
Bukannya diam anak perempuan itu justru malah mulai menangis dengan sangat kencang, sehingga membuat tuan Kaiden menjadi sangat panik, dia terus saja langsung menepuk pundak anak perempuan itu agar dia mau berhenti menangis seperti itu dan membuat banyak orang menatap aneh kepadanya.
"Astaga. Hei diam, kenapa kau menangis, aku kan sudah menyuruhmu untuk diam, ayo cepat diam!" Ucap tuan Kaiden terus saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar kepada anak itu.
Tentu saja seorang anak perempuan yang masih kelas satu SMP di bentak seperti itu oleh orang dewasa yang memiliki tubuh kekar dan tinggi akan merasa ketakutan dan dia menangis lebih kencang dari sebelumnya hingga terisak, sampai tuan Kaiden tidak memiliki cara lain untuk menghentikannya.
"Ya ampun kenapa dia malah menangis semakin keras, aahh benar-benar sangat merepotkan, hei bocah kau mau apa, aku akan memberikan apapun yang kau minta asal kau mau berhenti menangis, apa kau paham hah?" Ucap tuan Kaiden kepada anak perempuan itu yang langsung saja berhasil membuat anak itu berhenti menangis sambil langsung tersenyum kepada tuan Kaiden.
Langsung saja tuan Kaiden bisa merasa lega dan dia terus saja bicara kepada anak itu untuk membuat anak perempuan itu tidak menangis lagi.
"Oke, bagus kau tidak boleh menangis, sekarang katakan saja apa yang kau mau aku akan memberikannya." Ucap tuan Kaiden dengan segera.
"Om aku mau es krim itu, kau mau membelikannya untukku kan?" Ucap anak perempuan itu yang langsung di anggukan oleh tuan Kaiden.
Hingga gilirannya tiba dan dia segera memberikan dua es krim sekaligus, satu dia berikan kepada anak perempuan tadi dan yang satunya dia berikan kepada Olivia, tapi yang membuat Olivia heran adalah, anak perempuan itu mengikuti tuan Kaiden terus tanpa disadari oleh tuan Kaiden sendiri.
"Ini es krim mu dan berhenti meminta sesuatu yang aneh lagi kepadaku, tidak ada yang berani memerintah apalagi melawan aku selama ini, kau jangan mencari kesempatan padaku, atau aku akan kasar denganmu!" Ucap tuan Kaiden sambil memberikan es krim itu dengan kasar pada Olivia.
__ADS_1
Tetapi Olivia sama sekali tidak memperdulikan hal itu, dia terus saja tersenyum dan mengangguk patuh sambil menerima es krim nya dan mulai menikmatinya dengan begitu lahap, sampai matanya mulai menatap pada seorang gadis kecil di belakang tubuh tuan Kaiden yang juga memakan es krim yang sama dengannya.
"Eehh tunggu tuan, siapa anak gadis itu, apa kau mengenalnya?" Tanya Olivia sambil menunjuk ke arah gadis kecil itu.
Tuan Kaiden mengerutkan kedua alisnya karena dia tidak merasa berdiri dengan seorang gadis kecil, hingga ketika dia berbalik dan menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Olivia, matanya langsung kembali terbuka lebar dan terperanjat kaget melihat gadis tadi masih berada di belakang tubuhnya.
"Astaga... Hei bocah, kenapa kau mengikutiku, sana pergi aku kan sudah memberikan apa yang kau mau, untuk apa kau mengikutiku lagi." Ucap tuan Kaiden kepadanya.
Anak gadis itu langsung saja menjulurkan lidahnya kepada tuan Kaiden dan terus mengejeknya sambil berlari kabur dari sana, Olivia sendiri ikut terperangah melihat kejadian barusan, karena ini adalah pertama kalinya dia melihat tuan Kaiden yang begitu terkenal dan seorang pengusaha besar di negara ini malah di ledek oleh gadis kecil seperti itu.
