
Olivia hanya menatap bibi Jil dengan wajah polos dan kedua alis yang terangkat, dia sama sekali tidak mengerti mengapa bibi Jil tiba-tiba murung seperti itu hanya karena dia tidak menyukai tuan Kaiden.
"Eeehh.. Bi ada apa denganmu, kenapa bibi malah sedih? Bukankah seharusnya memang begini, aku dan tuan Kaiden kan memang sekedar pasangan kerjasama saja, tidak boleh saling jatuh hati." balas Olivia menjelaskannya.
Bibi Jil saat itu benar-benar kehabisan kata-kata, mau menyanggah pun tidak bisa, sebab apa yang dikatakan oleh Olivia memang kebenarannya, hanya saja dia yang memang berharap lebih dari hubungan mereka berdua.
"Haduuuh sudahlah nona, kamu memang benar, tapi jika suatu saat nanti nona menyukai tuan Kaiden atau pun sebaliknya, bibi pikir kalian akan jadi pasangan yang serasi." jawab bibi Jil mengutarakan maksudnya.
Sayang Olivia sama sekali tidak menganggapnya serius dia malah menanggapi ucapan itu dengan tawa kecil, sembari berkata bahwa hal itu tidak akan terjadi diantara dia dan tuan Kaiden.
"Ahaha... Bibi ini menghayal nya terlalu jauh, aku dan tuan besar tidak mungkin menjadi pasangan sungguhan, dia mana mungkin menyukaiku, selama ini dia berbuat baik padaku hanya menganggap aku sebagai adiknya dan aku memang cukup menguntungkan baginya, jadi wajar saja bukan?" balas Olivia saat itu sambil tersenyum lebar.
Bibi Jil pun mengangguk dan dia menuruti ucapan Olivia, hingga gadis kecil itu pergi ke kamarnya masih dengan memegangi kalung pemberian dari tuan Kaiden, walaupun sudah mendengar jawaban dari Olivia yang sangat tidak memuaskan, tapi bibi Jil tetap yakin bahwa mereka pasti akan bersama cepat atau lambat.
"Lihat saja nanti jika mereka berdua tetap sulit menyadari perasaan masing-masing, aku sendiri yang akan membuat mereka bersama, haha." gerutu bibi Jil sangat optimis.
...****************...
Disisi lain keluarga Malara tengah dalam keadaan yang buruk, rumah tangga orangtuanya juga diambang kehancuran, Tante Oki marah besar kepada Om Burhan, dia bahkan langsung memasukkan semua pakaian Om Burhan ke dalam koper lalu mengusir pria tersebut dari rumahnya.
"Brak!" suara koper yang di lemparkan keluar oleh Tante Oki hingga koper tersebut terbuka tepat di hadapan Om Burhan yang baru saja sampai di depan rumah.
"Apa-apaan kau ini, berani kau mengusirku?" bentak Om Burhan dengan mata terbelalak lebar dan dipenuhi emosi.
"Tentu saja, pergi kau dari rumahku dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini, mulai sekarang aku akan menggugat cerai dirimu dan kembalikan seluruh aset kekayaan yang aku berikan padamu!" bentak Tante Oki sangat kencang.
Mendengar ancaman tersebut dari istrinya tentu saja Om Burhan merasa takut, dia yang tadinya berani membentak dan berbuat kasar kini nyalinya langsung menciut tatkala dia menyadari bahwa sejak dulu dia tidak pernah memiliki apapun, semua fasilitas dan kekayaan yang dia miliki adalah harta istrinya hasil kerja keras tante Oki di masa mudanya sekaligus harta warisan dari kedua orangtuanya.
"Ahh ini gawat aku tidak mungkin berpisah dengan wanita gila ini sekarang, setidaknya aku harus mendapatkan harta dia dahulu sebelum meninggalkannya." batin Om Burhan saat itu.
"Kenapa kau diam saja, cepat kembali kunci mobil, ATM dan semua uang tunai yang ada padamu, karena kau tidak pernah memiliki apapun selain pakaian sampah itu!" ujar Tante Oki lebih keras.
Malara sebagai anaknya dia juga tidak bisa menahan sang ibu, hanya bisa berdiri di samping ibunya sembari memegangi tangan tante Oki dengan erat, berusaha menenangkan ibunya walaupun dia tahu semua itu tidak berguna.
