
Meski sebenarnya Malara sangat merasa bersalah tapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia pikir Olivia juga sudah tidak ingin mengenal dirinya lagi, dan dia merasa tidak pantas untuk bisa dekat lagi dengan sahabat sebaik Olivia, hingga sepulang ngampus tidak sengaja Malara melihat pemberitahuan di televisi yang membicarakan mengenai pernikahannya seorang selebritis terkenal bernama Risa dengan pengusaha muda yang baru masuk ke duni bisnis beberapa tahun ini, tidak lain adalah Seno, tapi dalam pemberitaan itu juga menarik nama tuan Kaiden dan sejumlah fotonya, sehingga membuat Malara mengingat akan pria yang pernah dia temui sebelumnya.
"Hah, bukankah itu pria yang mengirimkan foto ayah padaku sebelumnya?" ucap Malara cukup kaget dan terperangah lebar.
Serli menatapnya dengan heran dan segera bertanya pada temanya itu.
"Malara kenapa? Apa kamu tidak enak badan?"
"Tidak, tapi lihat ke sana Serli, siapa pria itu sebenarnya, apa kamu?" tanyanya sambil menunjuk ke arah televisi besar yang ada di sana.
"Ohh itu CEO perusahaan CSN Group, namanya tuan Kaiden dia pengusaha kaya raya dan masih muda memangnya kenapa, kamu pernah bertemu dengannya?" jawab Serli sambil bertanya balik.
Dengan cepat Malara menggelengkan kepalanya dia tidak boleh memberitahu siapapun tentang kejadian sebelumnya dan orang yang memberitahu mengenai kebusukan ayahnya, apalagi kini Malara tahu bahwa pria itu bukanlah pria sembarangan.
"Ahh tidak tidak, hanya saja aku pernah tidak sengaja melihatnya di jalan, dia sangat keren hehe." balas Malara mencoba menutupinya.
Untunglah saat itu Serli sama sekali tidak mencurigai dirinya dan terus melanjutkan langkah mereka beriringan. Walaupun begitu Malara terus semakin penasaran dan memikirkan mengenai tuan Kaiden itu.
"Bagaimana bisa seorang tuan Kaiden membongkar kebusukan ayahku dan melaporkannya padaku, apa urusannya dengan dia bahkan perusahaan ayah saja sama sekali tidak pernah berhubungan dengannya, tidak mungkin orang sebesar dia mengenali ayahku yang hanya mengurusi perusahaan kecil." batin Malara yang terus berkecamuk memikirkannya.
...****************...
Hari demi hari terus berlalu sangat cepat, Olivia dengan kesibukannya dan tuan Kaiden berhasil mendapatkan banyak sekali keuntungan dalam bisnisnya, tahun ini bisa dikatakan sebagai puncak kejayaan seorang tuan Kaiden, mereka jadi jarang bertemu karena di sibukkan dengan aktivitas masing-masing, tapi esok adalah hari pernikahan Seno dengan Risa jadi hari ini tuan Kaiden sengaja mengesampingkan jadwal meeting dan kesibukannya yang lain, sedangkan Olivia saat ini ada ujian praktik yang tidak bisa dia hindari, sehingga dia memohon pada tuan Kaiden untuk mengijinkan dirinya tetap pergi ke kampus.
"Tuan ayolah saya mohon, lagian ini tidak akan lama hanya ujian praktik saja lalu aku akan segera pulang, aku janji denganmu."
"Tidak bisa! Kau kan sudah berjanji untuk memilih pakaian kita hari ini, aku bahkan sudah mengosongkan jadwal padatku yang jauh lebih penting dari ujianmu itu, kenapa kau tidak bisa membatalkannya?" balas tuan Kaiden yang tetap keras kepala dan sulit di bujuk.
__ADS_1
Kira-kira sudah hampir satu jam lebih mereka memperdebatkan masalah itu sampai akhirnya Olivia benar-benar kesal dan kehabisan stok sabarnya.
"Bodoamatlah aku tetap akan pergi, kau mau marah, kesal atau melakukan apapun itu aku tidak perduli!" bentaknya sangat kencang dan langsung mengambil tas lalu pergi dari rumah itu secepat yang dia bisa.
