
Sesampainya di rumah, tuan Kaiden semakin sibuk dia bahkan mengabaikan Olivia yang hendak turun dari mobil dengan kakinya yang masih sakit, meninggalkan gadis itu begitu saja. "Ehh....tuan.... Tuan, aishh dasar manusia menyebalkan, tega sekali dia meninggalkan aku begini, aahh mana kakiku masih sakit lagi." gerutu Olivia sambil terus saja berusaha turun sendiri tanpa bantuan siapapun saat itu.
Untungnya bibi Jil datang tepat waktu dan segera membantu Olivia untuk turun membawa koper yang cukup besar, tidak hanya itu bibi Jil juga membantu Olivia mengobati lukanya dengan telaten dan sangat hati-hati. "Aaaww...." ringis Olivia memegangi sikutnya.
"Tahan sedikit ya, bibi tau ini pasti sangat perih, lagian nona kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya bibi Jil penasaran.
"Tadi aku jatuh saat pergi ke makam kakak, tapi aku baik-baik saja kok bi, hanya luka kecil yang aku dapatkan, tidak terlalu sakit juga." balas Olivia yang tidak ingin membuat cemas orang lain.
"Tetap saja nona, lihat ini banyak sekali lukanya, semoga saja tidak ada yang meninggalkan bekas di tubuh nona."
"Tidak akan bi, tenang saja lagian kan bibi yang bantu aku mengobatinya jadi pasti akan cepat sembuh tanpa meninggalkan bekas luka." balas Olivia membuat bibi Jil tersenyum lebar.
"Ahh nona ini bisa saja." balas bibi Jil tersanjung.
Saat bibi Jil baru saja selesai mengobati luka di kaki Olivia, tuan Kaiden turun dari tangga dengan terburu-buru dan dia menyuruh bibi Jil untuk menemani Olivia di rumah hingga dia kembali dari urusannya. "Bi jaga anak itu jangan sampai dia keluar dari rumah dan melakukan hal aneh lainnya sampai aku kembali ke rumah." perintah tuan Kaiden yang langsung dianggukkan oleh bibi Jil.
Meski saat itu bibi Jil dan Olivia menatap kebingungan tapi tuan Kaiden sama sekali tidak mengatakan alasan pasti mengapa dia menyuruh bibi Jil menjaga Olivia, gadis itu langsung mengejar tuan Kaiden dan menarik tangannya untuk menanyakan hal tersebut.
"Tuan tunggu,"
"Ada apa?" tanya nya dengan wajah yang nampak serius.
"Aku tidak perlu di jaga oleh bibi Jil, biarkan saja dia beristirahat dan bekerja sesuai jadwal biasanya, aku bisa menjaga diriku sendiri di sini." ujar Olivia meyakinkan tuan Kaiden.
"Tidak bisa, sudah yaa, ada urusan penting yang harus aku lakukan, intinya jika ada siapapun yang datang ke rumah ini jangan buka kan pintu apa kau mengerti?" ucap tuan Kaiden lagi sambil memegangi kedua pundak Olivia cukup kuat.
"Tapi tuan sebenarnya apa yang terjadi sedari tadi kau nampak sibuk dan kenapa kau mengatakan hal ini padaku?" tanya Olivia semakin bingung dan resah.
"Akan aku beritahu nanti, sekarang aku sudah terdesak tidak ada waktu lagi, kau turuti saja perkataan bibi Jil dia akan menjagamu dengan baik sampai aku kembali." balas tuan Kaiden lalu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan yang rinci.
Olivia tidak bisa menahannya lagi, tuan Kaiden benar-benar pergi secepat itu bersama dengan sekretaris Dep yang datang menjemputnya, dia merasa cemas karena berpikir bahwa hal yang tengah di hadapi tuan Kaiden pasti sangatlah penting dan berbahaya sampai membuat dirinya pergi tergesa-gesa seperti itu bahkan sampai menyuruhnya agar tidak keluar dari rumah dan menitipkannya pada bibi Jil seperti ini.
"Bi, sebenarnya ada apa dengan dia, apa yang sebenarnya tengah terjadi?" tanya Olivia pada bibi Jil yang saat itu berada di sampingnya.
