
Tuan Kaiden kembali membawa Olivia untuk pergi salah satu villa yang luas dan indah, villa lama yang sudah dia bangun di tengah hutan pulau tersebut, jalanannya juga menggunakan batu hias yang sangat cantik, Olivia yang tengah bermain pasir langsung di dekati oleh tuan Kaiden untuk mengajaknya.
"Hei ikut denganku yuk." Ucap tuan Kaiden mengajaknya dengan sedikit gengsi yang masih dia tahan saat itu, Olivia menatap ke arahnya dan menerima uluran tangan dari tuan Kaiden saat itu, sambil segera menyetujui ajakannya tersebut.
"Ayok, kau mau membawaku kemana tuan?" Tanya Olivia dengan wajah cerianya saat itu.
Tuan Kaiden membuka matanya sangat lebar, dia kaget sekaligus tidak menyangka jika gadis kecil itu bisa menerima ajakan darinya dengan wajah yang ceria dan terlihat begitu antusias, membuat tuan Kaiden sedikit gugup dibuatnya, dan dia malah diam termenung di saat Olivia bertanya kepadanya tentang kemana dia akan membawanya.
"Tuan...tuan Kaiden apa kau mendengarkan aku?" Tanya Olivia lagi dengan mendekatkan wajahnya ke arah tuan Kaiden yang masih diam termenung.
"AA...ahh...aku baik-baik saja, ayo kau ikut denganku dulu saja, nanti kau juga akan tahu sendiri kemana aku akan membawamu." Balas tuan Kaiden sambil segera menggandeng tangan Olivia dan membawanya ke arah hutan yang rindang disana.
Ada beberapa hewan liar yang cantik, seperti burung serta kelinci yang sengaja di bebaskan untuk menghuni pulau tersebut oleh tuan Kaiden, dan penjaga disana memang tetap tinggal di pulau itu untuk merawat dan menjaga para hewan disana dari para pemburu liar yang tidak bertanggung jawab, sepanjang perjalanan Olivia terus saja menatap ke sekeliling hutan tersebut yang terlihat begitu indah, pepohonan yang rindang dan begitu hijau, ada banyak hewan yang berkeliaran dan begitu asri sekali, dia seperti tengah berjalan-jalan di hutan sungguhan atau kebun binatang, itu sangat menyenangkan dan menjadi pengalaman pertama yang sangat mengagumkan bagi seorang Olivia.
Tuan Kaiden terus mencuri curi pandang kepada gadis kecil tersebut dan tanpa ia sadari dia juga mulai tersenyum saat melihat Olivia gemas dengan salah satu kelinci yang tidak sengaja menampakkan diri ketika mereka berjalan melewatinya.
"Wahh .... Tuan lihat ternyata di hutan ini ada kelinci juga, aaahh dia berwarna putih dan sangat menggemaskan, apa aku boleh menangkapnya?" Tanya Olivia kepada tuan Kaiden.
"Tidak bisa, kelinci itu sudah menjadi liar dan mereka tidak akan mengenalimu sebab kau pendatang baru di pulau ini, sudah jangan terlalu berharap untuk bisa menangkapnya kelinci itu sangat lincah." Balas tuan Kaiden dengan nada suara yang datar dan mengatakan yang sebenarnya bahkan Olivia tidak akan bisa menangkap hewan apapun di hutan tersebut termasuk kelinci yang dia maksud.
Wajah Olivia memang nampak sedikit kecewa mendengar hal itu tetapi dia langsung membaik saat melihat di depannya terdapat sebuah villa yang sangat indah dan cukup mewah bagi sekelas villa di tengah hutan dan dalam pulau kecil di tengah laut seperti ini.
"Wahh....tuan apa itu rumah?" Tanya Olivia yang mengira bangunan berwarna putih yang memiliki dua lantai di depannya.
"Hei, buka matamu dengan baik, itu villa bukan rumah, mana ada rumah sekecil ini." Balas tuan Kaiden menjelaskannya.
"Ehh..rumahku dulu bahkan lebih kecil dari ini." Balas Olivia bicara dengan jujur.
