Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Mencaritahu Pada Olivia Langsung


__ADS_3

Esoknya tuan Kaiden sudah membuat janji dengan penelpon misterius yang ingin bertemu dengannya, dia sengaja menyepakati pertemuan itu untuk mencaritahu kebenaran yang sesungguhnya sekaligus ingin tahu siapa wanita yang terus menelponnya tersebut dan apa hubungannya dengan Olivia.


Setelah pekerjaan di kantor selesai tuan Kaiden menyuruh sekretaris Dep untuk pulang lebih dulu karena dia memiliki urusan penting lainnya, dia pergi sendiri menuju salah satu cafe terdekat yang sudah disepakati keduanya menjadi tempat bertemu mereka, saat itu Malara sudah tiba disana sejak setengah jam yang lalu dan sudah menghabiskan minuman pertama yang dia pesan, wajahnya nampak kesal dan muram, dia benar-benar dibuat menunggu lama oleh tuan Kaiden, sehingga saat tuan Kaiden tiba disana dan menyapanya, dia hanya menatap kaget karena dia pikir orang yang menelpon dengannya tidak jauh dari usianya tapi yang datang di hadapannya kali ini justru pria dewasa dengan jas rapih dan sorot mata yang tajam.


"Halo apa kau wanita yang ingin bertemu denganku?" tanya tuan Kaiden saat itu.


Malara segera berdiri dan dia langsung menghubungi nomor ponsel pria yang dia ajak bertemu sebelumnya, hingga tuan Kaiden mengangkat telponnya dan dia sudah yakin jika wanita muda di hadapannya saat ini adalah orang yang meneror dia kemarin. Ia duduk di hadapan Malara dengan kaki yang di silangkan dan langsung mengajukan pertanyaan kepada gadis tersebut sangat serius.


"Apa yang ingin kau ketahui dariku? Dan kenapa tidak percaya jika bukan aku yang menghubungimu sebelumnya." tanya tuan Kaiden saat itu.


"A..A..a..HH sebelumnya kenalkan tuan aku Malara, tujuanku mengajak anda bertemu tentu saja untuk menanyakan alasan anda memberitahu perlakuan ayah saya dengan wanita simpanannya beberapa hari yang lalu di restoran tempat anda makan, bukankah saya juga sudah menunjukkan bukti chating nya, apa mungkin anda masih belum mengakui jika itu perbuatan anda?" ujar Malara menjelaskannya lagi.


"Jadi kau pikir saya berbohong?"


"Tidak tuan, hanya saja saya ingin mengucapkan terimakasih kepada anda, apapun alasannya saya paham itu adalah hal yang baik, walaupun menyulitkan keluarga kami tapi setidaknya aku dan ibuku bisa tahu jika ayah kami bukanlah orang baik seperti yang kami pikirkan selama ini,"


"Tidak perlu berterima kasih denganku, karena bukan aku yang melakukannya, lihat di ponselku tidak ada riwayat chat dengan nomormu, beberapa hari yang lalu ponsel ini di pinjam seorang teman mungkin dia yang mengirimnya padamu." balas tuan Kaiden memberitahunya.


Malara mulai semakin penasaran dia sangat ingin tahu siapa orang yang sudah membantu dia dan ibunya itu, karena dia yakin orang tersebut pastilah seseorang yang mengenalinya dan tahu kondisi keluarga dia yang sebenarnya.


"Ohhh begitu ya, kalau begitu saya minta maaf telah mengganggu waktu anda tuan, tapi bolehkah anda memberitahu saya siapa teman anda itu?" balas Malara masih mencoba mencaritahu.


Sayangnya tuan Kaiden sama sekali tidak bisa membocorkan hal tersebut, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa istri kecilnya yang melakukan semua hal tersebut bahkan sampai menertawakan kejadian di restoran saat itu.


"Itu privasi dan saya rasa kau tidak perlu mencaritahunya jika orang itu ingin kau mengetahui siapa dia, mana mungkin dia meminjam ponsel ku untuk menghubungimu." balas tuan Kaiden yang membuat Malara tertunduk lesu.


Malara pikir apa yang dikatakan oleh pria asing dihadapannya saat ini memang benar, mungkin seseorang itu tidak ingin diketahui identitasnya, itulah mengapa dia melakukan semua ini.


"Jika tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi, aku ingin bertanya sesuatu denganmu." ucap tuan Kaiden semakin serius.


"Silahkan tanyakan saja."


"Apa kau mengenal gadis ini?" tanya tuan Kaiden sambil menunjukkan foto Olivia di ponselnya.