__ADS_1
Namun bibi Jil juga tidak tahu apapun hanya bisa membalas pertanyaan Olivia dengan gelengan kepala.
...****************...
Disisi lain tuan Kaiden pergi ke tempat yang di berikan oleh sekretaris Dep, dimana itu adalah sebuah hotel mewah yang sudah dipesan oleh tuan Kandensus untuk melakukan pertemuan penting dengan dirinya juga Seno yang mengatakan bahwa Seno juga sudah memiliki pendamping hidupnya.
Tuan Kaiden kaget saat pertama kali mendengar kabar tersebut, sebab yang dia pikir selama ini Seno hanya seorang diri bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, dan jika Seno benar-benar sudah memiliki pasangan lalu berencana menikah, maka hal itu bisa menjadi ancaman baginya, dia yang belum mendapatkan seluruh harta warisannya mungkin bisa di ambil alih oleh Seno, hal tersebutlah yang membuat tuan Kaiden sangat panik, tapi di sisi lain dia juga takut jika semua ini hanyalah jebakan semata maka dari itu dia mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi ketika dia harus pergi ke tempat yang cukup jauh seperti ini.
Ya hotel tempat pertemuan dirinya dengan tuan Kandensus dan Seno berjarak cukup jauh dari rumahnya dan dari kediaman tuan Kandensus sendiri, padahal biasanya mereka melakukan pertemuan di tempat-tempat yang dekat dengan kediaman salah satunya atau bahkan di pusat kota, namun kali ini hotel yang di pilih cukup mencurigakan bagi tuan Kaiden sebab jauh dari mana-mana. Itulah kenapa tuan Kaiden pergi bersama sekretaris Dep, agar jika dia tidak kembali selama beberapa jam yang sudah di tentukan maka sekretaris Dep bisa masuk ke dalam untuk memeriksa dirinya.
Tuan Kaiden masuk ke dalam hotel yang nampak terlihat sepi itu, sedangkan sekretaris Dep tinggal di dalam mobil sembari menghubungi beberapa anak buah untuk memeriksa keamanan hotel tersebut secara diam-diam, hingga dia menemukan bahwa tempat tersebut sudah di booking secara khusus oleh tuan Kandensus, sehingga orang lain yang tidak ada hubungannya dengan tuan Kandensus tidak di ijinkan masuk ke dalam sana, mereka tetap berjaga-jaga dan melihat mobil Seno baru saja tiba tepat beberapa saat setelah tuan Kaiden masuk lebih dulu.
Anehnya saat itu Seno keluar dari mobil bersama ibunya juga seorang wanita yang tidak aneh bagi sekretaris Dep, dia berusaha untuk melihat lebih jelas seorang wanita dengan pakaian seksi dan nampak sangat dekat dengan nyonya Asila tersebut, sampai ketika sekretaris Dep melihatnya menggunakan teropong, matanya langsung terbelalak lebar dan dengan cepat dia mengambil ponselnya untuk memberitahukan kabar ini pada tuan Kaiden secepatnya sebelum mereka bertemu nanti.
"Astaga.... Nona Risa, wahh ini bahaya." ucap sekretaris Dep nampak panik.
Dia mengetik sebuah pesan pendek dan mengatakan bahwa wanita yang di bawa oleh Seno dengan ibunya adalah nona Risa, teman masa kecilnya tuan Kaiden yang sejak dulu selalu mengejar-ngejar dirinya dan menyukai tuan Kaiden, bahkan selalu berusaha mendekati tuan Kaiden dengan berbagai cara. Mereka juga sempat di jodohkan namun tuan Kaiden berhasil menggagalkan perjodohan itu dengan caranya sendiri, sebab selama ini tuan Kaiden hanya menggangap Risa sebagai temannya saja, sama seperti teman lainnya yang tidak dekat dengan dirinya, namun Risa tidak pernah mundur untuk mendekati tuan Kaiden lewat tuan Kandensus karena ayahnya berteman baik dan selalu bekerjasama dalam urusan bisnis bersama ayahnya tuan Kaiden tersebut.
"Hallo Kaiden, kau pasti tidak menduga bukan jika aku yang menjadi calon istri adikmu ini," ujar Risa sambil tersenyum kecil dan duduk tepat di depan tuan Kaiden.
"Tidak juga," balas tuan Kaiden dengan santai dan menatapnya sangat dingin.
