Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Tuan Kaiden Lebih Perhatian


__ADS_3

Olivia sendiri terus menahan malu dan dia tahu bahwa tuan Kaiden sebenarnya telah mendengar suara perutnya yang keroncongan itu. "Tuan berhenti menertawakan aku!" tegas Olivia kepadanya.


Bukannya berhenti tuan Kaiden justru malah tertawa lebih leluasa dan sangat keras, membuat Olivia semakin kesal dengannya dan terus memasang wajah cemberut saat itu. "Tuan kau benar-benar menyebalkan, harusnya tadi kau pura-pura tidak mendengarnya, kenapa terus tersenyum begitu hah?" bentak Olivia.


"Hei apa kau tidak lihat sedari tadi aku sudah menahan diri tapi kau hahaha... Wajahmu itu benar-benar sulit membuat aku tidak tertawa, konyol sekali." balas tuan Kaiden malah mengatai Olivia seenaknya.


Nampak gadis kecil itu semakin kesal wajahnya benar-benar mengkerut dan dia menatap tajam dengan sinis ke arah tuan Kaiden, membiarkan tuan Kaiden menertawakan dia sepuasnya hingga dia kenyang dan akhirnya bisa berhenti juga.


"Hahaha.. Ahh sudahlah aku sudah sakit perut karena menertawakan kau terus, ambil ini dan makan yang banyak." ucap tuan Kaiden sambil memberikan makanan pada Olivia saat itu.


Olivia yang tadinya kesal dan penuh emosi, kini langsung berubah senang dan mengambil makanan itu dengan cepat. "Wahh, tuan kau menyiapkan ini untukku?" tanyanya sambil segera membuka makanan itu.


"Tentu saja, kalau bukan aku memangnya siapa lagi?" balas tuan Kaiden santai.


"Hehe... terimakasih tuan, kau ternyata tidak terlalu buruk untuk jadi suamiku." balas Olivia kesenangan.


Tuan Kaiden langsung menelan salivanya sendiri dan berusaha menahan rasa salah tingkah dalam dirinya, karena mendapatkan pujian untuk pertama kalinya dari seseorang seperti Olivia, karena selama ini hanya cacian dan kejahilan yang selalu diberikan oleh Olivia kepada dirinya, rasa bangga itu muncul dalam diri tuan Kaiden dan kini dia merasa bahwa dia sudah berhasil mendapatkan hati Olivia walau baru permulaan saja.


"Ekm...ya tentu saja, aku memang manusia yang sangat bisa diandalkan oleh siapapun." balas tuan Kaiden begitu narsis dan penuh percaya diri.


"Cih, kau mulai sombong, hati hati kepalamu bisa memenuhi mobil ini." balas Olivia sambil menatap sinis dengannya.


Tuan Kaiden tetap tidak perduli, dia hanya fokus dengan pujian yang sebelumnya dikatakan oleh Olivia dan membuat moodnya sangat bagus saat itu, selama perjalanan tidak penting tuan Kaiden memasang wajah cerah dan senyum kecil di bibirnya, dia juga mulai memberikan perhatian-perhatian kecil dan membantu Olivia dengan tutur kata yang lebih baik dari sebelumnya.


Saat Olivia kesulitan untuk mengambil botol minum, tuan Kaiden segera membantu dia mengambilkannya bahkan membukakan penutupnya sekaligus, selain itu tuan Kaiden juga mengambilkan tisyu dan memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Olivia jika dia ingin tidur lagi selama sisa perjalanan.


"Ini pakai saja jasnya kalau mau tidur lagi, tapi sebelum itu tunggu dulu beberapa menit sampai makanannya turun sempurna di perutmu, nanti perutmu akan bermasalah jika langsung tidur setelah makan." ucap tuan Kaiden memberikan perhatiannya lagi.


Semua itu membuat Olivia merasa aneh dan heran tidak karuan, dia terus saja menatap dengan kedua alis yang hampir menyatu, saking bingungnya dengan sikap tuan Kaiden yang tiba-tiba menjadi perduli padanya seperti ini, Olivia hanya bisa kebingungan sendiri dan mulai menghentikan ucapan tuan Kaiden yang terus memberikan nasehat kepadanya, dia membenarkan posisi duduknya lalu langsung menghadap ke arah tuan Kaiden, menatap pria 28 tahun itu dengan lekat.


