Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Berusaha Menghubungi Malara


__ADS_3

"Ada apa kemari bi?" Tanya Olivia dengan sangat penasaran pada awalnya.


"Begini nona kata tuan Kaiden mulai hari ini nona harus membuatnya sarapan untuk beliau setiap hari, dan bibi mau kasih tahu bahwa sebaiknya nona Olivia jangan membantah ucapan tuan Kaiden, dia sebenarnya orang yang baik nona, tetapi mungkin dia tidak tahu betul bagaimana cara menyampaikan perasaannya tersebut." Ucap bibi Lil yang membuat Olivia merasa sangat heran sekaligus tidak terima karena bibi Lil terkesan lebih membela tuan Kaiden di bandingkan dirinya. "Bi kenapa sih dia tidak menceraikan aku saja, lagi pula aku kan sudah bertemu dengan keluarganya dan sudah jelas bahwa tuan Kandensus tidak menyukai aku, begitu pun dengan ibu tirinya, jadi apa lagi alasan tuan Kaiden menahanku?" Ucap gadis tersebut perotes kepada bibi Lil.


Bibi Lil memahaminya, dia duduk menghampiri Olivia dan mulai mengusap punggungnya dengan pelan, lalu mulai memegangi kedua tangannya dengan lembut saat itu.


"Nona, bibi kan sudah bilang sejak awal, bahwa tuan Kaiden itu sebenarnya sangat baik dan begitu memiliki perasaan yang lembut, dia hanya keras karena mungkin ada pekerjaan yang sulit tengah dia kerjakan di kantornya saat ini, terlebih ada banyak orang dan saingan di luar sana yang selalu menyerangnya dari dalam ataupun luar, sehingga wajar jika sikap tuan Kaiden mungkin mudah berubah-ubah, tetapi sebenarnya dia orang yang baik, lagi pula nona Olivia masih menginginkan nama nona bersih kembali dari rumor itu bukan?" Balas bibi Lil memberikan pengertian kepada Olivia dengan perlahan saat itu, membuat gadis 19 tahun itu terus saja tertunduk dengan lesu dan menghembuskan nafas dengan lesu cukup lama.


Olivia pun mengangguk dan bibi Lil segera pergi dari kamarnya karena beliau masih harus mengerjakan pekerjaan rumah juga mengontrol para pelayan lain dalam mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing di dalam rumah ini, sedangkan Olivia sendiri merasa sangat kebingungan dan resah tidak menentu, apalagi setelah mendengar ucapan dari bibi Lil saat itu. Entah dia harus mempercayai apa yang dikatakan bibi Lil ataupun dia harus tetap dengan keputusan pertamanya untuk kabur dari tempat tersebut.


Gadis tersebut terus saja mengeluarkan seprai dan selimut yang sebelumnya sudah dia sambungkan satu sama lain untuk menggapai lantai bawah dari kamarnya tersebut.


"Apa aku dengarkan ucapan dari bibi Lil atau sebaiknya aku tetap melarikan diri saja ya?" Gerutu gadis tersebut terus saja memikirkan niatnya untuk kabur saat itu.

__ADS_1


Dia terus saja merasa sangat kebingungan namun di lain waktu, dia mulai mendapatkan pencerahan dari dirinya sendiri, karena jika dia kabur saat ini, mungkin dia tidak akan bisa diterima oleh sahabatnya Malara, terlebih rumor buruk tentangnya juga belum resmi di hapuskan, dia pun memilih untuk mengurungkan dahulu niatnya untuk kabur dan melarikan diri hari ini, mencoba untuk meminjam ponsel di rumah tersebut, agar dia bisa menghubungi sahabatnya Malara.


"Bi apa aku boleh meminjam telepon rumah ini?" Tanya gadis kecil tersebut terus meminta izin terlebih dahulu.


Bibi Lil terlihat diam sejenak dan dia pun mulai mendekati Olivia, sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya saat itu. "Ahh nanti dulu ya nona, semua telepon rumah yang ada disini tidak bisa digunakan sembarangan, harus meminta izin dari tuan muda terlebih dahulu baru bisa menggunakannya, bibi sendiri bahkan tidak pernah menggunakan telepon rumah disini. Hanya mengangkat panggilan darurat dari tuan beberapa kali saja." Balas bibi Lil membuat Olivia langsung merasa putus asa.


