
Tuan Kaiden tidak bisa menyangkal lagi sebab bagaimana pun apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar, dan dia juga tidak mau berdebat lagi untuk hal-hal yang telah berlalu jadi tuan Kaiden hanya menatapnya dengan wajah datar beberapa detik kemudian memperlihatkan senyum kecil dan mengacak pucuk rambut gadis tersebut dengan pelan.
"Aishhh....kau ini, iya iya aku yang salah, aku minta maaf ya karena sudah mengusir mu, saat itu aku tengah pusing banyak pekerjaan yang harus aku bicara dengan serius dan suaramu yang bercanda dengan sekretaris Dep sangat mengganggu makanya aku sedikit kesal dan memarahi mu, maafkan aku ya." Balas tuan Kaiden yang untuk pertama kalinya mau meminta maaf lebih dulu dan bersikap baik kepada Olivia.
Membuat gadis kecil berusia 19 tahun itu merasa aneh, dia terus saja menatap ke arah tuan Kaiden dengan wajahnya yang kebingungan dan tidak ada ekspresi apapun saat itu, membuat tuan Kaiden tidak bisa menahan tawa saat melihat wajahnya yang begitu polos dan nampak sangat menggemaskan.
"Hahah..hei sudah, kenapa kau malah menatapku begitu, apa ada yang salah denganku?" Tanya tuan Kaiden kepadanya sembari terus saja tersenyum lebar, Olivia segera menyadarkan dirinya dan dia langsung memalingkan pandangan ke arah pantai lagi.
"Tidak ada, aku hanya merasa heran, kenapa pria kejam sepetimu bisa mengusap rambutku dan meminta maaf untuk mengalah dariku, bahkan itu tidak satu kali, ini seperti bukan dirimu yang sebelumnya." Balas Olivia kepada tuan Kaiden.
Mendengar jawaban itu barulah tuan Kaiden mulai tersadar dia juga baru ingat kalau dia sebenarnya tidak pernah bersikap manis seperti itu kepada wanita manapun selama ini, karena dasarnya dia memang bukan pria yang romantis apalagi berkata-kata manis, dia lebih banyak membentak dan memberikan tatapan tajam, sangat egois juga keras kepala tapi entah kenapa saat berdua dengan Olivia dia selalu merasa bahwa dia harus menjaga gadis kecil itu dan harus lebih dewasa lagi dalam bersikap, oleh karena itu tuan Kaiden mau meminta maaf lebih dulu kepadanya, karena dia tahu bahwa sikap Olivia hampir sama dengannya, dimana jika tidak ada salah satu yang mengalah maka pertengkaran seperti sebelumnya tidak dapat di hindari, tuan Kaiden hanya bisa mengalah pada Olivia saja, karena dia tidak pernah melakukan hal ini kepada siapapun sebelum, tapi walau begitu dia masih saja berpura-pura menyangkalnya di hadapan Olivia, sebab gengsi yang dia miliki terlampau jauh dan dia tidak dapat mengakui perasaan dia yang sesungguhnya.
__ADS_1
"AA..AA..ahaha..kau ini, aku kan lebih dewasa darimu tentu saja aku harus mengalah saat berdebat denganmu, lagi pula kau memangnya sudah tahu siapa aku sebenarnya? Aku tidak se kejam yang kau pikirkan." Balas tuan Kaiden kepadanya.
"CK..tetap saja kau kejam, saat pertama mengenalmu kau bahkan hampir memasukan aku ke dalam kandang macan mu itu, lalu kau juga membohongi aku tentang pernikahan, satu lagi kau selalu membentak aku dan memaksaku melakukan semua hal yang kau inginkan, bertemu keluargamu, berpura-pura jadi istrimu dan segala macamnya. Yang paling menyebalkan kau bahkan menahanku di rumahmu tidak bisa pergi kemanapun dengan bebas, aku seperti seekor burung dalam sangkar." Balas Olivia yang sudah berani meluapkan semua emosi serta hal-hal yang selama ini mengganjal bagi hatinya.