Sementara Om Burhan mulai merubah ekspresi di wajahnya, dia tertunduk lesu dan berjalan lunglai menghampiri tante Oki, hingga tiba-tiba saja pria 50 tahun itu tertunduk bersujud di bawah kaki tante Oki dan Malara, dia meminta maaf dengan deraian air mata yang menandakan rasa bersalah pada dirinya.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku Oki, aku sungguh telah khilaf dan salah karena sudah bermain api di belakangmu, tapi sungguh itu adalah yang pertama dan akan menjadi yang terakhir bagiku, aku tidak akan sanggup jika harus menata hidupku seorang diri, tolong jangan menggugatku, aku tidak akan pernah mau bercerai dengan wanita sebaik dirimu." ujar Om Burhan mulai menggunakan akting terbaiknya di hadapan Tante Oki dan Malara.
Walau begitu Tante Oki terlihat sudah tidak perduli lagi, mungkin karena rasa sakit yang dia rasakan sudah terlampau besar, sehingga dia masih belum bisa memaafkan suaminya dengan begitu mudah, apalagi kesalahan yang dibuat oleh suaminya sangatlah fatal.
"Cih, sekarang saja kau mau meminta maaf dan mengakui kesalahanmu, dari tadi kau kemana saja? Kau hanya sibuk mencari pembelaan bahkan berani membentakku begitu keras di hadapan putriku sendiri, apa kau pikir kesalahanmu ini dapat di maafkan?" balas Tante Oki sambil menghempaskan Om Burhan yang terus memegangi kakinya.
"Sayang tolonglah maafkan aku, bagaimana pun aku ayah dari putrimu, pikirkan juga perasaannya dan masa depan dia nanti, dia akan membutuhkan aku sebagai wali nikahnya, dia tetap akan bergantung denganku, tolong sayang maafkan aku kali ini saja, aku berjanji akan merubah semua ini dan menjadi lebih baik demi kau dan putri kita." ucapnya lagi sambil kembali membungkuk di depan istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Tante Oki mulai luluh, dia menatap ke arah Malara dengan wajah yang semu dan mata yang berkaca-kaca, sebenarnya dia juga begitu berat jika rumah tangganya yang telah dia bina sangat lama harus hancur karena wanita lain, saat menatap wajah Malara yang begitu teduh hati Tante Oki semakin lemah, dia tidak tega melihat Malara harus kehilangan ayahnya dan menjadi anak broken home nantinya.
"Malara apa kau mau memaafkan ayahmu?" tanya Tante Oki saat itu.
"Tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan untuk ayah kan?" balas Malara padanya.
Tante Oki langsung mengangguk dan dia segera memegangi Om Burhan agar segera berdiri saat itu.
"Bangunlah, aku dan Malara memaafkan mu kali ini,"
"Benarkah? Terimakasih banyak sayang kau memang yang terbaik untukku." balas Om Burhan yang terlihat sangat senang.
Pria tua itu langsung bangkit berdiri dan hendak memeluk istrinya, tapi dengan cepat Tante Oki langsung menahan tubuh Om Burhan dan bicara serius dengannya.
"Tunggu, ingatlah dengan janjimu itu, jika sampai sekali lagi aku menemukan kebusukanmu, jangan harap kau akan bisa mendapatkan maafku lagi!" tegas Tante Oki saat itu.
Om Burhan mengangguk patuh sambil terus tersebut dan mereka pun berbaikan kembali, Malara terlihat senang, setidaknya hubungan rumah tangga orangtuanya masih dapat di selamatkan, dia ikut berpelukan dengan orangtuanya dan berusaha melupakan masalah yang telah terjadi.
Namun setelah kejadian itu Malara masih sangat penasaran dengan nomor asing yang menghubungkan dirinya secara tiba-tiba dan memberitahukan tentang kalakuan ayahnya tersebut. Malara duduk di samping ranjangnya sembari terus menatap ponsel canggih miliknya.
"Siapa sebenarnya pemilik nomor ini, bagaimana dia bisa tahu nomorku dan kenapa dia memberitahukan aku tentang kelakuan ayah, siapa dia sebenarnya?" Gerutu Malara memikirkannya.
Karena rasa penasaran itu tidak hilang, Malara pun memberanikan diri untuk menghubungi nomor itu kembali, dia mencoba menelponnya tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali, padahal Malara sudah menghubunginya berkali-kali hingga dia merasa sangat kesal.
Malara pun memutuskan untuk pergi ke kampus karena waktunya sudah tidak banyak lagi.
