Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Mengerjai Olivia


__ADS_3

Disisi lain Seno yang tengah mengobrol sangat serius dengan tuan Kandensus mengenai kepemimpinan perusahaan cabang lain yang akan di oper namakan atas namanya, kini hubungan ayah dan anak tiri itu terlihat semakin dekat, Seno nampak sangat senang dan terus berterimakasih kepada tuan Kandensus yang sudah memberikan kepercayaan sebesar ini padanya.


"Terimakasih banyak tuan besar, saya janji akan menjalankan perusahaan dengan segenap kekuatan saya, saya tidak akan mengecewakan anda." ucap Seno sambil membungkuk dan menjabat tangan tuan Kandensus.


Dengan cepat pria paruh baya itu segera memegangi pundak Seno dan menyuruhnya untuk bangkit, tuan Kandensus yang sebelumnya selalu cuek juga tidak pernah benar-benar perduli kepada Seno, kini dia justru malah cukup ramah, bahkan mau tersenyum kepada Seno. Hal yang sulit untuk dia lakukan kepada orang lain termasuk pada putra kandungnya sendiri, tapi kini dia malah melakukannya kepada putra tirinya yang dia besarkan dan dia didik tanpa kasih sayang itu.


"Sudahlah Seno, mulai saat ini kau jangan memanggilku tuan lagi, panggil aku ayah sama dengan yang dilakukan Kaiden padaku." ucap tuan Kandensus yang membuat Seno langsung terperangah hebat.


Jelas Seno sangat kaget, bagaimana mungkin tuan Kandensus yang terkenal sangat dingin dan selalu serius tiba-tiba tersenyum kecil dan menyuruh dia untuk memanggilnya ayah, hal yang selalu ingin di dengar oleh Seno selama ini, karena dia tidak pernah mendapatkan peran seorang ayah sejak kecil bahkan tidak pernah tahu siapa dan dimana ayah kandungnya, kini akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya memanggil seseorang sebagai ayahnya, serta mendapatkan senyuman dari orang yang bisa dia panggil ayah. Meski dia sudah sangat dewasa dengan usianya saat ini, namun ketika di hadapkan dengan hal seperti itu, dia bisa terharu juga.


Seno terdiam sambil menatap tuan Kandensus begitu dalam, sampai akhirnya tuan Kandensus sendiri yang menepuk pundak Seno cukup kuat, seakan dia memberikan kepercayaan lebih terhadapnya. "Jangan panggil aku tuan lagi, kau sudah aku anggap sebagai putraku juga, jadi ayo sebut aku ayah." ujar tuan Kandensus lagi.


"Ba..ba..baik ayah." balas Seno masih sangat gugup.


"Ahaha... Bagus, ini baru benar, kau baik-baik lah dengan Kaiden, dia sebenarnya anak yang baik dan jangan bermusuhan dengannya karena aku sudah memperlakukan kalian dengan adil." tambah tuan Kandensus sambil segera masuk ke dalam mobilnya.


Seno hanya bisa mengangguk dan membungkuk untuk memberikan hormat kepadanya, hingga mobil tersebut melaju dan meninggalkan dia sendiri disana, barulah Seno tersenyum melihat kepergian tuan Kandensus dengan rasa senang di dalam hatinya. "Ayah... Aku sekarang punya ayah, ini belum terlambat bukan?" gerutu Seno pelan sambil menampakkan senyum kecil di wajahnya.


Tak lama nyonya Asila dengan Risa datang menghampiri Seno. "Bagaimana kau berhasil untuk mengambil hati pria tua itu kan?" tanya Risa dengan nada suaranya yang begitu sombong.


"Hei Risa jaga mulutmu itu, bagaimana pun tuan Kandensus suamiku dan ayah tirinya Seno, seenaknya saja kau memanggilnya begitu, hormati dia dengan benar!" tegas nyonya Asila menegurnya.


"Cih, dia sama sekali tidak berguna bagiku, lagi pula kalian yang memohon bantuan padaku bukan aku yang membutuhkan kalian." balas Risa nampak tidak perduli sama sekali sambil berjalan meninggalkan nyonya Asila serta Seno dari tempat tersebut.


