Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Dicurigai Olivia


__ADS_3

Tuan Kaiden terdiam dengan nafas yang masih menderu dan dia mulai menatap ke arah Olivia dengan tatapan mata yang masih sinis dan tajam, tetapi karena melihat wajah gadis kecil itu yang masih putih pucat dan tubuhnya yang begitu lemah, membuat tuan Kaiden merasa sangat tidak tega untuk membentak dia apalagi berbuat kasar dengannya, sehingga tuan Kaiden pun berusaha untuk menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan dia terus saja berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, supaya bisa menghadapi istrinya dalam kondisi tenang tanpa emosi yang berlebihan.


"Sudah tenang ya, kamu jangan marah terus seperti itu, biar aku jelaskan padamu dulu semuanya, karena apa yang terjadi padaku tidak ada sangkut paut apapun dengan Seno." Balas Olivia menenangkan tuan Kaiden dengan pelan dan lembut.


Dia bicara benar-benar sangat pelan dan hampir sulit di dengar oleh tuan Kaiden tetapi tuan Kaiden masih bisa memahaminya dan dia pun menenangkan dirinya secepat yang dia bisa, mengambil kursi yang ada disana dan duduk di samping ranjang yang ditempati oleh gadis kecil tersebut, memegangi tangan Olivia dengan lembut dan terus saja mengusapnya pelan.


"Oke aku akan mendengarkan penjelasan darimu, tapi kau harus menjaga kesehatan dirimu sendiri, berjanjilah untuk tidak seperti ini lagi lain kali." Ucap tuan Kaiden kepadanya yang langsung dianggukkan oleh Olivia.


Walaupun dalam hati kecilnya Olivia merasa sangat heran dan kebingungan, karena sebelumnya tuan Kaiden tidak pernah bersikap sangat lembut dan bicara pelan kepada dirinya seperti saat ini.

__ADS_1


"Aishh ada apa dengannya dia salah makan atau memang sengaja tengah berakting di depanku karena disini ada Seno? Aahh sudahlah ada baiknya aku mengikuti alurnya saja, jika aku tidak mengikutinya dan bicara kasar kepada tuan Kaiden di depan Seno, jika ternyata ini bagian dari acting bagaimana, bisa mati aku." Batin Olivia yang mengira perlakuan tuan Kaiden kepada dirinya saat ini hanyalah sebuah acting biasa yang memang selalu dia lakukan bersama dengan tuan Kaiden setiap kali ada Seno, tuan Kandensus ataupun nyonya Aslia di sekitar mereka, jadi demi keamanan dan kedamaian Olivia pun memilih untuk mencari jalan aman saja.


Dia berusaha untuk bersikap baik dan seromantis apapun kepada tuan Kaiden berusaha untuk menjadi seorang istri pada umumnya yang tengah menahan suaminya agar menjadi lebih sabar dalam menghadapi permasalahan ini.


"Sudah kamu yang tenang dulu, aku sebenarnya kehujanan sampai seperti ini karena aku bertemu dengan sahabatku, tapi dia malah memutus persahabatan diantara kami, padahal selama ini aku sudah mencarinya dan menunggu waktu untuk bisa bertemu dengannya, tetapi sekalinya kami tidak sengaja di pertemukan oleh takdir, dia malah berubah menjadi seperti ini kepadaku." Ucap Olivia menjelaskannya semuanya sambil tertunduk dengan lesu.


Dia tidak sanggup untuk bercerita dan menjelas semuanya lebih banyak lagi sebab jika dia menceritakan semua kejadian itu sejak awal dan akhir dengan detail nanti yang ada tuan Kaiden akan mengira dia ingin kabur walau niat pertamanya memang seperti itu, tadinya gadis 19 tahun itu begitu senang saat bertemu sahabat baiknya secara tidak segaja di jalanan, Olivia pikir Malara bisa menolongnya agar bebas dari tuan Kaiden bagaimana pun caranya tapi sayang sekali Malara malah memperlakukan dia dengan seenaknya seperti itu, bahkan kini Malara malah menjadi lebih dekat dengan Serli padahal dulu Serli di kenalkan dengan Malara oleh Olivia sendiri karena dia merasa kasihan kepada Serli yang selalu tidak memiliki teman dan pergi kemanapun sendirian.


