
Gadis 19 tahun itu semakin merinding dan terus memeluk tubuhnya sendiri sembari menggosok kedua tangannya untuk menghangatkan dirinya karena suasana di hutan itu semakin dingin dan hampir membuat dia menginginkan dinginnya angin.
Sorot matanya mulai terlihat cemas dan dia menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan keberadaan tuan Kaiden, sembari memanggil nama suami kontraknya tersebut beberapa saat. "Tuan....tuan Kaiden kau ada di belakangku kan? Aku takut, tuan kau ada disana kan?" Ujar Olivia yang sudah semakin sulit bergerak.
Karena rasa takutnya yang semakin besar, hal itu membuat Olivia melambatkan langkahnya tersebut, hingga tiba-tiba saja suara kerusakan dari arah hutan terdengar begitu keras, semak-semak disana mulai bergetar semakin kencang dan dia mulai memperhatikannya sembari membelalakkan mata dengan sangat lebar, dia berjalan mundur dengan pelan dan bersiap untuk lari dari sana karena melihat semak semak tersebut bergerak semakin tidak karuan, membuat dia cemas dan ketakutan.
"Siapa itu, keluar kau jika berani." Teriak Olivia sengaja menyuruh apapun yang ada di balik semak tersebut untuk keluar.
Hingga tiba-tiba saja terdengar suara lolongan anjing yang sangat kencang dari arah pedalaman hutan, membuat Olivia kaget dan seketika berteriak sangat kencang.
"Arrrkkkk....." Teriak Olivia sangat kencang sembari langsung berjongkok dan menutupi kedua telinganya, karena dia tidak ingin mendengarkan suara-suara aneh yang berasal dari dalam hutan tersebut, membuat dia semakin takut dan tidak karuan.
Gadis kecil itu semakin ketakutan dan dia mulai menangis dibuatnya, matanya sudah berkaca-kaca dan dia sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa takut dalam dirinya, sehingga dia mulai menangis dan memanggil nama tuan Kaiden dengan sekencang yang dia bisa, berharap tuan Kaiden akan segera muncul menemukan dia saat itu juga.
"Hiks...hiks..tuan kau ada dimana hiks..aku takut....tuan Kaiden." Teriak Olivia disela-sela tangisannya tersebut. Padahal saat itu sebenarnya tuan Kaiden bersembunyi di balik pohon yang berada di belakang jalanan tersebut.
Bukan tanpa alasan tuan Kaiden melakukan hal itu, tetapi dia sengaja melakukannya agar bisa membuat Olivia berhenti berjalan dan memaksanya untuk bisa pulang ke kota malam itu juga, sebab di pesisir pantai memang tengah terjadi badai dan laut sedang tidak aman untuk dilewati kapal, tidak ada pula orang yang mau berlabuh dalam kondisi seperti itu, makanya tuan Kaiden sengaja menakut-nakuti Olivia dengan caranya sendiri, dan benar semak-semak yang tadi bergerak terus menerus dan berpindah-pindah itu adalah kerjaan dari tuan Kaiden bersama dengan beberapa kelinci yang jinak di hutan itu.
Setelah melihat Olivia sudah sangat ketakutan dan terus memanggil namanya, tuan Kaiden barulah muncul, dia juga tidak tega melihat gadis itu sudah menangis seperti yang dia lihat saat ini. "Hei, kenapa kau menangis?" Tanya tuan Kaiden berpura-pura tidak tahu apapun dan seakan dia baru saja tiba disana.
Olivia yang mendengar suara tuan Kaiden, dia segera mengangkat kepalanya ke atas dan bisa melihat sosok tuan Kaiden di hadapannya, dengan cepat Olivia langsung berdiri dan memeluk tuan Kaiden dengan sangat erat sembari meminta agar tuan Kaiden tidak meninggalkan dia seorang diri lagi di pulau itu.
"Tuan, akhirnya kau datang juga, aku sangat takut, aku sungguh tidak mau pulang aku mau kembali ke villa dengan selamat, dan kau harus berjanji untuk tidak meninggalkan aku sendiri lagi." Ucap gadis tersebut kepadanya.
Tuan Kaiden terus saja menahan tawa dalam dirinya karena dia pikir semua pekerjaannya benar-benar berhasil dengan begitu mulus sampai Olivia pun tidak mencurigainya sama sekali, dia juga senang karena Olivia memeluknya saat itu, dengan cepat tuan Kaiden mengusap punggung Olivia dan menenangkannya dengan lembut.