"Kenapa kau menatapku begitu, apa ada yang mau mau tanyakan?" tanya tuan Kaiden lebih dulu.


"Eumm...tidak ada, hanya saja kenapa aku merasa kau seperti bukan dirimu yang aku kenal, apa kau salah makan saat di restoran tadi?" balas Olivia mengutarakan keheranannya.


"Tidak ada, kenapa kau berpikir begitu?"


"Maksudku, kenapa kau perhatian padaku dan bicara lembut seperti tadi? Biasanya kau tidak perduli padaku bahkan sebelumnya kau tidak mau aku minum di botol bekas minummu sendiri, sekarang kenapa kau mau memberikan jas mu untukku dan membukakan botol minum juga menasehati ku seperti tadi?" tanya Olivia semakin membuat tuan Kaiden terdesak.


"Cih, otakmu benar-benar sangat kecil, jangan banyak berpikir, aku melakukannya karena perjalanan kita masih cukup jauh, nanti kalau terjadi sesuatu denganmu, aku juga yang akan kau repotkan." balas tuan Kaiden beralasan.


"Aishh...sudah kuduga kau memang tidak pernah berhati tulus, menyebalkan." balas Olivia merasa sedikit kecewa.

__ADS_1


Karena awalnya dia sudah senang jika tuan Kaiden memperlakukan dia seperti tadi, dia merasa disayangi olehnya, tapi setelah mendengar jawabannya yang kembali kecut semua itu sirna begitu saja, tinggal lah sebuah penyesalan karena sudah merasa senang dengan perlakuannya. Wajah Olivia kembali kecut dengan bibirnya yang dicondongkan ke depan, sembari menjauhkan jas tuan Kaiden darinya, seakan dia tidak membutuhkan jas itu lagi.


...****************...


Sesampainya di desa, sudah banyak sekali hal yang berubah disana, mulai dari bangunan di sekitar jalan yang mulai padat, padahal sebelumnya di dekat sana hanyalah hutan tempat masyarakat berkebun, tapi sekarang sudah penuh dengan pemukiman, desa itu sudah semakin maju, bahkan pesawahan sudah tidak sebanyak dulu lagi, yang sebelumnya hanya ada beberapa rumah mewah kini hampir semua bangunan disana setara, Olivia senang melihat desa tempat kelahirannya sudah semaju ini.


Hingga mereka sampai di lahan kosong dengan tumpukan sisa-sisa bangunan terbakar yang sudah usang dan beberapa sudah tertutup tanaman menjalar, itu adalah tempat dimana dulu sebuah bangunan yang cukup mewah pernah di tinggali oleh Olivia dan kakaknya, saat pertama kali tiba disana Olivia hanya bisa berdiri dan diam mematung menyaksikan kenangan di masa lalunya yang cukup menyayat hati.


Dalam bayangannya dia masih bisa melihat jelas kenangan masa kecilnya yang sering bermain ayunan di depan rumah dan memetik beberapa sayuran di kebun samping rumahnya itu, bahkan beberapa tanaman disana yang pernah di tanam oleh kakaknya dulu masih ada yang terus tumbuh dengan sehat dan kuat. Sebuah pohon mangga yang kini sudah besar dan rindang, ada beberapa buah yang terdapat disana dan terlihat hampir matang, Olivia berjalan mendekati pohon mangga tersebut dan berusaha untuk meraih salah satu mangga disana.


Sayangnya tangan dia tidak sampai, hingga tiba-tiba tuan Kaiden yang berdiri di belakangnya membantu dia mengambilkan mangga itu lalu memberikannya segera. "Ini aku bantu ambilkan, kau terlalu pendek bukan?" ucap tuan Kaiden sambil memberikan mangga itu.


Olivia merampasnya dengan cepat, karena kesal dengan ucapan tuan Kaiden yang mengejeknya pendek. "Aku masih dalam proses pertumbuhan bukannya pendek!" tegas Olivia kepadanya sambil kembali mendekat ke mobil.