Mendapatkan jawaban seperti itu membuat nyonya Asila jengkel dengan kelakuan Risa dia hampir saja menegur Risa lagi dan mengejarnya, namun Seno menahan tangan ibunya itu dengan cepat dan terus saja berusaha menenangkannya.


"Aishh dasar kau anak tidak tahu diri, kemari kau Risa!" teriak nyonya Asila saat itu.


"Bu sudah Bu, tidak ada gunanya ibu mengejar dia." ucap Seno menahan ibunya dengan kuat.


"Lepaskan tangan ibu, kau ini tidak tahu apa, dia sudah keterlaluan pada ayahmu sendiri, wanita sepertinya tidak bisa dibiarkan, dia benar-benar tidak tahu diri setelah kita bantu kembali ke sini." bentak nyonya Asila yang tersulut emosi dan terus menghempaskan tangannya yang tadi di tahan oleh Seno.


Seno kembali menahan ibunya lagi dan berusaha untuk menenangkannya karena dia tahu betul bagaimana Risa, dia bukanlah seseorang yang akan mendengarkan ocehan dari ibunya, mungkin yang ada justru malah ibunya akan terluka dengan ucapan yang keluar dari mulut seorang Risa, Seno sudah mengenal Risa jauh lebih lama dari apa yang ibunya pikirkan bahkan mungkin jauh lebih lama dibandingkan tuan Kaiden dan tuan Kandensus sendiri. "Bu sudah, tidak ada gunanya mempermasalahkan hal sepele seperti ini, yang terpenting sekarang tuan Kandensus sudah bisa menerima aku sebagai putranya, dia sudah tidak sedingin dulu lagi padaku." balas Seno membuat ibunya langsung senang dan mengesampingkan tentang Risa.

__ADS_1


"Apa? kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya nyonya Asila yang nampak sangat antusias.


"Iya Bu, dia bahkan menyuruh ku untuk memanggilnya ayah mulai sekarang, bukankah itu hal yang bagus, akan lebih mudah untuk kita mengambil hatinya dan merebut apa yang ibu inginkan darinya." balas Seno sambil tersenyum lebar membayangkan apa saja yang bisa dia dapatkan ketika berhasil mengambil hati tuan Kandensus nantinya.


Nyonya Asila turut senang, dia langsung memeluk Seno dan mengungkapkan rasa bangganya kepada sang putra karena sudah mau membantu melancarkan rencananya. "Ahhh sayang kau benar-benar anak yang berbakti, ibu bangga sekali denganmu, dengan tuan Kandensus semakin dekat denganmu kita tidak perlu mencemaskan tentang posisi kita lagi dalam keluarga Kandensus ataupun perebutan warisan nantinya." balas nyonya Asila begitu senang.


"Tentu saja Bu, semuanya akan berjalan lancar selama aku yang melakukannya." balas Seno membanggakan dirinya sendiri.


"Ini harus dirayakan." balas nyonya Asila yang mendapatkan anggukan kepala dengan cepat dari Seno.


Mereka pergi merayakan sebuah keberhasilan kecil yang mereka anggap berjalan dengan mulus juga dapat mempermudah jalan mereka selanjutnya sebagai bagian dari keluarga Kandensus yang terpandang dan mendapat banyak kekayaan darinya, berbeda dengan tuan Kaiden sendiri yang hanya ingin mempertahankan hak serta warisan peninggalan ibunya, sesuai dengan surat wasiat yang dia miliki dari sang Oma serta almarhumah ibunya sendiri.


Tuan Kaiden pulang cukup malam saat dia tiba di rumah Olivia tengah menikmati buah segar yang sudah di potongkan oleh bibi Jil, dia langsung menyambut kepulangan tuan Kaiden karena sedari tadi dia sudah menunggunya dengan penuh kecemasan, sehingga saat suaminya pulang dia langsung berlari menghampiri tuan Kaiden dan menanyakan semua hal yang ingin dia ketahui saat itu. "Tuan kau akhirnya pulang juga, apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah di perusahaan mu? Tuan apa kau akan jatuh miskin? Ataukah tuan besar memanggilmu lagi? Apa dia masih tidak percaya bahwa aku istrimu? Apa rencanamu gagal?" tanya Olivia bertubi-tubi sambil terus berjalan mengikuti tuan Kaiden tepati di belakangnya.


