Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Tidur Bersama


__ADS_3

Meski sudah lega karena sudah menyampaikan rasa terimakasihnya pada tuan Kaiden, tapi kali ini Olivia malah merasa dirinya bergantung pada tuan Kaiden, untuk itu dia memilih agar tidak terlalu membutuhkan tuan Kaiden lagi, sebab dia tidak ingin merasakan rasa sakitnya kehilangan seperti yang dahulu pernah dia rasakan ketika sang kakak meninggalkan dirinya di dunia ini seorang diri.


Karena hari sudah larut, mereka memutuskan untuk menghentikan perjalanan, sebab tuan Kaiden juga tidak sanggup jika harus mengemudi lagi dalam waktu yang lama menuju kota, apalagi di waktu malam seperti ini, sehingga tuan Kaiden membawa Olivia ke sebuah penginapan yang ada di desa tersebut, penginapan tersebut memanglah tempat yang cukup mewah untuk kelas desa terpencil yang jauh dari perkotaan seperti itu, sehingga pasilitas disana cukup kumplit, saat hendak memesan kamar tuan Kaiden hanya mendapatkan satu kamar saja sebab semua kamar disana sudah terisi penuh.


Tentu saja itu membuat Olivia tercengang kaget, dia tidak mungkin tidur di kamar yang sama dengan tuan Kaiden. "A..A..apa? Hanya ada satu kamar saja?" bentak Olivia saking kagetnya mendengar ucapan itu dari pelayan.


"Hei kenapa kau sekaget itu, memangnya kenapa kalau hanya tinggal satu kamar? Lagi pula kita kan suami istri, apa masalahnya?" balas tuan Kaiden dengan mengerutkan kedua alisnya sangat kuat.


Olivia langsung menunduk dan segera saja memalingkan pandangan dari tuan Kaiden, berusaha untuk menutupi rasa gugup dalam dirinya, dan terpaksa menuruti perkataan tuan Kaiden, mau bagaimana pun tidak ada tempat lain yang bisa mereka tempati, di desa seperti itu sulit sekali mencari penginapan atau sebagainya, berbeda sekali dengan di kota yang bisa menemukan berbagai macam hotel di mana saja. Tuan Kaiden langsung mengambil kunci kamarnya dan segera pergi ke kamar yang sudah di siapkan oleh pelayan disana, konyolnya saat Olivia sudah masuk ke dalam kamar, tuan Kaiden begitu santai mengistirahatkan dirinya di samping ranjang sembari mulai melepaskan jas yang dia kenakan sedangkan Olivia masih berdiri di depan pintu kamar tersebut sembari terus saja merasa gugup tidak karuan, bahkan untuk menatap tuan Kaiden saja dia tidak sanggup melakukannya.


Hal itu membuat tuan Kaiden merasa kebingungan dia terus memperhatikan tingkah Olivia yang sangat aneh dari biasanya, sehingga dia pun langsung menyuruh Olivia untuk segera beristirahat karena saat itu sudah cukup malam.


"Hei kenapa kau masih berdiri disana? Kemari dan istirahatlah ini sudah sangat malah apa kau tidak mengantuk?" ucap tuan Kaiden sambil menepuk pelan ranjang di sampingnya.


"A..A...aku, aku mau mandi dulu." ujar Olivia untuk menghindarinya dan segera pergi ke kamar mandi secepatnya.


"Eh, ada apa dengan anak itu, dasar bocah terserah saja lah, ahhh akhirnya bisa merebahkan diri." gerutu tuan Kaiden yang acuh sambil segera merebahkan tubuhnya.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa kantuk, sebab harus menyetir mobil dalam waktu yang lama seorang diri dari pagi-pagi buta sampai sekarang kembali gelap lagi, sehingga hanya menyentuh ranjang saja dia sudah langsung tertidur dengan lelap, berbeda sekali dengan Olivia yang masih merasa resah serta gugup di kamar mandi, semua rasa takut dan cemas menghantui dirinya, entahlah dia terlalu banyak mencemaskan hal hal yang belum tentu akan terjadi.