Sedangkan di tempat lain tuan Kaiden yang baru saja selesai rafat, dia baru saja memegangi ponselnya, tapi sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal, keningnya mulai mengkerut menandakan mood tuan Kaiden yang tidak baik saat itu.
"Siapa ini, beraninya menghubungiku sebanyak ini, apa dia tidak tahu kalo saya sangat sibuk." gerutu tuan Kaiden nampak sangat kesal.
Baginya hal seperti itu adalah tindakan tidak sopan, sebab jika dia tidak menjawab panggilan tiga kali maka itu sudah mengartikan bahwa dirinya tengah sibuk atau tidak ingin mengangkat panggilan tersebut, tapi saat ini untuk pertama kalinya tuan Kaiden mendapatkan spam telpon dari orang yang tidak dia kenal bahkan nomornya saja tidak dia kenali, hingga tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Siapa kau, apa kau mengenaliku dan keluargaku?" isi pesan yang dibaca oleh tuan Kaiden saat itu.
"Aishh... Siapa orang gila ini, pasti salah sambung. Merepotkan saja!" Tambah tuan Kaiden dengan kesal.
Ia pun memblokir nomor tersebut agar dia tidak bisa mendapatkan gangguan apapun lagi darinya, kembali fokus bekerja dan melanjutkan pekerjaan dia selanjutnya.
Malara menyadari bahwa nomornya sudah tidak bisa dia hubungi, dan dia tahu jika kemungkinan dia di blokir oleh orang tersebut, karena kesal dan tidak terima mendapatkan hal seperti itu, dia pun kembali menghubungi nomor tuan Kaiden menggunakan nomor baru yang dia miliki, kali ini Malara tidak menelpon tetapi dia mengirimkan sebuah pesan panjang dengan niatan agar orang tersebut membacanya dengan baik, semua itu dia lakukan sebab Malara takut nomor baru ini akan kembali di blokir orang tersebut dan dia akan semakin sulit untuk menghubunginya.
"Semoga saja manusia aneh ini tidak memblokir nomorku lagi." harap Malara saat itu.
Sorenya tuan Kaiden baru memeriksa pesan tersebut, dia tercengang saat tahu jika orang yang sebelumnya meneror dirinya dengan banyak panggilan telepon ternyata Mash berani kembali menghubungi dia dengan nomor baru lagi.
__ADS_1
"Saya Malara, orang yang anda hubungi sebelumnya, saya tidak ada niatan jahat apapun, hanya ingin bertemu dengan anda untuk menanyakan mengenai ayah saya. Sepertinya anda tahu apa yang dilakukan ayah saya selama ini. Dan sebelumnya terimakasih sudah mau memberitahu saya tentang kelakuan ayah saya di Restoran kemarin." Isi pesan dari Malara yang membuat tuan Kaiden semakin kebingungan di buatnya.
"Aishh... Apa lagi ini? Kapan aku menghubungi orang ini dan apa yang dia bicarakan, kenal saja aku tidak, sudah pasti orang ini salah sambung." ujar tuan Kaiden yang masih tidak mengerti.
Namun kali ini tuan Kaiden membalas pesannya sebab dia tidak ingin di ganggu lagi.
"Hei siapapun kau, jangan menggangguku lagi, aku tidak pernah menghubungiku dan tidak mengenali nomormu sama sekali, jadi periksa kembali nomor yang hendak kau hubungi, jangan mengganggu orang lain dengan kelakuan konyolmu!" tegas tuan Kaiden pada pesan tersebut.
Malara langsung menelponnya dia ingin menjelaskan secara langsung bahwa dia memang tidak salah sambung, tuan Kaiden mengangkatnya karena dia sangat geram dan berniat untuk mengancam serta memberikan pelajaran kepada seseorang yang dia anggap sebagai pengganggu tersebut. Sampai akhirnya Malara menegaskan kepada tuan Kaiden bahwa tuan Kaiden sendiri yang menghubungi dia lebih dulu, bahkan Malara sampai mengirimkan bukti chating dirinya sebelumnya, dimana pada bukti tersebut memang tuan nomor tuan Kaiden yang mengirimkan sebuah pesan pada nomor Malara bahkan sampai mengirimkan beberapa foto.
"Foto ini? Aahhh aku mengerti sekarang." ucap tuan Kaiden yang mulai menyadari sesuatu.