Tuan Kaiden yang sudah sangat geram mendengar banyak pertanyaan dari gadis kecil itu, dia pun segera saja menghembuskan nafas dengan kasar lalu tiba-tiba saja berhenti berjalan sampai membuat Olivia tersentak ke punggungnya, karena tidak mengira jika tuan Kaiden akan berhenti di tengah jalan seperti itu.


"Bruk!" suara Olivia menabrak tubuh tuan Kaiden.


"Aduhh... Tuan kenapa kau berhenti di tengah jalan begini sih, aaahh kepalaku untung saja aku tidak jatuh." gerutu Olivia sambil memegangi jidatnya.


"Siapa suruh kau mengikutiku seperti sebuah ekor, menjauh dariku!" balas tuan Kaiden sambil segera kembali berjalan meninggalkan Olivia.


Gadis 19 tahun itu hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dengan penuh keheranan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada suami kontraknya itu, membuat Olivia semakin penasaran dan dia terus kembali mengikuti tuan Kaiden sampai akhirnya membuat tuan Kaiden kesal sebab Olivia menahan pintu kamarnya dengan kuat.


"Hei, minggir! Kenapa kau berdiri di tengah pintu seperti ini apa kau mau terhantuk pintu lagi hah?" ucap tuan Kaiden.


"Tidak, aku mau bicara denganmu, kau belum menjawab satu pun pertanyaan yang aku tanyakan tadi, cepat jawab setidaknya satu saja agar aku tidak penasaran dan cemas." balas Olivia kepadanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tuan Kaiden dengan wajah cemberut.


Tuan Kaiden yang tadinya tidak mood bicara dan masih cukup kesal dengan ulah Seno serta Risa, tapi karena melihat ekspresi wajah Olivia dia pun tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum, karena wajah Olivia sangat lucu dan menggemaskan ketika marah dan memaksa seperti itu padanya. "Sial aku kalah lagi dengannya, kenapa wajahnya harus seperti itu sih, aku ingin tertawa setiap kali melihatnya." batin tuan Kaiden berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa saat itu juga.


Dia mencoba memalingkan pandangan ke arah lain terlebih dahulu dan mulai mengatur nafasnya sendiri agar dia bisa menyesuaikan diri, saat Olivia kembali bertanya barulah dia mulai mempersilahkan Olivia masuk ke dalam kamarnya agar dia bisa menceritakan semuanya.


"Kenapa kau malah diam dan menatap ke arah lain begitu? cepat jawab aku sudah sangat penasaran tahu."

__ADS_1


"Haissss kau ini kepo sekali sih, ya sudah kalau kau mau tahu ayo masuk, akan aku jelaskan semuanya denganmu." balas tuan Kaiden menarik tangan Olivia cukup kuat hingga gadis itu terbawa masuk ke dalam kamar.


Lalu tuan Kaiden mendorong pintu kamarnya dengan sebelah tangan cukup kuat hingga pintu itu bisa tertutup sangat cepat, membuat Olivia kaget dibuatnya dan dia segera menjaga jarak aman dari tuan Kaiden.


"Hei tuan lepaskan, aku kan hanya ingin mendengar apa yang terjadi padamu kenapa kau malah menahanku di kamarmu, apa kau sudah gila ya?" balas Olivia tidak habis pikir dengannya.


"Heh bocah, mana mungkin aku akan menceritakan semua itu sambil berdiri di tengah pintu begitu, lagian semua yang terjadi tidak ada hubungannya denganmu, untuk apa kau mencemaskan hal seperti ini dan begitu penasaran tentangku, atau jangan-jangan kau menyukaiku ya?" balas tuan Kaiden mulai menggoda Olivia.


Ia bicara seperti itu sambil mendekati Olivia dan terus menatapnya begitu dalam, membuat Olivia sedikit takut dan dia terus berjalan mundur perlahan sampai tubuhnya mengenai dinding kamar dan tuan Kaiden tepat di hadapannya, dia tidak bisa kabur kemanapun lagi dan dengan cepat Olivia berusaha mendorong tubuh tuan Kaiden agar menjauh darinya tapi sayang sekali tuan Kaiden sudah bersiap untuk hal itu, saat Olivia berniat ingin mendorongnya tangan tuan Kaiden lebih dulu menahan tangan Olivia dan ikut menekan kedua tangannya ke dinding, membuat Olivia kaget bukan main dan terperangah panik.


