Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Tidak Bisa Kabur


__ADS_3

"Hah? Aku? Kenapa jadi kau menyalahkan aku, apa kaitannya denganku?" Balas tuan Kaiden saking merasa herannya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Itu, aku tidak bisa berhenti berpikir tentang kau yang kanibal dan bisa saja menjadikan aku sebagai santapanmu, apa kau sungguh akan memakan aku?" Balas gadis polos itu dengan tatapan matanya yang sangat membuat tuan Kaiden kesal dibuatnya.


Tangannya sudah di kepal dengan sangat kuat dan matanya juga sudah terbelalak sangat lebar, karena tuan Kaiden begitu emosi dengan apa yang dikatakan oleh Olivia terhadap dirinya, tapi meski dia sudah mengeratkan giginya untuk menahan agar tidak marah, tetap saja dia tidak mampu menahannya terlalu lama lagi, hingga tuan Kaiden langsung saja berteriak dengan sangat kencang menyebut nama Dep dan merutukinya dengan sangat keras karena dia pikir semua ini terjadi karena ulah ucapan dari Dep pada awalnya.


"Aishh.. DEP! Dasar kau sialan!" Teriak tuan Kaiden sangat kencang sampai membuat Olivia langsung menutupi kedua telinganya dengan cepat.


Disisi lain Dep yang tengah menyalin beberapa surat penting untuk rapat berikutnya dia terlihat merinding dan merasakan buku kuduknya terus saja berdiri dengan cepat.


"Astaga...kenapa aku merinding begini, aaahh mungkin ini hanya perasaanku saja." Tambah Dep sambil memijat belakang lehernya dengan pelan dan dia terus kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.


Kembali pada ruangan kantor tuan Kaiden Olivia juga merasa sangat tegang sebab tuan Kaiden mulai memberikan tatapan tajam kepadanya dan dia langsung saja memegangi kedua pundak Olivia dengan begitu kuat sampai membuat Olivia bergetar sedikit ketakutan dengannya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya sebab di hadapkan dengan kondisi seperti ini untuk pertama kalinya.


"Tu..tu...tuan ada apa denganmu, kau tidak mungkin benar-benar akan memakan aku kan?" Ucap Olivia dengan wajahnya yang semakin cemas dan panik tidak menentu.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan memakanmu, dan perlu kau tau, aku ini masih sangat sangat normal, mana mungkin aku memakan dagingmu yang tidak seberapa ini, lihatlah tubuhmu yang kurus dan kulitmu yang sangat tidak menggugah selera ini, mana mungkin aku akan kenyang jika memakan tulang belulang sepertimu! Aku hanya makan daging sapi dan ayam, aku tidak makan daging manusia bodoh sepertimu!" Bentak tuan Kaiden dengan begitu gemas dan berkali-kali dia terus saja mengacak rambutnya frustasi.


Sedangkan Olivia mulai terlihat menghembuskan nafas dengan lega sebab dia senang semua yang diucapkan oleh Dep dan yang dia pikirkan sebelumnya adalah sebuah kesalah pahaman dan sesudah yang tidak benar, dia pun mulai bisa tersenyum dengan lebar dan terus saja merasa tenang sambil mengusap dadanya beberapa kali.


"Fyuhh.. syukurlah jika begitu, aku pikir kau sungguh akan memakan manusia." Balas Olivia sambil tersenyum menampakkan giginya yang berjajar rapih saat itu.


"Sudah jangan dengarkan ucapan dari Dep lagi, awas saja jika kau masih percaya dengan anak itu, aku akan memberikan kau hukum yang lebih parah dibanding hukuman apapun di dunia ini!" Ancam tuan Kaiden kepada Olivia dengan wajahnya yang begitu serius sekali bahkan dia sampai menunjuk ke arah wajah Olivia untuk memperingatinya saat itu.


Olivia pun hanya bisa mengangguk dengan patuh mendengarkannya dan dia segera saja duduk di samping kursi kebesaran tuan Kaiden, menunggui tuan Kaiden yang mulai di sibukkan dengan pekerjaannya sedangkan dia hanya bisa duduk tanpa melakukan pekerjaan apapun, diam selama berjam-jam dan terus saja merasa semakin bosan.


