Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Dinner


__ADS_3

"Astaga ternyata ada juga orang yang tidak sadar dengan kelakuannya sendiri, benar-benar tidak habis pikir." batin sekretaris Dep saat itu.


Selang beberapa menit, akhirnya mereka tiba di kediaman mewah tuan Kaiden, dengan wajah yang nampak gugup tuan Kaiden menghampiri sekretaris Dep dan menanyakan mengenai penampilan dia saat itu.


"Dep bagaimana, apa rambut dan pakaianku sudah rapih, tidak ada yang kurang lagi kan?" tanya tuan Kaiden saat itu.


"Sudah bagus tuan, ayo cepat anda masuk saja dan langsung cari nona Olivia lalu berikan kado itu untuknya, jangan lupa tersenyum padanya dan bicara lemah lembut, ajak dia makan di luar ingat itu tuan." ucap sekretaris Dep mengingatkannya.


Tuan Kaiden mengangguk mengerti sambil mulai menenangkan dirinya dengan menarik nafas pelan lalu membuangnya sekaligus. Dia segera masuk ke dalam rumah dan pergi mencari keberadaan Olivia, kebetulan saat itu Olivia tengah menonton tv di ruang tengah seorang diri jadi tuan Kaiden pikir ini adalah waktu yang tepat bagi dia mendekatinya dan mengutarakan niatnya memberi kejutan.


Pertama tuan Kaiden duduk di samping Olivia sambil berbasa basi menanyakan apa yang tengah dia lakukan saat itu, padahal sudah jelas Olivia tengah menonton televisi.


"Ekm... Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya tuan Kaiden membuat Olivia yang tadinya cuek dan tidak memperdulikan keberadaannya kini langsung menoleh ke arahnya dengan wajah penuh keheranan.


"Tuan ada apa denganmu, tiba-tiba duduk disini dan bertanya begitu, apa kau tidak lihat aku sedang apa, malah bertanya lagi." jawabnya sangat jutek.


"Hei aku kan hanya bertanya kau tinggal jawab saja malah emosi begitu."


"Apa yang mau dijawab dasar konyol, menyebalkan!" bentak Olivia sambil segera bangkit dan hendak pergi dari sana.


Tapi dengan cepat tuan Kaiden menahan tangannya lalu menyuruh Olivia untuk tidak pergi, dia berdiri di hadapan Olivia menghalangi jalannya. "Eh... Kau mau kemana, jangan pergi dulu. Ada sesuatu yang mau aku berikan padamu,"


"Hah? Apa?" tanya Olivia mulai penasaran.


Dengan wajah yang menampakkan senyum sesuai dengan yang di sebutkan oleh sekretaris Dep, tuan Kaiden mulai mengeluarkan sebuah kota persegi panjang dari dalam saku jasnya lalu dia memberikan hadiah itu kepada Olivia secara langsung.


"Tada.... Ini dia, aku sengaja memberikan kado ini untukmu, ayo buka." ucapnya nampak begitu antusias memberikan kado tersebut.


Olivia kaget bukan main dia tidak menduga jika seseorang seperti tuan Kaiden bisa memberikan dia kejutan seperti ini.


"Waahhh... Kado? Tapi kan aku tidak ulangtahun hari ini?" ucap Olivia sambil menerima kadonya tersebut.


"Ini memang bukan kado ulangtahun, tapi ini hadiah dariku untukmu karena kau sudah membantuku dan menjadi istri yang baik bagiku, Terimakasih Olivia." ujar tuan Kaiden membuat Olivia sedikit terharu.


Gadis kecil itu sangat senang dan dia segera membuka kotak tersebut, betapa kagetnya Olivia ketika mengetahui bahwa isi dari kotak persegi panjang yang di berikan oleh tuan Kaiden ternyata sebuah kalung berlian yang teramat cantik dan mengkilap, sebelumnya Olivia bahkan tidak pernah mengenakan perhiasan apapun di tubuhnya.


