Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Tidur Bersama


__ADS_3

Walau begitu tuan Kaiden masih merasa bersyukur, setidaknya saat ini dia bisa tidur di tempat yang empuk, layak untuk ditinggali dan bisa terhindar dari serangan para nyamuk sialan itu, dia pun mengangguk dan menuruti ucapan dari gadis kecil tersebut, sembari segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang begitu saja.


"Ya...ya.. ya terserah kau saja, aku sangat mengantuk." Balas tuan Kaiden segera menidurkan dirinya sangat cepat, dan tidak sengaja guling yang menjadi pembatas antara wilayah dirinya dengan wilayah Olivia tergeser oleh tangannya sehingga Olivia langsung berteriak sembari berusaha menahan tangan tuan Kaiden agar tidak membuat guling itu semakin menyeret tempatnya.


"Eehh ..tuan minggir, seenaknya saja kau malah terus menggeserkan tempat tidurku, apa kau sudah gila ya, tuan ini tempatku kau sana minggir sedikit, eughh.." ucap gadis kecil itu terus saja berusaha untuk menarik tangan tuan Kaiden agar bisa menyingkir dari atas gulingnya tersebut.


Sayangnya tuan Kaiden malah terus tertidur dengan begitu pulas dia bahkan tidak sadar bahwa saat itu dirinya tengah ditarik dengan sekuat tenaga oleh Olivia, yang ada dia malah dengan sengaja kembali mengarahkan tangannya ke samping Olivia lagi dan lagi, dia senang membuat Olivia kesal, walau tidurnya malam itu sedikit terganggu tapi dia sebenarnya menahan rasa ingin tertawa dalam dirinya.


Berusaha untuk tetap diam dan santai sampai akhirnya Olivia merasa lelah sendiri dan kesal, dia pun menyerah dan membiarkan guling tersebut di peluk oleh tuan Kaiden hingga dia mulai tidur di sampingnya dan menghembuskan nafas dengan lesu, bahkan keringat di wajahnya mulai berjatuhan, dia sangat lelah sebab sudah berkali-kali berusaha untuk menarik tangan dan mendorong tubuh tuan Kaiden agar bisa menjauh dan memberikan tempat yang lebih luas untuknya, tapi sayang sekali tenaga Olivia sama sekali tidak sebanding dengan tuan Kaiden sehingga dia malah capek tidak karuan dan tujuannya sama sekali tidak tercapai, hanya bisa melirik sebentar ke samping dan menatap wajah tuan Kaiden dengan penuh emosi, serta sorot mata yang tajam.


Dengan susah payah tuan Kaiden menahan rasa ingin tertawanya hingga dia pun berpura-pura menggerakkan tangannya lagi untuk menutupi wajahnya dengan selimut, sedangkan Olivia malah menggerutu dengan kesal dan terus saja memakai tuan Kaiden beberapa kali. "Aishh dasar manusia setengah harimau, aishh kenapa sih dia tidur seperti bangkai, apa dia mati atau pingsan sih, aku sudah mendorong tubuhnya dan berteriak keras untuk menarik tangannya, tapi dia tetap saja tidak bangun juga, aaarghhh menjengkelkan!" Teriak Olivia sangat prestasi dibuatnya.


Dia pun langsung berbalik dan terus saja menutup matanya dengan cepat, meski sulit untuk tidur dalam tempat yang sempit, tetapi Olivia tidak memiliki pilihan lain, sehingga dia pun memutuskan untuk segera tidur dengan cepat, terlebih matanya sudah sangat mengantuk, dia tidak tahan lagi jika harus tetap membuka matanya seperti itu, perlahan mengontrol emosi dalam dirinya dan mulai tidur sedikit demi sedikit.


Hingga beberapa saat kemudian setelah Olivia benar-benar tidur dengan lelap, barulah tuan Kaiden terbangun, dengan perlahan dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya itu dan bangkit memeriksanya Olivia di sampingnya.


