
Sejak tadi tuan Kaiden sengaja duduk di depan Olivia karena dia menunggu ucapan terimakasih dari gadis itu terhadap dirinya sebab dia sudah membantunya membawakan koper sebelumnya, tapi sayang sekali Olivia sama sekali tidak peka dengan hal itu dia malah terus memandang ke luar jendela dan nampak asik terus melihat pemandangan laut yang terhampar luas di depan matanya kala itu.
"Heh, apa kau tidak merasa ada yang ingin kau katakan denganku?" Tanya tuan Kaiden memberikan sedikit kode kepadanya.
"Apa, aku tidak mau mengatakan apapun, aku mau diam saja, tidak mau keluar karena tidak ada lumba-lumba di jam segini iya kan." Balas gadis itu yang malah membicarakan tentang lumba-lumba di depan tuan Kaiden.
"Aishh...bukan itu tapi hal yang lain, apa kau yakin tidak ada yang mau kau ucapkan padaku?" Balas tuan Kaiden sembari bertanya lagi dan lagi.
Membuat gadis itu merasa heran dan dia tetap saja mengatakan tidak sembari menatap serius. "Apa aku tidak mau bicara apapun lagi padamu, karena memang tidak ada yang perlu aku katakan, nanti kalau aku mau apapun pasti aku bicara denganmu kok." Balas Olivia dengan santai kepadanya, bahkan dia sampai tersenyum kepada tuan Kaiden untuk beberapa saat, kemudian kembali memalingkan pandangan ke samping, menatap laut yang tenang dan terus saja menikmati perjalanannya tersebut.
Sedangkan tuan Kaiden sendiri yang terlihat sangat kesal dia pun langsung bangkit berdiri dan terus saja menghentak kan kakinya sangat kuat, lalu dia berjalan ke samping lain dan meninggalkan Olivia dengan kesal.
"Aishh.. menyebalkan, awas saja jika kau membutuhkan aku, aku tidak akan membantumu lagi lain kali. Tidak tahu terimakasih." Ucap tuan Kaiden sangat emosi, lalu segera pergi berpindah tempat duduk.
Hingga tidak lama kemudian Olivia yang baru pertama kalinya menaiki kapal pesiar seperti itu, dia mulai merasa pusing, dan mual dalam dadanya, mabuk laut mulai terasa olehnya dan dia tidak tahan lagi untuk menahan dirinya saat itu.
Olivia terus saja mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan memegangi kepalanya yang semakin pusing, Olivia mencari keberadaan tuan Kaiden tetapi sayangnya tuan Kaiden tidak ada di sekitar sana, saat itu tuan Kaiden sudah pergi ke luar dan dia berdiri di bagian depan kapal tersebut, Olivia bisa melihat tubuh tuan Kaiden dari kaca jendelanya.
Dia berusaha keras untuk berjalan menghampiri tuan Kaiden sebab tidak tahu lagi harus meminta bantuan dan bicara kepada siapa lagi kalau saat itu dia ingin muntah dan merasa sangat pusing.
"Tuan..hoekkk...tuan...aduh aku sudah tidak tahan lagi bagaimana ini." Gerutu Olivia sembari menutup mulut dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
Dia bahkan hampir terjatuh sebab kapal bergoyang terkena ombak di laut, dia terus saja terjatuh dan masih berusaha berteriak memanggil nama tuan Kaiden berkali-kali.
"Tuan Kaiden, tolong aku!" Teriak Olivia sangat kencang yang akhirnya di dengar juga oleh tuan Kaiden saat itu, pria 28 tahun tersebut berbalik dan melihat Olivia sudah terduduk dengan lesu dengan wajahnya yang merah padam menahan mual dalam dirinya.
"Ehh, ada apa denganmu, kenapa bisa ada disini?" Tanya tuan Kaiden kepada Olivia sambil segera membantunya berdiri.
"Aku mual...aku tidak tahan lagi, aku ingin..." Ucap Olivia sembari terus saja dia berlari ke samping kapal dan membuang semua rasa mual dalam dirinya yang sudah dia tahan sedari tadi, tuan Kaiden juga mengejarnya dan memegangi pundak Olivia sembari mengurut leher bagian belakangnya.
Tuan Kaiden kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat melihat gadis kecil itu terus muntah berkali-kali hingga dia terlihat begitu lemas, dan jatuh terduduk di samping kapal, dengan wajahnya yang begitu pucat.
"Hei apa kau baik-baik saja? Ada sebenarnya denganmu, apa kau masuk angin?" Tanya tuan Kaiden terhadap Olivia, sedang gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala pelan sebab dia sendiri tidak tahu apapun, yang dia rasa saat ini dia mabuk perjalanan yang membuat kepalanya pusing dan dadanya mual juga tubuhnya terasa sangat lemas sebab dia sudah memuntahkan semua makanan yang ada dalam perut dia sebelumnya.