"Ya ampun, kalung, tuan apa ini tidak salah? Ini kan kalung berlian yang muncul di iklan televisi, harganya sangat mahal sekali, kenapa kau bisa mendapatkannya, ini asli?" tanya Olivia masih merasa tidak percaya dengan semua itu.


"Aishh kau ini, tentu saja itu asli, mana mungkin seorang bos muda dan tampan sepertiku membeli barang palsu, bagaimana apa kau suka?" balas tuan Kaiden sedikit kesal tapi dia masih berusaha menahannya agar Olivia tidak kembali merajuk padanya.

__ADS_1


Saat tuan Kaiden bertanya begitu, raut wajah Olivia langsung berubah, yang tadinya sangat gembira dan begitu antusias, kini malah terlihat sendu, dia lalu memberikan kembali kalung itu pada tuan Kaiden sebab merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mengenakan kalung semahal itu di tubuhnya. "Emmm tuan maaf aku bukannya tidak menghargai pemberianmu, tapi kalung ini terlalu berharga jika di pakai oleh perempuan tanpa asal usul jelas dan tidak memiliki apapun sepertiku. Jadi ini aku kembalikan saja padamu." balas Olivia nampak berkecil hati.


Tuan Kaiden mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu, lalu dia mengambil kalung itu dan memakaikan pada leher Olivia tanpa banyak bicara lagi sampai membuat gadis kecil itu terheran-heran dibuatnya.


"Ehh..tuan, tuan hentikan kenapa kau malah mengenakannya padaku?" tanya Olivia berusaha menahannya.


"Sudah diam kau! Kalung ini aku yang belikan untukmu, kau istriku mulai saat ini jadi apapun yang kau kenakan semuanya pantas untukmu, entah itu barang mahal ataupun yang murah, termasuk barang yang aku berikan untukmu, apa kau mengerti bocah?" ujar tuan Kaiden dengan wajah yang tegas.


Olivia merasa senang dia mengangguk pelan sambil terus memegangi liontin kupu-kupu yang cantik di dadanya saat itu, tuan Kaiden turut merasa senang karena rencananya berhasil dengan mulus walau sebelumnya sempat terjadi sedikit cekcok diantara mereka berdua, namun itu masih bisa dia kendalikan sampai Olivia mau menerima kalung pemberian darinya.


Setelah itu tuan Kaiden melanjutkan tujuan selanjutnya, mengajak Olivia untuk pergi makan malam di luar, sementara sekretaris Dep sudah menunggu mereka di depan mobil untuk mengantarkan pasangan suami istri yang konyol itu pergi dinner malam ini. Untungnya Olivia tidak menolak ajakan tuan Kaiden jadi tidak perlu waktu lama untuk mereka pergi ke tempat yang sudah di siapkan secara khusus oleh sekretaris Dep beserta anak buah dia sebelumnya.


Di salah satu tempat makan romantis yang begitu mewah, sekretaris Dep sudah menyiapkan satu tempat di samping kolam renang yang begitu indah, dengan meja makan bulat serta taplak berwarna merah, di lengkapi kursi berwarna merah juga lilin putih di tengah-tengah mejanya. Tidak hanya itu, kolam renang di samping meja makan tersebut sudah di penuhi dengan bunga mawar merah yang sengaja di tata mengambang sampai membentuk love yang begitu indah, ada pulan balon berwarna putih dan merah yang menghiasi pinggiran kolamnya, menambah keindahan yang ada disana, suasana romantis juga sudah tercium sejak Olivia pertama kali melangkahkan kaki masuk ke tempat tersebut dengan matanya yang di tutup oleh tangan tuan Kaiden.


"Tuan apa kita sudah sampai kenapa suasananya terasa sangat sepi?" tanya Olivia saat itu.


"Sebentar lagi, ayo jalan ke depan dua langkah." balas tuan Kaiden membimbingnya berjalan ke dekat meja makan.


Gambaran kecil meja dinner mereka.



Untuk beberapa detik Olivia mulai mengerjapkan matanya pelan, hingga pandangannya mulai jelas, dia langsung terbelalak lebar sambil menutup mulut dengan kedua tangannya kuat, Olivia cukup kaget dan terharu melihat kejutan seindah ini yang dia dapatkan dari tuan Kaiden.