"Sudah...sudah..sekarang kan aku sudah bersamamu, jadi kau jangan menangis lagi ya, selama ada aku kau akan aman dan aku berjanji tidak akan membiarkan kamu sendiri lagi, sudah oke, maafkan aku karena tidak mengejarmu dengan cepat sebelumnya." Ucap tuan Kaiden terus mengusap kepala Olivia dan menghapus air matanya dengan lembut.
Olivia pun menurut dan dia mengangguk dengan cepat, dia segera di gandeng dan berjalan kembali ke tengah hutan menuju villa yang tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Beberapa penjaga villa juga tersedia dan memberikan kode jempol pada tuan Kaiden sebab mereka memang sengaja bersekongkol dengan bosnya itu untuk menakut nakuti Olivia sebelumnya, sayangnya Olivia sendiri juga tidak merasa curiga sama sekali, dia terus masuk ke dalam ditemani oleh tuan Kaiden dan di dalam villa itu hanya ada satu kamar saja yang bisa di tempati oleh mereka, sebab kamar yang lainnya sudah di huni oleh para penjaga yang ditempatkan oleh tuan Kaiden untuk merawat pulau tersebut.
Dan memang pada awalnya Villa itu dibangun untuk tempat tinggal para penjaganya tetapi karena tuan Kaiden sesekali senang berkunjung kesana untuk menenangkan diri, jadilah satu kamar yang paling besar dan luas di miliki oleh tuan Kaiden, tepat berada di lantai dua villa putih yang besar tersebut.
Awalnya Olivia menolak keras untuk tidur di kamar yang sama dengan tuan Kaiden tetapi karena tidak ada lagi kamar yang tersedia dan tidak ada penjaga yang mau berbagi kamar dengannya, dia pun terpaksa harus tidur dengan tuan Kaiden sebab tidak ada pilihan lain, walau sebenarnya saat itu salah satu penjaga bersedia untuk memberikan kamarnya pada Olivia tetapi dengan cepat rekannya yang lain menginjak kaki pria itu untuk memberikan isyarat bahwa tuan Kaiden tidak mengijinkannya membantu nona besar mereka.
"Apa? Tidak ada kamar lagi, tidak mungkin dalam villa sebesar ini hanya ada satu kamar saja yang tersisa, yang benar saja, tuan kau berbohong denganku bukan?" Ucap gadis kecil itu yang tidak mempercayai ucapan tuan Kaiden sebelumnya.
"Bagaimana mungkin aku berbohong, kau lihat saja sendiri ada berapa orang yang tinggal di pulau ini, semua penjagaku tinggal di lantai bawah dan semua kamar disana penuh bahkan mereka tidur berdua dalam satu kamar, sedangkan di lantai dua hanya ada satu kamar sebab yang lainnya aku buat untuk tempatku beristirahat disini seorang diri, aku tidak tahu jika suatu saat aku akan datang membawa orang lain kemari yang membutuhkan kamar lain untuk tidur." Balas tuan Kaiden dengan begitu santai.
"Ya sudah kalau begitu, apa ada yang mau berbagi kamar denganku, kalian laki-laki bisa kan tidur di ruang tengah, disana kan ada sofa, untuk satu malam saja aku mohon." Ujar Olivia memasang wajah yang menyedihkan untuk membujuk penjaga disana
Tuan Kaiden membelalakkan matanya sangat lebar dan di belakang Olivia dia terus saja memberikan sorot mata taja kepada semua penjaganya tersebut, memberikan isyarat dengan tangannya yang membentuk X agar mereka tidak membantu istri kecilnya tersebut.
"Tidak...jangan...jangan ada yang membantunya!" Batin tuan Kaiden saat itu.
Sampai tiba-tiba saja ada salah satu penjaga yang tidak memperhatikan isyarat dari tuannya tersebut, sehingga dia hampir saja akan memberikan kamarnya pada Olivia dan membuat tuan Kaiden hampir murka dengan mereka saat itu.