Selesai mandi Olivia pikir tuan Kaide sudah tidur saat itu, barulah dia berani keluar dan ternyata dugaannya benar, melihat tuan Kaiden yang sudah tertidur di ranjang membuat dia sangat senang. "Fyuhhh... akhirnya dia tidur juga, syukurlah aku bisa leluasa sekarang." gerutu Olivia merasa lega.


Dia duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambutnya dan bersiap tidak di samping tuan Kaiden, tidak lupa dia juga menaruh guling di sampingnya untuk menjaga diri dan membatasi dari tuan Kaiden, jika tidak begitu dia merasa tidak aman dan tidak bisa tertidur, sampai tidak lama ketika Olivia sudah sangat lelap, justru balik tuan Kaiden yang terbangun di tengah malam, saat melihat jam di ponselnya ternyata sudah jam 2 malam tuan Kaiden membenarkan posisi duduknya dan dia melihat ada guling yang membatasi dirinya dengan Olivia. "Cih, jadi dia takut denganku? Dasar konyol," ucap tuan Kaiden berdecak pelan.


Tuan Kaiden bangkit dan pergi membersihkan diri, saat keluar dari kamar mandi dia hanya mengenakan celana pendek saja dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk sebab tidak ada pengering rambut atau apapun di tempat tersebut, bahkan cuacanya disana sangat panas membuat tuan Kaiden kegerahan sehingga dia tidak dengan dada yang terbuka, sama sekali tidak merasa malu sebab dia pikir hubungannya dengan Olivia memanglah suami istri sungguhan jadi dia tidak canggung dengan hal itu, terlebih Olivia juga sudah tidur sangat lelap, dia pikir tidak mungkin gadis kecil itu menyadari tingkahnya, ketika tuan Kaiden baru saja membaringkan diri, tidak disangka Olivia malah menghadap ke arahnya dengan tangan dan sebelah kakinya mengenai tubuh tuan Kaiden, padahal sudah di halangi dengan guling tapi tetap saja Olivia sendiri yang menerobos batasan yang dia buat sendiri.

__ADS_1


Tuan Kaiden sangat gugup, apalagi saat Olivia yang mengigau mengira dia adalah guling di sampingnya dan malah terus memeluk tuan Kaiden sangat erat, membuat tuan Kaiden panik dan dia tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan sampai kesulitan menelan salivanya sendiri, bernafas pun terus saja dipelankan agar tidak membuat Olivia bangun. "Aishhh... bagaimana ini, aahhh bisa gawat jika dia bangun, tapi aku mana bisa tidur jika dia terus memelukku seperti ini." Batin tuan Kaiden dibuat bingung sendiri.


Perlahan tuan Kaiden memberanikan diri untuk menjauhkan kepala Olivia terlebih dulu dari dadanya lalu dia mulai mengangkat tangan Olivia yang memeluknya dengan perlahan, tapi baru saja setengahnya Olivia sudah kembali memeluk tuan Kaiden lebih dekat dan lebih erat dibandingkan sebelumnya, membuat tuan Kaiden menyerah dan dia pun membiarkannya sambil berusaha memejamkan mata karena sudah tidak tahan dengan rasa kantuk yang melanda.


"Hoamm....aahhh biarkan saja lah, lagi pula dia sendiri yang memelukku bukan aku yang mengambil kesempatan darinya." ucap tuan Kaiden bicara sendiri.


Dia balik membalas pelukan Olivia, sambil mengusap lembut rambutnya dan mengecup kening Olivia dengan lembut sebelum tidur, mereka sudah seperti suami istri yang harmonis, tidur sambil berpelukan tanpa disadari oleh Olivia sendiri, sedangkan tuan Kaiden jelas tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena baginya semua itu hal yang wajar dilakukan oleh pasangan suami istri, hingga pagi tiba dan Olivia menjadi orang pertama yang bangun saat itu.


Betapa kagetnya dia saat melihat wajah tuan Kaiden begitu dekat dengan dirinya, serta tangan dia yang memeluk tubuh tuan Kaiden, dengan cepat Olivia menutup mulut yang hampir saja akan berteriak saat itu. "Astaga... Apa yang sudah aku lakukan dengannya? Kenapa aku bisa memeluk dia dan kenapa tuan Kaiden tidak memakai pakaiannya? Ahhhh gawat, atau jangan-jangan, hah." Batin Olivia merasa panik seorang diri.