Namun disaat Olivia baru saja hendak menarik pegangan pintu, tuan Kaiden langsung mendorong pintu itu hingga tertutup rapat kembali dan mengangetkan Olivia dengan suaranya yang kencang.
"Brakkk!"
"Tuan kau ini apa apaan sih? Cepat minggir dan biarkan aku pergi dari sini!"
"Tidak bisa aku kan sudah bilang kau harus ikut memilih pakaian denganku untuk ke acara pernikahan Seno besok."
"Tuan ini baru jam sembilan pagi, memilih pakaian bisa dilakukan sore atau siang nanti, ujianku hanya dua jam saja, kenapa kau harus mempersulit diri begini?"
"Masalahnya aku sudah mengosongkan jadwal saat ini bukan nanti sore jadi kau harus mengikuti jadwal kerjaku, tidak mungkin aku yang harus mengikuti jadwal kuliahmu itu, lagi pula untuk apa sih kau kuliah selama ini aku mampu membiayai hidupmu sepenuhnya, tidak perlu lagi bekerja dan melakukan hal yang lain, itu hanya menyulitkan dirimu saja." ucap tuan Kaiden dengan raut wajah yang sangat serius.
"Aarrkkkkk!" teriak tuan Kaiden menahan sakit.
"Huh, rasakan itu siapa suruh kau berani menahanku, minggir!" ucap Olivia sambil mendorong tuan Kaiden dan segera berlari keluar meninggalkan rumah tersebut.
Sedangkan tuan Kaiden terus saja mengusap kakinya yang dirasa sakit sambil menggerutu kesal dan dia berteriak memanggil Olivia sekencang-kencangnya.
"Hei bocah kurcaci awas saja kau ya! Oliviaaaa aku tidak akan melepaskanmu, kau dengar itu hah!" teriak tuan Kaiden memberikan ancaman.
Olivia sama sekali tidak mendengarkan dia berlari menuju gerbang dan segera menaiki taxi online yang sudah menunggunya sejak tadi, merebahkan tubuhnya di mobil karena merasa lega dan tenang akhirnya bisa lolos dari tuan Kaiden yang kejam juga sulit di bantah olehnya.
Bibi Jil membantu tuan Kaiden duduk dan mengobati kakinya yang di injak oleh Olivia, tuan Kaiden benar-benar di buat marah besar kali ini, pasalnya selama ini tidak ada siapapun yang berani membantah ucapan tuan Kaiden apalagi berani menentangnya dan menginjak kakinya seperti ini, hanya Olivia yang berani melakukan itu dan tuan Kaiden tidak mengejarnya lagi, yang ada tuan Kaiden hanya diam dan dia memilih untuk mengalah pada Olivia.
__ADS_1
Tapi selama diam di rumah hatinya tidak tenang dan sudah tidak sabar untuk menunggu Olivia selesai dari ujian praktiknya, entahlah padahal saat itu baru saja setengah jam sejak Olivia pergi tapi tuan Kaiden sudah merasa itu waktu yang sangat lama, dan menguras kesabarannya, dia bangkit dan pergi menuju kampus Olivia. Baginya dia tidak bisa hanya duduk diam menunggu Olivia pulang sebab ada banyak pikiran buruk dan kemungkinan lainnya yang tiba-tiba saja muncul dalam kepalanya membuat dia tidak tenang dan tidak bisa mempercayai Olivia.
"Aahhhh aku harus menemui dia, kalau bisa aku datangi dosennya sekaligus agar dia mau membatalkan ujian praktek ini lalu di ganti hari lain saja," ucapnya sambil terus menyetir dengan cepat.
"Bagaimana jika dia tidak kembali setelah ujian dan melanjutkan jadwal kuliahnya yang lain atau bagaimana jika dia malah bermain dengan teman-temannya dan ada banyak laki-laki disana, aaahhh tidak tidak ini tidak boleh dibiarkan aku harus memantau dia dengan benar." ucapnya sambil menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran buruk yang muncul di kepalanya saat itu.