Ia menyetujui ajakan dari Malara untuk bertemu sebab dia juga ingin menyelidikinya secara langsung apa hubungan gadis tersebut dengan pria yang ada di foto juga dengan istrinya Olivia.
Tuan Kaiden sekarang tahu bahwa kemungkinan besar semua ini dilakukan oleh istri kecilnya, sebab foto yang diberikan oleh Malara benar-benar menjadi bukti kuat baginya, apalagi tuan Kaiden ingat betul bahwa hanya Olivia saja yang meminjam ponselnya saat itu. Lagi pula selama ini tidak ada yang pernah memegangi ponselnya apalagi berani menggunakan ponselnya selain Olivia. Tuan Kaiden selalu menjaga privasi dalam ponselnya dan tidak pernah menaruh ponsel miliknya di sembarang tempat, selalu dia bawa ke manapun karena takut seseorang akan berbuat yang tidak-tidak atau menyadap semua chat di ponselnya.
Untuk memastikan semua itu tuan Kaiden segera bertanya pada Olivia ketika dia sampai di rumah malamnya.
Saat menikmati makan malam bersama, tuan Kaiden mulai membuka percakapan kepada Olivia dengan menanyakan sesuatu untuk mengakui kebenaran yang terjadi, sekaligus dia ingin menguji kejujurannya.
"Ekmm... Hei bocah ada yang ingin ku tanyakan padamu, jadi jawab dengan jujur."
"Ehh tumben sekali, ada apa tuan?" balas Olivia merasa sangat penasaran bahkan sampai menatap serius pada tuan Kaiden.
"Apa kemarin kau menghubungi seseorang dengan ponselku?" tanyanya tanpa basa basi lagi.
Mendengar hal itu wajah Olivia langsung berubah drastis, dia nampak sangat terkejut dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar, tapi gadis kecil itu masih sempat menahan rasa kagetnya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang dia rasakan kala itu.
"A...A...ahaha tidak ada, lagi pula memangnya siapa yang mau aku hubungi, kau sendiri kan tahu aku sudah tidak punya siapapun lagi di dunia ini." balas Olivia menjawabnya dengan sedikit kebohongan.
Tangan Olivia sedikit gemetar karena rasa cemas yang berusaha dia sembunyikan, kembali berpura-pura mengunyah makanannya dan berusaha menghindari tatapan dari tuan Kaiden, walau hatinya terus bergemuruh namun dia tetap tersenyum kecil di depan tuan Kaiden.
"Ya ampun, kenapa dia bisa tahu, aaaahhh bagaimana jika dia mengetahui apa yang aku lakukan, aduhh apa dia akan marah denganku?" batin Olivia dengan semua kecemasan yang dia rasakan saat itu.
Setelah beberapa saat tuan Kaiden memperhatikan reaksi yang diberikan Olivia, dia pun menghembuskan nafas lesu sambil melanjutkan makannya, itu membuat Olivia jauh lebih tenang, setidaknya saat ini Olivia pikir dia aman dari kecurigaan tuan Kaiden.
"Tuan memangnya ada apa? Kenapa kau menanyakan hal seperti itu padaku?" tanya Olivia berusaha mencari tahu apakah tuan Kaiden mengetahui perbuatan dia atau tidak.
"Tidak ada apapun, aku hanya bertanya saja karena sepertinya ada yang salah dengan ponselku, takutnya kau salah menekan tombol, ini kan ponsel mahal." balas tuan Kaiden sengaja menyembunyikan hal yang sebenarnya.
Dia tahu dari reaksi yang diberikan oleh Olivia, bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh istri kecilnya itu. Namun untuk saat ini tuan Kaiden sendiri belum bisa menanyakan semuanya dengan jelas sebab dia tahu bahwa Olivia pasti akan menyembunyikan hal itu dan tidak akan berkata jujur dengannya, oleh karena itu tuan Kaiden memilih untuk mencaritahu semuanya sendiri sekaligus mencari bukti yang akurat agar Olivia tidak bisa membohonginya lagi ataupun membuat alasan tidak jelas lainnya.
"Kita lihat sampai kapan dia berani membohongiku, dasar bocah ini." Batin tuan Kaiden saat itu.
__ADS_1
Dengan wajah polos yang sama sekali tidak tahu apapun hanya memiliki rasa cemas dan kebingungan sendiri, Olivia hanya tersenyum memandangi tuan Kaiden untuk beberapa saat sambil terus mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya hingga kedua pipinya kembung dan berbentuk bulat berisi.