Harga Sebuah Keperawanan

Harga Sebuah Keperawanan
Ingin Pulang


__ADS_3

Olivia benar-benar sudah tidak habis pikir dengan kelakuan tuan Kaiden ini, padahal sedari tadi dia sengaja diam dan memalingkan pandangan dari tuan Kaiden menunggu untuk tuan Kaiden meminta maaf terlebih dahulu kepadanya, karena kesalahan yang sudah dibuat oleh tuan Kaiden saat itu benar-benar membuat Olivia jengkel dan sangat dirugikan, selain jatuh dan tertimpa oleh tubuh tuan Kaiden, Olivia juga dirugikan sebab bagian sensitif yang sangat dia jaga malah disentuh begitu mudahnya oleh tuan Kaiden tanpa persetujuan darinya, dan sampai saat ini bukannya meminta maaf dan mengakui kesalahannya, tuan Kaiden justru malah menyalahkan dia atas semua kejadian yang terjadi, wajar saja jika Olivia emosi dibuatnya.


"Aishh...tuan apa kau sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah kau lakukan? Disini itu aku yang sangat dirugikan atas semua tindakan darimu? Apa kau masih akan diam saja seperti itu?" Bentak Olivia sambil mengerutkan kedua alisnya sangat kuat sekaligus menahan deru nafas yang besar dalam dirinya, sampai akhirnya setelah mendengar bentakan keras dari gedis tersebut, tuan Kaiden pun mulai tergerak untuk menurunkan sedikit gengsi dalam dirinya saat itu.


Dia mulai menurunkan tangannya yang sebelumnya dia lipatkan di dada dan segera meminta maaf di hadapan Olivia meskipun dengan sikap dan cara bicara yang gugup terbata-bata saat itu. "AA..AA..ahhh ya sudah sih, itu kan sama saja dengan sebuah kecelakaan, aku tahu ini bukan kesalahanmu tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahan dariku bukan? Jadi aku tidak perlu meminta maaf dengan begitu formal denganmu, iya kan ahaha..." Ucap tuan Kaiden yang masih saja sulit menurunkan gengsi dalam dirinya hanya untuk meminta maaf kepada Olivia.


Saat ini gadis berusia 19 tahun itu hanya bisa menatap lurus dengan wajah datar kepada tuan Kaiden karena dia dibuat tidak habis pikir dengan kelakuan tuan Kaiden yang sangat tidak masuk akal tersebut, membuat dia emosi di buatnya dan hanya merasa kesal setiap kali menatap wajah tuan Kaiden. "Tuan, apa kau masih belum tersadar juga? Kau tahu apa yang sudah kau lakukan denganku? Kau menarikku kau yang salah sagka denganku dan mau yang memegang..." Ucap Olivia tidak sampai selesai karena tuan Kaiden dengan cepat membekap mulut Olivia sebelum dia selesai mengatakan ucapan kekesalannya tersebut.


Tuan Kaiden menutup mulut gadis kecil itu dengan sebelah tangannya sambil tersenyum cengengesan dan terus saja mulai meminta maaf sekaligus.


"AA...AA..ahh maafkan aku, sudah ya aku kan sudah meminta maaf denganmu, jangan dibicarakan lagi ya, aku kan sudah bilang minta maaf denganmu, aku tahu aku salah soal itu, tapi kan kau...kau ini sudah menjadi istriku jadi apa salahnya jika aku..." Balas tuan Kaiden lagi dengan tanpa rasa malu sedikit pun.


Olivia dengan cepat mem-belototkan matanya kepada tuan Kaiden dan membuat tuan Kaiden seketika terdiam mematung, dia tidak berani bicara lagi dan hanya diam membisu saja, sambil segera kembali menjauh dari Olivia yang nampak sudah sangat emosi dibuatnya.

__ADS_1


"Aishh... benar-benar menjengkelkan, tuan apa kau sungguh mengira aku istrimu seutuhnya? Apa kau menyukai aku? Tidak kan, jadi untuk apa kau berpikir bahwa kau pantas untuk mengatur semuanya milikku, termasuk dengan jiwaku, aku tegaskan lagi padamu, pernikahan kita ini kan hanya pernikahan diatas kertas saja, seharunya kau tahu dengan hal itu!" Bentak Olivia menegaskannya lagi kepada tuan Kaiden dengan suara yang begitu tinggi dan tangannya yang nampak terus mengajung ke depan wajah tuan Kaiden, sedangkan tuan Kaiden sendiri tetap saja begitu santai.


Bahkan saking santainya dia malah tidak mendengarkan ucapan dari Olivia, yang ada malah meledeki dari belakang dan terus saja menjulurkan lidahnya ke luar sambil terus tidak henti-hentinya menirukan bagaimana cara Olivia bicara saat itu.


"Nyenyenye..nyenye..nyenye.." ucap tuan Kaiden tiada henti dan terus membuat Olivia kesal dengannya, dia tidak bisa diam saja ketika dirinya dihinakan dengan cara seperti itu oleh tuan Kaiden, bahkan di depan matanya sendiri.


