Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Ditinggal Tuan Kaiden


__ADS_3

Hari semakin sore, namun rasanya Olivia masih sangat rindu dengan sang kakak, walau sedari tadi hanya menghabiskan waktu untuk membersihkan makam dan mendoakan sang kakak, tapi rasanya semua itu sangat belum cukup, dirinya begitu enggan untuk pergi dari makam sang kakak, tetapi di sisi lain Olivia sadar bahwa dia juga membawa tuan Kaiden, suaminya itu bukanlah orang yang santai seperti dirinya, banyak kesibukan yang sudah di kesampingkan olehnya hanya untuk menemani dirinya mengunjungi makam sang kakak, melihat sosok tuan Kaiden yang dengan sabar serta telaten membantunya membersihkan makam sang kakak juga menjaga dirinya dengan baik, itu membuat Olivia merasa tidak enak, dan memutuskan untuk pulang saat itu juga. "Tuan ayo kita pulang." ucapnya sambil bangkit berdiri.


"Kenapa? Apa kau sudah puas melepaskan kerinduan pada kakakmu?" tanya tuan Kaiden.


"Iya aku sudah lega setelah membersihkan makamnya dan sekarang kakak juga pasti senang tempat tinggalnya sudah bersih juga terawat, kalau boleh aku ingin datang kemari setiap bulan, hanya untuk mengurusi makam kakak." jawab Olivia sekaligus meminta izin saat itu juga.


Tuan Kaiden mengangguk namun dia juga memberikan syarat kepada Olivia, agar gadis kecil itu bisa menuruti semua ucapan dan aturan yang dia berikan. "Mudah saja, aku bisa mengijinkan dirimu kesini kapanpun kau mau, tapi tentu itu tidak gratis,"


"Apa aku harus bayar? Aku tidak punya uang dan kau tau itu kan." Balas Olivia dengan polosnya mengira tuan Kaiden meminta bayaran uang darinya.


"Heh, bocah, siapa yang memintamu membayar dengan uang, lagi pula aku tidak butuh uangmu sekalipun kau memiliki uang, apa kau tidak lihat seberapa kayanya aku? Benar-benar konyol." balas tuan Kaiden merasa di sepelekan.


"Terus apalagi?"


"Dengan kau menuruti semua perintahku, dan jangan membantah ucapanku, ingat perjanjian kita sejak awal kau harus membantuku sampai aku berhasil merebut semua hak milikku dan jangan dekat-dekat dengan si Seno itu!" balas tuan Kaiden menjelaskannya.


Olivia langsung menaikkan kedua alisnya, dia merasa sangat heran dengan reaksi yang diberikan oleh tuan Kaiden padanya, lagi pula Olivia tidak merasa bahwa dirinya memiliki hubungan yang dekat dengan Seno. "Tuan sepetinya kau sedang koslet ya? Selama ini aku kan sudah melakukan apa yang kau katakan tadi, bahkan aku berani sampai menikah juga dipertemukan dengan keluargamu, satu lagi aku tidak sedekat yang kau bayangkan dengan kak Seno." Jelas Olivia dengan tegas.


Walau sudah dijelaskan seperti itu, tetap saja tuan Kaiden belum mempercayai Olivia sepenuhnya. "Cih, tidak dekat tapi tinggal serumah, apa kau pikir hal seperti itu bagus dan pantas dimaklumi? Aku ini suami sah mu dimata agama dan negara, tapi kau malah tinggal di satu atap yang sama bersama pria lain, apa kau pikir itu pantas?" balas tuan Kaiden sedikit tersulut emosi.


"Sudahlah tuan jangan bertengkar disini, aku malas membahas hal ini terus menerus tiada habisnya denganmu, lagi pula hubungan kita ini tidak se serius itu kan?" balas Olivia sambil berjalan pincang meninggalkan tuan Kaiden sendiri.


Olivia malas sekali jika harus mendengarkan ocehan tuan Kaiden yang hanya mempermasalahkan hal itu itu saja sejak kemarin, lagi pula dia pikir hubungannya bersama tuan Kaiden hanya sebatas hubungan kerjasama diatas kertas, walaupun dia istri sah di mata agama dan hukum, tetapi Olivia mengerti dengan jelas bahwa tuan Kaiden tidak benar-benar memilih dia dengan rasa cinta atau alasan lainnya sebagai istri, semuanya hanya dilakukan demi memenangkan hak warisan yang dia inginkan agar tidak jatuh ke tangan ibu tiri dan adik tirinya itu.