Melihat foto sahabatnya, Malara langsung membelalakkan mata sangat lebar dan dia keceplosan menyebut nama Olivia di hadapan pria asing tersebut sehingga dia tidak bisa mengelak lagi. "Olivia?,"


"Kau tahu dia? Apa hubunganmu dengannya?"


"Siapa kau, kenapa kau mengenal Olivia juga? Apa hubunganmu dengan sahabatku?" tanyanya mulai mencemaskan Olivia.


"Kau tidak perlu tahu siapa saya, tapi jika kau ingin tahu siapa yang telah membantumu kau tanyakan pada gadis itu." ujar tuan Kaiden sambil bangkit berdiri dan langsung meninggalkan tempat itu secepatnya.


Malara sudah mencoba untuk menahan tuan Kaiden dan mengejarnya namun dia tidak sempat sebab saat mendengar ucapan itu Malara sangat kaget hingga terdiam sejenak dan saat dia mencoba mengejar pria itu, dia sudah kehilangan jejaknya, Malara benar-benar kesal karena gagal mencari tahu lebih banyak dari pria yang dia temui saat itu.

__ADS_1


"Aishh... sial dia sudah pergi," Gerutu Malara kesal.


"Apa mungkin teman yang dia maksud adalah Olivia? Tapi kenapa dia melakukan semua ini padaku? Ataukah apa yang terjadi saat itu adalah kesalahpahaman? Apa mungkin selama ini Olivia tidak salah?" ucap Malara dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya.


Semua kemungkinan muncul begitu saja dan Malara masih tidak tahu apa alasan Olivia berbuat seperti itu kepadanya, dia ingin menemukan Olivia lagi namun sama sekali tidak tahu dimana keberadaan sahabat baiknya itu, Malara juga ingin tahu siapa pria barusan yang mengaku berteman dengan sahabatnya. Terlebih melihat tuan Kaiden yang nampak jauh lebih dewasa dari usia dia dan Olivia, hal itu membuat Malara merasa cemas dengan pergaulan Olivia di luar sana tanpa dirinya.


"Siapa pria tadi? Bagaimana bisa Olivia berteman dengan pria dewasa seperti itu, dan dari mana dia bisa mengenalinya, aaahhh ini semua salahku harusnya sejak awal aku menjaga Olivia sebagai mana dulu dia selalu menjaga aku bersama kakaknya." pikir Malara dengan semua penyesalan yang mulai hadir dalam benaknya.


Sementara tuan Kaiden yang pulang terlambat dia kini sudah tahu jika wanita yang dihubungi oleh istri kecilnya adalah sahabatnya sendiri, hal itu membuat tuan Kaiden sedikit tenang karena ternyata bukan orang jahat yang di hubungi oleh istrinya, walaupun dalam benaknya dia masih menyimpan banyak sekali rasa penasaran tentang Malara yang baru saja dia temui dan hubungan persahabatannya dengan Olivia.


"Jika mereka sahabat? Kenapa bocah itu malah menyembunyikan diri darinya? Apa mereka sedang bertengkar?" gerutu tuan Kaiden terus larut dalam pikirannya tentang Olivia dan sahabatnya Malara.


Bahkan saat tiba di rumahnya tuan Kaiden langsung menemui Olivia yang terlihat asik menonton televisi di ruang tengah, tuan Kaiden mengambil buah-buahan yang tengah di makan oleh Olivia secara tiba-tiba membuat gadis itu merasa kesal.


"Aishh... Kembalikan buahku, kenapa kau kebiasaan sekali sih, merampas makanan orang seenaknya, itu tidak sopan tahu!" bentak Olivia sangat emosi,


"Heh, bocah apa kau lupa ini rumah siapa dan uang siapa yang kau gunakan untuk membeli semua buah ini, hah?" balas tuan Kaiden membuat Olivia tidak bisa membalasnya lagi.


"Cih, dasar perhitungan."


"Kurcaci, aku ingin bertanya kepadamu, jadi kau menghadaplah kemari, jawab aku dengan jujur apa kau dengar?"


"Tanya apa, aku sama sekali tidak mau mendengarkan, sana kau pergi jangan menggangguku!" tegas Olivia yang sama sekali tidak mau diganggu dan sudah terlanjur kesal dengan kelakuan tuan Kaiden.


"Aishhh... Jika aku tidak ingin mencaritahu tentang wanita tadi padanya, aku tidak mau bersabar begini pada gadis kurcaci menjengkelkan sepertinya." batin tuan Kaiden saat itu.


