
Dengan wajah kebingungan dan tatapan semu, Malara segera menghentikan Serli dan mencoba untuk menahan sahabatnya agar tidak merajuk dan pergi dari rumah itu.
"Serli tunggu, jangan marah seperti ini, aku kan hanya mencemaskan Olivia, lagi pula bukankah wajar saja jika aku mencemaskan sahabatku sendiri, dia juga pernah begitu dekat dengan kita bukan?" Ujar Malara dengan menahan tangan Serli cukup kuat dan mencoba memberikan penjelasan kepadanya.
Sayangnya Serli sudah terlalu muak, setiap kali dia mencoba untuk memberikan rasa benci terhadap Malara, semuanya selalu gagal, dia segera menghempaskan tangan Malara yang menahannya dan bicara dengan lantang, meminta Malara agar memilih antara dirinya dan Olivia. "Sudah cukup ya Malara, selama ini aku diam dan bersabar dalam menghadapi mu yang selalu saja lebih perduli pada Olivia dibanding diriku, aku bertanya padamu sekarang, siapa yang akan kau pilih aku atau Olivia?" Bentak Serli cukup lantang dengan sorot mata tajam yang menusuk dan kedua alis yang ia kerutkan.
Malara sangat kaget mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut sahabatnya sendiri, dia juga tidak menduga jika hal seperti ini bisa memicu keributan yang besar antara dia dan Serli, wajah Malara sudah tidak bisa terkontrol lagi, dia sungguh bingung, hati kecilnya berkata dia sangat memperdulikan Olivia, dia sudah menganggap Olivia seperti saudara sendiri bagi dirinya, namun logikanya selalu saja mendorong dia agar memilih Serli, sebab rasa sakit dan kekecewaan yang ditimbulkan oleh Olivia teramat besar bagi dirinya dan menyebabkan luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh.
Kini Malara hanya bisa tertunduk dengan lesu, dia melepaskan genggaman tangannya dari Serli dan mulai terduduk di salah satu sofa yang ada disana, hal itu membuat Serli semakin kesal dan emosi dalam dirinya semakin menggebu, dia tidak bisa menunggu lagi dan mulai mendesak Malara agar bisa memberikan dia jawaban secepatnya.
"Malara kenapa kau diam saja, apa kau tidak bisa memilih, hah? Kenapa kau diam seperti ini? Jika kau terus diam aku anggap kau lebih memilih wanita jal*Ng itu dan aku lebih baik pergi!" Ucap Serli dengan penuh kekesalan dan mencoba mendesak Malara.
Apa yang dipikirkan oleh Serli sebelumnya memang benar terjadi, Malara segera angkat bicara, tepat ketika Serli baru saja melangkahkan kakinya.
"Tunggu Serli, aku jelas akan memilihmu, tapi bukan berarti aku akan tega terhadap Olivia, dia tidak tahan dingin sejak kecil, jadi aku akan pergi untuk memeriksanya." Balas Malara yang membuat Serli tercengang.
Malara langsung bangkit dan pergi mengambil jas hujan miliknya serta membawa payung berwarna hitam di tangannya, tanpa banyak basa basi lagi dia segera pergi seorang diri menggunakan mobilnya dan melesat keluar dari area rumah mewah itu dalam keadaan hujan deras dan sedikit petir yang menyambar di jalanan.
__ADS_1
Bahkan Serli sendiri tidak dapat menahannya lagi, meski sudah berteriak keras dan berusaha mengejarnya tetap saja Malara berhasil pergi seorang diri.
"Malara....Malara tunggu kau tidak boleh kembali kesana ini masih hujan deras, Malara!" Teriak Serli sangat kencang namun tetap diabaikan oleh Malara.
Gadis itu melajukan mobilnya membelah hujan yang sangat deras dan dia terus saja mencemaskan kondisi sahabatnya tersebut, dia benar-benar kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Olivia dalam keadaan mengkhawatirkan sebelumnya, namun dia sudah tidak menemukan gadis kecil itu lagi, hatinya semakin kalut dan dia terus mencari keberadaan Olivia dengan berteriak kencang memanggil nama sahabat terbaiknya.
"Olivia.... Olivia dimana kau?" Teriak Malara berkali-kali yang tidak mendapatkan balasan.
