Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Di Pantai Sendiri


__ADS_3

Karena mendapatkan bentakkan seperti itu dari tuan Kaiden tentu saja sekretaris Dep tidak bisa melawannya lagi, sehingga dia pun hanya bisa diam saja dan terus menuruti apa yang dikatakan oleh tuan Kaiden, mereka berdua pergi ke untuk memeriksa perkembangan proyek lagi dan terus saja membantu tuan Kaiden untuk berkomunikasi dengan para pekerja disana termasuk bicara dengan mandor yang ada disana.


Mereka terlihat sangat serius dan nampak begitu lama mengobrol sambil berkeliling memeriksanya kesana kemari.


Disisi lain Olivia yang kesal dan dipenuhi dengan emosi benar-benar pergi meninggalkan lokasi pembangunan mall tersebut, dia berlari ke arah pantai dan terus saja menggerutu kesal, merutukinya tuan Kaiden sepuasnya, hingga tanpa dia sadari ternyata dia sudah berlari cukup jauh dan telah sampai di tepi pantai yang penuh dengan pengunjung luar maupun dalam negeri. "Hah...hah...hah...dasar manusia sialan itu, aku tidak akan kembali lagi padanya, ini kesempatan terbaik untuk kabur darinya, dia juga yang mengusir aku jadi seharusnya dia tidak perlu mencari aku apalagi marah denganku." Ujar gadis 19 tahun itu terus melanjutkan langkahnya yang tidak tahu akan dia bawa kemana saat itu.


Yang ada di kepala Olivia saat ini, hanyalah cara agar dia bisa melarikan diri dari wilayah pantai ini, dia ingin kembali ke desa tempat dia tinggal sebelumnya, memulai hidup baru dan dia bisa tinggal dimana saja nantinya, atau memepbaiki puing-puing bangunan rumahnya yang mungkin masih terbengkalai di kampungnya tersebut, dengan wajah yang menahan kesedihan serta, raut wajah yang nampak begitu pilu, Olivia terus berjalan menyusuri pesisir pantai dan sesekali bertanya kepada para pengunjung disana tentang desanya tersebut. "Permisi mbak, apa mbak mengetahui dimana desa Mekarjaya dari sini?" Tanya Olivia kepada salah satu pengunjung disana.


Tapi sayangnya tidak ada satu pun orang yang mengenali desa Mekarjaya tersebut, tempat dimana dia tinggal selama ini.


Olivia sudah merasa sangat lelah dan dia terus saja berjalan dengan kaki lesu sambil sempoyongan dan terus saja terjatuh di pasir begitu saja, matanya mulai berkaca-kaca dan dia terlihat begitu sedih sekali, dia tidak tahu lagi kemana dia harus pergi untuk melarikan diri dan apa yang harus dia lakukan saat ini, sebab dia benar-benar tidak memiliki tempat tujuan sedangkan semua orang yang dia tanyai tentang desa tempat tinggalnya, sama sekali tidak ada yang mengetahui tentang desa tersebut.


Terlebih lagi mungkin karena jarak yang terlalu jauh dan desa itu adalah desa yang sangat terpencil, berada sangat jauh dari pantai tersebut, jadi wajar saja jika orang-orang yang ada disana tidak mengetahui tentang desa pelosok seperti itu.

__ADS_1


Karena merasakan kakinya yang lesu, dia memutuskan untuk duduk di pesisir pantai sendirian sambil memeluk kakinya itu dan mencoret-coret pasir dengan serpihan kayu kecil yang terbawa di laut sebelumnya.


Olivia menuliskan nama kakaknya di pasir lalu air laut menghapusnya, tapi dia tetap menuliskannya lagi dan lagi, berharap sang kakak bisa hadir di sampingnya saat ini, untuk menemani dia dan menghilangkan kesedihan dalam dirinya saat itu.


"Hiks...hiks..kak, seandainya kamu bisa melihat aku saat ini, aku hanya ingin kamu tahu, aku tidak menangis karena sedih, aku menangis hanya karena merindukanmu, aku ingin berjumpa denganmu, walau hanya dalam mimpi, tapi sayangnya kenapa kamu tidak pernah menemui aku, apa kau sudah bahagia berkumpul dengan ayah dan ibu di atas sana?" Ucap Yuki di iringi Isak tangisnya yang dia coba tahan saat itu.


