
Saat mereka berdua asik berfoto dengan berbagai macam gaya yang aneh dan lucu, tiba-tiba saja sebuah keributan terjadi tepat di belakang mereka, yang tidak lain adalah om Burhan yang diamuk oleh istrinya sendiri, Olivia senang rencananya berjalan lancar.
"Plak" tamparan keras mengenai pipi om Burhan hingga meninggalkan bekas merah yang nyata.
"Hei apa-apaan kau ini, tiba-tiba menampar suamimu di depan umum seperti ini, apa kau sudah bosan menjadi istriku?" bentak om Burhan yang langsung bangkit sambil memegangi pipinya.
"Cih, masih saja kau berani membentakku, hah? Padahal jelas-jelas kau yang salah, sedang apa kau berada disini, padahal kau bilang padaku dan Malara bahwa kau pergi ke luar kota untuk bisnis, ini yang kau maksud bisnis hah?" tambah tante Oki dengan matanya yang terbelah lebar.
Keributan diantara keduanya tidak dapat ditahan lagi, meski om Burhan meminta maaf dan terus berusaha menjelaskan serta membela dirinya, tetap saja itu tidak diterima dengan mudah oleh istrinya, bahkan Malara sendiri membentak ayahnya dan merasa kecewa atas tingkah ayahnya yang tidak pernah dia duga.
"Ayah aku kecewa denganmu, aku pikir semua ini hanya perbuatan orang iseng, ternyata kau benar-benar bermain gila dibelakang aku dan ibu." Ucap Malara penuh rasa kecewa.
Dia langsung membawa ibunya pergi dan menghempaskan tangan om Burhan yang masih sempat menahan istrinya, sedangkan kedua wanita simpanannya tadi sudah kabur sejak awal tante Oki tiba dan menampar om Burhan, seakan mereka sudah tahu bahwa mereka dalam bahaya.
Olivia tidak bisa menahan rasa senang dalam hatinya, walau sedikit bibirnya tetap saja menampakkan senyum kecil saat itu, sehingga membuat tuan Kaiden merasa curiga padanya. "Hei bocah, apa yang kau tertawakan, apa kau menertawakan dua orang yang bertengkar barusan?" tanya tuan Kaiden sambil terus menatap penuh kecurigaan pada Olivia.
Dengan cepat Olivia membenarkan posisi duduknya, dia juga berusaha untuk tetap tenang sekaligus bersembunyi di balik tubuh tuan Kaiden saat tidak sengaja om Burhan menoleh ke arahnya, dia tidak ingin jika sampai om Burhan mengetahui keberadaan dia di tempat itu.
"Astaga... semoga saja pria tua bangka itu tidak melihatku." batin Olivia merasa cemas.
"Hei ada apa denganmu, duduk yang benar!" ucap tuan Kaiden sembari berusaha menjauhkan Olivia yang terus saja duduk mendesak dirinya, padahal kursi disana masih cukup leluasa untuk dia duduki.
"Tuan aku mohon kali ini saja, kau diam dan bantu aku, oke." ucap Olivia meminta kerjasama.
Tuan Kaiden tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Olivia, hanya saja dia mencoba untuk mencari tahu apa yang ditakuti oleh istri kecilnya itu, sampai harus bersembunyi di balik tubuhnya. Tuan Kaiden mengikuti arah pandangan Olivia yang saat itu masih saja memperhatikan om Burhan yang segera keluar dari restoran tersebut mengejar istri dan anaknya yang tengah marah, sejak itu tuan Kaiden pun tahu apa yang tengah dihindari oleh gadis kecilnya tersebut.
Tuan Kaiden memegangi kedua pundak Olivia dan menatapnya sangat serius. "Olivia katakan yang sebenarnya padaku, apa kau mengenali pria tua tadi?" tanya tuan Kaiden langsung pada intinya.
Olivia kaget bukan main, dia tidak menyangka jika tuan Kaiden bisa menebak semua itu, dia sangat gugup dan segera menjauh dari tuan Kaiden sambil melepaskan kedua tangan tuan Kaiden yang menahan tubuhnya.