Tuan Kaiden hanya bisa tersenyum menanggapinya, dia senang mengerjai Olivia dan membuatnya kesal seperti itu, sebab baginya setiap kali melihat Olivia kesal dan marah wajah gadis kecil itu akan sangat menggemaskan dimatanya.


"Apa kau sudah puas melihatnya?" tanya tuan Kaiden pada Olivia.


"Iya, ayo kita pergi ke makam kakakku." Balas Olivia sambil mengangguk pelan.


Mereka pun pergi ke pemakaman umum yang ada di desa tersebut, jalanan disana sudah bisa dimasuki oleh mobil dan sudah beraspal, padahal dulu hanya jalan tanah dan bebatuan saja, Olivia masuk ke area pemakaman tersebut dan mencari lokasi makan kakaknya sembari terus berusaha mengingat-ingat, tidak lama akhirnya Olivia berhasil menemukannya dengan bantuan sebuah foto usang yang pernah dia taruh di atas batu nisan kakaknya tersebut, juga sebuah botol minum yang dia tancapkan di sampingnya untuk memudahkan dia menemukan makam sang kakak.


"Hei bocah pelan-pelan saja, nanti kau bisa jatuh!" teriak tuan Kaiden mengkhawatirkannya.


Saking semangatnya dan sudah tidak sabar untuk menemui sang kakak, Olivia tidak memperdulikan keselamatan dia sendiri dan tidak mendengarkan teriakan dari tuan Kaiden, dia berlari semakin cepat di area pemakaman yang padat itu, hingga akhirnya kakinya tidak sengaja tersandung pada sebuah akar pohon besar yang ada disana, membuat dia jatuh dan tersungkur ke tanah dengan posisi tengkurap.


"Bruk, aaahhhhh....aduhh..huhu..aaa...sakit sekali." rengek Olivia mulai merasakan sakit di tubuhnya.


Untung saja dia tidak jatuh menimpa salah satu makan yang ada di sampingnya, jika tidak mungkin kepalanya akan menghantam batu nisan disana dan dia bisa saja mengalami luka yang parah. Tuan Kaiden panik bukan main dia berlari menghampiri Olivia dan langsung membantunya berdiri sekaligus memeriksa tubuh Olivia yang sudah penuh dengan tanah merah.


"Hei apa kau baik-baik saja, dimana yang sakitnya?" tanya tuan Kaiden dengan kedua mata yang terbuka lebar dan dia terus saja memeriksa tubuh Olivia.


"Ini kakiku sepertinya terkilir dan lututku berdarah tuan, hiks...hiks... Ini sakit sekali." ucap Olivia mengadukan semua rasa sakit yang dia rasa.


Tuan Kaiden hanya bisa menghembuskan nafas dengan kesal, karena Olivia tidak mendengar ucapan dia sebelumnya, tapi dia juga merasa lega, setidaknya hanya luka-luka kecil yang di dapat istri kecilnya itu.


"Sudah sudah jangan menangis di pemakaman nanti akan ada yang mengikuti mu, ayo berdiri aku akan menggendong mu." balas tuan Kaiden sambil segera membantunya berdiri lalu dia berjongkok di depan Olivia sambil menepuk pundaknya menyuruh Olivia naik ke atas punggungnya.


"Ayo naik,"


"Tuan apa kau yakin mau menggendongku?" tanya Olivia merasa ragu.

__ADS_1


"Cepat naik jika kau mau melihat makam kakakmu lebih lama."


Olivia pun menurutinya meski dia sedikit tidak enak hati dan ragu-ragu ketika hendak menaiki punggung seorang tuan Kaiden.


Pada dasarnya Olivia juga tahu, siapa pria yang menggendongnya saat ini, di kota tuan Kaiden adalah seseorang yang sangat di hormati banyak orang dan memiliki kekuasaan yang sangat tinggi, dia bahkan berani melawan ayahnya sendiri, terkenal kejam, dingin dan menakutkan, dia juga selalu di disebut manusia tanpa hati nurani, tetapi kali ini untuk pertama kalinya Olivia bisa melihat sisi baik dalam diri tuan Kaiden, kelembutan dan wajah cemas dia saat melihat dirinya jatuh itu benar-benar menyentuh hati seorang Olivia, tapi walau begitu dia tidak mau cepat menyimpulkan.