"Aaahh...tuan lepaskan, kau ini apa-apaan sih? eughhh.. lepaskan tanganku!" bentak Olivia dengan wajahnya yang mulai panik dan takut.


"Kenapa? Bukankah tadi kau terus menggangguku dan merasa penasaran dengan apa yang terjadi padaku, sekarang biar aku ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." ujar tuan Kaiden sambil terus mendekatkan dirinya pada Olivia.


Hingga jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa cm saja, deru nafas mereka bahkan bisa saling dirasakan satu sama lain dan detak jantung Olivia mulai bergemuruh sulit untuk dia kendalikan sendiri, sementara di hadapannya tuan Kaiden terus menatap dia dengan wajah serius dan alis yang hampir menyatu. "Tu..tu..tuan, maksudku jika tuan besar tetap tidak mempercayai hubungan pernikahan kita, mungkin aku akan menyerah saja." balas Olivia sambil menundukkan kepalanya.


Membuat tuan Kaiden semakin terpancing untuk terus mengerjainya. "Aku punya satu saja agar tuan Kandensus mempercayai hubungan kita." balas tuan Kaiden yang membuat Olivia kembali berani menatapnya dengan mata terbuka.


"Apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Olivia dengan wajah polosnya.


Tiba-tiba saja tuan Kaiden langsung mengecup bibir Olivia sekilas membuat gadis itu membelalakkan matanya sangat lebar, dia kaget bukan main dan tidak bisa menghindar dari tuan Kaiden saat itu karena kedua tangannya masih di tahan sangat kuat dan tubuhnya juga begitu dekat dengan tuan Kaiden.


"Tuan, apa barusan kau lakukan?" bentak Olivia sangat kaget.


"Apa? Bukankah kita suami istri? Wajar saja jika aku meminta hak ku sebagai suami padamu? Kenapa kau se kaget itu?" balas tuan Kaiden semakin membuat Olivia takut dengannya.


Dia merasa dirinya masih kecil dan tidak siap untuk melakukan hubungan suami istri dengan tuan Kaiden, sekalipun tuan Kaiden telah menjadi suaminya yang sah menurut agama dan hukum, wajah Olivia sudah tidak terkenal, kedua pipinya merah merona entah karena takut atau pun hal lainnya tapi semua itu benar-benar membuat tuan Kaiden tidak tahan untuk menahan tawanya, dia rasa ini sudah cukup dalam mengerjai gadis kecilnya tersebut.


"Ffttt..hahaha... Wajahmu konyol sekali, apa kau menahan berak sampai wajahmu merah padam dan kedua pipimu seperti ingin meledak? Ahahah..." ucap tuan Kaiden yang tiba-tiba saja tertawa keras sambil melepaskan Olivia begitu saja.


Gadis kecil itu hanya bisa menatap dengan penuh kebingungan sembari menahan emosi dalam dirinya, dia kemudian mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh tuan Kaiden padanya barusan hanyalah sebuah candaan saja. "Hah? Jadi tadi kau hanya mengerjai aku ya?" tanya Olivia untuk memastikan.


"Tentu saja, memangnya kau pikir aku serius? Ahaha.... Mana mungkin aku mau melakukan hal seperti itu dengan gadis kecil yang belum dewasa sepetimu, lagi pula dadamu terlalu rata untuk seorang pria, benar-benar konyol ahaha..." balas tuan Kaiden membuat Olivia benar-benar naik darah.

__ADS_1


Dengan emosi yang menggebu Olivia mengepalkan kedua tangannya sangat kuat dia benar-benar kecewa pada tuan Kaiden, padahal sebelumnya dia sungguh sangat mencemaskan kondisi suaminya itu, walaupun hanya suami kontrak tapi Olivia masih menghormatinya, tapi setelah apa yang dilakukan tuan Kaiden kali ini, Olivia tidak bisa mentolerinya lagi, dia langsung keluar dari kamar itu dengan membanting pintu sangat kencang, tapi tuan Kaiden sama sekali tidak menyadari betapa besarnya amarah dan kekesalan yang dirasakan istri kecilnya, dia hanya asik tertawa sendiri tanpa memikirkan dampak dari kesalahan fatal yang telah dia lakukan barusan.


__ADS_2