat melihatnya kedua kaki di balik sofa tersebut, sehingga hampir terpeleset saat itu namun untungnya Seno masih sempat menahan dirinya sendiri jadi dia pun segera membenarkan posisi duduknya sambil mulai berjalan mendekati kaki yang dia pikir sangat mencurigakan tersebut. "Astaga..ahhh sial, hah...hah..kaki siapa itu, kenapa bisa ada di atas sofa, apa jangan-jangan? Aahh tidak mungkin ini masih jam delapan mana ada setan di pagi-pagi buta begini, apa setan kesiangan?" Gerutu Seno saat itu memikirkannya.


Untuk memastikan kaki tersebut dan menebus rasa kepenasaranan nya, Seno pun berjalan terus mendekatinya sampai dia langsung meloncat dengan langkah yang besar ke samping dan mendapati ternyata itu adalah kaki Olivia dengan kepalanya yang malah menjuntai ke bawah sofa, untung saja rambut panjang gadis tersebut tidak menutupi wajahnya jika sampai terjadi mungkin Seno akan berteriak kaget melihatnya dan benar-benar menduga Olivia sebagai hantu.

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa anak ini bisa tidur dalam posisi begini, apa dia semacam kera atau bagaimana? Aishh aku tidak habis pikir dengan tingkahnya ini." Gerutu Seno sambil memijat keningnya sendiri yang terasa pusing melihat kelakuan Olivia, dia pun mencoba untuk membangunkannya namun bukannya berhasil justru malah wajah dia yang terkena timpukan tangan gadis tersebut dengan sangat keras.


"Hei ... Olivia, nona Olivia bangun." Ucap Seno yang awalnya berusaha membangunkan gadis tersebut dengan perlahan, tapi sayangnya itu sama sekali tidak berjalan dengan lancar, yang ada Olivia malah melayangkan tangannya dengan tiba-tiba.


__ADS_2