Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Menyusun Rencana


__ADS_3

"Huuhh... kasihan sekali kurcaci kecil ini, ternyata kakaknya sudah meninggal, aahh apa aku terlalu kejam dengan dia selama ini?" Gerutu tuan Kaiden yang mulai merasa kasihan dengan Olivia saat itu.


Bahkan dia tidak henti-hentinya terus memandangi wajah cantik dan polos Olivia yang tengah tertidur dengan begitu lelapnya, dia terus menghembuskan nafas beberapa saat setelah menarik selimut untuk menyelimuti Olivia, dia juga segera tidur dan tidak mau mengganggunya lagi, tetapi disaat dia baru saja ingin menutup matanya, tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya tersebut, membuat dia segera bangkit terbangun lagi dan pergi ke kamar sebelah dimana sekretaris Dep beristirahat.


Tuan Kaiden terus mengetuk pintu kamar sekretaris Dep berkali-kali dengan berteriak memanggil namanya tanpa henti, sekretaris Dep yang saat itu sudah tidur dengan lelap terpaksa dia jadi terbangun dan segera membuka pintu kamarnya dengan wajah penu kekesalan dan terus mengucek kedua matanya yang masih samar-samar dan belum bisa menatap dengan jelas ke depan.


"Aduh...siapa sih, mengganggu sekali, apa tidak tahu ya sekarang ini sudah jam berapa?" Ucap sekretaris Dep dengan emosi.


Tuan Kaiden yang mendapatkan perkataan seperti itu dari sekretarisnya sendiri tentu saja dia tidak bisa diam saja, ia langsung mengetuk kepala sekretaris Dep cukup kuat menggulungkan tangannya yang dia kepalkan, membuat sekretaris Dep segera tersadar sambil menahan sakit di bagian kepalanya tersebut. "Peletak!" Suara tepukan itu yang cukup keras, dia langsung meringis dan langsung kaget ketika melihat dengan jelas ternyata yang ada dihadapannya saat itu adalah tuan Kaiden.


"Aduh....aishh...aahh tuan? Kau kenapa mencariku semalam ini, aduhh mana mengetuk kepalaku lagi, apa kau pikir kepalaku ini mirip dengan pintu hotel?" Balas sekretaris Dep menggerutu sambil terus mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit.


Tuan Kaiden sudah tidak mau basa basi lagi dia segera menerobos masuk ke dalam kamar sekretaris Dep dan malah langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, membuat sekretaris Dep kebingungan dan segera menyusulnya sambil segera menutup kembali pintu tersebut. "Ehhh tuan kau kenapa tidur di ranjangku, tuan kau sebenarnya mau apa sih?" Ujar sekretaris Dep sambil menghampiri tuan Kaiden dan terus saja menarik tangan tuan Kaiden agar segera bangkit dari tempat tidurnya tersebut.

__ADS_1


"Tuan ayo cepat jawab dan bangun dari ranjangku, aishh aku sudah mau tidur kau datang hanya untuk mengganggu aku saja ya, tuan Kaiden!" Teriak sekretaris Dep yang memang sudah bekerja dan berteman sangat baik dengan tuannya tersebut, jadi dia sudah tidak segan lagi untuk melakukan hal apapun dengannya seperti yang terjadi saat ini.


Tuan Kaiden terus menghempaskan tangannya yang ditarik oleh sekretaris Dep dan dia segera duduk sambil mulai menyuruh sekretaris Dep untuk menghadap ke arahnya.


"Aahh iya iya kau ini aku mau istirahat sebentar saja tidak boleh, sudahlah kemari kau duduk di depanku ada yang mau aku bicarakan denganmu ini sangat penting!" Ujar tuan Kaiden yang terlihat begitu serius sekali.


Sekretaris Dep segera menggeserkan kursi yang ada disana dan mulai bicara dengan wajahnya yang sedikit mengantuk karena saat itu sudah tengah malam sekali.


"Hei..jangan mengantuk atau aku akan memotong gajimu!" Ancam tuan Kaiden yang berhasil membuat sekretaris Dep segera menjadi segar, rasa kantuknya entah hilang kemana, dia menjadi begitu serius untuk mendengarkan ucapan dari tuannya tersebut.