Wajahnya terlihat begitu lesu, hatinya sama sekali tidak tenang jika dia belum menghubungi sahabatnya Malara, terlebih di dunia ini dia sudah tidak memiliki keluarga ataupun saudara sama sekali, hanya mengenali Malara seorang yang merupakan sahabatnya sejak dulu, dia ingin sekali berbicara dengan Malara dan menanyakan kabarnya saat ini, sebab ini sudah sangat lama sejak terkahir kali dirinya bertemu dengan sahabatnya tersebut, apalagi perpisahan mereka terjadi dengan kejadian yang sangat tidak menyenangkan kala itu.


"Nona..nona Olivia apa nona baik-baik saja?" Tanya bibi Lil menyadarkan gadis muda itu dari lamunannya yang begitu dalam dan cukup lama.


Bibi Lil pun langsung memberikan ponselnya tersebut, karena memang sejak awal dia berniat untuk memberikan pinjaman ponsel miliknya itu kepada Olivia.


"Tentu saja boleh, ini nona silahkan digunakan." Ucap bibi Lil sambil tersenyum dengan ramah.

__ADS_1


Mendapatkan izin dan pinjaman dari bibi Lil langsung saja membuat Olivia merasa sangat senang, dia terus aja tersenyum lebar dan wajahnya begitu berseri-seri, segera mengambil ponsel bibi Lil dan mengetikkan nomor ponsel Malara, hingga panggilan dilakukan, tetapi sudah dua kali Olivia mencoba untuk menghubungi nomor Malara tetapi tetap saja Malara tidak mengangkat panggilan darinya.


"Bagaimana nona?" Tanya bibi Lil saat itu.


Langsung saja Olivia menggelengkan kepala pelan dengan wajahnya yang nampak begitu menyedihkan, dia tetap saja gagal untuk menghubungi sahabatnya tersebut.


"Sudah nona, mungkin sahabat nona itu tengah sibuk atau dia tidak mengangkatnya karena ini adalah nomor baru, nona jangan sedih ya." Ucap bibi Lil yang selalu menghibur Olivia dan memberikan pemikiran positif kepadanya.


Tapi tetap saja kali ini Olivia merasa sedikit berbeda, hatinya tidak tenang dan dia terus saja terpikirkan tentang Malara, dia sungguh takut sahabatnya itu akan salah paham terus menerus tentang dirinya, dan malah mempercayai ayahnya om Burhan yang memang dalang dari semuanya. "Semoga saja dia benar-benar hanya sibuk, aku sungguh tidak mau kehilangan sosok sahabat sebaik dia." Batin Olivia sambil memegangi dadanya dengan penuh harapan saat itu.


"Sudahlah nona, daripada nona terus murung dan merasa sedih seorang diri, lebih baik nona ikut saja dengan bibi, kita membuat cemilan yang enak, ayo." Ucap bibi Lil mengajak Malara dengan tersenyum ramah, membuat Malara sangat nyaman dan mudah untuk berkomunikasi dengan bibi Lil dibandingkan dengan pelayan lain ataupun kepada tuan Kaiden sendiri.


Mereka pun pergi ke dapur dan bibi Lil mulai memasangkan sarung tangan di kedua tangan Olivia, sambil terus mengajarkannya cara membuat puding coklat dan kue-kue kering yang cantik dan lucu, belajar membuat cemilan seperti itu membuat Olivia melupakan sejenak semua beban dalam pikirannya dan semua kecemasan yang terus menghantui dirinya selama ini, dia mulai bisa tersenyum dan lebih berani untuk bicara dengan bibi Lil juga pelayan yang ada disana.

__ADS_1


Setidaknya dengan begitu, baru bisa mengesampingkan hati Olivia yang pernah merasa kesepian setelah kehilangan sosok kakak kesayangannya dan juga keluarga satu-satunya yang dia miliki di dunia ini.


__ADS_2