
Dengan wajah menahan kekesalan tuan Kaiden mencoba menenangkan dirinya sendiri, dia sudah menduga semua ini sejak awal, karena apa yang dilakukan oleh istri kecilnya itu sangatlah aneh juga secara tiba-tiba. Tuan Kaiden memberikan kesempatan kepada Olivia untuk mengatakan keinginannya tersebut.
"Ya sudah ayo cepat katakan apa yang kau inginkan?"
"Aku mau kuliah." jawab Olivia sambil tersenyum lebar.
Sontak tuan Kaiden membelalakkan matanya sangat lebar, dia seperti merasa sangat aneh ketika mendengar hal tersebut dari seorang gadis kecil yang sejak awal menolak pendidikan darinya namun sekarang tiba-tiba saja menginginkan pendidikan itu kembali, apalagi ini sudah lewat satu tahun.
"Hei bocah apa kau yakin masih ingin kuliah?" tanya tuan Kaiden memastikan.
"Eum, aku sangat yakin aku ingin menggapai mimpiku agar aku tidak merepotkan kau lagi suatu hari nanti." balas Olivia terlihat sangat bersemangat dan penuh keyakinan.
Karena melihat wajah Olivia yang begitu semangat, tuan Kaiden pun mengijinkannya.
"Baiklah jika itu yang kau mau, kau boleh kuliah dimanapun yang kau mau, dengan jurusan yang kau inginkan, masalah biaya dan yang lainnya serahkan saja pada sekretaris Dep dia akan mengaturnya untukmu, ehhh tapi jangan senang dulu, selalu ada timbal balik di setiap kebaikan kau aku lakukan untukmu. Ingat itu semuanya tidak cuma-cuma!" tegas tuan Kaiden mengingatkan.
"Iya lagi pula aku tetap akan melakukan apapun yang kau mau entah aku kuliah atau tidak, aku kan sudah jadi istrimu hehe terimakasih tuan aku senang sekali akhirnya aku tidak akan merasa bosan dengan diam di rumah tanpa melakukan apapun." balas Olivia sangat bersemangat.
Wajahnya semakin berseri-seri dan senyuman lebar tak henti tergambar di wajahnya hingga tiba-tiba saja seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu sambil memanggil nama tuan Kaiden dengan suaranya yang manja serta melengking cukup keras. "SAYANGGG," teriak Risa begitu keras.
Sontak Olivia dan tuan Kaiden langsung menoleh ke sumber suara tersebut dan wajah tuan Kaiden seketika menjadi merah padam berbeda dengan Olivia yang menatap penuh kebingungan, mereka berdua seketika berdiri dan Risa langsung memeluk tuan Kaiden dengan erat dan tanpa rasa malu sedikit pun, membuat tuan Kaiden sangat risih sambil berusaha melepaskan pelukan Risa dari tubuhnya.
"Hei apa yang kau lakukan berani beraninya menyentuhku, lepaskan!" bentak tuan Kaiden mendorong Risa sangat kuat.
"Sayang apa yang kau lakukan, apa kau tidak merindukan aku? Ataukah kau marah karena kejadian semalam? Ahaha Kaiden apa kau pikir aku sungguh menyukai adik tirimu itu? Tidak sayang aku hanya menyukaimu." balas wanita itu terus mendekati tuan Kaiden dan bersikap sangat manja dengannya.
__ADS_1
Olivia mulai tidak senang dia semakin mengerutkan keningnya hingga kedua alis hampir menyatu, sejak awal Risa masuk memanggil sayang hingga memeluk tuan Kaiden dan bicara sangat manja kepada suaminya, itu sudah cukup membuat hati Olivia terbakar, dia langsung berjalan mendekati tuan Kaiden dan dengan beraninya Olivia menarik ujung pakaian Risa sangat kuat untuk menjauhkan Risa dari samping tuan Kaiden, hingga pakaian yang di tarik olehnya robek cukup besar.
"Aahhhh, baju kesayanganku!" Ucap Risa mulai marah melihat pakaian mahalnya robek karena seorang wanita yang tidak dia kenal.
"Apa, minggir kau dari suamiku!" Ujar Olivia dengan berkacak pinggang dan dia langsung berdiri di depan tuan Kaiden untuk menghadang Risa.
Tentu saja Risa merasa kesal sekaligus kebingungan karena dia sama sekali tidak mengenali sosok Olivia yang dia lihat sebagai anak kecil saat ini.
"Hei hei, siapa gadis kecil yang sangat berani ini? Apa kau tidak tahu siapa aku hah?" bentak Risa dengan tatapan yang tajam.
"Harusnya aku yang bertanya denganmu, siapa kau beraninya memanggil tuan Kaiden dengan sebutan sayang, apa kau sudah gila ya?" balas Olivia benar-benar diluar kendalinya.
Gadis kecil itu tiba-tiba saja menjadi sangat galak dan pemberani, berbeda dengan Olivia pada biasanya, bahkan tuan Kaiden sendiri cukup kaget ketika melihat reaksi yang baru saja dilakukan gadis kecilnya untuk membela dirinya dan menjaga dia dari seorang Risa, Sekretaris Dep dengan dua penjaga yang sebelumnya gagal menahan Risa baru saja tiba di ruangan itu, namun tuan Kaiden memberikan isyarat kepadanya agar diam sejenak membiarkan Olivia menghadapi Risa terlebih dahulu, karena saat itu tuan Kaiden ingin melihat apa yang bisa dilakukan istri kecilnya tersebut.
Karena melihat isyarat dari tuan Kaiden sekretaris Dep pun terdiam sekaligus menahan kedua penjaga yang bersamanya saat itu di depan pintu.