Dia langsung menarik selimutnya dan terus memeriksa tubuhnya sendiri, rasa lega akhirnya menyeruak pada hatinya tatkala dia melihat semua pakaiannya masih melekat di tubuhnya dan tidak ada suatu apapun yang berubah dari dirinya, itu membuat dia yakin bahwasanya tidak ada yang terjadi diantara tuan Kaiden dan dirinya malam tadi. "Ahhh syukurlah, ternyata hanya aku yang berpikiran terlalu jauh," ucap Olivia cukup pelan.


Tapi tiba-tiba saja tuan Kaiden bicara menimpalinya padahal sebelumnya dia masih tidur dengan lelap, entah sejak kapan pria 28 tahun itu terbangun dan mendengar ucapan Olivia. "Syukur kenapa? Apa yang kau pikirkan?" tanya tuan Kaiden langsung menimpali secara tiba-tiba.


Tuan Kaiden ikut bangkit sambil mengucek matanya dan tidak sadar jika tubuhnya terlihat buka sebab selimut yang menutupinya turun ke bawah, Olivia dengan cepat memalingkan pandangan ke samping dan menutupinya dengan sebelah tangan, dia merasa semua itu tidak pantas untuk dia lihat. Tua Kaiden mengerutkan kedua alisnya dan dia mulai memiliki ide jahil untuk mengerjai istri kecilnya sendiri saat itu. "Hei, ada apa denganmu, apa kau malu karena melihatku begini?" tanya tuan Kaiden lebih dulu.


"Ti..ti....tidak untuk apa aku malu, kau kan suamiku, aku hanya tidak terbiasa saja." balas Olivia sambil terus menggeser duduknya dan berniat menjauh darinya.


Tapi baru saja Olivia bangkit berdiri tiba-tiba saja tuan Kaiden menarik tangannya sangat kuat sampai membuat Olivia kehilangan keseimbangannya dan dia jatuh ke pelukan tuan Kaiden, dia terduduk pada pangkuannya dengan kedua tangan menyentuh dada tuan Kaiden menggunakan tangan kosong sekaligus, tentu saja keduanya di kagetkan tapi yang paling kaget adalah Olivia dia sampai terperangah membelalakkan kedua matanya sangat lebar. "Ahhhh ASTAGA maafkan aku tuan aku sungguh tidak bermaksud menyentuhnya, aku minta maaf." ucap Olivia sangat panik dan nampak gugup.


dia langsung tertunduk sambil menahan rasa malu yang teramat sangat besar dalam dirinya sampai pipinya saja mulai merah merona saking menahan malu yang amat besar, sedangkan tuan Kaiden berusaha untuk menormalkan dirinya sendiri, barulah dia berani untuk bicara menanggapinya.


"Ekm... Sampai kapan kau mau terus duduk di pangkuanku begini?" ucapnya bertanya begitu saja.


"Ohh... Maaf maaf tadi aku tidak sadar." balas Olivia lagi segera bangkit berdiri dan dia terus menunduk sambil meminta maaf berkali-kali.

__ADS_1


"Tuan tolong jangan berpikir yang macam-macam karena tadi aku sungguh tidak sengaja, kau sendiri yang menarik tanganku lalu aku tertarik begitu saja dan duduk di kakimu, itu benar-benar tidak sengaja." Balas Olivia berusaha untuk menjelaskannya.


Tuan Kaiden terus menahan tawa dalam dirinya karena sejak awal dia memang sengaja mengerjai gadis kecil itu, berpura-pura keberatan dan tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Olivia meski gadis itu sudah menjelaskan semuanya sesuai dengan apa yang terjadi. "Cih tetap saja kau sudah begitu lancar memegang dadaku, bahkan ini bukan pertama kalinya, saat tidur tadi kau juga menyentuhnya bukan? Aku merasa risih dengan kelakuanmu itu, bagaimana bisa kau begitu agresif padaku, apa jangan-jangan kau menyukaiku ya?" ucap tuan Kaiden semakin senang mengerjai Olivia.