Tuan Kaiden pun segera mengatakan semua keresahan dan kecemasan dalam dirinya terhadap sekretaris Dep, dia juga meminta agar sekretaris Dep mencari tahu tentang kakak gadis kecil tersebut yang telah meninggal termasuk dengan urusan permasalahan gadis tersebut bersama sahabatnya, sekretaris Dep hanya mengangguk saja dan menuruti apa yang dikatakan oleh tuannya itu, karena dia sama sekali tidak dapat menolak apapun, lagi pula dia bisa mencari tahu semua sendiri, itu pekerjaan yang sangat mudah baginya.


Tapi yang membuat dia sulit dan kebingungan adalah saat tuan Kaiden meminta saran hal apa yang akan membuat gadis kecil itu senang dan melupakan kesedihannya.

__ADS_1


"Disamping itu semua, menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk bisa menghiburnya?" Tanya tuan Kaiden yang membuat sekretaris Dep kaget hingga mengerutkan kedua alisnya sangat kuat.


"Hah? Tuan apa kau baik-baik saja, kenapa tiba-tiba sekali kau menanyakan hal itu, apa kau sungguh mau menghibur nona Olivia? Tapi untuk apa, bukannya kau tidak menyukainya?" Tanya balik sekretaris Dep dengan semua pertanyaan yang membuat tuan Kaiden gugup dan panik sendiri.


"AA..AA..ahh aish, kau ini memangnya untuk memberikan kejutan dan membuat orang lain senang harus beralasan kita menyukainya? Aku mau melakukan semua itu karena merasa kasihan dengan nasibnya, tadi dia bermimpi buruk dan menjerit keras sampai menangis tersedu-sedu, bagaimana mungkin aku akan tega melihat seorang gadis kecil seperti itu, kalau dia depresi bagaimana? Apalagi dia sudah jadi istriku, aahh pasti orang akan beranggapan aku suami yang buruk karena membiarkan istrinya depresi, itu tidak boleh terjadi." Balas tuan Kaiden mengatakannya alasan yang sangat tidak masuk akal bagi sekretaris Dep saat itu.


Dia terus saja mengerutkan kedua aslinya lebih ditekuk dibandingkan sebelumnya, dengan sorot mata tajam dan menyelidik, dia merasa semua yang di katakan oleh tuan Kaiden begitu aneh dan bertolak belakang dengan sikap dan karakter tuan Kaiden yang biasanya, hingga sulit sekali bagi sekretaris Dep untuk mempercayai ucapannya tersebut.


"Eummm...tuan apa benar begitu, aku rasa kau bukan orang yang mudah berempati kepada orang lain, terlebih gadis itu hanya orang asing bagimu, apa kau yakin hanya ingin melakukan semua ini karena rasa kasihan saja?" Tanya sekretaris Dep lagi berusaha memastikan semuanya.


Tuan Kaiden sangat kesal karena dia merasa seperti tengah diselidiki oleh sekretaris Dep jadi dia langsung saja membentak sekretaris Dep agar tidak banyak bertanya lagi dan tidak menatap seperti itu yang bisa membuat dia semakin gugup nantinya.


"Aahh kau ini yang benar saja, memangnya jika bukan karena kasihan, alasan apa lagi yang bisa membuat aku mau menolongnya?" Balas tuan Kaiden dengan nada yang semakin tinggi.

__ADS_1


"Hmm iya juga sih, kau tidak mungkin menyukai gadis kecil yang keras kepala dan begitu sensitif juga sangat rewel sepertinya, itu lebih tidak masuk akal lagi, iya kan?" Balas sekretaris Dep sengaja menjebaknya dan tuan Kaiden membalas dengan hembusan nafas yang lesu lalu menyetujui apa yang dikatakan oleh sekretaris Dep saat itu.


"Huuh, ya begitulah, itu kau tahu kenapa kau masih bertanya lagi denganku, hanya membuang-buang waktuku saja, ayo cepat sekarang pikirkanlah apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya senang." Balas tuan Kaiden menyuruh sekretaris Dep untuk mencari ide yang bagus.


__ADS_2