__ADS_1


Jadi Olivia memilih untuk menghindarinya, sedangkan tuan Kaiden sangat tidak terima jika dia diabaikan begitu saja saat emosinya tengah memuncak dan dia butuh pembelaan dari Olivia sendiri, segera tuan Kaiden mengejar Olivia dan menahan tangannya tepat ketika gadis itu hendak menyentuh pintu mobil. "Hei berhenti? Kenapa kau menghindari pertanyaan ku? Apa jangan-jangan kau suka dengan Seno ya?" ucap tuan Kaiden malah menduga yang tidak tidak.


Olivia langsung mengerutkan keningnya dan segera menghempaskan tangan tuan Kaiden yang menahan dirinya, dia kesal dan rasanya ingin marah besar ketika mendapat tuduhan seperti itu tanpa di dasari alasan yang jelas. "Aishh..tuan kau ini kenapa sih, sejak awal kan aku sudah bilang, kalau aku dengan kak Seno hanya tidak dekat, kemarin aku menginap di rumahnya karena memang tidak ada tempat lain yang bisa aku tinggali, memangnya kau pikir aku harus tinggal dimana saat kau mengusirku? Aku tidak ada uang sedikitpun, tidak ada sahabat dan tidak ada keluarga yang bisa aku kunjungi, aku sendirian di dunia ini tuan, apa kau masih tidak mengerti?" bentak Olivia yang habis kesabaran dan mengeluarkan semua kekesalannya pada tuan Kaiden.


Seketika tuan Kaiden terdiam, dia baru sadar jika apa yang dikatakan oleh Olivia ada benarnya, dia tahu bahwa sebelumnya dia terlalu berlebihan dalam mencemaskan istri kecilnya itu, tapi memang itulah yang dia rasakan, hatinya selalu kesal dan emosi setiap kali melihat Olivia dekat dengan Seno.


"Tetap saja kedepannya kau tidak boleh berhubungan lagi dengannya, mau itu hubungan jauh atau dekat sama saja, intinya aku tidak senang kau berbicara dengannya, mengobrol dengannya ataupun tersenyum padanya." balas tuan Kaiden yang masih saja mempermasalahkan hal seperti itu.


Olivia benar-benar sangat heran dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya di inginkan tuan Kaiden terhadap dirinya, semakin kesini Olivia semakin sulit memahaminya padahal mereka sudah bersama dalam waktu yang cukup lama. "Tuan kenapa kau harus kesal dan tidak senang saat aku dekat dengan kak Seno, apa kau cemburu dengannya?" tanya Olivia memastikan.


Tuan Kaiden langsung gugup dan dia panik bukan main, rasa takut ketahuan dalam dirinya muncul dan sulit dia kendalikan sehingga untuk menghindari semua itu, tuan Kaiden hanya bisa tertawa lepas dan berpura-pura seakan tidak memperdulikan hal tersebut lagi. "APA? Cemburu? Ahahah yang benar saja, mana mungkin seseorang sepertiku cemburu dengan si Seno sialan itu, jelas aku lebih unggul dari dia dalam segi apapun, apa yang perlu aku cemaskan, kau juga pasti tidak akan memilihnya bukan." balas tuan Kaiden yang begitu percaya diri.


"Dih, siapa bilang, jika aku diberikan kesempatan untuk memilih antara kau atau kak Seno, tentu saja aku akan memilih dia, walaupun dia tidak sekaya dirimu setidaknya dia tidak akan setempramen kau tuan." balas Olivia membuat tuan Kaiden merubah ekspresi wajahnya dengan cepat.


"Apa kau bilang? Benar-benar tidak bersyukur, ya sudah sana kau pergi dengan si Seno saja, minggir!" Bentak tuan Kaiden yang masuk ke dalam mobil sendiri lalu meninggalkan Olivia begitu saja.