Olivia yang merasa tuan Kaiden tiba-tiba diam dia mulai meliriknya dengan ujung mata hingga dia tahu jika saat itu tuan Kaiden masih menatap dia dengan tatapan tajam dan kedua mata yang disipitkan, sorot matanya begitu jelas menandakan emosi terpendam dalam diri tuan Kaiden saat itu, hingga akhirnya Olivia pun mau menghadap ke arahnya dan mendengar apa yang mau di tanyakan oleh tuan Kaiden padanya.


"Tuan kenapa kau menatapku begitu sih, apa kau marah? Ya sudah ayo katakan, apa yang mau kau tanyakan padaku?" balas Olivia menjadi lebih baik.


"Akhirnya kau tidak keras kepala juga,"


"Katakan sebelum aku berubah pikiran."


"Iya iya, kau ini benar-benar menjengkelkan ya, aku hanya ingin tau apa sungguh tidak ada siapapun lagi yang kamu kenal di dunia ini, atau seseorang seperti sahabat, teman lama dan yang lainnya? Apa kau sungguh sebatang kara sekarang?" tanya tuan Kaiden terus mencaritahu kebenaran.


Ia hanya ingin melihat apakah Olivia berani jujur kepadanya atau tidak dan tuan Kaiden hanya ingin tahu mengapa Olivia menyembunyikan semua itu darinya, padahal selama ini tuan Kaiden mengenal Olivia sebagai gadis yang jujur dan polos tapi dia masih bisa menyembunyikan hal sebesar ini dari dia sebagai suaminya.


Olivia sempat terdiam beberapa saat tanpa menampakkan ekspresi apapun di wajahnya, Olivia ingin sekali mengatakan bahwa masih ada satu orang yang dia kenal dan dia harapkan kehadirannya di samping dia saat ini, namun baginya Malara sama sekali tidak ada kaitan apapun dengan tuan Kaiden, dia tidak mau berhubungan lagi dengan seorang sahabat yang bahkan kini sudah tidak menganggap dirinya lagi, Olivia pikir Malara sudah sangat membencinya dan tidak akan mau bertemu dengannya lagi, sekalipun bertemu mungkin Malara hanya akan memperlakukan dia layaknya orang yang tidak dikenal atau memarahinya seperti yang sudah terjadi sebelumnya.


"Hei kenapa kau diam saja, apa kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya tuan Kaiden lagi.


"Tidak, mana mungkin aku berani begitu,"

__ADS_1


"Ya sudah cepat jawab apa kau benar-benar tidak memiliki siapapun lagi?"


"Tidak ada tuan aku hanya mengenal kau, sekretaris Dep dan bibi Jil, selain kalian aku tidak tahu siapapun lagi di kota ini, sejak awal aku kan sudah bilang padamu aku hanya punya kakakku kedua orangtuaku sudah meninggal sejak aku kecil karena kecelakaan, aku hidup dengan kakak dan kakak meninggalkanku karena kebakaran rumah, setelah itu aku pergi ke kota dan bertemu denganmu, sudah seperti itu." balas Olivia menjelaskannya lagi.


Tuan Kaiden merasa sangat kecewa, dia tidak senang karena Olivia masih saja menyembunyikan sesuatu yang amat penting bagi dirinya, sebagai seorang suami tuan Kaiden ingin mengetahui semua tentang istrinya, entah itu masa lalu ataupun masa depan dan orang-orang disekitar Olivia, namun setelah mendengar jawaban dari Olivia yang masih saja tidak mau memberi tahu mengenai Malara kepadanya,itu sungguh melukai hati tuan Kaiden.


Pria 28 tahun itu hanya bisa terdiam dan dia segera pergi ke kamarnya tanpa basa basi lagi. "Oh begitu, baiklah." balas tuan Kaiden begitu dingin dan tapa ekspresi.


Olivia hanya bisa mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu. "Cih, hanya itu saja reaksinya? Ada apa sih dengan dia malam ini, aneh sekali." ucap Olivia melanjutkan tontonannya yang tertunda.


Saat itu Olivia sama sekali tidak sadar jika sebenarnya tuan Kaiden tengah menguji dirinya, lagi pula bagi Olivia sendiri dirinya belum siap untuk memberitahukan semuanya kepada tuan Kaiden, kejadian malam itu terlalu memalukan baginya dan membuat trauma yang besar pada jiwanya sehingga Olivia tidak mau mengingatnya lagi sedikitpun apalagi jika harus menceritakan kembali kejadian itu pada orang lain.


Karena Olivia tetap menutupi semua kebenarannya, tuan Kaiden pun memutuskan untuk mencaritahu sendiri dia mulai memerintahkan sekretaris Dep untuk mencaritahu mengenai Malara dan hubungan wanita itu dengan istri kecilnya lebih jelas lagi, bahkan tidak hanya itu, tuan Kaiden juga meminta sekretaris Dep mencari tahu asal usul Om Burhan, dia benar-benar berniat mencaritahu semuanya dengan caranya sendiri.