Mengayunkan tangannya ke depan wajah Olivia untuk memastikan apakah dia tidur atau masih terjaga, setelah beberapa kali mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Olivia dan tidak ada respon apapun dari gadis tersebut, barulah tuan Kaiden merasa tenang, dia baru bisa menghembuskan nafas dengan lega sembari mengusap dadanya yang sedari tadi merasa panik serta cemas tiada tara.


"Aahh akhirnya bocah kurcaci ini tidur juga, aduhh bisa bisanya dia malah mendorong tubuhku sekuat tadi, untung saja aku sering berolahraga dan melatih ototku jadi masih bisa bertahan dengan kuat, jika tidak pasti aku sudah terjatuh ke bawah sana." Gerutu tuan Kaiden saat itu. Dia pun melanjutkan lagi tidurnya.


Tetapi sebelum itu dia menyingkirkan guling yang menghalangi mereka berdua sekaligus menjadi pembatas yang membuat ranjang itu menjadi semakin sempit di buatnya, tuan Kaiden juga merasa tidak tega melihat Olivia tidur dalam kondisi kesempitan seperti itu, sehingga dia pun menyingkirkan guling tersebut dan sengaja melemparkannya ke lantai begitu saja.


"CK guling inilah yang sebenarnya menghalangi aku dan dia, membuat ranjang menjadi semakin sempit, lain kali aku akan surut penjaga membawa ranjang yang lebih besar, agar kita tidak merasa sempit lagi meski dia membuat pembatas sebesar dinding diantara kami, aishh ada-ada saja kelakuan kurcaci konyol ini." Gerutu tuan Kaiden saking merasa kesalnya saat itu kepada Olivia.

__ADS_1


Setelah berhasil menyingkirkan guling itu, barulah Olivia bisa tidur dengan tenang, dan bisa merasa lebih bebas dalam bergerak, dia juga membenarkan posisi tidur Olivia yang tadinya menyamping sembari membelakangi dirinya kini menjadi tidur terlentang dengan leluasa dan menyelimuti Olivia dengan pelan, agar tidak membuat gadis kecil itu terbangun dari tidurnya.


Tuan Kaiden menatap lekat wajah gadis kecil yang sudah dia jadikan istri dan sudah dia renggut makhota kesuciannya bahkan sebelum gadis itu menyetujuinya. "Dia cantik juga jika tengah diam seperti ini, andai saja dia tidak senakal saat bangun, mungkin aku akan menyukai dia sejak awal." Ucap tuan Kaiden pelan dan dia pun menyelimuti Olivia hingga menutupi bagian dadanya.


Setelah itu barulah dia merebahkan dirinya sendiri tepat di samping Olivia dan tidur dengan secepat. Hingga waktu terus berlalu jam kiat berganti dalam setiap menitnya, hari juga mulai berganti, malam hampir lewat kini suara kokokan ayam mulai terdengar begitu nyaring dari luar jendela, dan suara burung pun sesekali terdengar di dekat balkon kamarnya.


Cahaya matahari menembus dinding kamar yang pada akhirnya mendaran menyentuh wajah gadis kecil tersebut, membuat dia merasa terganggu dalam tidur nyenyaknya tersebut, hingga beberapa saat kemudian Olivia mulai terbangun dari tidurnya, dia mulai mengerjapkan matanya dengan perlahan dan mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, dia merasa hal ini sangat berbeda sekali dan dia mulai meraba-raba permukaan tersebut yang dia pikir itu adalah guling dalam pelukannya.


Merasakan tubuhnya yang seperti di timpa sesuatu sangat berat hingga merasa bingung dengan apa yang sebenarnya dia raba saat itu. "Ehh..apa ini, kenapa terasa aneh begini, apa sekarang gulingnya menjadi begitu keras dan bertekstur?" Gerutu gadis kecil itu dengan matanya yang masih saja tertutup saat itu.