"Haha... Tuan kau ini bicara apa sih, siapa yang kau maksud? Pria tua yang mana?" balas Olivia berpura-pura tidak mengerti.
"Jangan membohongi ku gadis kecil, aku tahu sedari tadi kau terus memperhatikan pria tua yang baru saja membuat keributan disini,"
"Ah.... Yang itu, tadikan memang semua orang memperhatikan dia, lagipula siapa yang tidak penasaran jika melihat hal seperti tadi di depan mata secara langsung, iya kan? Aku hanya penasaran saja kok." balas Olivia membohonginya dan terus saja memasang wajah tersenyum menutupi kegugupannya.
Meski sudah dijelaskan oleh Olivia, tuan Kaiden terus saja menatap tajam ke arah Olivia tanpa henti bahkan dia terus mendekatkan wajahnya pada gadis tersebut, seakan, masih tidak mempercayai semua yang keluar dari mulut Olivia.
"Tu tu tuan kau kenapa menatapku begitu? Apa kau tidak percaya denganku?" tanya Olivia menaikkan kedua alisnya.
"Apa kau bisa dipercaya?"
"Cih, kapan aku pernah berbohong denganmu, ya sudah kalau kau tidak percaya aku juga tidak perduli." balas Olivia yang sudah kesal menghadapinya.
Walau tuan Kaiden masih menyimpan kecurigaan, tapi karena dia tidak mau melihat gadis kecil itu kesal, dia pun memilih untuk mengalah dengannya dan mengatakan bahwa dia mempercayai gadis kecil tersebut. "Huuh... Baiklah baiklah aku percaya padamu, cepat habiskan makanannya, waktuku tidak banyak." balas tuan Kaiden yang langsung dianggukkan oleh Olivia.
Olivia melanjutkan makannya dengan lahap, setidaknya kini dia tidak merasa cemas lagi, sebab merasa dirinya telah aman dari kecurigaan tuan Kaiden, hingga beberapa saat berlalu dan mereka hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggil Olivia dari belakang.
"Olivia." Teriakkan Malara yang membuat Olivia menoleh segera.
__ADS_1
"Malara?" ucap Olivia dengan wajahnya yang kaget.
Dia tidak ingin menemui Malara saat ini, sehingga saat tau bahwa orang yang memanggil namanya adalah Malara, dengan cepat Olivia menarik tangan tuan Kaiden dan membawanya masuk ke dalam mobil dengan paksa. Bahkan Olivia terus mendesak tuan Kaiden agar segera melajukan mobilnya.
"Hei...hei...kenapa kau mendorongku masuk, apa kau sudah berani berbuat kasar padaku?" bentak tuan Kaiden.
"Tuan tolong jangan marah dulu, cepat lajukan mobilnya, seseorang mengejar ku ayo cepat!" desak Olivia saat itu.
Wajahnya terlihat panik dan dia terus saja menatap ke belakang karena takut Malara akan mengetahui bahwa dirinya pergi dengan seorang pria yang usianya jauh lebih tua dari dirinya sendiri, Olivia hanya belum siap jika Malara mengetahui kebenaran tentang dirinya yang sekarang.
Sedangkan tuan Kaiden hanya menatap heran dan dia melajukan mobilnya dengan segera, sampai di perjalanan barulah tuan Kaiden mulai bertanya.
"Huh.... akhirnya aku selamat, bisa gawat kalau dia bertemu aku tadi, aahhh." gerutu Olivia merasa lega.
Tanpa dia sadari seseorang di sampingnya tengah menatap dia penuh kekesalan dan banyak kecurigaan yang disimpan oleh tuan Kaiden saat itu. Hingga saat Olivia menoleh ke samping secara tidak sengaja dia langsung melihat wajah tuan Kaiden yang datar dan cukup menyeramkan.
"ASTAGA, wahhh...tu..tuan ada apa denganmu, wajahmu itu ya ampun bikin kaget orang saja."
"Siapa yang kau hindari?" tanya tuan Kaiden sangat serius.
Bahkan dia sengaja menghentikan mobilnya di tepi jalan begitu saja, hanya demi bertanya pada Olivia.