Namun sayangnya tuan Kaiden sudah benar-benar pergi, Olivia juga tidak sanggup jika harus mengejar mobil dalam kondisi kakinya yang terkilir dan beberapa luka kecil di tubuhnya karena terjatuh sebelumnya. Gadis kecil itu menggerutu kesal dan terus saja merutuki tuan Kaiden habis-habisan, dia tidak menduga jika tuan Kaiden sungguh berani meninggalkan dia begitu saja seperti ini. "Dasar manusia tidak punya hati, pantas saja semua orang mengatakan dia si hati batu, ternyata memang benar-benar sebatu ini, tega banget sih dia ninggalin aku dengan kaki luka begini, sial!" gerutu Olivia sangat kesal dengannya.


Dia pun memutuskan untuk berjalan sendiri menuju tempat dimana rumahnya dulu pernah berdiri, walaupun jaraknya agak jauh dari pemakaman tersebut namun untungnya Olivia masih sanggup untuk berjalan, rasa sakit di kaki dan sekujur tubuhnya dia abaikan saja, sebab sudah terbiasa menghadapi banyak rintangan dan permasalahan dalam hidup, sehingga hanya ditinggalkan seperti itu oleh tuan Kaiden, sama sekali tidak membuat Olivia sedih atau malah berdiam diri.


Dia bukan wanita yang akan diam dan menyerah begitu saja atau menunggu belas kasihan dari orang lain sehingga Olivia benar-benar melanjutkan hidupnya dengan atau tanpa tuan Kaiden lagi, Olivia pikir jika tuan Kaiden marah dengannya nanti dia pasti akan kembali lagi tapi jika pun tidak, dia tidak mempermasalahkan hal itu, hanya fokus dengan dirinya dan apa yang harus dia lakukan kedepannya. "Terserahlah, aku sudah terlalu lelah dengan hidupku sendiri, kalau dia mau membuangku dengan cara begini, aku tidak masalah, akan aku bangun kembali rumahku yang telah hancur dengan tanganku sendiri."


"Baik Olivia, mari kita bereskan tempat ini dahulu, dan buat sesuatu untuk tempat berteduh." Ucap gadis kecil itu sambil segera merapihkan beberapa puing-puing bangunan yang telah usang.

__ADS_1


Meski sebagian besar dari rumahnya terbakar habis namun setidaknya masih ada beberapa ruangan yang berdiri kokoh dan hanya terbakar sebagian saja, sehingga Olivia pikir rumahnya ini mungkin masih bisa diperbaiki, atau bisa dia tinggali untuk beristirahat dan berlindung sementara, dia memperbaiki pagar rumahnya terlebih dahulu dan merapihkan genteng yang berserakan disana, juga mengumpulkan kayu-kayu bekas terbakar, barulah dia mencoba untuk memeriksa kondisi bagian dalam rumahnya yang masih tersisa sedikit.


Saat masuk ke dalam, bagian atap rumah itu benar-benar sudah habis seluruhnya, banyak semak belukar yang tumbuh di sela-sela jendela dan lantai penuh lumut, dia berjalan perlahan diantara puing-puing bangun itu dan mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memperbaiki rumah ini atau sekedar mengenang kehidupannya di masa lalu, ada satu foto yang tergeletak di bawah dan sudah tertutupi debu juga lain hal, dia mengambilnya dan ternyata itu adalah foto keluarganya di masa lalu, hanya saja tinggal sebagian dan warnanya juga sudah luntur, fotonya tidak jelas lagi, namun Olivia masih sangat senang ketika menemukannya, semua itu mengingatkan dia dengan kehidupannya di masa kecil, dirinya yang masih ceria dan dipenuhi kebahagiaan bersama orang-orang yang mencintainya juga yang dia cintai.


Dengan menggenggam erat foto itu Olivia mulai menutup matanya berusaha mengingat serta membayangkan kembali kisah hidup yang membahagiakan dia waktu itu, sayangnya ingatan dia tidak sekuat yang dia kira, sehingga hanya beberapa adegan saja yang mampu dia ingat, batinnya kembali perih dan air mata mulai menerobos dinding pertahanannya, saat itu Olivia sadar ternyata dia tidak sekuat yang dirinya harapkan.