"Kaiden itu kekasihku sejak kecil kami juga sempat di jodohkan dia mantan tunangan ku dan akan menjadi calon suamiku." balas Risa dengan begitu percaya diri.
"HAH? Hahaha... Apa aku tidak salah dengar? Hei nona yang tidak punya sopan santun dan rasa malu, aku beritahukan padamu ya, tuan Kaiden yang berdiri di belakangku ini, kini dia adalah suamiku, kami tinggal bersama dan tuan Kandensus tahu semua itu." Balas Olivia membuat Risa kaget namun masih tidak mempercayainya.
Risa yang tahu bahwa tuan Kaiden adalah pria angkuh, kejam serta tidak pernah dekat dengan wanita manapun dia jelas tertawa keras mendengar jawaban dari Olivia.
"Ahahah... Apa kau bermimpi gadis kecil, Kaiden apa kau dengar, seseorang baru saja mengaku-ngaku sebagai istrimu apa kau tidak marah dengannya, haha benar-benar konyol,"
"Dia memang istriku!" tegas tuan Kaiden menimpalinya.
__ADS_1
Seketika Risa membelalakkan matanya, dia kaget bukan main dengan mulut terbuka lebar dan dia terus menatap tajam pada Olivia serta tuan Kaiden. "A..APA? Dasar manusia tidak tahu malu, Kaiden kau bercanda bukan, mana mungkin kau memiliki istri sekecil ini?" bentak Risa disertai rasa kesal.
Olivia sangat kesal dirinya dikatai kecil oleh Risa dia hampir melawan Risa lagi namun dengan cepat tuan Kaiden menarik tangannya dan langsung menghadapi Risa secara langsung, dia tiba-tiba saja mencium bibir Olivia di hadapan Risa untuk membuktikan kepadanya bahwa Olivia memanglah istrinya, sampai berhasil membuat Risa risih dan kesal, dia pergi dipenuhi emosi yang menggebu dalam dirinya.
"Cih, dasar kalian benar-benar manusia tidak tahu malu, awas saja kau, aku tidak akan membuat kalian bahagia!" ancam Risa sambil segera pergi dari sana dengan memberikan tatapan tajam dan sinis terhadap Olivia.
Sedangkan Olivia segera mendorong tubuh tuan Kaiden sekuat tenaga, antara syok dan menahan malu karena dia tahu saat itu ada sekretaris Dep juga dua penjaga yang sempat melihatnya, dia merasakan debaran di dadanya yang begitu kencang perasaan seperti ini yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, Olivia sangat gugup, malu dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi tuan Kaiden saat itu.
"A..A..ahh..aku harus pulang." ucapnya terbata-bata sambil mengusap bibirnya.
Olivia pergi membereskan tempat makan bekas makanannya dan tuan Kaiden, lalu langsung pergi dari sana begitu saja tanpa berpamitan apalagi menatap wajah tuan Kaiden sedikit pun. Pipinya terus merah merona selama di perjalanan pulang, Olivia diantara oleh supir perusahaan dan dia sama sekali tidak mengeluarkan pembicaraan apapun saat itu, bahkan saat sampai di rumah, Olivia menjadi tidak fokus, sapaan dari bibi Jil saja mampu dia abaikan begitu saja.
"Nona anda sudah pul..." ucap bibi Jil yang tidak sampai selesai.
Olivia berjalan cepat menaiki tangga dan melewati bibi Jil begitu saja, membuat bibi Jil tertegun merasa keheranan.
"Ada apa dengan nona muda, kenapa dia terlihat tidak fokus, sampai tidak menyadari keberadaan ku di sini, padahal aku sudah menyapanya, apa jangan-jangan mereka bertengkar lagi?" ucap bibi Jil penuh pertanyaan yang membingungkan dirinya sendiri.
Salting? Ya tentu saja Olivia salah tingkah bukan main, dia langsung masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang cukup kuat sambil terus menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh. Dia menendang selimut itu berkali-kali dengan penuh tenaga untuk meluapkan semua perasaan aneh yang dia rasakan.
"Aarrgghhhh.... Hah hah hah..." teriak Olivia dengan nafas terengah-engah.
"Tidak.... Ini tidak mungkin, sudah berapa kali dia melakukan hal seperti ini kepadaku tanpa aba-aba dan tanpa persetujuan dariku terlebih dahulu, meski aku istrinya setidaknya dia harus memberikan aku alasan atau apapun itu agar aku tidak salah paham bukan? Sial kenapa perasaanku begini, huhu apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya nanti." Gerutu Olivia terus bicara dengan dirinya sendiri dengan penuh kecemasan yang tidak mendasar.
Meski sudah berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya, gadis kecil itu tetap saja tidak bisa, berkali kali dia memegangi bibirnya dan selalu teringat akan kejadian ciuman saat itu, entah kenapa Olivia merasa ciuman itu bukan sekedar ciuman sederhana, dia seperti merasakan debaran cinta pada hatinya namun meski begitu, Olivia terus berusaha menepis semua perasaan tersebut dari dirinya sendiri, sebab dia pikir seseorang seperti tuan Kaiden tidak mungkin menyukai dirinya.
__ADS_1
"Aahhh, tidak ini tidak mungkin terjadi dan tidak boleh terjadi, seseorang sepertiku tidak pantas untuk tuan Kaiden, aku hanya benalu dalam hidupnya dia memperistri aku juga karena kerjasama, bukan karena menyukaiku, sadar Olivia sadar jangan berharap pada siapapun, iya aku tidak boleh berharap apalagi memiliki perasaan padanya, aaahhh aku tetap tidak bisa melepaskan perasaan ini begitu saja, ada apa denganku." Tambah Olivia kebingungan sendiri dan merasa sangat resah atas dirinya itu.