Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Kemarahan Tuan Kandensus


__ADS_3

Sedangkan tuan Kaiden dengan cepat menghindari tatapan dari Olivia karena dia sudah merasa tatapan yang diberikan oleh Olivia membuat dia salah tingkah dan menjadi lebih gugup daripada sebelumnya. "Kenapa gadis kecil itu menatapku sangat tajam. Apa yang dia pikirkan tentangku." Batin tuan Kaiden kebingungan saat itu.


Dia pun dengan cepat membalas ucapan dari sang ayah, menanggapi tentang wajah Olivia ayng mirip dengan almarhum ibunya dahulu.


"Kau benar ayah, wajahnya memang cukup mirip dengan almarhum ibu, tetapi itu sama sekali bukan alasan kenapa aku menikahinya, aku bersama dengan dia karena aku mencintainya." Balas tuan Kaiden yang seketika membuat Olivia merasa gugup tidak menentu, jantungnya terasa berdegup lebih kencang dibandingkan sebelumnya.


"Ya ampun ada apa sih dengan jantungku ini, tenang Olivia tenang ini hanya akting, iya aku tidak boleh terbawa perasaan dengan ucapan manisnya." Batin Olivia terus saja berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri saat itu.


Hingga dia tidak mampu untuk mengendalikannya sendiri dengan baik, bahkan gadis yang masih berusia 19 tahun itu nampak gemetaran saat dia hendak memotong daging di piringnya, hingga tuan Kaiden menggeser piring di hadapannya dan langsung membantu gadis kecil itu untuk memotong kan daging miliknya tersebut.


"Ya ampun sayang, kamu pasti kesulitan, sini biar aku yang potongkan dagingmu, maaf ya aku lupa kalau kau tidak bisa memotong daging dengan cara seperti ini." Ucap tuan Kaiden sambil memasang wajah yang ramah dan senyum yang sangat indah malam itu.


Olivia bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah tuan Kaiden yang membuat hatinya semakin tidak menentu.


Padahal saat itu tuan Kaiden sengaja bersikap baik dan romantis kepada Olivia hanya untuk membuat ayah dan ibu tirinya mempercayai apa yang dia katakan dan tidak menaruh kecurigaan apapun tentang pernikahan dia dengan gadis tersebut, dia memperlakukan Olivia dengan sangat baik dan bahkan mulai menyuapinya dengan begitu telaten dan sabar, mereka terlihat bak seperti pasangan suami istri sungguhan, meski Olivia sendiri lebih banyak dia dan hanya menuruti semua yang dikatakan oleh tuan Kaiden terhadap dirinya, sedangkan Seno dan ibunya terus menatap tajam dan menunjukkan wajah tidak senangnya kala itu, terlebih di saat tuan Kandensus mempercayai apa yang dikatakan oleh tuan Kaiden sebelumnya.

__ADS_1


"Ekm...sayang jika ibu boleh tahu, dari keluarga mana istrimu ini berasal, dia terlihat sangat cantik dan anggun." Ucap nyonya Asila yang merupakan ibu tiri dari tuan Kaiden.


"Dia dari keluarga sederhana dan dari kampung, tetapi aku sangat mencintainya tidak perlu apapun latar belakangnya, dia wanita yang sangat baik." Balas tuan Kaiden menjelaskannya.


Seketika wajah tuan Kandensus berubah drastis, dia yang sebelumnya terlihat sangat senang ketika mendengar bahwa putra sulungnya tersebut sudah menikah kini justru merasa tidak senang karena identitas dan asal usul Olivia yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan standar keluarga mereka saat ini.


Langsung saja tuan Kandensus menepuk meja makan dengan kencang hingga membuat bunyi yang keras dan dia seketika bangkit berdiri, mengagetkan semua orang kecuali nyonya Asila yang memang dengan sengaja menginginkan hal ini untuk terjadi.


"Brak!" Suara meja yang di tepuk kencang oleh tuan Kandensus di hadapan semua orang.


"Kaiden, apa yang sudah kau lakukan, beraninya kau menikahi gadis kampung sepertinya, dia tidak memiliki standar apapun untuk menjadi menantuku, meski dia cantik dan memiliki wajah seperti almarhum ibumu, tetapi dia tetaplah tidak pantas menjadi menantu keluarga Kandensus!" Bentak tuan Kandensus sangat kencang.


"Cukup ayah! Kau tidak berhak menghina istriku, siapapun dia bagaimana pun asal usulnya dan dari keluarga manapun dia berasal, aku sama sekali tidak memperdulikan hal itu, karena ibuku dulu juga tidak memandang dirimu dari derajat keluargamu, satu lagi bukankah kau menikahi pelayanmu sendiri, pelayan lebih rendah dibandingkan dengan istriku!" Balas tuan Kaiden sengaja menyinggung nyonya Asila yang dulunya merupakan pelayan di rumahnya.


...****************...

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu, ketika ibunya masih hidup dan sehat, nyonya Asila yang kini menjadi ibu tirinya adalah seorang pelayan di mension ibunya, tetapi dia malah merebut tuan Kandensus dari ibunya sendiri tepat ketika ibunya mulai jatuh sakit, dan meninggal dunia, bahkan sampai sekarang tuan Kandensus sendiri masih menaruh banyak kecurigaan terhadap ibu tirinya tersebut, tentang masa lalu kematian ibunya tersebut.


Nyonya Asila langsung memasang wajah yang sendu dan menyedihkan, dia memang sangat pandai bermain peran dan selalu memakai topeng setiap kali di hadapan tuan Kandensus, termasuk putranya Seno yang turut turun tangan membela ibunya ketika mendapatkan sindiran dari tuan Kaiden yang sangat tepat sasaran.


"Beraninya kau menyinggung ibumu seperti ini, ingat Kaiden aku tidak akan memberikan kau bantuan atau harta apapun lagi jika kau masih bersama dengan wanita miskin dan tidak memiliki asal usul jelas tersebut!" Bentak tuan Kandensus dan langsung pergi menarik tangan nyonya Asila dari sana secepatnya.


Sedangkan Seno sendiri mulai menatap tajam ke arah tuan Kaiden dan dia turut memberikan ancaman yang sama kepada tuan Kaiden saat ini.


"Bagus, kau tidak akan mendapatkan kepercayaan apapun lagi dari ayah, dan kau jangan beraninya menghina ibuku, karena ibumu juga diangkat oleh tuan Kandensus jangan lupa tentang itu!" Ucap Seno dengan sinis dan ikut pergi meninggalkan meja makan tersebut.


Anehnya tuan Kaiden sama sekali tidak terlihat marah, dia malah terlihat tersenyum kecil lalu merapihkan jasnya sendiri saat itu, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan saat olehnya. "CK.. ternyata bocah itu sama sekali tidak tahu rahasia keluarga Kandensus sama sekali, kita lihat saja nanti." Gerutu tuan Kaiden pelan.


Dia segera pergi dari sana tapi melihat ke arah Olivia yang berjalan dengan lesu di sampingnya dan menenteng sepatu hak tinggi di tangannya sementara kakinya sendiri tidak mengenakan alas apapun saat itu.


"Heh.. berhenti!" Ucap tuan Kaiden menghentikan langkah Olivia dan menatapnya begitu lekat dari atas hingga bawah saat itu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya gadis itu sambil memasang wajah yang begitu menyedihkan sekali.


"Kenapa kau tidak memakai alas kaki? Sepatu ini diciptakan untuk kakimu bukan untuk kau tenteng dengan tangan seperti ini." Balas tuan Kaiden kepadanya.


__ADS_2