
"Sudah jangan banyak bicara lagi, ayo ikut denganku saja!" Bentaknya terus saja menarik tangan gadis itu sangat kuat dan membawanya pergi ke kamarnya dengan cepat.
"Eeh...eh...tuan kenapa kau membawaku ke kamarmu, hei apa yang mau kau lakukan padaku?" Ucap gadis 19 tahun itu terlihat begitu panik dengan kedua bola matanya yang terbuka lebar dan sangat cemas.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ini untukmu." Ucap tuan Kaiden sambil tiba-tiba saja menjulurkan tangannya yang memegangi ponsel keluaran terbaru dengan harga puluhan juta rupiah saat itu.
Gadis cantik itu terus saja menatap penuh kebingungan dan menaikkan kedua alisnya dengan heran, karena dia sama sekali tidak tahu dengan kotak persegi panjang yang di berikan oleh tuan Kaiden kepadanya saat itu.
"Ehh...apa ini?" Tanya Olivia terus saja kebingungan, dengan cepat tuan Kaiden terus saja menarik tangan Olivia dan memberikan ponsel itu pada tangannya dengan cepat.
"Sudah pegang dan bukalah sendiri, nanti kau juga akan tahu apa yang ada di dalamnya." Balas tuan Kaiden yang segera saja dibuka oleh Olivia saa itu juga.
Saking penasarannya, Olivia langsung saja membuka kota itu dengan cepat dan betapa kagetnya dia saat mendapati ternyata benda di dalam kotak persegi panjang itu adalah sebuah ponsel canggih yang sangat cantik dan bahkan tidak pernah dia miliki sebelumnya, jangankan memilikinya, melihatnya pun Olivia tidak pernah.
"Wahh... Tuan apa ini sebuah ponsel?" Tanya gadis itu dengan wajahnya yang sangat terperangah kaget dan terus saja menatap tuan Kaiden dengan kedua bola mata yang terbuka sangat lebar.
Tuan Kaiden langsung melipatkan kedua tangannya di depan dada, dia merasa dirinya sangat hebat karena bisa membeli ponsel canggih dan sangat mahal dengan keluaran terbaru seperti itu, dan dia sudah sangat percaya diri saat melihat reaksi yang diberikan oleh Olivia saat pertama kali membuka ponsel tersebut, dia pikir kali ini Olivia tidak akan lolos dan dia bisa membuktikan bahwa gadis itu memang sama saja dengan wanita pada umumnya yang mudah tergoda dengan uang juga barang yang mewah.
__ADS_1
"Hahaha... Kena kau sekarang." Batin tuan Kaiden terlihat begitu percaya diri saat itu.
"Tuan kenapa kau diam saja seperti itu? Aku tanya apa ini ponsel? Untuk siapa ponsel ini?" Tanya gadis itu lagi membuat tuan Kaiden segera tersadar dalam lamunannya.
"Heh apa kau buta? Tentu saja itu ponsel, kau tahu ini adalah ponsel keluaran terbaru dengan harga yang sangat mahal dan baru saja di keluarkan pada Minggu ini hanya ada beberapa orang di negara kita yang memilikinya dan salah satunya adalah ini, yang sedang kau pegang sekarang dan aku memberikannya untukmu." Ucap tuan Kaiden semakin membuat Olivia sangat kaget hingga dia merasa sangat lemas dan hampir saja jatuh saat itu.
Dia memegangi dadanya sendiri dan terus terperangkap menatap lekat pada tuan Kaiden.
"Tuan apa kau gila ya? Kenapa memberikan aku barang semahal ini, tidak-tidak aku tidak bisa menerimanya, bagaimana aku bisa membalasmu nanti, ini aku kembalikan padaku, dan jangan memberikan aku apapun aku sama sekali tidak membutuhkannya." Balas Olivia yang sangat di luar dugaan bagi tuan Kaiden saat itu.
"Hah....hahaha...apa yang kau katakan barusan? Kau tidak membutuhkannya?" Ucap tuan Kaiden begitu putus asa sekali.
Olivia kaget dan dia segera mendekati tuan Kaiden untuk membantunya berdiri dan terus saja menanyakan keadaannya saat itu, karena cukup dibuat kaget melihat tuan Kaiden tiba-tiba saja terduduk di samping ranjangnya dengan wajah yang aneh dan menyedihkan seperti itu. "Ehh...tuan ada apa denganmu? Tuan kenapa kau tiba-tiba lemas begitu?" Tanya Olivia sambil berdiri di depan tuan Kaiden saat itu.
Tuan Kaiden terus saja menggelengkan kepala dengan kuat dan dia sama sekali tidak bisa bicara apapun, hanya bisa mengeluh sendiri dan menunduk dengan lesu, tanpa bisa melakukan apapun, sampai tidak lama dia kembali bertanya lagi kepada Olivia, berharap Olivia bisa tergiur dengan tawarannya lagi.
"Hei bocah pendek, aku tanyakan lagi padamu sekali lagi ya, apa kau sungguh tidak tertarik dengan ponsel senilai puluhan juga itu?" Tanya dia lagi kepada Olivia.
__ADS_1
"Tidak, aku memang tidak membutuhkannya, untuk apa aku memiliki ponsel dengan harga semahal itu, sementara aku sama sekali tidak memiliki siapapun di dunia ini, terus siapa yang mau aku hubungi? Bukankah tidak ada gunanya meski aku memiliki ponsel?" Balas Olivia terus saja semakin membuat tuan Kaiden putus asa dan frustasi sekali.
"Aaarrkkkkk....pergi kau dari sini, cepat keluar! Pergi saja!" Bentak tuan Kaiden yang tiba-tiba saja berteriak sangat kencang dan terus mengusir Olivia dengan kasar.
Olivia terus saja semakin terperangah heran dan kaget dibuatnya, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada tuan Kaiden saat itu, yang tiba-tiba saja berteriak sangat kencang sambil mengusir dia dan mendorong tubuhnya hingga dia keluar dari kamarnya tersebut dengan kasar.
"Hah...ada apa dengannya, apa dia benar-benar gila ya? Sekejap baik sekejap seperti orang gila, aahh aku harus sedikit menjauh dari orang kelainan mental sepertinya, jangan sampai aku tertular, untuk apa kaya kalau gila." Gerutu Olivia saat sudah di dorong keluar dari kamar tuan Kaiden dengan kasar sebelumnya.
Dia juga segera saja kembali kekamarnya sambil terus menggaruk belakang kepalanya sendiri karena merasa sangat heran dan kebingungan dengan apa yang terjadi dengan tuan Kaiden saat itu, bahkan disaat Olivia baru saja hendak memegangi pintu kamarnya dan berniat untuk masuk ke dalam dia justru malah kembali mendengar teriakkan dari tuan Kaiden yang sangat kencang termasuk suara barang yang pecah di samping kamarnya yang melainkan kamar tuan Kaiden.
"Brak!" Suara barang pecah yang begitu nyaring.
Olivia langsung saja terperanjat sangat kaget mendengarnya dan dia segera saja berlari kembali ke pintu kamar tuan Kaiden sambil mengetuk pintunya beberapa kali, berteriak menanyakan keadaan tuan Kaiden saat itu.
"Tok ..tok ..tok..tuan apa kau baik-baik saja? Tuan apa yang terjadi di dalam sana?" Teriak Olivia sambil terus berteriak merasa panik saat itu.
Olivia terus saja merasa cemas dan dia terus berdiri di depan pintu kamar tuan Kaiden dengan perasaan yang penuh kebingungan sendiri.
__ADS_1