Dia tidak menyukai semua perlakuan kasar dan keputusan sepihak yang pernah diambil oleh tuan Kaiden kepada dirinya, tapi tuan Kaiden sendiri sama sekali tidak memperdulikan hal itu, dia bersikap seperti itu karena Olivia begitu tidak patuh saat pertama kali ingin dia bawa ke rumahnya, dan selalu mencoba segala cara untuk kabur, bahkan terakhir kali tuan Kaide juga tahu bahwa Olivia menyembunyikan tali yang dia buat dari selimut serta seprai di kamarnya, dia mengetahui semua itu dari salah satu pelayan yang membersihkan kamar Olivia dan tidak sengaja menemukan benda itu di kolong tempat tidurnya, setelah mengetahui hal itu tentu saja tuan Kaiden dibuat sangat kesal dia merasa Olivia semakin berani menentang dirinya, dan jadilah dia lebih ketat dibanding sebelumnya.
Tapi kali ini tuan Kaiden tidak memberitahukan semua yang dia tahu terhadap Olivia, sengaja dia memendamnya sendiri, karena dia rasa dirinya masih perlu mengetahui siapa Olivia sebenarnya dan bagaimana dia yang sesungguhnya.
"Eh, tuan lihat kesana, kapal kita sudah tiba, horee...kapal dah tiba, kapal dah tiba ahahah kita akan keluar dari pulau menyebalkan ini." Ucap Olivia yang nampak bersorak riang dan dia malah menganggap pulau cantik tersebut sebagai hal yang menyebalkan baginya.
Membuat tuan Kaiden kesal dan terperangah kaget mendengarnya, dia segera saja berjalan lebih dulu menaiki kapal tersebut sembari mengambil koper miliknya saja, sedangkan Olivia harus masuk ke dalam kapal dengan kesulitan karena kakinya yang pendek termasuk harus membawa koper besar yang berat dan sulit untuk dia angkat sendiri kala itu. "Eughh..kenapa sulit sekali, aishh...aku terlalu pendek untuk melangkah ke sana sekaligus, ini yang membuat kapal dan merancangnya seperti ini siapa sih, apa mereka tidak tahu kalau ada jenis manusia pendek di dunia ini yang tidak memiliki langkah besar?" Gerutu Olivia sembari terus berusaha mengangkat kopernya tersebut.
__ADS_1
Tuan Kaiden yang sebelumnya merasa kesal dan berniat untuk membuat gadis itu naik sendiri, kini dia malah dibuat tersenyum kecil sembari menahan tawa karena tidak tahan saat mendengar ucapan gadis tersebut yang sangat diluar nalar.
"Astaga... Dia benar-benar memiliki mulut yang konyol, bisa bisanya dia berkat begitu." Gerutu tuan Kaiden pelan.
Dia pun berniat untuk membantu Olivia tetapi sayangnya saat itu Olivia sudah dibantu oleh penjaga di pulau itu dan kini tuan Kaiden melihat dengan jelas bagaimana tangan Olivia di gandeng dan kakinya di angkat oleh penjaga itu untuk membantunya melangkah masuk ke dalam kapal tersebut, bahkan kopernya sendiri dibantu untuk mengangkatnya dan ditaruh ke dalam kapal tersebut, tuan Kaiden sudah semakin kesal melihatnya dan dia pun sudah mengerutkan kedua alisnya sangat kuat, dia berjalan dengan langkah besar sembari berkacak pinggang dan langsung membentak Olivia termasuk mengusir penjaga itu untuk segera pergi dari sana.
"Heh, ngapain kau ikut kemari sana pergi, kapalnya sudah mau pergi, sana kembali ke pulau!" Bentak tuan Kaiden dengan sorot mata sinis nya terhadap penjaga pria tersebut.
Penjaga itu segera pergi dengan cepat sebab dia pun merasa takut dengan sorot matanya tuan Kaiden, sedangkan Olivia berjalan santai masuk ke dalam kapal itu sembari terus menggusur koper miliknya dengan kedua tangan, bak seperti seekor monyet yang berusaha membuka kelapa, dia sangat kesulitan dan terus saja berusaha untuk menariknya dengan sekuat tenaga, tetapi koper itu hanya bergerak sedikit saja, padahal isinya hanya pakaian semua, tetapi Olivia masih kesulitan membawanya, karena kopernya sendiri saja sudah berat bagi dirinya.
Tanpa banyak basa basi tuan Kaiden langsung menarik koper Olivia dan membawanya masuk di ikuti dengan gadis itu dari belakang, hingga mereka benar-benar sudah ada di dalam dan dapat duduk dengan nyaman sembari menikmati pemandangan di laut.
__ADS_1