Tuan Kaiden hanya bisa menghembuskan nafas sembari menggelengkan kepala pelan, dia lupa bahwa segala sesuatu di matanya dan di mata Olivia jelas sangat berbeda dan kerap kali bertolak belakang, sebab Olivia tumbuh dan besar di pinggir kota sedangkan dia hidup sejak kecil menjadi orang kaya raya, bersama ayahnya dan sang ibu yang tinggal di rumah mewah, juga selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan jadi dia memahami kenapa Olivia bisa mengira villa yang bagi dirinya kecil itu sebagai sebuah rumah yang sudah tidak sepantasnya memiliki luas kecil seperti itu bagi dirinya.
__ADS_1
"Aahh..iya terserah kau saja lah, tapi kau menyukainya bukan?" Balas tuan Kaiden tidak mau berdebat dan memperpanjang masalah lagi dengannya.
Olivia langsung mengangguk dan tuan Kaiden langsung mengajaknya untuk masuk ke dalam sana, saat pertama kali masuk ke dalam villa tersebut, mata Olivia sudah dibuat kagum dengan pemandangan minimalis di dalamnya, ada banyak sekali alat berburu yang terpajang di dinding dan digunakan sebagai hiasan yang cantik, juga ada patung harimau di ujung pagar dan ujung seberangnya, semua itu menambahkan nilai estetika villa tersebut, tidak hanya itu semua cat dinding disana berwarna putih bersih dan gold, nampak sangat mewah dan elegan, bahkan sofanya saja berwarna emas yang mengkilap dan cantik, dia bahkan tidak menduga jika ada televisi besar yang menempel di dinding di dalam sana, serta ada banyak hiasan yang super cantik dan tidak pernah dia lihat sebelumnya, seperti gantungan jam dinding yang nampak terbuat dari rancangan tulang belulang hewan serta ada lampu yang menggunakan cap dengan tengkorak hewan juga.
"Tuan, rumah ehh villa mu ini begitu klasik dan sangat indah, apa kau sendiri yang sengaja merancangnya seperti ini?" Tanya Olivia kepada tuan Kaiden sambil terus menatap ke sekeliling rumah tersebut dengan penuh kekaguman dalam dirinya.
Tuan Kaiden tentu saja merasa senang dan bangga atas pilihannya tersebut sehingga dia mulai menyombongkan dirinya kepada Olivia bahwa semua tataan di dalam villa tersebut adalah buatan dirinya dan seluruhnya adalah ide dari otak dia semua.
"Ahah..ekm...tentu saja aku kan Kaiden Kandensus, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan dan semua yang aku lakukan juga ide apapun yang muncul dari kepalaku semuanya akan sangat mengagumkan dan begitu brilian, sama dengan apa yang kau lihat, ini adalah salah satu bukti bahwa aku memilih selera yang sangat baik dalam dekorasi dan tata ruang, berbeda dengan kau yang bahkan salah menyebut villa secantik ini sebagai rumah, dimana matamu itu." Balas tuan Kaiden benar-benar membuat Olivia merasa tidak senang dan begitu ilfil dengan jawabannya tersebut.
"Idih, tuan kau ini kenapa sih begitu percaya diri dan sangat narsistik sekali, aku tahu kau memang hebat tapi tidak perlu kau membanggakan dirimu sendiri kepadaku seperti ini, lagi pula yang aku puji bagus itu villa mu bukan dirimu." Balas gadis tersebut menegaskan dan berhasil membuat tuan Kaiden tersipu malu sambil segera merubah ekspresi di wajahnya menjadi lebih datar dari pada sebelumnya, dia juga terlihat segera berlagak membenarkan jas yang dia kenakan saat itu padahal aslinya dia menahan malu dan kesal pada Olivia.
"Aahh...yang benar saja kau ini, aku kan hanya mengatakan sebuah fakta tentang diriku, apa salahnya, aku bukan sombong aku hanya...eehh hey tunggu mau kemana kau malah meninggalkan aku, kurcaci, aishh dasar gadis menjengkelkan!" Balas tuan Kaiden yang malah ditinggalkan oleh Olivia.
Dengan cepat tuan Kaiden menyusulnya dan berlari mengikuti Olivia yang menaiki tangga dengan secepat yang dia bisa, Olivia memang sangat penasaran dengan pemandangan yang dapat dia lihat dari balkon villa tersebut.