Saat dia membuka matanya sempurna, barulah Olivia merasa kaget karena melihat tangan dia yang berada pada dada bidang milik tuan Kaiden, dan yang lebih mengejutkannya lagi saat Olivia hendak berteriak, mulutnya langsung dibekap sangat kuat oleh tuan Kaiden yang ternyata sudah bangun lebih dulu daripada dirinya, tetapi tua Kaiden masih tetap memeluk Olivia dengan erat, dan sama sekali tidak bergerak saat itu, bahkan disaat dia tahu bahwa Olivia hampir bangun saat itu.


"Diam, biarkan tetap begini beberapa saat saja." Ucap tuan Kaiden kepada gadis tersebut yang mulutnya masih dia bekap saat itu.


"Hei, kenapa kau tiba-tiba menjadi begitu penurut? Apa kau merasa nyaman saat aku memelukmu begini?" Celetuk tuan Kaiden yang membawa petaka pada awalnya.


Seketika Olivia menjadi kesal dan dia langsung mendorong tubuh tuan Kaiden sambil menepuk dada bidangnya itu dengan sekencang yang dia bisa.


"Aishh...eughh..minggir kau, seenaknya saja bicara begitu, siapa juga yang merasa nyaman dengan pelukan dari orang sepertimu? Yang ada sedari tadi aku emosi dengan tingkah lakumu yang begitu aneh, kenapa juga kau malah memeluk aku dan meminta agar aku diam dalam kondisi itu untuk beberapa saat, dasar kau mencari kesempatan ya?" Bentak Olivia kepadanya sambil terus saja dia mengusap pakainya yang dia kenakan saat itu, seakan benar-benar merasa jijik dengan tingkah laku tuan Kaiden.


Berbeda sekali dengan tuan Kaiden yang nampak begitu santai, dia bangkit dari ranjangnya dan segera saja berbicara kepada Olivia. "Aahh sudahlah lagi pula kita ini suami istri aku juga sudah mengetahui semuanya tentangmu entah keluargamu, asal usulnya, atau bahkan tubuhmu itu, jadi apa lagi yang harus dipermasalahkan? Sudah kau jangan emosi seperti itu denganku, aku mau mandi lebih dulu dan kau bereskan pakaiku, dan milikmu baru kita akan sarapan dan menunggu kapal tiba." Ujar tuan Kaiden sangat santai dan bicara sambil berjalan menuju kamar mandi.


Dia seakan tidak memperdulikan kejadian yang baru saja terjadi diantara dia dan Olivia, bahkan disaat Olivia emosi serta merasa kesal dengannya, tuan Kaiden tetap terlihat sangat santai, membuat Olivia begitu emosi dan dia terus menghentak-hentakkan kakinya sekuat tenaga, dan membereskan pakaian mereka dengan wajahnyang begitu buruk, mulut yang yang dia monyongkan dan tatapan mata yang tajam serta wajah ditekuk kusut.

__ADS_1


"Aishh... benar-benar manusia sialan, bisa bisanya dia bicara seperti itu kepadaku, apa dia pikir aku ini wanita murahan yang bisa dengan mudah dia perlakukan seperti ini, aaahh...lihat saja nanti jika perjanjian ini selesai aku akan pergi melarikan diri dari manusia sialan seperti dia!" Gerutu Olivia sambil segera mengambil koper untuk memasukkan pakaian tuan Kaiden dan miliknya dengan cepat.


Baru saja Olivia bereskan memasukan pakaian tuan Kaiden dan miliknya, dia pun segera berganti dengan tuan Kaiden, dimana saat ini dialah yang akan mandi sedang tuan Kaiden yang melanjutkan memasukan semua pakaian tersebut yang cukup banyak, tapi konyolnya tuan Kaiden yang sama sekali tidak pernah mengemas barang apapun apalagi pakaian seperti ini, dia pun hanya bisa memasukkan semuanya sembarangan, tidak menyusunnya sama sekali dan terus saja berusaha untuk menutup kopernya tersebut, tetapi dia nampak begitu kesulitan melakukannya, resleting yang ada pada kopernya sulit sekali dia tarik sebab pakai yang dia masukkan terlalu banyak dan tidak tertawa dengan benar, sehingga membuat tuan Kaiden semakin emosi karena dia merasa kesulitan untuk menutup koper tersebut, bahkan saking kesulitannya.