Suasana di jalanan itu sudah sangat sepi, tidak ada seorang pun yang ada disana dan jalanan juga sangat lenggang, entah karena hujan yang begitu deras atau hari yang sudah berganti malam, lama kelamaan Malara pun mulai menjadi lelah, dia terduduk di salah satu kursi yang ada disana dengan memegangi payung hitam di tangannya dan membiarkan hujan mengguyur tubuh cantiknya dengan deras.
Rasa sesal mulai menghantui dirinya, dia merasa gagal untuk menemukan Olivia dan dia kini tidak tahu bagaimana kondisi sahabatnya tersebut. Semua itu sangat mengganggu pikirannya sendiri, padahal jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia sangat merindukan sosok Olivia meski rasa bencinya lebih besar dibandingkan itu semua.
Dia tidak tahu lagi dengan apa yang akan dia lakukan, hanya bisa berserah dan pasrah pada takdir yang ia jalani saat ini, pergi dari tempat tersebut dan kembali ke kediamannya.
...****************...
Hari-hari terus berlalu, Malara sudah memulai kembali pada pendidikannya dan dia semakin dekat dengan Serli, bahkan pendidikan Serli turut ditanggung oleh keluarga Malara, mereka sudah seperti saudara dan selalu pergi bersama kemanapun.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain, Olivia sendiri sudah keluar dari rumah sakit, dia sudah lebih sehat dibanding sebelumnya, setelah banyaknya masalah yang menerpa, Olivia berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Walaupun hatinya berat, jiwanya masih sakit tidak ada yang bisa dia lakukan selain dari melepaskan semuanya, bukan untuk siapapun dan apapun, namun bagi ketenangan dirinya sendiri.
Memendam dendam dan kebencian juga tidak akan merubah apapun dalam hidupnya, jadi dia melepaskan semuanya dengan lapang dada. Olivia pikir kini hidupnya sendiri juga sudah terjamin, dia tidak perlu bekerja keras, ataupun melakukan hal yang sulit untuk bertahan hidup, hubungannya dengan tuan Kaiden juga semakin membaik, tapi akhir-akhir ini tuan Kaiden selalu sibuk dengan pekerjaannya, sementara Olivia sudah menunggu cukup lama dan masih terus menanti janji yang belum sempat tuan Kaiden tepati, untuk pergi ke kampung halamannya, menemui makam kakaknya dan Olivia sudah memiliki rencana sendiri untuk kedepannya.
Dia tidak ingin terus merepotkan tuan Kaiden seperti ini, tidak mau jika harus terus menjalani hubungan yang tidak jelas arahnya, dia hanya tidak ingin terluka lagi. Apalagi Olivia tahu bahwa bentang perbedaan antara latar belakang dirinya dengan tuan Kaiden teramat jauh, itu selalu membuat dia berkecil hati.
Malam itu tepat jam 23.30 tuan Kaiden baru saja pulang, sementara Olivia sudah menunggu kepulangannya sejak lama, hingga gadis 19 tahun itu ketiduran di sofa ruang tamu dalam posisi terduduk.
Ketika tuan Kaiden pulang dan berjalan menuju tangga, dia baru menyadari bahwa ada Olivia yang tertidur di sofa, sehingga tuan Kaiden menghentikan langkahnya dan segera berbalik memastikan. "Dasar bocah, bagaimana bisa dia tidur di sini?" Gerutu tuan Kaiden sambil menaruh tas kerjanya di meja dan dia segera mendekati Olivia.
Dengan wajah yang lelah tuan Kaiden mengusap kepala Olivia dengan lembut, sebuah senyum kecil juga tergambar jelas di wajahnya, dia berniat memindahkan Olivia ke kamarnya dan perlahan menggendong gadis itu.
"Tidurlah yang nyenyak, aku akan segera menyelesaikan semua pekerjaanku." Ucap tuan Kaiden lalu mengecup kening Olivia dengan lembut.
Saking lelahnya Olivia enggan membuka mata meski saat itu dia menyadari bahwa seseorang mengecup keningnya, gadis kecil tersebut hanya mengerutkan kening kecil, lalu berbalik ke sisi lain untuk menghindar, dia begitu mengantuk dan enggan mempermasalahkan apapun saat ini.
"Cih, dasar bocah kerdil, apa yang dia lakukan setiap harinya hingga bisa tidur se nyenyak ini dan terlihat kelelahan." Tambah tuan Kaiden diiringi senyum kecil lagi.
__ADS_1
Tuan Kaiden segera pergi ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Olivia, dia melepaskan rasa penat di tubuhnya dan segera beristirahat dengan hati yang senang.