Hingga dia tiba di lantai paling atas villa tersebut setelah menaikkan dua tangga yang cukup tinggi dan melihat pemandangan dari atas villa tersebut sangatlah cantik, bahkan jauh lebih cantik dari apa yang dia bayangkan sebelumnya. Angin berhembus cukup kencang mengenai tubuhnya dan membuat rambut panjang gadis tersebut menyingkap ke belakang, dia terus merentangkan kedua tangannya dan menengadahkan kepala ke langit dengan memejamkan mata, berusaha menikmati suasana sejuk yang dia rasakan dan terus melihat ke sekeliling yang sangat indah.
"Huaaa...ini sangat luar biasa aku benar-benar merasa seperti tengah berada di luar negeri, dalam hutan belantara dan punya banyak kecantikan alam yang indah, ini sangat luar biasa." Ucap Olivia sangat kagum melihat keindahan alam disekitarnya.
Dia memang sangat senang berkeliling dan menyatu dengan alam, baginya setiap kali dia menatap langit maka dia akan ingat dengan sosok sang kakak juga kedua orangtuanya, tetapi disaat dia melihat pemandangan yang terhampar indah di depannya, dia akan selalu merasakan ketenangan dalam dirinya.
Sedangkan setiap kali dia menatap kakinya yang menapak ke bumi, dia akan selalu merasa bersyukur atas semua nikmat yang telah Tuhan berikan dengannya, meski dia pernah merasa sangat jatuh dan di uji begitu dahsyat tetapi dia bisa langsung tersadarkan dan mengikhlaskan semua yang telah dia lewati selama ini.
Dia selalu percaya akan selalu ada makna baik dalam setiap kejadian yang dia lewati selama ini, yang terpenting dia akan selalu bisa melewati semua perjalanan hidupnya tersebut dengan penuh keberanian dan penuh kekuatan dalam dirinya sendiri.
Olivia terus berjalan mendekati pagar pembatas disana dan berniat untuk berteriak supaya bisa melepaskan semua beban yang dia kandung dan dia sembunyikan dalam dirinya selama ini, tetapi baru saja Olivia siap-siap tiba-tiba saja dari belakang tuan Kaiden memanggil namanya dan terus menarik pakaian dia dengan kuat sampai dia terseret ke belakang dan kakinya tersandung pada kaki dia yang lainnya, mereka jatuh bersama dan Olivia tidak sengaja menimpa tubuh tuan Kaiden saat itu.
"Aaahhhh...bruk." suara mereka berdua yang terjatuh dan tidak sengaja kedua tangan tuan Kaiden malah memegangi buah dada milik Olivia.
__ADS_1
Membuat gadis 19 tahun itu langsung membelalakkan matanya sangat lebar dengan kedua pipi yang merah merona.
Keduanya langsung menatap ke arah tangan tuan Kaiden saat itu dan seketika langsung menjerit berteriak bersamaan sambil segera Olivia bangkit menyingkir darinya.
"Aaarrkkkk...tuan kau? Apa yang kau lakukan, perhatian dimana tanganmu mendarat, aishh." Ucap Olivia membentak tuan Kaiden sambil terus memeluk dirinya sendiri untuk melindungi bagian sensitifnya tersebut.
Tuan Kaiden sendiri merasa gugup sambil melihat kedua telapak tangannya itu, dia masih belum menyangka jika baru saja kedua tangannya malah memegangi dada gadis kecil tersebut yang terasa cukup aneh bagi dirinya.
"AA..AA..ahh..aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu, tadi aku hanya ingin menolongmu dan menahan mu agar tidak bertindak konyol." Balas tuan Kaiden membuat Olivia mengerutkan kedua alisnya karena tidak paham dengan apa yang di maksud oleh tuan Kaiden kepada dia saat itu.