"Haha...apa kau bilang, aku suka denganmu? Tuan yang benar saja aku ini baru 19 tahun, mana pantas dengan om om yang sudah lanjut usia sepertimu." balas Olivia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya begitu saja.


Dia tidak sadar jika seseorang yang tengah dia hadapi adalah seorang tuan Kaiden yang terkenal dengan kekejamannya dan di takuti oleh semua orang, semua itu bisa keluar dari mulutnya begitu saja sebab terdorong oleh emosi yang sudah terlanjur menggebu tidak dapat dia tahan apalagi dia redakan lagi. Sementara tuan Kaiden menjadi kesal dan ikut terbawa emosi sebab dia tidak terima di katai lanjut usia oleh istri kecilnya tersebut. "Kau, dasar bocah beraninya mengatakan aku sudah tua, aku ini masih sangat muda bahkan sebutanku saja pengusaha muda yang berhasil, bukannya bangga memiliki suami sehebat diriku, kau malah menghinaku begitu, benar-benar tidak bersyukur!" balas tuan Kaiden sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Siapa suruh kau duluan yang memancingku, sudahlah anggap saja apa yang terjadi sebelumnya sebuah kesalahan, lagi pula memang nyatanya begitu." ujar Olivia dengan wajah cemberut dan memilih untuk menghindari perdebatan dengan tuan Kaiden.


Gadis itu terus masuk ke dalam kamar mandi dan tidak menghiraukan teriakan tuan Kaiden yang terus saja memanggil namanya dan menyuruh Olivia untuk berhenti. "Hei bocah mau kemana kau, seenaknya meninggalkan aku saat sedang bicara, bocah kembali tidak!" teriak tuan Kaiden saat itu.


"Nyenyenye... Bodoamat aku tidak perduli lagi." balas Olivia meledekinya.


"Aishhh... Dasar kau, awas saja nanti!" ucap tuan Kaiden dengan kesal.


Awalnya dia berniat mengerjai Olivia tapi malah dirinya sendiri yang ikut terbawa emosi dan muncul perdebatan panjang seperti ini, membuat tuan Kaiden mendengus kesal seorang diri, sampai tiba-tiba panggilan telepon meredam emosinya yang menggebu, dia mengangkat panggilan itu dan berjalan ke balkon kamar untuk menghindari siapapun menguping pembicaraannya, di waktu yang bersamaan Olivia sudah selesai membersihkan dirinya dan dia melihat tuan Kaiden masih sibuk dengan telepon di telinganya, dia enggan untuk mengganggu jadi memilih untuk duduk sambil membereskan beberapa pakaiannya di dalam koper, sampai akhirnya tuan Kaiden selesai dan hanya melirik sesaat kepadanya kemudian mengambil handuk dan pergi mandi.


...****************...


Di mobil mereka tidak saling bicara bahkan saling memalingkan pandangan satu sama lain menandakan permusuhan diantara mereka berdua masih terjadi, bahkan saat menikmati sarapan di salah satu tempat makan, Olivia duduk berjauhan dengan tuan Kaiden dan dia sama sekali tidak menatap ke arahnya, hanya fokus menyantap makanannya sendiri tanpa bicara sedikit pun, sedangkan tuan Kaiden sejak keluar dari kamar mandi dia terus memegangi ponselnya bahkan saat menyetir pun masih saja sesekali memeriksa ponselnya tersebut, membuat Olivia merasa heran dan sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah di lihat tuan Kaiden pada ponselnya tersebut.


"Apa sih yang dia lihat, apa sesibuk itu sampai tidak jauh dari ponsel, makan pun masih memeriksa ponselnya berkali-kali." batin Olivia merasa sangat penasaran.


Tuan Kaiden bukannya tidak tahu jika gadis kecil itu terus mencuri-curi pandang ke arahnya beberapa kali, tapi dia enggan untuk menegurnya sebab terlalu disibukkan dengan kabar yang dia dapatkan dari sekretaris Dep tentang perusahaan serta janji temu yang akan dia lakukan bersama tuan Kandensus serta Seno untuk menentukan ahli waris sesungguhnya dan bagian dari harta pimpinan perusahaan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2