Wajah Risa sudah kesal, dia merasa kejutan besar ini sama sekali tidak membuat Kaiden berubah dengannya apalagi kaget dengan kehadiran dirinya setelah bertahun-tahun mereka berpisah. "Kaiden apa kau sama sekali tidak merindukanku? Kita ini teman dan kita juga pernah menjadi pasangan, atau setidaknya apa kau tidak kaget ketika melihat aku dengan adikmu?" bentak Risa yang tidak bisa menahan kekesalan dalam dirinya.
Dengan cepat nyonya Asila mendekati gadis itu dan menahan tangannya sambil mengelus bahu Risa untuk menangkannya. "Risa sudah, jaga emosimu jangan sampai tuan Kandensus melihat temperamen mu yang buruk ini, semuanya akan bahaya, jadilah anggun dan ingat kedatanganmu ke sini untuk menjadi pendamping putraku bukan mendekati Kaiden lagi." Tegas nyonya Asila membisikan semua itu tepat di samping telinga Risa.
Membuat Risa kesal dan dia segera menjauh dari tuan Kaiden, sedangkan Seno tetap terlihat santai bahkan wajahnya begitu datar sama sekali tidak memperlihatkan emosi apapun, hal itulah yang lebih membuat tuan Kaiden penasaran, karena biasanya Seno selalu bersekongkol dengan ibunya, mereka kerap kali memprovokasi dirinya selama ini, tapi untuk saat ini hanya Risa dan nyonya Asila saja yang bersemangat untuk menemui ayahnya, Seno duduk diam tanpa mengatakan apapun bahkan sama sekali tidak membela Risa ketika barusan bertengkar kecil dengannya.
"Kenapa dia terlihat lebih tenang dari biasanya? Apa yang sebenarnya tengah mereka rencanakan untuk menggagalkan renacanaku kali ini." batin tuan Kaiden penuh pertanyaan.
Tidak lama tuan Kandensus dengan dua bodyguard di sampingnya tiba, seperti biasa dia selalu membawa tongkat di tangannya dan berjalan pelan namun memancarkan sorot mata yang sangat tajam kepada putra tunggalnya tuan Kaiden, mereka memiliki karakter yang sama-sama keras dan tidak pernah mau kalah satu sama lain dalam hal apapun, berbeda dengan ibunya yang sangat lemah lembut dan begitu penyabar. Sayangnya tuan Kaiden malah mirip dengan ayahnya. Seperti biasa nyonya Asila yang mencari muka di depan suaminya langsung berdiri dan membantu tuan Kandensus untuk berjalan sampai ke meja dan mendorongkan kursi untuk suaminya duduk.
"Sayang silahkan duduk, kamu pasti lelah kan seharian bekerja di usiamu yang tidak lagi muda, aku akan tuangkan dulu air untukmu." ujar nyonya Asila yang selalu saja bersikap manis di depan tuan Kandensus.
__ADS_1
"Cih, aku muak melihat topengnya." Gerutu pelan tuan Kaiden sambil memalingkan muka ke samping.
Sejak dulu dia memang enggan melihat pemandangan seperti ini, yang hanya akan merusak mata dan hatinya saja, sebab dia sudah sangat tahu betapa busuknya seorang nyonya Asila, perempuan yang dulu mengaku menjadi sahabat terbaik ibunya justru malah mengambil suami sahabatnya sendiri.
Tuan Kandensus segera mengisyaratkan nyonya Asila untuk duduk dan dia mulai menatap serius pada semua orang yang berada di depan meja besar tersebut satu per satu, hingga dia tersenyum menyambut kedatangan Risa, sosok menantu idaman yang dia inginkan selama ini, namun gagal dia dapatkan karena tuan Kaiden yang merusak semua rencana dan usaha yang dia lakukan sebelumnya. "Risa, selamat datang kembali di kota ini, kau semakin cantik dan karirmu begitu menjulang tinggi." ucap tuan Kandensus melontarkan pujian terhadapnya.
"Ahh... Terimakasih banyak tuan, semua ini juga berkat dukungan bisnis dari anda terhadap ayah saya,"
"Itu tidak seberapa, kau memang cerdas dan luar biasa sejak kecil, seseorang pasti menyesal telah menolak dirimu dan membuat kau menjadi pasangan adiknya sendiri." balas tuan Kandensus seperti sengaja menyinggung tuan Kaiden.
