
Hingga beberapa saat diperjalanan, sampailah mereka berdua di kantor tuan Kaiden, Olivia keluar dengan terburu-buru dan terus menggandeng tangan Seno untuk menariknya cepat, karena dia mau membawa Seno menghadap tuan Kaiden secara langsung untuk menjelaskan semua kejadian tadi, agar tidak terus terjadi kesalahpahaman diantara mereka bertiga nantinya, segera saja dia masuk ke dalam ruangan tuan Kaiden meskipun saat itu berjumpa dengan sekretaris Dep yang bertanya kepadanya dan sempat menahan langkah Olivia sebelum dia benar-benar masuk ke dalam ruangan kantor tuan Kaiden.
"Ehh..nona Olivia ada apa anda datang kemari?" Tanya sekretaris Dep menyapanya saat itu. Tapi Olivia sama sekali tidak menggubrisnya sedikit pun, gadis itu terlalu cemas dan khawatir kepada tuan Kaiden jadi tidak mau memperlambat waktunya lagi.
"Hei minggir kau Dep aku ada urusan dengan bosmu, ini sangat penting sekali." Ucap gadis tersebut sambil terus saja menyingkirkan sekretaris Dep dan terus menerobos masuk tanpa permisi ke dalam ruangan tersebut.
Saat itu tengah ada tuan Kaiden bersama seorang karyawan wanita yang tengah melaporkan hasil kerjanya tersebut kepada sang bos besar, Olivia langsung melepaskan pegangan tangannya kepada Seno saat sudah masuk ke dalam ruangan itu dan tuan Kaiden yang melihat kedatangan istri kecilnya dia segera menyuruh karyawan tadi untuk keluar sebentar, karena dia ingin bicara dengan gadis kecilnya.
Hingga setelah wanita itu pergi langsung saja Olivia berjalan mendekati tuan Kaiden hingga ke samping kursi kebesarannya dan meminta agar tuan Kaiden mau mendengarkan penjelasan dari dia dahulu.
"Tuan aku datang kemari untuk memberikan penjelasan kepadamu, tentang apa yang kamu lihat di rumah, itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, Seno bisa menjelaskan semua kebenarannya kepadamu karena aku sungguh tidak tahu apapun sebelumnya, sungguh tuan." Ucap Olivia terus saja berusaha keras untuk membujuk tuan Kaiden terus menerus dengan semua yang bisa dia lakukan saat itu.
Tuan Kaiden awalnya tetap diam dan berpura-pura sibuk dengan dokumen di tangannya yang terus dia baca bahkan dia juga sempat untuk mengusir gadis tersebut begitu saja, membuat Olivia benar-benar naik pitam dan sudah kehabisan kesabaran untuk membujuknya lagi, jadilah Olivia malah membentak tuan Kaiden.
__ADS_1
"CK....mana aku perduli sana kalian pergi dari kantorku." Ucap tuan Kaiden yang malah mengusirnya dengan kasar seperti itu.
Seketika wajah Olivia langsung berubah drastis dan dia terlihat begitu kesal dengan kelakuan dari tuan Kaiden yang begitu sulit untuk di bujuk bahkan masih tidak mau mendengarkan penjelasan dahulu dari orang yang bersangkutan, padahal saat itu Seno sudah mau meluangkan waktu berharganya untuk menjelaskan kepada dia bahkan sampai datang ke kantornya secara langsung agar tidak terjadi salah paham lagi, namun balasan dari tuan Kaiden sendiri malah tidak menghormati pengorbanan waktunya itu, lantas pantas saja jika Olivia kesal dengannya.
"Aishh...tuan kau ini bagaimana sih, aku kan sudah bilang padamu, kami kesini untuk menjelaskan bahwa apa yang terjadi tadi sama sekali tidak benar, aku dan adik tirinya sama sekali tidak punya hubungan khusus apapun dia hanya memiliki kebaikan di hatinya untuk membantu aku mengubah cara tidurku yang mungkin itu akan membahayakan keselamatan diriku sendiri, kau tidak ada disana dan kebetulan Seno yang melihat aku lebih dulu dalam kondisi begitu, jadi dia menolongku, lagi pula dia datang ke rumah juga bukan sengaja, lihatlah kesana dia hanya mau mengambil barang yang lupa dia tinggalkan di ruang makan." Bentak Olivia di penuhi dengan emosi yang menggebu dan terus saja merasa kesal terhadap tuan Kaiden selain itu Olivia juga bicara sangat kencang dengan nafas menderu dan dia terus saja menatap tajam sambil berkacak pinggang di samping tuan Kaide yang masih saja tetap diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
Hingga Olivia benar-benar naik pitam dan dia terus saja memilih untuk menyerah, pergi dari sana termasuk menyuruh Seno untuk pergi ke perusahaannya juga karena Olivia tahu waktu Seno tidak banyak lagi dan dia juga perlu segera bekerja ke perusahaan miliknya sendiri. "CK...ya sudah kalau kau tetap tidak percaya, aku bahkan sudah membawa Seno kemari untukmu, semuanya jadi sia-sia, Seno ayo cepat kita pergi saja, kau juga sangat sibuk kan untuk apa tetap disini menghadapi orang yang tidak bisa menghormati pengorbanan orang lain seperti ini!" Tegas Olivia sambil memalingkan pandangan dan dia segera menggandeng tangan Seno lalu keluar dengannya.