Karena terus cemas dan tidak bisa tenang tuan Kaiden mempercepat laju kendaraannya hingga dia tiba di parkiran kampus besar favorit tempat Olivia menuntut ilmu, dia sengaja mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya bahkan tuan Kaiden melepaskan jas kerja yang dia kenakan sebelumnya, dia tahu pemberitaan mengenai dirinya tengah berada di puncak perbincangan orang-orang, dia hanya takut akan ada paparazi atau orang lain yang tidak sengaja mengenali dirinya lalu malah merekam dia secara diam-diam dan masuk pemberitaan lagi, dengan menggerutu kesal tuan Kaiden keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gedung universitas.
Benar saja apa yang dia takuti, saat dia tengah berjalan menuju ruangan rektor, di perjalanan banyak sekali sorot mata orang-orang yang memperhatikan dirinya sambil berbisik satu sama lain, entah karena penampilannya yang tertutup atau mereka mencurigakan dirinya. "Aishh... Aku benci sekali mendapatkan tatapan seperti ini, jika bukan demi bocah ingusan itu, aahhh malas sekali." batin tuan Kaiden mengeluh lagi.
Segera ia mempercepat jalannya hingga sampai di ruangan rektor dan langsung mengutarakan niat kedatangannya, sang rektor juga menyepakati dan menuruti perintah tuan Kaiden dengan begitu mudah sebab mau bagaimana pun tuan Kaiden adalah satu satunya penyumbang dana terbesar di kampus ini juga termasuk orang yang mengharumkan nama kampus tersebut sampai bisa berada di titik saat ini, jadi tentu saja sang Rektor akan mendengarkan permintaan apapun yang di inginkan tuan Kaiden.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, bawa Olivia ke hadapan saya saat ini juga atau saya akan mencabut semua dana yang biasa saya berikan setiap tahunnya." ucap tuan Kaiden mengancam sang rektor.
Membuat pria paruh baya itu semakin takut dan lemas, dia tidak memiliki pilihan lain lagi, juga tahu bahwa tuan Kaiden bukanlah seseorang yang bisa di bantah walau hanya dengan kata-kata menenangkan. "Baik tuan anda tenang saja saya sudah menyampaikan pesan itu pada dosen yang tengah mengajarnya, mungkin saat ini perempuan yang anda maksud akan segera tiba." ujar sang rektor sambil tersenyum kecil padanya.
Tuan Kaiden sudah sangat tidak sabar dia bahkan tidak bisa tersenyum sedikitpun disaat rektor tersebut mempersilahkan dirinya untuk meminum minuman yang disajikan olehnya, sampai tidak lama akhirnya Olivia tiba juga di ruangan tersebut, saat dia masuk wajahnya langsung kaget dan tercengang hebat, melihat tuan Kaiden yang tengah duduk berhadapan dengan sang rektor, meski belum tahu apapun Olivia sudah panik lebih dulu, dia takut jika dirinya melakukan kesalahan yang tidak dia sadari sampai rektor meminta walinya datang secara tiba-tiba seperti ini.
"Ya ampun, kenapa ada tuan Kaiden, perasaan aku tidak melakukan kesalahan apapun selama ngampus." batin Olivia sudah sangat cemas tidak karuan.
Tuan Kaiden dengan kedua alis yang hampir menyatu dan menatap Olivia dengan tatapan tajam menusuk semakin membuat Olivia berpikiran kemana-mana dan dia bahkan masih berdiri di depan pintu saat itu, padahal sang rektor sudah menyambutnya dan mempersilahkan dia untuk duduk di kursi tersebut bersama tuan Kaiden.
"Hei kurcaci kenapa kau masih berdiri disana, cepat kemari!" ujar tuan Kaiden menyadarkan Olivia.
"AA...ahh...iya iya,"
"Eumm maaf pak tapi kenapa bapak memanggil saya dan wali saya ini, memangnya ada kesalahan apa yang saya perbuat?" tanya Olivia sambil memberikan tatapan kagetnya.
__ADS_1
Olivia benar-benar takut saat itu, dia takut rektor akan memberikan surat peringatan kepadanya apalagi surat pengeluaran, karena yang dia tahu setiap mahasiswa yang masuk ke dalam ruang rektor, kemungkinannya hanya ada dua langsung di keluarkan atau mendapatkan kesempatan terakhir dengan surat peringatan keras.