
Bahkan saking kesalnya Diva terus menggerutu kesal dan uring-uringan tiada henti pada Olivia, dia terus mengeluh sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.
"Huhu... Bagaimana ini, aaah kakiku pegal sekali, menyebalkan. Semua ini gara-gara kau sih, kenapa juga kamu malah menanyakan gosip begitu saat jam pelajaran, kita kan jadi kena hukuman." Ucap Diva terus mengeluh.
"Hei, siapa suruh kau malah berteriak sangat keras dan tertawa begitu, aku sudah memperingatimu ya, kau saja yang tidak mendengarnya dan tidak peka, huh!" balas Olivia tidak mau kalah.
Diva pun hanya bisa menunduk lesu sambil membuang nafasnya yang berat, dia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Olivia memang kebenarannya, semua ini terjadi bukan karena kesalahan salah satu diantara mereka berdua tetapi karena keduanya yang melakukan kesalahan.
"Huaaa.... Sampai kapan profesor itu akan membebaskan kita, kakiku akan bengkak jika terus berdiri begini Oliviaaa," kelah Diva lagi dan lagi.
"Tidak tahu, kau malah bertanya pada orang yang bernasib sama denganmu, haduehh yang sabar saja nanti juga selesai." balas Olivia yang sudah pasrah dengan hukuman yang dia jalani saat itu.
Mereka terus di buat berdiri seperti itu selama pembelajaran berlangsung hingga akhirnya selesai dan profesor membebaskan mereka dengan janji jika mereka berdua tidak akan mengulangi kesalahan yang sama saat jam pelajaran nanti.
Dengan wajah yang kesal dan kaki yang pegal Olivia segera duduk di salah satu tembok disana sambil memijat kakinya perlahan, begitu juga dengan Diva yang sibuk merutuki dosennya sendiri karena sudah membuat kakinya pegal tiada Tara dan sedikit bengkak.
"Aishh..dasar profesor killer, bagaimana bisa dia memberikan hukuman seberat ini pada gadis manis seperti kita, padahal sebelumnya aku senang dengan cara mengajarnya yang mudah di pahami, tapi ketika tahu sekarang dia begitu, aish... Malas sekali aku, awas saja nanti!" gerutu Diva membuat Olivia yang mendengarnya terus tersenyum lebar.
"Sudahlah Diva, tidak ada gunanya menggerutu begitu, bagaimana pun dia orang yang mengajarkan ilmu pada kita, tidak baik bicara seperti itu." ucap Olivia menasehatinya.
__ADS_1
"Aishh... Iya iya Oliviaaa kau ini terlalu baik pada semua orang, bahkan pada dosen yang sudah menghukum mu, adeuhh... Kau pasti mudah di tipu orang kan, beruntung akulah yang menjadi temanmu, jadi kau tidak akan kena tipu hahaaa," balas Diva di iringi dengan candaannya kala itu.
Olivia hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala pelan, menanggapi temannya yang selalu membuat mood dia lebih baik dalam situasi apapun, walau pun mereka baru kenal beberapa bulan tapi kedekatannya sudah seperti sahabat dekat yang kemana-mana selalu bersama, saling support dalam segala hal dan menasehati dalam kebaikan, Diva juga tidak pernah risih saat Olivia selalu mudah overthinking terhadap tugas-tugas yang belum selesai, dia selalu bisa menenangkan temannya yang mudah kepikiran tersebut, sedangkan Diva bak kebalikan dari Olivia, dimana dia selalu santai dan tidak pernah memikirkan apapun berlarut-larut, apa yang terjadi hari ini maka esoknya dia sudah lupa, entah itu permasalahan tugas, pertengkaran dengan mahasiswa lain atau bahkan jadwal piketnya sendiri.
Setiap kali Diva lupa untungnya ada Olivia yang bisa mengingatkannya dalam segala hal yang selalu di lupakan oleh Diva, mereka sangat serasi dan saling melengkapi satu sama lain, sampai beberapa dosen sering kali menyebut mereka kembar atau saudara sebab selalu bersama-sama kemanapun ketika tengah di kampus, teman-teman yang lain ada juga yang terkadang salah menyebut nama atau salah mengenali mereka dengan nama yang terbalik, perbedaannya bisa dilihat dari postur tubuh dan tingkah laku, dimana Olivia bertubuh pendek dan kecil, sedangkan Diva memiliki postur tubuh yang tinggi juga bada yang berisi, saat berdampingan mereka seperti kakak dan adik, jadi tidak heran jika orang kerap kali salah mengira tentang hubungan darah mereka.
Kali ini disaat Olivia dan Diva tengah tertawa bersama menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri, tiba-tiba saja muncul Serli dengan Malara dari arah berlawanan, sejak dari kejauhan Serli sudah menyadari keberadaan Olivia di ujung lorong dekat kelas, sedangkan Olivia sendiri belum menyadari kedatangan mereka, sampai ketika Serli dan Malara melewatinya, Serli langsung bicara menyinggung Olivia.