Karena hal seperti ini tentu saja belum pernah dia dapatkan dari siapapun, matanya mulai berkaca-kaca dan melirik tuan Kaiden dengan pelan. "Tuann." ucap Olivia sedikit lirih.


Tuan Kaiden yang melihat itu dia langsung merasa heran serta kebingungan karena Olivia terlihat hampir menangis.


"Eh eh eh, kenapa denganmu, jangan menangis aku kan memberikan kejutan ini agar kau senang, kenapa kau malah menangis? Apa semua ini jelek?" tanya tuan Kaiden yang langsung di balas gelengan kepala olehnya.


Kini Olivia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, dia langsung menangis tersedu-sedu tanpa bisa bicara apapun, membuat tuan Kaiden cemas dan panik, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan apa yang sebenarnya terjadi kepada Olivia.


"Hei hei kenapa denganmu, berhentilah jangan menangis seperti ini, apa aku membuat kesalahan? Apa kau sakit? Kenapa kau menangis?" tanya tuan Kaiden sambil terus memegangi kedua pundak Olivia dan menatapnya dengan lekat.


Olivia belum bisa bicara saat itu jadi dia hanya mampu menggelengkan kepala saja, sampai tidak lama akhirnya Olivia dapat bicara juga dan mengutarakan alasan menangisnya. "Tuan, aku baik-baik saja, aku hanya terharu sekali, kamu mempersiapkan semua ini untukku begitu baik dan tempatnya sangat mewah, heuheuuu ini pertama kalinya aku mendapatkan kejutan seperti ini." balas Olivia yang membuat tuan Kaiden harus menahan tawa saat itu.


Padahal sebelumnya tuan Kaiden sangat panik, dia takut dirinya membuat kesalahan lagi dan takut membuat Olivia merajuk lebih besar lagi, namun saat tau ternyata alasannya hanya karena terharu, dia pun tidak bisa menahan tawa dalam dirinya, apalagi melihat ekspresi Olivia yang menangis seperti anak kecil di hadapannya, dia pun langsung memeluk Olivia dengan erat sambil terus mengusap rambut dan punggungnya lembut.


"Ya ampun sudah sudah jangan menangis lagi, nanti aku akan memberikan banyak kejutan untukmu agar kau terbiasa dengan semua ini, sudah yaaaa ayo duduk dan minum dulu." balas tuan Kaiden berusaha menenangkannya dan mempersilahkan istri kecilnya itu untuk duduk.

__ADS_1


Memberikan tisyu kepadanya dan pelayan pun tiba menyajikan makanan, mereka menikmati makan malam romantis itu dengan lancar sesuai rencana, Olivia terus tersenyum senang begitu juga dengan tuan Kaiden sedangkan sekretaris Dep hanya mengeluh dengan rasa sedih di pojokan ruangan itu, dia benar-benar merasa sedih karena kisah cintanya tidak bisa seindah kisah bosnya tersebut, padahal dirinya sendiri yang merencanakan semua ini tapi rencananya tidak pernah berhasil untuk dirinya sendiri.


"Huhu.... Menyedihkan sekali, bagaimana bisa mereka romantis begitu di hadapan jomblo akut sepertiku ini, menyedihkan." gerutu sekretaris Dep yang terus mengeluh sendiri.


Semuanya benar-benar berjalan lancar, hubungan tuan Kaiden dan Olivia jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, setelah menikmati makan malam mewah itu, mereka segera pulang ke rumah sedangkan sekretaris Dep hanya bisa cemberut selama di perjalanan pulang, membuat tuan Kaiden merasa heran dengannya.


"Hei Dep, ada apa denganmu, kenapa kau terlihat tidak senang begitu?" tanya tuan Kaiden padanya.


"Hadeuhh tuan bagaimana bisa kau bertanya begitu padaku, sudah jelas aku sangat menyedihkan karena belum menemukan seseorang yang tepat untukku, mana usiaku sudah hampir 28 tahun lagi, wanita mana yang mau denganku jika aku sudah setua ini, huhu menyebalkan." keluh sekretaris Dep menjawab pertanyaan dari tuan Kaiden.