"Ayo cepat jawab! Kenapa kau diam saja, apa kau mau berbohong denganku?" tambah tuan Kaiden semakin mendesaknya.
"Bukan begitu tuan, tadi itu sahabatku dia Malara, seseorang yang pernah membuang ku dulu, sampai akhirnya aku ditemukan olehmu," balas Olivia mengatakan yang sebenarnya.
"Lalu apa?" balas Olivia dengan polosnya.
"Lalu kenapa kau menghindar darinya? Bukankah kau juga ingin bertemunya dengannya, saat itu kau mau menemui sahabatmu kan, selalu saja memintaku membantumu mencarinya, sekarang sudah ada di depan mata kenapa kau malah kabur?" jelas tuan Kaiden semakin heran dan penasaran.
Saat diberikan pertanyaan seperti itu, Olivia hanya bisa tertunduk diam dan menghembuskan nafasnya dengan lesu, dia sendiri belum tahu pasti mengapa dia harus menghindari Olivia, padahal apa yang dikatakan oleh tuan Kaiden memang benar, sebelumnya dia juga pernah berusaha kabur dari tuan Kaiden untuk mencari keberadaan sahabatnya itu, bahkan dia rela luntang lantung di jalanan seorang diri, sampai akhirnya bertemu dengan Malara dan dia kembali dikecewakan.
Masih untung tuan Kaiden mencarinya dan dia bisa kembali hidup dengan layak, tapi sekarang bagi Olivia rasanya berat sekali untuk menemui Malara, apalagi dia sudah membuat keluarga sahabatnya berantakan, sebab dia yang memberitahukan kelakuan om Burhan saat di restoran tadi. Olivia terus saja terdiam memikirkan banyak hal yang sangat rumit di kepalanya, membuat tuan Kaiden sangat geram dan sudah tidak sabar lagi untuk meminta jawaban darinya.
"Hei aku meminta kau menjelaskan, kenapa malah murung begitu? Ayo katakan jangan memendamnya sendiri, nanti kau akan gila, aku tidak mau punya istri gila." Ucap tuan Kaiden padanya.
"Tidak ada yang bisa aku katakan padamu, semuanya terlalu rumit, kau juga tidak akan mengerti posisiku." balas Olivia yang masih enggan membagi bebannya pada siapapun.
Akhirnya tuan Kaiden pun menyerah, dia berusaha untuk memahami perasaan Olivia, meskipun saat itu dia sangat penasaran dan tidak tega melihat gadis kecil di sampingnya terlihat murung dan sedih.
"Ya sudah, tidak masalah jika kau tidak mau bercerita padaku, tapi aku beritahukan padamu, jika kau mengalami masalah di masa depan, kau harus melibatkan aku di dalamnya, apa kau mengerti?" ujar tuan Kaiden yang membuat Olivia heran sampai dia menaiki sebelah alisnya.
"Ehh, kenapa pula aku harus melibatkan mu?"
"Aku ini suamimu, kau adalah tanggung jawabku, meski hubungan kita sebatas kontrak kerjasama, tapi pernikahan kita ini sah secara hukum dan agama, semuanya tidak bisa dianggap main-main, kau anak kecil mana paham soal tanggung jawab." balas tuan Kaiden menjelaskan.
"Aku tidak mau merepotkan mu, lagipula setelah kau mendapatkan semua harta warisan ibumu itu, kau juga akan membuang ku, sama seperti yang dilakukan Malara kepadaku." balas Olivia dengan menahan sendu.
Seketika itu mereka terdiam, tidak ada percakapan lagi dan tuan Kaiden hanya bisa menyalakan kembali mobilnya, dia sebenarnya sangat ingin mengatakan kepada Olivia bahwa dia tidak akan pernah meninggalkannya, tetapi untuk saat ini dia tidak bisa menjanjikan hal seperti itu kepadanya, bahkan urusan di perusahaan saja semuanya tidak bisa di pastikan akan aman atau tidak, belum lagi masalah untuk menghadapi ayahnya, tuan Kaiden sadar akan posisi dirinya yang sulit, jadi dia hanya tidak ingin memberikan janji yang dirinya sendiri tidak tahu apakah dia mampu menepatinya atau tidak.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya tidak ingin mengecewakan mu." Batinnya saat itu.