"Ohh..jadi begitu, kenapa kau tidak bilang sejak awal, kalau begitukan aku tidak akan terlalu kesal dan panik denganmu, ku pikir kau mau kabur atau tersesat dan di temukan oleh preman jalanan yang sangat sadis." Balas tuan Kaiden menanggapinya masih dengan memasang wajah yang datar dan dia begitu pandai menyembunyikan rasa sukanya tersebut kepada wanita membuat Olivia merasa heran dengan tingkah itu.

__ADS_1


"Tuan kau ini kenapa sih, aku kan sudah bilang aku juga tidak akan kabur setelah kau berjanji akan menemani aku ke makam kakakku di kampung tapi sampai sekarang kau masih belum bisa menepati janjimu sendiri, lalu bagaimana aku akan tetap diam di rumahmu itu?" Balas Olivia sekaligus memancingnya agar tuan Kaiden bisa memutuskan dengan segera kapan sebenarnya dia bisa memiliki waktu luang untuk membawa Olivia pulang ke kampung halamannya agar dia bisa menemui kakaknya setelah sekian lama.


Karena Olivia sudah sangat merindukan kakaknya tersebut apakah dalam kondisi seperti ini, dia tentu sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang yang biasa dia dapatkan sebelumnya namun kali ini dia sudah tidak bisa mendapatkannya lagi.


Setelah mendengar ucapan dari gadis kecil tersebut dan tuan Kaiden juga baru ingat tentang janjinya yang belum sempat dia tunaikan kepada gadis kecil itu dia pun mulai tersenyum kecil dan nampak mengacak rambut belakang kepalanya dengan pelan, sebab dia merasa bingung apa yang harus dia katakan kepada gadis tersebut dalam suasana seperti ini. "AA...A..ahh, itu karena aku sangat sibuk di kantor akhir-akhir ini banyak proyek yang harus di kembangkan dan dalam masa peninjauan, iya kan Dep." Ucap tuan Kaiden sembari memberikan kode kepada sekretaris Dep menggunakan tatapan matanya yang di perlebah dan kedua alisnya yang tuan Kaiden naikkan bahkan dia juga masih sempat-sempatnya mengedipkan mata beberapa kali untuk memberikan kode yang lebih jelas kepada tuan sekretaris Dep yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan membereskan beberapa barang yang dia bawa dari rumah untuk Olivia.


Tentu saja saat pertama kali mendapatkan tatapan seperti itu membuat sekretaris Dep kebingungan dan dia merasa tidak tahu apapun, tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh tuannya itunkepada dia, sehingga sekretaris Dep malah mengatakan hal yang sebenarnya di hadapan Olivia dan membuat tuan Kaiden hampir saja ketahuan tengah berbohong saat itu.


"Ah. Apa tuan? Bukankah proyeknya baru saja selesai dan tidak ada yang dalam pengembangan semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang direncanakan dan semuanya begitu lancar, tidak ada yang menjadikan kita terlalu sibuk akhir-akhir ini di kantor." Balasnya membuat tuan Kaiden menahan kesal dalam dirinya dan dia seketika menatap ke arah Olivia yang sudah mengerutkan kedua alisnya dan merasa sangat ragu untuk mempercayai apa yang di katakan oleh tuan Kaiden kepada dirinya tadi.

__ADS_1


"Ehehe.....tidak begitu maksud Dep sekarang semuanya sudah selesai dan baru aku bisa sedikit bersantai, nanti aku akan mengantarmu ke makan kakakmu setelah kamu sembuh, oke." Balas tuan Kaiden sambil tersenyum lebar kepada Olivia dan dia terus saja mengurusi Olivia dengan sangat baik sekali, bahkan saat itu saja tuan Kaiden tiba-tiba memperlebar senyum di wajahnya hanya demi mendapatkan kepercayaan dari gadis itu.


Padahal saat itu Olivia sendiri menjadi sangat ragu untuk mempercayai seorang seperti tuan Kaiden ini, dia rasa tidak mungkin tuan Kaiden akan berbohong padanya namun sikap tuan Kaiden kepada dia saat ini benar-benar sangat mencurigakan dan membuat dia sangat sebal melihatnya. "Tuan apa kau yakin? Buktinya sekretaris Dep terlihat kebingungan dan mengatakan semuanya sudah selesai." Balas gadis kecil itu mencoba untuk memastikannya lagi.


__ADS_2