Dia sampai memaksakan diri untuk terus menekan koper tersebut hingga tertutup, bahkan tuan Kaiden sampai menginjaknya menggunakan kaki dia sendiri dan terus saja berusaha hingga beberapa kali tapi sayangnya semua usaha keras yang dia lakukan telah gagal, semuanya hanya membuat dia emosi tidak menentu dan koper miliknya tetap saja kembali terbuka sampai dia berteriak keras saking kesalnya.


"Aarrkkk... benar-benar koper sialan, penjaga.. penjaga!" Teriak tuan Kaiden yang sudah menyerah untuk menaklukkan kopernya sendiri sampai dia pun memutuskan untuk meminta bantuan dari penjaganya yang ada diluar kamar tersebut, tetapi sebelum sang penjaga masuk ke dalam kamar, Olivia dengan cepat menahannya karena saat itu dia masih mengenakan pakaian yang cukup terbuka, dan dia tidak mau orang lain melihat tubuhnya sedikit pun. Dia pun menahan pintunya dengan kuat lalu menyuruh tuan Kaiden untuk menghentikan perintahnya tersebut.


"Tuan kau ini apa-apaan sih, kenapa malah memanggil penjaga kemari, kau kan tahu ada aku disini dan aku belum berganti pakaian, apa kau sengaja ingin membuat mereka melihat aku dengan pakaian seperti ini?" Bentak Olivia sangat kesal dengannya.


Tuan Kaiden menjadi salah fokus karena Olivia hanya mengenal sehelai handuk dengan kemeja putih di badannya membuat dia menelan salivanya sendiri susah payah.


"AA..AA..ahh, maafkan aku, tadi aku hanya sedikit terburu-buru dan lupa kalau kau belum bersiap-siap." Balas tuan Kaiden kemudian mulai menyuruh penjaga di luar agar tidak masuk ke dalam, dan dia segera memalingkan pandangan dari Olivia sebab dia tidak bisa menahan nafsu pada dirinya sendiri jika harus menatap Olivia dalam penampilannya yang seperti itu.


"Aku sudah menyuruhnya untuk pergi cepat kau ganti pakaian dengan yang lebih baik!" Ucap tuan Kaiden yang langsung di turuti oleh Olivia.


Walaupun sebenarnya tanpa tuan Kaiden memerintah itu kepadanya, Olivia sejak awal juga mau mengganti pakaiannya, dia mengambil setelan pakaian yang ada di dalam koper dan matanya langsung terbelalak lebar karena melihat semua pakaian yang ada disana begitu berantakan sekali.


"Astaga... Apa yang sudah kamu lakukan dengan semua pakaian ini, kenapa bisa sampai se berantakan ini tuan?" Tanya Olivia sangat kaget dibuatnya.


Tuan Kaiden nampak gugup dia merasa kebingungan dan juga tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Olivia, sebab dia juga harus menjaga harga dirinya sendiri sebab dia sadar jika dia mengatakan bahwa dirinya kesulitan untuk menutup koper itu sampai semua pakaian berantakan begitu, tuan Kaiden rasa Olivia akan meledeki dia dan dia tidak mau jika hal itu terjadi kepadanya.


"Tidak ada, aku hanya belum sempat membereskannya saja, sana kau pergi saja, biar aku yang melanjutkan membereskan semuanya." Balas tuan Kaiden sambil terus mengambil pakaian yang berantakan disana dan dia kembali memasukkannya lagi ke dalam koper tersebut sambil terburu-buru.

__ADS_1


Olivia sebenarnya tidak perduli dan dia mempercayai apa yang dikatakan oleh tuan Kaiden sebab dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi dia segera pergi untuk mengganti pakaian dan saat dia kembali semuanya malah semakin berantakan, jauh lebih kacau dibandingkan sebelumnya.


__ADS_2