"Cih, dia benar-benar terdiam, aku tau dia hanya penasaran dan berbasa basi saja, semua pria memang begitu, kecuali kakak." batin Olivia yang semakin sulit mempercayai tuan Kaiden.
...****************...
Sorenya saat mereka berdua baru saja kembali ke rumah, Olivia disambut oleh Seno yang membawa seekor kucing yang lucu berwarna putih, bulunya sangat lebar dan kucing itu nampak bermain gembira dengan Seno di taman bunga yang ada di samping rumah mereka. Melihat pemandangan itu Olivia langsung berlari menghampiri kucing yang tengah bermain dengan Seno, dia sangat suka kucing sejak kecil jadi tidak heran jika langsung tertarik untuk mendekat dan melihatnya.
"Ehh ada kucing, wahh kucingnya sangat cantik, hai kucing siapa namamu?" ucap Olivia yang langsung saja bisa akrab dengan hewan lucu tersebut.
Seno menghampirinya dan menjawab ucapan Olivia secara langsung. "Namanya Yaya." ucap Seno yang membuat Olivia menoleh ke arahnya.
"Kak Seno, apa ini kucingmu? darimana kau bisa mendapatkan kucing semanis ini?"
"Itu kucing ibuku, dia sudah tidak mau mengurusnya lagi, jadi aku membawanya kemari." balas Seno kepada-nya.
"Ternyata ibumu menyukai kucing juga, tidak heran sih, Yaya sangat lucu, tidak ada manusia yang akan tahan dengan kemanisannya, dia sangat menggemaskan, iya kan tuan." ucap Olivia bicara dengan menggendong kucing tersebut dan dia memberikannya pada tuan Kaiden.
Saat itu Olivia tidak tahu jika tuan Kaiden benci kucing, sehingga saat Olivia mendekatkan Yaya pada tuan Kaiden, pria 28 tahun itu langsung berjalan mundur dan menjauh dia bahkan menyuruh Olivia untuk berhenti memainkan kucing itu.
"Aishh..lucu darimananya, singkirkan kucing konyol itu dariku!" bentak tuan Kaiden dan dia segera pergi meninggalkan Olivia begitu saja.
"Ehh ada apa dengannya, apa dia marah padaku?" gerutu Olivia kebingungan sendiri.
Seno tersenyum kecil dan dia segera mengambil kucing tadi dari pangkuan Olivia, sembari memberitahunya bahwa tuan Kaiden benci kucing sejak kecil.
"Dia bukan marah denganmu, tapi tidak suka dengan Yaya."
"Jadi dia takut kucing?"
"Bukan takut, tapi lebih ke benci, bahkan lebih besar dari dia membenciku, sebaiknya kamu jangan coba-coba bercanda padanya tentang kucing." jelas Seno memberitahunya.
Olivia langsung merasa bersalah, dia sama sekali tidak tahu tentang hal itu, dan sekarang dia takut tuan Kaiden benar-benar marah dengan-nya.
"Kak Seno aku tidak tahu itu, apa dia akan marah besar denganku ?"
"Coba saja kau bujuk dia, harusnya dia tidak akan bisa marah terlalu lama dengan istrinya sendiri bukan?" balas Seno memberikan solusi.
Sayangnya Seno sama sekali tidak tahu kalau tuan Kaiden sangat sulit dibujuk sekalipun oleh istrinya sendiri.
"Kak Seno kalau begitu aku pergi dulu ya,"
"kamu tidak mau bermain dengan Yaya dulu, aku rasa kamu sangat menyukainya,"
"ahaha... tidak bisa kak, nanti harimau itu akan mengaum, bisa habis aku hehehe." balas Olivia sambil mengisyaratkan pada tuan Kaiden.
Seno hanya tersenyum kecil dan dia tidak menyangka bisa ada orang yang berani menyamakan seorang Kaiden Kandensus dengan seekor harimau.
"Kaiden memang mirip dengan harimau." Ucap Seno pelan sambil melihat Olivia yang berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1