Sampai tidak lama terdengar teriakkan seseorang dari luar yang memanggil namanya sangat kencang. Membuat Olivia segera bangkit berdiri dan pergi memeriksanya, ternyata itu adalah tuan Kaiden, dengan wajah panik dan nampak berkeringat banyak dia berlari menghampiri Olivia dan langsung memeluknya sangat erat.


"Olivia akhirnya aku menemukanmu, kenapa kau pergi begitu saja aku sangat mencemaskan mu, apa tidak terjadi sesuatu denganmu, kenapa kau menangis?" bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan olehnya.


Olivia tetap diam, dia tidak bisa mengatakan apa yang ada dalam hatinya saat ini, karena rasa sakit itu terlalu besar dan sudah lama dia pendam seorang diri, sehingga ketika ada orang lain yang bertanya seperti itu kepadanya, justru hanya membuat Olivia semakin ingat akan sumber sakitnya dan dia tidak mampu mengatakan semua itu, Olivia terus tertunduk dan menangis semakin kencang, dia tersedu-sedu tiada henti yang membuat tuan Kaiden semakin heran. "Hei hei ada apa denganmu, siapa yang membuatmu menangis sampai seperti ini, apa ini karena aku meninggalkanmu sebelumnya? Jika iya tolong maafkan aku tadi aku hanya sedang tersulut emosi, maafkan aku ya, aku janji tidak akan seperti itu lagi." ucap tuan Kaiden sembari terus memeluk Olivia dengan erat dan mengusap kepalanya lembut.


Dia memberikan rasa aman dan ketenangan pada istri kecilnya dan terus berusaha menghentikan tangisan Olivia, hingga membawanya kembali masuk ke dalam mobil. Selama beberapa saat tuan Kaiden tidak berani bertanya tentang apapun lagi kepada Olivia, meski sebenarnya dia sangat penasaran dan cemas tentang apa sebenarnya yang membuat gadis kecilnya itu menangis sampai seperti tadi, sebelumnya tuan Kaiden belum pernah melihat Olivia menangis seperti itu kecuali saat pertama kali dia menemukan gadis tersebut dan bicara dengannya ketika di rumah sakit.


"Apa aku sejahat itu ya, sampai dia menangis seperti ini, aahh ini semua juga salahku karena meninggalkan dia sendiri dalam kondisinya yang begini. Benar-benar bodoh!" Batin tuan Kaiden menyalahkan dirinya sendiri.


Karena saat itu dia pikir, dirinyalah penyebab menangisnya Olivia. Selama di perjalanan pulang tuan Kaiden tidak banyak bicara lagi dia terus fokus menyetir dan sesekali mencuri-curi pandang ke arah Olivia di sampingnya, untuk memastikan keadaan gadis kecil tersebut.


Sampai tiba-tiba saja Olivia bicara lebih dulu dengannya dan membuat dia kaget.


"Tuan, terimakasih." ucap Olivia secara tiba-tiba.


"Hah? Untuk apa kau berterimakasih denganku? Hei jangan menakutiku begitu, aku kan sudah meminta maaf karena meninggalkanmu." balas tuan Kaiden sangat kaget dan cemas tidak menentu.

__ADS_1


"Tidak tuan aku sama sekali tidak marah denganmu, aku memang ingin berterimakasih padamu, karena kau sudah mau menampung aku selama ini, menyediakan tempat tinggal dan memberi aku makan layaknya kau keluargaku sendiri, sekarang aku baru sadar jika tidak ada kau mungkin saat ini aku sudah menjadi pengemis jalanan yang tidak tahu arah dan tujuan atau mungkin hidup dengan penuh kesulitan di luar sana, kesepian dan tidak ada siapapun yang aku kenalin." Balas Olivia menjelaskan semuanya.


Mendengar semua itu membuat tuan Kaiden terharu, dia terdiam dan terus saja menyuruh Olivia untuk tidak memperdulikan hal itu dengannya. "Sudahlah kau jangan terlalu berpikiran banyak, anak kecil sepetimu tidak baik jika banyak pikiran begitu, mengurusmu tanggungjawab ku kau tenang saja." balas tuan Kaiden membuat Olivia sedikit lebih lega dan tenang.


__ADS_2