Penjaga yang tadi berteriak menahan sakit dia langsung menoleh ke samping dengan mengerutkan keningnya dan temannya segera mengisyaratkan lewat mata ke arah tuan Kaiden, untungnya penjaga itu cepat tanggap sehingga dia bisa langsung paham dengan apa yang tadi temannya beritahukan, saat dia menatap ke arah tuan Kaiden, saat itu juga tuan Kaiden sudah langsung memberikan tatapan tajam kepada penjaga tersebut dengan ancaman yang sangat mengerikan bak seperti siap untuk melahap dia hidup-hidup, membuat penjaga tersebut terdiam dan menelan salivanya susah payah, dia segera mengesampingkan ucapannya dan nampak sangat gugup karena takut dengan tatapan dari tuan Kaiden saat itu.
Olivia juga mulai curiga dan merasa aneh dengan perubahan ekspresi dari penjaga tersebut, dia segera menoleh ke belakang menatap ke arah tuan Kaiden karena merasa curiga, tapi tuan Kaiden sudah menyadari hal itu dengan cepat, sehingga tuan Kaiden langsung saja mengubah ekspresi wajahnya kembali datar seperti biasa dan nampak begitu santai, Olivia terus menyipitkan matanya dan berusaha untuk menyelidiki apa yang sebenarnya tengah terjadi saat itu diantara mereka semua.
"Eehh...apa yang mau kau katakan barusan, kenapa kau malah berteriak dan tidak jadi bicara?" Tanya Olivia kepadanya dengan sangat penasaran dan tidak sabar.
"AA..AA..aanu...nona muda itu, maksud saya apa yang dikatakan oleh tuan Kaiden benar, semua kamar disini begitu penuh dan berantakan jadi tidak ada yang bisa berbagi dengan anda." Balas penjaga itu terpaksa mengubah ucapannya.
Mendengar hal itu Olivia sangat kesal dan marah dia pikir sebelumnya penjaga itu akan memberikan dia kamar untuk tidur tapi sekarang malah seperti ini, sangat tidak sesuai dengan dugaannya, jadi pantas saja Olivia dibuat kesal dengannya.
"Hah? Kenapa kalian sangat tega sekali sih denganmu, bos dan anak buah sama saja, kalau begitu biar aku saja yang tidur di luar, aku tidak perduli, sana kalian semua pergi!" Bentak Olivia yang merajuk dan dia langsung berjalan menuju sofa kecil yang ada di ruang tengah, tepat di depan televisi lebar yang menempel di dinding ruangan itu.
__ADS_1
Olivia duduk disana dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada lalu segera membaringkan tubuhnya ke atas sofa, wajahnya terus saja terlihat kecut dan begitu malas untuk bicara lagi dengan tuan Kaiden, yang pada saat itu tuan Kaiden menghampiri dia dan masih membujuk Olivia untuk tidur di kamarnya saja.
"Hei, sudah jangan berlagak seperti anak kecil, dari badanmu saja aku sudah tahu kalau kau bocah kurcaci yang nakal, ayo sana masuk ke kamarku, biar aku saja yang tidur disini." Ucap tuan Kaiden yang membuat Olivia segera bangkit terduduk dengan wajahnya yang terbuka lebar dan nampak tersenyum lebar kepadanya.
"Benarkah? Kau sungguh mau tidur disini dan aku yang tidur di dalam?" Tanya gadis kecil itu lagi kepada tuan Kaiden untuk memastikannya.
Walau sebenarnya tuan Kaiden juga sangat malas dan begitu tidak terima jika dia harus tidur di luar dalam kondisi cuaca yang dingin dan jelas ada banyak nyamuk di sekitar sana, tetapi mau bagaimana lagi dia pikir itu akan semakin membuat dia tidak tenang jika gadis kecil tersebut yang tidur di luar sana, jadi mau bagaimana pun dia merelakan diri dan mau mengalah agar dia saja yang tidur di luar kala itu.
"Ya, sana kau pergi saja ke kamar, biar aku yang tidur di sini, sana pergi ini sudah sangat malam." Balas tuan Kaiden lagi saat itu.
Olivia sangat senang mendengarnya dan dia segera saja bangkit berdiri sambil berlari dengan cepat menuju ke kamarnya, tidak lupa Olivia pun berterima kasih kepada tuan Kaiden karena sudah memberikan kamar tersebut kepadanya. "Terimakasih banyak tuan, kau sangat baik sudah mau memberikan kamar itu untukku." Ucap gadis tersebut kepadanya. Tuan Kaiden sama sekali tidak membalasnya dengan gembira dia hanya mengibaskan tangannya saja sembari menyuruh Olivia untuk segera pergi dari sana.