"Tidak ada. Aku bisa melakukan pekerjaanku sendiri, jika aku memberikanmu pekerjaan, bukannya beres yang ada nanti akan membuat pekerjaanku semakin menumpuk." Balas tuan Kaiden tanpa menatap sedikitpun kepada Olivia.


Kepalanya terus saja menghadap lurus ke depan dan tangan kirinya begitu lihai mengotak ngatik mouse komputernya tersebut.


Hingga tidak lama kemudian Dep kembali datang ke ruangannya dan dia membawa beberapa berkas di tangannya saat itu.

__ADS_1


"Permisi tuan, meeting nya akan segera dimulai." Ucap Dep memberitahu tuan Kaiden tentang meeting dengan staf di perusahaan tersebut, tuan Kaiden langsung bangkit berdiri dan segera saja dia pergi dari sana sambil memperingati Olivia untuk tidak pergi kemanapun saat dia tengah meeting nantinya.


"Hei bocah, ingat jangan pergi keluyuran kemanapun, kau harus tetap diam disini dan tunggu sampai aku kembali, jika saja saat aku kembali kau tidak ada di ruanganku, kau tahu akibatnya!" Ucap tuan Kaiden memberikan tatapan yang sangat tajam dan begitu sinis pada Olivia saat itu.


"Ya..ya aku juga tidak akan kabur kemanapun," balas Olivia dengan wajah yang sangat kesal terhadapnya.


Tuan Kaiden pun langsung saja segera pergi dari sana dengan Dep, sedangkan Olivia terus saja mengintip hingga tuan Kaide benar-benar pergi dari ruangan itu, dan akhirnya Olivia bisa merasa sangat tenang dan leluasa saat itu, tapi ucapan dia yang mengatakan tidak akan kabur tentu saja itu adalah hal yang sama sekali tidak akan dia tepati, selama ini dia mencari kesempatan terbaik untuk bisa kabur dari cengkraman tuan Kaiden yang sangat menyusahkan bagi dirinya, sangat membuat dia kesal dan begitu kesulitan dalam hidupnya, sehingga tentu saja tuan Olivia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, sehingga dia pun tersenyum lebar dan merasa sangat senang ketika melihat tuan Kaiden pergi dari sana dengan Dep, dan benar-benar meninggalkan dia seorang diri dalam ruangannya tersebut.


"Haha..ini kesempatan yang sangat bagus untukku, di kantornya tidak akan ada yang bisa menahan aku untuk pergi, aku harus memanfaatkan kesempatan langka ini untuk kabur dari manusia kanibal sepertinya." Gerutu Olivia sambil segera saja dia mencari celah untuk kabur dari sana.


Berjalan pelan mengendap-endap untuk keluar dari ruangan tersebut, dia pun mulai berusaha membuka pintu ruangan pribadi tuan Kaiden tersebut, namun anehnya pintu itu justru malah tidak bisa dia buka, bahkan ketika Olivia sudah mengeluarkan tenaganya dengan sangat kuat, pintu itu tetap saja tidak dapat terbuka sedikit pun.


"Aish... Kenapa pintunya tidak bisa dibuka? Apa mungkin dia menguncinya? Hah. Yang benar saja dia sungguh mengunci aku seorang diri di dalam sini?" Gerutu Olivia merasa sangat kesal.


Karena dugaan dia sebelumnya yang berpikir bisa kabur kini telah hilang dan sirna begitu cepat, sedangkan tuan Kaide tersebut senang saat dia baru saja sampai di ruang meeting nya tersebut, sebelumnya dia memang dengan sengaja mengunci pintunya dengan kode yang hanya dia sendiri saja yang bisa membukanya, agar Olivia tidak dapat kabur dari sana, sebab mau bagaimana pun tuan Kaiden tidak bisa benar-benar mempercayai Olivia sepenuhnya, dan dia tetap berjaga-jaga dari hal yang sangat dia takutkan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2