"Tunggu, apa yang kamu maksud tuan, memangnya siapa yang akan melakukan hal konyol itu? Aku sama sekali tidak melakukan apapun kau yang menarik pakaianku secara tiba-tiba seperti tadi sampai aku tersandung dan kita terjatuh bersama." Balas Olivia dengan kedua alis yang dia kerutkan sangat kuat, sekaligus menatap tajam kepada tuan Kaiden tanpa henti, dia menunggu jawaban dari tuan Kaiden saat itu karena sudah merasa sangat penasaran sekaligus memiliki firasat semua itu tidak sama dengan apa yang dia pikirkan, sampai akhirnya tuan Kaiden langsung membalasnya dengan lantang.
"Bukankah tadi kau mau bunuh diri, jadi aku langsung berlari dan menarik pakaianmu, kurcaci walaupun aku tahu hidupmu sangat sulit dan kau telah kehilangan semuanya dalam hidupmu, tapi bunuh diri bukanlah solusi dari semuanya, kau harus tetap hidup meski kau sangat menyebalkan untukku." Ucap tuan Kaiden yang langsung membuat Olivia terperangah sambil terus saja memegang keningnya dan menggelengkan kepala sangat kuat, gadis kecil itu sudah menahan emosi dalam dirinya dan dia tidak habis pikir jika ternyata hal seperti itu yang dipikirkan oleh tuan Kaiden tentangnya.
"Hei...kenapa kau bersikap seperti itu, kau memang mau bunuh dirikan barusan?" Tanya tuan Kaiden lagi.
"Wah...haha..tuan kau ini benar-benar tidak bisa tertolong lagi, aku sama sekali tidak mau bunuh diri, aku hanya menikmati pemandangan indah dari ini, aishh yang benar saja mana mungkin aku mau bunuh diri, lagi pula aku sudah keburu takut sebelum aku akan melakukan hal di luar nalar seperti itu." Balas Olivia dengan meninggikan suaranya dan berkacak pinggang di depan tuan Kaiden.
Tuan Kaiden pun nampak kaget mendengarnya dan dia baru sadar jika ternyata saat itu dia salah mengira, tetapi bukannya minta maaf tuan Kaiden malah terus memojokkan Olivia dan terus saja menyalahkan gadis kecil tersebut yang sudah membuat dirinya penasaran. "Apa kau bilang? Jadi kau tadi bukan mau bunuh diri ya? Berarti aku sia-sia dong menolongmu, aaahh." Balasnya malah membuat Olivia emosi dengannya.
"Sia-sia kau kata? Tuan apa kau sudah benar-benar gila ya? Sangat menjengkelkan sekali, aaarghhh... Bisa bisanya kau mengira aku akan bunuh diri, aishh..." Balas Yuki semakin mendengus kesal tiada henti.
"Habisnya kau sendiri kenapa merentangkan tangan sambil menutup mata di depan pagar pembatas sedekat itu, ya tentu aku mengira kau akan bunuh diri, terlebih aku kan tahu kau sedang sedih dan tidak baik-baik saja, makanya aku berpikir seperti itu jadi ya jangan salahkan aku, itu salahmu sendiri." Balas tuan Kaiden kembali menyalahkan Olivia yang tidak bersalah dan jelas-jelas dirinya sendiri yang sudah melakukan kesalahan tetapi tetap saja tidak mau mengakuinya sendiri.
"Hei, kau sudah salah dan menyebabkan masalah malah kau menyalahkan aku juga sekarang, yang benar saja." Balas Olivia terus membuang muka padanya dengan cepat.
Saat itu Olivia benar-benar dibuat kesal oleh tuan Kaiden dan dia tidak mau menatap atau berinteraksi lagi dengan tuan Kaiden saat itu, sehingga dia hanya memasang wajah cemberut dan terus saja merotasikan matanya dengan nafas menderu sangat kencang, kedua tangannya ia lipat di depan dada dan berusaha untuk mengatur nafasnya dengan perlahan-lahan.
Lama kelamaan tuan Kaiden juga mulai merasa bersalah dengan gadis kecil tersebut, karena dia juga paham semua itu tidak sepenuhnya kesalahan dari Olivia, dia sendiri juga terlalu terburu-buru dalam menduga. Tetapi karena gengsinya yang terlalu tinggi tuan Kaiden tidak berani untuk mengakui hal itu apalagi meminta maaf dengannya, jadi dia lebih memilih melakukan hal seperti ini.
__ADS_1