"Wlee.. dasar om jahat yang jelek!" Ucap anak gadis tersebut.
"Tuan, aku rasa kau salah tentang tidak ada orang yang berani denganmu, buktinya anak itu bahkan berani melediki kau, ahaha." Ucap Olivia sambil diiringi dengan tawanya yang begitu renyah.
Dia begitu puas sekali menertawakan kejadian barusan, terlebih saat dia melihat ekspresi dari tuan Kaiden yang begitu kesal dengan kedua tangannya yang mulai dikepalkan serta kedua alis yang dia tekuk sangat kuat dan wajahnya yang merah padam saat itu.
"KAU! Beraninya kau ikut melediki aku, kemari kau, aku akan memberikan kau pelajaran!" Bentak tuan Kaiden yang langsung saja melampiaskan emosi dalam dirinya kepada Olivia.
__ADS_1
Melihat tuan Kaiden akan meledak, tentu Olivia merasa takut dan dia tidak bisa diam saja, gadis sembilan belas tahun itu berlari untuk melarikan diri dari amarah tuan Kaiden dan terus saja mereka saling kejar di dalam mall yang luas dan memiliki banyak sekali pengunjung disana, Olivia memiliki langkah yang kecil, berbeda dengan tuan Kaiden yang memiliki kaki tinggi, sehingga memudahkannya untuk mengejar Olivia dengan begitu mudah, bahkan disaat Olivia berniat untuk mengelabuinya dengan bersembunyi di balik salah satu patung manekin yang ada disana dia tetap saja ketahuan.
"Aishh... Kau mencoba untuk menipuku ya, ahaha kau pikir aku orang bodoh yang tidak bisa menemukan manusia sebesar kau di balik patung manekin yang kecil itu, dasar gadis konyol." Gerutu tuan Kaiden sambil mulai berjalan perlahan dan mengendap-endap untuk mengangetkan Olivia.
Dan dia langsung saja memergokinya dengan cepat memeluk tubuh Olivia agar dia tidak bisa kabur lagi darinya.
"Hah! Mau kemana lagi kau, sekarang kau tidak akan bisa kabur kemanapun, aku sudah menangkap mu!" Ucap tuan Kaiden sambil terus memeluk tubuh kecil gadis 19 tahun itu.
"Aahhh....tuan lepaskan aku, tolong lepaskan aku!" Teriak Olivia yang terus saja mencoba berontak dan berusaha melarikan diri dari tuan Kaiden.
Sayangnya tubuh Olivia memang jauh lebih kecil dibanding dengan tubuh tuan Kaiden, yang mana tenaganya pun tidak akan sebanding, perbedaan usia diantara mereka sangatlah terpaut jauh sehingga tidak mungkin gadis 19 tahun seperti Olivia ini bisa melawan sosok tuan Kaiden yang sudah berusia 28 tahun dan memiliki tinggi diatasnya.
Tuan Kaiden terus saja menggendong Olivia bak seperti dia tengah menggendong anak kecil, membawanya pergi dari tempat itu menuju ke sebuah toko pakaian yang sangat besar dan mewah, sedangkan Olivia sudah lelah terus berontak namun tetap gagal untuk melarikan diri, jadi saat itu dia hanya bisa pasrah menerima keadaan dirinya.
Dia di gendong diatas sebelah bahu tuan Kaiden, rambut hitam panjang miliknya terurai terbalik di belakang tubuh tuan Kaiden dan b*kongnya justru malah di tepuk oleh tuan Kaiden untuk menghentikan tingkah Olivia yang terus saja mencubit dan meninju punggung tuan Kaiden saat itu.
"Puk!" Satu tepukan di bagian belakang Olivia kembali di tepuk oleh tuan Kaiden.
__ADS_1
"Ah... Tuan hentikan menepuk bagian itu, ini adalah p*lecehan, aku akan melaporkanmu!" Bentak Olivia protes keras kepadanya.