Tuan Kaiden yang melihat Olivia menggandeng tangan Seno dia lantas sangat kesal dan semakin tidak senang sampai meninju mejanya sendiri dengan tangan kosong.
Tuan Kaiden baru bisa melampiaskan emosi dalam dirinya ketika sudah tidak ada siapapun lagi di tempat kerjanya tersebut. "Aarrk....dasar menjengkelkan, dia datang kemari untuk menjelaskan tapi kenapa dia malah menggandeng tangan Seno apa dia sengaja ingin melihat aku cemburu atau mau mengujiku saja? Aishh." Gerutu tuan Kaiden tiada habisnya, walau dalam kondisi kacau dan sangat emosional tidak tertolong.
Tuan Kaiden tetap harus menjelaskan tugasnya di kantor, dia tetap harus meeting, dan bertemu beberapa orang penting, mengontrol pertumbuhan proyeknya yang ada dimana-mana bersama dengan sekretaris Dep, dan harus tetap fokus dalam pekerjaannya itu, sehingga tuan Kaiden berusaha untuk melepaskan semua emosi dan amarah di dalam dirinya dahulu, agar nantinya dia bisa merasa tenang dan damai, sehingga dia dapat mengesampingkan dahulu masalah pribadinya dan tetap bersikap profesional dalam menjalani tugasnya di perusahaan, semua ini demi kemajuan perusahaan termasuk nasib para karyawannya yang berjumlah ribuan itu, bahkan mungkin sampai di ratusan ribu karena tidak hanya satu pabrik saja yang dia kuasai saat ini dan tengah dia kelola dalam berbagai jenis bisnis yang ada di luar maupun dalam negeri. Walaupun sesekali tuan Kaiden juga sempat terlihat melamun karena masih sering terlintas sedikit dengan permasalahan pribadinya tersebut.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain Olivia terus saja menggerutu kesal dia pulang sendiri ke rumah tuan Kaiden tetapi bukannya benar-benar kembali ke rumah tuan Kaiden Olivia justru malah berjalan-jalan dahulu di luar untuk melampiaskan emosi dalam dirinya sedangkan Seno sudah pergi ke perusahaannya sejak tadi, dan dia awalnya mau mengantarkan Olivia dahulu tapi gadis itu sendiri yang menolaknya karena dia tidak mau merepotkan Seno lagi termasuk menyita waktunya yang berharga itu.
Kini Olivia berjalan sambil terus menendang botol bekas di depannya dan merutuki tuan Kaiden sangat puas dengan bahasa kasar yang dia bisa katakan saat itu.
"Manusia sialan, menyebalkan, keterlaluan, dasar emosional, aishh bagaimana mungkin aku malah memiliki suami sepetinya, meski dia tampan dan kaya tapi tetap saja dia bukan tipeku, bahkan sama sekali bukan pria idaman yang aku inginkan. Sial sekali sih hidupku ini, ohh tuhan hiks..hiks..hiks.." ucap Olivia sambil berteriak keras dan menengadahkan kepalanya ke atas langit saat itu.
Hingga tiba-tiba saja disaat Olivia tengah merengek seperti itu, ada seseorang yang memanggil namanya dari belakang dengan suara yang sangat tidak asing di telinganya.
"Olivia?" Ucap Malara yang tidak sengaja bertemu dengan Olivia di jalan saat itu.
Olivia langsung berbalik dan dia sangat kaget ketika mengetahui orang yang memanggilnya sungguh Malara sahabat karibnya selama ini termasuk orang yang membiarkan dia di usir begitu saja oleh kedua orangtuanya dahulu.
"Malara?" Ucap Olivia begitu senang, dia langsung berjalan mendekati Malara dan hendak memeluknya sembari melepaskan rasa rindu yang selama ini tertanam dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi sayang sekali Malara justru malah menghindar dan dia menatap tajam seperti sangat tidak senang ketika bertemu dengan Olivia apalagi disaat gadis itu hendak memeluknya. "Malara aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu selama ini?" Tanya gadis kecil itu sambil terus saja terlihat cerah dan begitu bahagia bertemu dengan orang yang dia kenali dan sangat dekat dengannya selama ini.
"CK.... Jangan sok akrab dan sok baik di depanku, aku sangat jijik dengan tingkah mu Olivia, tidak aku angka kau bahkan beraninya menggoda ayahku, hingga kini mereka selalu sering bertengkar, dan masih saja mempermasalahkan perselingkuhan semenjak kejadian denganmu diketahui ibuku, minggir kau, jangan menghalangi jalan dan mengorotinya!" Bentak Malara kepada Olivia sambil menyenggol sebelah bahunya.