"Dia bicara atau tidak aku akan tetap mengetahui semua tentangnya." ucap tuan Kaiden berdiri di depan kaca balkon kamarnya.


Ke esokan paginya Olivia terlihat murung dia sudah sangat bosan setiap hari harus berada di dalam rumah tanpa melakukan aktivitas apapun hingga dia memutuskan untuk kembali kuliah, dia sangat ingin menempuh pendidikan yang tinggi dan bisa mengejar mimpinya untuk menguasai bahasa asing, agar dia bisa berkeliling ke luar negeri dan seluruh belahan dunia yang ingin dia kunjungi. Tapi sayangnya semua mimpinya itu tidak dapat tersalurkan sebab dia terlalu malu untuk mengatakannya kepada tuan Kaiden secara langsung.


Sampai hari ini tiba di mana Olivia berusaha untuk memberanikan diri meminta hal tersebut kepada tuan Kaiden, dengan keahliannya menjadi manis dan lemah lembut, gadis itu tiba-tiba bersikap baik dan perhatian kepada tuan Kaiden, mulai dari menarikan kursi saat sarapan dan menuangkan nasi juga lauk pada piring tuan Kaiden bahkan Olivia juga membawakan tas kerjanya dan mencium tangan tuan Kaiden sambil memberikan senyum lebar saat tuan Kaiden berpamitan pergi dari rumah. Hal tersebut benar-benar membuat tuan Kaiden kebingungan dan merasa heran selama di perjalanan.


"Aneh, kenapa dia tadi tiba-tiba menjadi sangat manis dan baik? Apa lagi yang kini tengah dia rencanakan," gerutu tuan Kaiden memikirkannya.


Sekretaris Dep yang tengah menyetir mulai merasa penasaran sekaligus sedikit cemas karena melihat raut wajah tuan Kaiden yang sudah di tekuk kuat pagi-pagi buta seperti itu.


"Tuan ada apa denganmu, kenapa wajahmu sudah kusut sepagi ini? Apa ada masalah lagi dengan nona muda?" tanya sekretaris Dep.


"Tidak ada hanya saja sikapnya menjadi sangat aneh hari ini,"


"Aneh bagaimana tuan?"


"Kau tahu dia sangat menjengkelkan dan selalu membantah ucapanku, dia juga begitu keras kepala dan tidak pernah mendengarkan aturan apapun yang aku berikan, tapi tiba-tiba saja pagi ini dia sangat baik padaku, memperlakukan aku layaknya istri pada suami yang sebenarnya, bahkan dia mengantarku sampai ke depan pintu utama lalu menyalimi tanganku sampai menciumnya, bukankah itu sangat aneh?" balas tuan Kaiden menjelaskan semua keresahan dalam dirinya.


"Oh, tuan itu gampang, mungkin saja nona muda sudah jatuh cinta padamu." balas sekretaris Dep dengan begitu mudahnya membuat kesimpulan.


Awalnya tuan Kaiden merasa ragu dengan ucapan sekretaris Dep tetapi karena sekretaris Dep terus bicara seperti itu dengan wajahnya yang begitu yakin, akhirnya membuat tuan Kaiden mempercayai ucapannya dan dia terlihat sangat percaya diri bahwa mungkin saja Olivia telah jatuh cinta secara diam-diam kepadanya.


"Aahh apa mungkin? Dia kan tidak pernah menyukai ku,"


"Tidak ada yang tidak mungkin tentang cinta tuan, buktinya jaman sekarang banyak sekali sahabat yang jadi pasangan atau bahkan musuh sekalipun, apalagi kalian yang bekerjasama demi kebaikan masingmasing dan memberikan keuntungan setimpal, itu sangat mungkin terjadi." Tambah sekretaris Dep semakin membuat tingkat kepercayaan diri tuan Kaiden semakin meningkat pesat.


Tuan Kaiden mulai tersengal kecil dengan sedikit malu-malu, dia sudah berpikir jika pesonanya itu tidak dapat disingkirkan dan selalu membuat luluh hati wanita manapun, begitu juga dengan Olivia.


"Ahaha... Jika begitu, apa yang kau katakan ada benarnya juga Dep, aku ini kan masih muda, perjaka dan memiliki banyak harta, masalah tampang juga tidak diragukan lagi, wanita mana yang bisa menolak pesonaku ini, haha." balas tuan Kaiden semakin percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2