Cara sekretaris Dep berbicara sungguh sangat lucu sampai membuat Olivia dan tuan Kaiden tertawa begitu puas, mereka cukup kompak saat menertawakan sekretaris Dep dengan ke lajangannya. "Ahaha... Dep Dep, yang sabar saja, nanti juga kau akan bertemu dengan wanita pujaan hatimu, itupun jika wanitanya mau denganmu haha." balas tuan Kaiden malah meledekinya.


"Hadeuhh.... Terserahlah aku mungkin belum ditakdirkan untuk bertemu jodohku, aku bisa apa." balas sekretaris Dep yang nampak pasrah.


"Sekretaris Dep, kenapa kau harus sedih lagi pula hubunganku dengan tuan Kaiden juga sekedar kerjasama saja, jadi kalian tidak ada bedanya jika di pikirkan lagi, iya kan?" Tambah Olivia begitu saja.


Jawabnya membuat sekretaris Dep merasa ada yang membela dan terus menahan tawa karena melihat tuan Kaiden yang menatap tajam ke arah Olivia, serta wajahnya yang mulai berubah masam saat itu, Tentu saja tuan Kaiden kesal walau apa yang dikatakan oleh Olivia memang benar, tapi entah kenapa dia merasa sangat kesal dan begitu tidak senang saat mendengar kenyataan tersebut.


"Cih, kau tidak perlu mengingatkan tentang itu." balas tuan Kaiden cukup sinis.


Olivia sama sekali tidak perduli, dia benar-benar sangat polos dan terus asik memegangi kalung pemberian dari tuan Kaiden sebelumnya, tidak dapat dia pungkiri bahwa kalung itu sangatlah cantik, Olivia sangat menyukai hadiah yang diberikan tuan Kaiden ini, bahkan sampai tiba di rumah pun Olivia terus merasa senang, dia langsung memamerkan kalung itu pada bibi Jil, sementara tuan Kaiden pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena sudah sangat lelah mempersiapkan semua hal demi membujuk Olivia dan berbaikan dengan gadis kecilnya tersebut.


"Bi... Lihatlah ini sangat cantik bukan? Tuan Kaiden yang memberikannya padaku, dia bilang kalung ini hanya ada satu, aku senang sekali bi." ujar Olivia begitu antusias.


"Wahh... Kalungnya benar-benar bagus, bukankah itu kalung yang selalu muncul di iklan televisi? Nona selalu menginginkannya bukan? Sekarang malah tuan besar yang memberinya, nona benar-benar beruntung." balas bibi Jil yang turut senang mendengarnya.


Olivia terus mengangguk dia juga menceritakan bagaimana dirinya di berikan kejutan lain saat makan malam bersama tuan Kaiden di tepi kolam, bibi Jil terus mendengarkan semua hal yang diceritakan oleh Olivia dengan penuh semangat, sampai tiba-tiba saja bibi Jil bertanya sesuatu yang membuat Olivia kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.


"Nona, kelihatannya nona sangat senang, apa nona sudah menyukai tuan Kaiden?" tanya nya membuat gadis kecil itu seketika terdiam.


"A...A..ahh haha tidak tidak, mana mungkin aku menyukainya, bibi ini ada ada saja, aku hanya senang karena sebelumnya tidak pernah ada siapapun yang memberikan aku kejutan sehebat itu." balas Olivia kepadanya.


Bibi Jil nampaknya sedikit kecewa ketika mendengar jawaban itu dari Olivia, karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam bibi Jil tentu saja berharap banyak jika Olivia dan tuan Kaiden bisa benar-benar bersama dan saling mencintai layaknya suami istri pada umumnya.


"Heummm... Bibi pikir nona Olivia sudah menyukainya, sayang sekali." balas bibi Jil menunjukkan sedikit kekecewaannya.


Tuan Kaiden Kandensus


__ADS_1


__ADS_2