Tuan Kaiden menaikkan ujung bibirnya dan dia nampak terpancing dengan ucapan dari ayahnya tersebut, tapi walaupun begitu dia masih bisa mengontrol dirinya dengan baik.
"Hei tuan Kandensus yang terhormat, anda tidak perlu menyinggung saya seperti pengecut, karena saya sama sekali tidak menyesali apapun yang sudah saya putuskan, termasuk mengusir lalat sepertinya dari hidupku." Balas tuan Kaiden dengan jawaban yang berhasil membuat semua orang kesal dan dongkol terhadapnya.
Bahkan tuan Kandensus sendiri langsung tersulut emosi, dia sampai mengetukkan tongkatnya dan menyuruh tuan Kaiden untuk menjaga ucapan dia terhadap dirinya.
"Jaga ucapanmu Kaiden, apa kau lupa siapa aku!" tegas tuan Kandensus saat itu.
"Bagaimana mungkin aku melupakan kau tuan, kau adalah ayahku yang tidak mengurusi ku dan malah mengambil alih harta ibuku yang seharusnya sejak awal menjadi milikku." Jawab tuan Kaiden semakin memperkeruh suasana disana.
Tuan Kandensus yang sudah diliputi emosi nampak mengeratkan giginya sangat kuat dan disaat itulah nyonya Asila kembali mengambil perannya sebagai pahlawan yang tidak berguna dan sangat menjijikkan di mata tuan Kaiden, dia memegangi pundak tuan Kandensus dan mengusapnya lembut sambil terlihat menenangkan suaminya itu, hingga tuan Kandensus nampak lebih tenang dan mengesampingkan pembicaraan tadi.
Mereka kembali fokus pada pembicaraan utama malam ini mengenai pembagian harta berikutnya, karena Seno sudah memperkenalkan calon istrinya maka tuan Kaiden memberikan alih atas perusahaan cabang yang ada di luar kota terhadapnya, sedangkan pada tuan Kaiden, dia hanya memberikan sebuah proyek yang gagal dia tangani dan memerlukan penyelesaian yang cukup rumit, bahkan tidak hanya itu, kesalahan dalam kontruksi bangunan baru yang di buat oleh Seno, itu juga diberikan kepada tuan Kaiden, seakan tuan Kaiden yang harus menanggung semua kesalahan yang mereka lakukan, tetapi dengan lapang dada tuan Kaiden menerimanya tanpa banyak protes sedikitpun, karena memang bukan itu hal utama yang ingin dia ambil dari ayahnya.
Setelah menyampaikan hal itu tuan Kandensus pergi dari sana lebih dulu di dampingi oleh Seno dan mereka terus berbincang sangat dekat layaknya seorang ayah dengan putra laki-lakinya yang tengah membicarakan bisnis, seperti orang kebanyakan, tuan Kaiden hanya bisa menatap punggung mereka berdua sambil menahan rasa benci dalam hatinya, sedangkan nyonya Asila mulai mendekatinya dan mulai memprovokasi seorang tuan Kaiden.
"Lihatlah dengan matamu yang jeli itu, Seno lebih disenangi oleh ayah kandungmu sendiri, dan mereka memanglah lebih cocok berada di sana, bukan dirimu yang selalu membangkang dan keras kepala, siapa yang akan menyukai pria sepertimu, bahkan istrimu sendiri aku rasa dia juga hanya bisa kau jebak! Cih, manusia menyedihkan." ucap nyonya Asila dengan mulut pisaunya itu.
"Setidaknya aku tidak menggunakan cara kotor seperti anda untuk mendapatkan ayah saya nyonya!" balas tuan Kaiden kembali membalikkan ucapan nyonya Asila.
Kemudian dia langsung pergi meninggalkan nyonya Asila yang nampak terbakar api emosi dari dirinya sendiri dan atas perbuatan yang dia lakukan lebih dulu.
"Dia pikir aku orang yang mudah diprovokasi seperti ayah? Kau salah nyonya Asila kita lihat saja nanti." Batin tuan Kaiden segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dengan cepat dari sana.
__ADS_1