"Ya..ya...sudah sana kau pergi jangan menggangguku, sudah cukup para nyamuk ini menyerangku sekarang." Balas tuan Kaiden dengan kecut dan wajahnya yang tampak tanpa ekspresi sedikitpun.
Olivia awalnya tidak terlalu perduli dengan hal tersebut, tetapi disaat dia sudah menaiki tangga dan sudah hampir tidur di kamar tersebut, tak henti hentinya dia mendengar tepukan tangan dari luar dan mulai teringat dengan kondisi tuan Kaiden yang tidur di luar tanpa membawa bantal atau selimut sekalipun, jadi rasa kasihan dalam dirinya mulai terkuak, Olivia tiba-tiba saja memikirkan tuan Kaiden dan dia merasa tidak tega ketik membayangkan kondisi tuan Kaiden yang tidur di luar sendiri dalam kandisi seperti ini, maka dari itu terpaksa Olivia pun kembali bangkit dari ranjangnya dan segera mengintip tuan Kaiden dari lantai atas, dimana dia bisa melihat kondisi tuan Kaiden yang saat itu tengah berbaring sambil kedua tangannya terus menangkap nyamuk-nyamuk yang berterbangan di sekitar wajah dan tubuhnya.
Membuat dia tidak bisa tidur dengan tenang, dan malah terus saja menepuk nyamuk yang mengganggu tersebut. "Aishh..kenapa disini ada banyak sekali nyamuk sih, apa mereka bekerja memakan gaji buta saja, hei..penjaga cepat tangkap semua nyamuk sialan ini, aishh bagaimana aku bisa istirahat jika terus di ganggu begini." Gerutu tuan Kaiden tiada henti dan terus berteriak memanggil para penjaganya.
Olivia terus memperhatikan mereka yang sibuk menangkap nyamuk itu, dan dia merasa semakin tida tega dengan kondisi tuan Kaiden sehingga dengan cepat Olivia pun berjalan menuruni tangga dan menemui tuan Kaiden lagi.
"Kenapa kau kemari? Bukannya sudah mau tidur?" Tanya tuan Kaiden dengan menaikkan kedua alisnya pada Olivia saat itu.
"Aku tidak tega denganmu, ayo ikut ke kamar denganku, aku akan berbagi kamar denganmu." Balas Olivia dengan wajahnya yang sedikit malu-malu saat itu.
Seketika semua penjaga yang ada disana beserta tuan Kaiden sendiri langsung membuka mata mereka lebar dan terperangah hebat, sebab mereka tidak menduga jika orang yang keras kepala seperti Olivia ternyata bisa luluh juga berkat pengorbanan tuan Kaiden sebelumnya. "Hah? Kau yakin mau tidur denganku di kamar yang sama, apa kau sudah tidak takut lagi denganku?" Tanya tuan Kaiden memastikannya lagi.
Olivia menggelengkan kepalanya pelan dan dia segera menarik tangan tuan Kaiden sembari mengajaknya untuk pergi dengan cepat saat itu juga, sebab dia merasa malu dengan para penjaga pria yang ada di sana saat itu.
"Iya sudah ayo cepat kita pergi, kau banyak sekali bertanya." Balas Olivia terus menarik tangan tuan Kaiden dengan paksa dan membawanya menaiki tangga dengan cepat.
__ADS_1
Para penjaga juga mulai merasa.lega dan senang karena akhirnya mereka bisa beristirahat dengan cepat dan tidak perlu lagi bertingkah konyol dan harus membantu tuan Kaiden untuk menangkap nyamuk-nyamuk kecil dengan tangan mereka yang malah membuat tangannya sakit karena harus terus menepuk nyamuk yang kecil dan lincah, sulit sekali untuk di tangkap. Olivia langsung membuat pembatas dengan guling yang ada di kamar tersebut, dia menyuruh tuan Kaiden untuk tidur di sampingnya dengan tidak boleh melewati batasan guling tersebut sedikit pun.
"Ini aku sudah membuat batasan untuk kita, kau tidur di samping kiri dan aku di kanan, tidak ada yang boleh melewati batas guling ini, apa kau mengerti?" Ucap Olivia menjelaskannya. Tuan Kaiden hanya menatap dengan menaikkan sebelah alisnya karena dia pikir sebelumnya tidak akan seperti ini.