"Ekmm.... Ciee yang sudah punya sahabat baru, lihatlah Malara dia itu sama sekali tidak menganggapmu, dia bahkan bisa melupakan pertemanannya denganmu begitu mudah, di gantikan dengan orang asing yang baru dia kenal beberapa bulan saja, jadi untuk apa lagi kau selalu memikirkan tentang perasaan wanita tidak tahu diri ini." ucapnya menyinggung Olivia.
Malara hanya menatap datar dan terlihat tidak senang kepada Devi yang melihat mereka penuh kebingungan, hingga mereka berdua berlalu barulah Devi berani bertanya pada Olivia. "Olivia, siapa mereka kenapa mereka tiba-tiba bicara seperti itu saat melewati kita, memangnya kau kenal dia?" tanya Malara dengan wajahnya yang nampak penasaran.
Olivia tidak bisa berbohong dia mengangguk pelan dan berhasil membuat Devi kaget saat mengetahuinya.
"Hmm iya, memangnya kenapa sih kamu sampai sekaget itu, kan wajar aja kalo kita ketemu sama orang yang kita kenal, terus mereka tiba-tiba ngomong gitu, apa kamu percaya ya sama omongan mereka?" ucap Olivia sekaligus bertanya padanya.
"Aishhh.. Bukan itu maksudnya Olivia, tapi maksud ku jadi kamu kenal dong sama cewek centil kegatelan itu, ihh aku sih sebel banget kalo harus kenal sama cewek kaya dia." balas Diva sambil memasang raut wajah yang tidak senang.
Olivia langsung mengerutkan keningnya dan kedua alis yang hampir menyatu, dia merasa heran dan bingung karena melihat Diva malah memberikan reaksi mengagetkan seperti itu, sangat tidak sesuai dengan ekspektasi di kepala gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Aihhh... Kamu ini sebenarnya kenapa sih? Siapa yang kamu maksud, Malara atau Serli?" tanya Olivia lagi semakin penasaran.
"Yaa siapa lagi kalo bukan si Serli centil dan tukang pamer itu, kalo Malara sih aku tidak terlalu tahu tentang dia tapi kabarnya dari gosip yang beredar Malara juga sama saja, kamu pikirkan saja kalo dia tidak sefrekuensi sama si Serli itu, mana mungkin dia betah berteman dan pergi ke mana-mana dengannya, mana nurut banget lagi ihhh." balas Devi yang sepertinya benar-benar tidak senang dengan mereka berdua.
Olivia pun hanya bisa mengangguk pelan, karena memang apa yang dikatakan oleh Devi ada benarnya, Malara memang lebih mudah menuruti Serli dibandingkan siapapun, bahkan di waktu yang paling sulit dan sangat dibutuhkan olehnya, Malara malah tega meninggalkan dia dan pergi dengan Serli tanpa belas kasihan sedikitpun, tapi hal itu membuat Devi semakin penasaran dan terus bertanya berusaha untuk mencari tahu tentang hubungan Olivia dengan kedua wanita yang selalu menjadi topik utama per gosipan di kampus tersebut.
"Hei, Olivia tapi apa kamu sebelumnya sangat dekat dengan mereka? Kalo benar harusnya kamu tahu kan bagaimana mereka sebenarnya?" tanya Devi terus mendekati Olivia dan menanyakan hal itu tiada henti.
Padahal Olivia sama sekali tidak ingin membahas hal tersebut sedikitpun, sudah susah payah dia berusaha melupakan kenangan buruk tersebut kini malah berusaha di ingatkan oleh Devi yang semakin penasaran dan mendesak dirinya untuk menceritakan semuanya.
"Sudahlah itu masa lalu, aku tidak ingin membahasnya sekarang."
"Olivia ayolah, aku sudah sangat penasaran dan tidak tahan lagi, kan kamu sendiri yang memberikan jalan obrolan ini, aku kan jadi penasaran, ayo bicaralah Oliviaaa!" desak Devi tiada henti dan sama sekali tidak mudah menyerah.
Olivia terus berusaha menghindarinya dengan berjalan lebih cepat dan terus saja menjauh dari Devi, bahkan dia sampai harus berlari karena Devi terus mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya tiada henti.
"Eh..eh.. Olivia tunggu kenapa kau malah kabur, Oliviaaaa jangan meninggalkan aku sendiri!" teriak Devi sangat kencang dan buru-buru mengejarnya.
Di sisi lain Malara terlihat murung dia menatap dari jauh Olivia yang nampak sangat dekat dan terlihat seperti tengah bercanda dengan Devi di lorong, saling mengejar sama dengan apa yang pernah dia lakukan dahulu dengan Olivia, sayangnya sekarang dia bahkan terlalu malu untuk sekedar menyapa sahabat baiknya tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku Olivia, meski aku sudah tahu jika saat itu bukan kau yang salah dan ayah sudah mengakuinya, tapi aku terlalu malu untuk mendekatimu lagi, kau pasti sudah sangat membenciku karena hal itu." batin Malara menahan kesedihannya sendiri.
"Malara kenapa masih disini ayo cepat kita harus segera masuk dosen akan segera tiba." Ajak Serli menarik tangan Malara dan segera membawanya masuk ke dalam kelas mereka.