Ada beberapa orang yang mendekatinya dan menanyakan mengapa dia menangis seorang diri di pantai seperti itu, tetapi Olivia hanya bisa menggelengkan kepala kepada setiap orang yang bertanya hal yang sama kala itu.


Dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, mengapa dia malah menangisi sesuatu hal dan takdir yang tidak akan pernah bisa dia rubah, semuanya terlalu sulit untuk dia lewati dan rasanya tidak akan bisa untuk dia ulang kembali, meski hatinya terus merasakan penyesalan yang teramat dalam, karena dia malah pergi meninggalkan kakaknya malam itu, dan memilih pergi menemui sahabat yang ternyata sekarang sama sekali tidak mencari keberadaan dirinya. Dan mungkin sudah tidak memperdulikan dia lagi.


Hingga waktu terus berlalu dan matahari sudah hampir tenggelam, gadis kecil itu sama sekali tidak pergi dari tempat duduknya, bak seperti orang yang sudah benar-benar pasrah atas hidupnya sendiri, dia tidak mau pergi meski sudah banyak orang yang mengajaknya pergi karena waktu sudah mulai berganti.


"Aku tidak tahu harus pergi kemana, aku tidak tahu tempat pembangunan tuan Kaiden ada dimana, huaaa..aku harus pulang kemana malam ini." Ucap gadis kecil itu yang langsung berteriak dengan begitu kencang ke arah laut.

__ADS_1


Padahal tanpa dia ketahui tuan Kaiden sendiri sudah begitu panik dan kelimpungan mencari keberadaan dirinya kesana kemari bersama dengan sekretaris Dep dan mengerahkan banyak sekali penjaga disana bahkan para pekerja bangunan pun dia suruh untuk pergi ke pantai mencari Olivia, saking paniknya tuan Kaiden juga marah kepada semua orang dan melampiaskan semuanya seenaknya saja.


"Aishh...dasar kalian semua tidak becus, biar aku mencarinya sendiri, dan kalian tidak ada yang bisa tidur ataupun istirahat selama gadis kecil itu tidak bisa di temukan!" Bentak tuan Kaiden sangat kencang dan dia bangkit untuk pergi mencari Olivia sendiri.


Sekretaris Dep sudah berusaha untuk menghentikannya karena dia telah mengerahkan banyak sekali orang, lebih dari lima puluh orang sudah dikerahkan untuk mencari Olivia, tetapi tuan Kaiden tetap pergi juga untuk mencari Olivia secara langsung sebab dia sudah tidak sabar dan tidak bisa mempercayai kerjaan para anak buahnya tersebut.


"Tuan kau tidak bisa pergi ke luar cuaca di luar sangat dingin dan aku dengar badai di pantai akan segera tiba biasa air pantai akan naik, biarkan mereka saja yang mencarinya keselamatan anda lebih di prioritaskan tuan." Ujar sekretaris Dep mencoba untuk menahannya.


Tuan Kaiden tetap keras kepala, dia menghempaskan tangan sekretaris Dep dan terus berjalan sambil mengenakan sebuah mantel di tubuhnya dan pergi begitu saja dengan cepat untuk mencari Olivia.


Olivia sendiri yang belum menyadari bahwa badai akan segera tiba dia hany memandangi langit pantai sambil merebahkan tubuhnya di pasir dan membiarkan kakinya terkena sapuan ombak kecil sedikit demi sedikit.


Hingga tiba-tiba saja langit yang dia pandangi mulai berubah menjadi menyeramkan, awas gelap menyapu dengan cepat dan angin berhembus semakin kencang, membuat tubuhnya merasa semakin dingin dan dia segera bangkit berdiri.

__ADS_1


"Aduh...kenapa anginnya jadi berubah seperti ini dan kenapa tidak ada orang di sekitar sini, padahal sebelumnya begitu banyak sekali orang yang bermain. Apa ada yang salah ya?" Gerutu gadis tersebut merasa kebingungan sendiri.


__ADS_2