"Aku tidak tahu, sepertinya aku mabuk laut, aku sangat lemas sekarang, kepalaku pusing sekali tuan." Ujar gadis kecil itu benar-benar mengkhawatirkan.
Gadis kecil tersebut terus saja memegangi perutnya sendiri dan dia berusaha keras menahan rasa mual yang kembali muncul dalam dirinya, dia terus menutup mulutnya sendiri dan berusaha untuk menenangkan diri agar rasa mual itu tidak kembali muncul dalam dirinya lagi, hingga tidak lama kemudian tuan Kaiden pun muncul kembali bersama dengan dua orang pelayan pria yang bekerja di kapal tersebut, mereka membawa beberapa benda yang tidak dikenal oleh Olivia saat itu.
"Tuan siapa mereka berdua?" Tanya Olivia kepadanya dengan wajah yang kebingungan.
"Ini kedua pelayan yang menjaga di kapal, mereka bilang kau masuk angin dan mabuk laut sesuai dengan apa yang kau katakan, oleh karena itu mereka membawa salep hangat ingin, mereka bilang jika kau mengoleskannya ke dada dan punggungmu maka rasa mualnya akan hilang dan mereka juga membawa obat masuk angin untukmu agar menghangatkan perutmu di bagian dalam." Ujar tuan Kaide menjelaskannya.
Langsung saja kedua pelayan itu mendekati Olivia dan mereka memberikan sebuah minuman yang harus di minum oleh Olivia.
__ADS_1
Hingga saat gadis itu sudah meminumnya dan dia cukup merasa lebih baik, kedua pelayan tadi mulai memberikan salep hangat yang mereka bawa kepada tuan Kaiden dan menyuruh tuan Kaiden untuk mengoleskan nya pada punggung istrinya tersebut.
"Tuan ini salep yang biasa kami berikan pada sekretaris Dep, dia selalu mabuk laut ketika menaiki kapal ini, salepnya hanya tinggal sedikit lagi tapi ini akan cukup untuk nona Olivia, silahkan tuan." Ucap salah satu pelayan itu.
Tuan Kaiden mengerutkan kedua alisnya sebab dia merasa sangat heran dengan apa maksud dari dua pelayan pria di kapal tersebut.
"Heh, apa maksud kalian berdua? Apa kalian sudah gila ya, beraninya memerintahkan aku, kenapa kau malah menyuruhku yang melakukannya tadi kan aku sudah menyuruh kalian berdua untuk mengobati istriku, sana kalian obati." Ucap tuan Kaiden dengan bentakkan yang sangat keras sekali, membuat kedua pelayan itu merasa takut dibuatnya.
Kedua pelayan itu menjadi gugup dan mereka nampak menjadi takut dengan wajah tuan Kaiden saat itu, sebab tuan Kaiden terus mendesak dan membentak mereka untuk mengobati Olivia yang masih saja bersandar di ranjang dengan sangat lemah.
Hingga mereka pun mulai berusaha mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Kaiden bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh mereka sebab nona Olivia adalah istri bosnya sendiri. "Ta..ta..tapi tuan obat ini harus dioleskan pada punggung nona Olivia dan jika dia melakukannya sendiri saya rasa itu tidak akan sampai, jadi saya memberikannya kepada anda karena anda suaminya, kecuali jika anda mengijinkan saya untuk menyentuh..." Ucap pelayan pria itu yang tidak sampai selesai dan langsung saja merampas botol itu dari tangannya sangat kasar.
"Aishh...beraninya kau mau menyentuh istriku, sana pergi kembali ke tempat kalian!" Bentak tuan Kaiden sangat kencang.
Olivia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan tuan Kaiden dan dia terus saja berbalik sembari meminta agar tuan Kaiden melakukannya dengan cepat, sebab dia sudah tidak tahan lagi sedari tadi merasakan perutnya kembung dan begitu tidak enak.
"Tuan sudahlah jangan menggerutu lagi, ayo cepat oleskan obatnya aku sudah tidak tahan lagi menahan mualnya." Ujar Olivia kepada tuan Kaiden saat itu.
Tuan Kaiden sangat gugup dia mulai duduk di tepi ranjang tepat di depan Olivia yang memunggungi dirinya, sedangkan Olivia sendiri mulai melepaskan pakaiannya yang langsung ditahan oleh tuan Kaiden dengan cepat.
"Heh apa yang mau kau lakukan?" Tanya tuan Kaiden dengan matanya terbelalak dan dia menahan tangan Olivia dengan kuat agar gadis itu menghentikan tindakannya tersebut.
__ADS_1
"Aishh..tuan lepaskan tanganku, aku kan mau melepaskan pakaianku, kalau aku tidak melepaskannya bagaimana kau bisa mengoleskan obat itu ke badanku?" Balas Olivia sembari terus saja melanjutkan melepas pakaiannya itu.