"Apa ini sungguh tuan Kaiden yang kejam itu? Kenapa aku merasa dia memperlakukan aku terlalu baik." Batin Olivia saat itu.


Saat sampai di depan makan sang kakak, Olivia ingin berjongkok di depannya tapi kakinya yang terkilir masih sangat sakit sehingga menyulitkan gadis itu untuk jongkok di samping makan. "Aawww....aahhh kenapa jadi semakin sakit." gerutu Olivia sambil terus memeriksa kakinya sendiri.


Tiba-tiba saja tuan Kaiden berjongkok dengan satu kaki yang dia tumpukan untuk menjadi tempat duduk Olivia.


"Jangan dipaksakan kalau tidak bisa, duduk disini." ucapnya sambil menepuk pahanya sendiri.


Tentu saja Olivia kaget bukan main, dia membelalakkan matanya sangat lebar sambil menunjuk ke arah kaki tuan Kaiden.


"Tu..tu..tuan apa kau yakin, itu kakimu jadi kotor lihatlah, ayo cepat berdiri jangan seperti ini." Ujar Olivia merasa tidak enak.


"Cepat duduk saja, apa susahnya sih." balas tuan Kaiden sambil menarik tangan Olivia yang membuat gadis itu akhirnya duduk juga pada kaki tuan Kaiden.


Olivia sangat gugup sebab tuan Kaiden memeluk pinggangnya saat itu, dia merasa dirinya dengan tuan Kaiden terlalu dekat, dan membuat dia tidak bisa leluasa dalam melakukan gerakan apapun.


"Tu...tuan, bisakah kau jangan memegangi pinggangku begini?" ucap Olivia padanya lagi.


"Tidak bisa, nanti kau jatuh kalau aku melepaskannya." balas tuan Kaiden menolaknya langsung.


Olivia hanya bisa berusaha menenangkan dirinya dan menghapus beberapa pemikiran aneh yang melintas di kepalanya saat itu, dia segera berusaha fokus pada kakaknya, melihat makan sang kakak yang tidak terurus dan sudah di tumbuhi rumput liar di sekitarnya, membuat hati Olivia merasa sakit, dia meninggal sang kakak begitu saja saat kakaknya baru meninggal dunia saat itu, dan tidak pernah mengurusi makam sang kakak sedikit pun. Wajahnya mulai terlihat sedih dan murung dia hanya tertunduk lesu sambil memegangi batu nisan sang kakak.


"Hei jangan terlalu sedih, kakakmu sudah tenang di alam sana, untuk apa kau menangisinya lagi, dia juga ingin kau hidup bahagia di dunia." ucap tuan Kaiden menasehatinya.


"Aku bukan sedih karena itu,"


"Terus karena apa hah?"


"Karena aku gagal jadi adik yang baik dan tidak sempat berbakti padanya, dia sudah menghidupi aku dan mengurusiku dengan penuh kerja keras serta kasih sayang, tapi aku ini apa, bahkan tidak berhasil mengurusi makamnya, aku gagal jadi adik yang baik untuknya." Balas Olivia semakin terlihat lesu.


Tuan Kaiden merasa bingung dengan apa yang harus dia katakan kepada Olivia untuk membuat gadis kecilnya tidak merasa bersalah lagi, hingga tuan Kaiden hanya bisa mengusap kepala Olivia lalu mulai bicara padanya. "Sudah, dengan kau masih mengingatnya dan terus mendoakan dia, itu sudah hal yang bagus untuk kakakmu, jika aku jadi kakakmu aku juga akan senang memiliki adik sepetimu." balas tuan Kaiden mencoba menghiburnya.


Olivia mengangguk dia memang sedikit lebih tenang dibanding sebelumnya, ucapan dari tuan Kaiden setidaknya bisa membuat Olivia berhenti merenungkan hal yang sudah tidak dapat di ubah lagi, semuanya sudah jalan takdir yang digariskan Tuhan padanya, menyesal pun tidak ada gunanya dan tidak akan merubah apapun dalam hidupnya.


Jadi Olivia lebih memilih untuk ikhlas karena dengan ikhlas semua lebih mudah, tenang dan mendamaikan.

__ADS_1


__ADS_2