Jadi karena tidak bisa menahan emosi, Olivia pun langsung saja menghentakkan kakinya dengan kencang dan menyuruh tuan Kaiden untuk berhenti meledeki dirinya seperti itu, sampai akhirnya Olivia sudah benar-benar kehabisan kesabaran dan memilih untuk pergi dari sana secepatnya.


"Tuan sudah cukup ya, kau benar-benar menyebalkan aku ingin kembali ke kota sekarang juga!" Bentak Olivia merajuk dan langsung membalikkan badan sambil pergi dari sana secepatnya.


"Hei ..kurcaci tunggu, kurcaci kau tidak bisa pergi dari sini seenaknya, kita itu di pulau terpencil dan kapal nya hanya akan berlabuh besok pagi, kurcaci nakal berhenti!" Bentak tuan Kaiden sangat kencang dan terus saja membuat Olivia segera berhenti ketika dia mendengar bahwa dia tidak akan bisa pulang saat itu juga.


Olivia berbalik menatap tajam pada tuan Kaiden dan dia terus membelalakkan matanya sambil memaksa ingin pulang kembali ke kota saat itu juga.

__ADS_1


"Tuan aku tidak mau tahu pokoknya aku mau pulang sekarang juga! Aku tidak ingin tinggal di pulau terpencil seperti ini hanya denganmu juga para pelayanmu itu, aku ingin kembali, aku tidak suka disini, kau sangat menyebalkan!" Bentak Olivia dengan kencang.


Tuan Kaiden mulai merasa lelah dan dia tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan gadis kecil itu, karena Olivia malah kembali berjalan cepat berusaha keluar dari hutan tersebut seorang diri, meskipun di dalam hutan itu sudah bisa dipastikan tidak akan ada hewan buas tetapi bukan berarti hewan biasa tidak akan menakutkan, ditambah tidak ada lampu yang disediakan di sekitar sana, semuanya hanya menggunakan lilin kecil yang di tancapkan pada tiap-tiap pagar yang dilewati sehingga lilin-lilin itu bisa saja padam jika cuaca menjadi tidak mendukung.


Seperti angin yang terlalu kencang ataupun turun hujan, maka semua jalanan akan tertutup gelap gulita dan itulah yang ditakutkan oleh tuan Kaiden, sebab jika sampai lilinnya mati maka, tuan Kaiden takut Olivia akan berjalan ke arah yang salah dan keluar dari jalur jalannya, sehingga kemungkinan dia bisa tersesat sebab pulang ini berbentuk bulat dan dipenuhi pepohonan rindang yang di buat sama dalam ukuran serta jenis tumbuhannya, jadi akan cukup sulit untuk seseorang yang tersesat mencari arah di malam hari karena semuanya akan terlihat sama.


"Kurcaci, berhenti tidak, kau tidak boleh merajuk begini seperti anak kecil, ayo cepat kita harus kembali, badai di pantai bisa tiba-tiba terjadi karena kita di tengah laut saat ini, kurcaci nakal apa kau mendengarkan ucapanku? Hei apa kau tidak tahu seberapa bahayanya berkeliaran di pulau terpencil saat malam hari? Ada banyak hewan yang mungkin belum sempat ditemukan oleh penjagaku, itu sangat berbahaya jika kau tidak mendengarkan aku, ayo cepat kita kembali!" Teriak tuan Kaiden lagi yang tidak henti-hentinya berusaha untuk menakut-nakuti Olivia agar dia mau mendengarkan dirinya dan bisa kembali berbalik menuju ke villa bersama dirinya.


Meski sebenarnya Olivia mulai merasa takut setelah mendengar ucapan dari tuan Kaiden, tetapi emosi dalam dirinya masih jauh lebih besar dibandingkan rasa takut dalam hatinya, sehingga dia pun lebih memilih untuk meneruskan langkahnya walaupun kini kedua tangannya sudah mulai gemetar ketakutan, apalagi suara jangkrik dan kodok terdengar begitu nyaring di sekelilingnya, ada pula semak-semak yang nampak bergerak sesekali setiap kali dia melirik ke arah samping, membuat bulu kuduknya merinding dan dia sudah tidak mendengar langkah kaki tuan Kaiden lagi dari belakangnya, apalagi suara teriakkan tuan Kaiden yang sebelumnya terdengar sangat keras.


Semuanya mulai terasa sepi dan sunyi, dinginnya malah membuat Olivia semakin takut dan merasa kedinginan pada tubuhnya kala itu.


"Ya ampun kenapa jadi menyeramkan begini, aahh tidak tidak tuan Kaiden pasti ada di belakangku kan? Dia tidak mungkin meninggalkan aku begitu saja lagipula langkah kakiku sudah tidak secepat sebelumnya jadi dia seharusnya tidak akan tertinggal bukan?" Gerutu Olivia terus saja memikirkan hal terbaik untuk menenangkan dirinya sendiri saat.

__ADS_1


Dia semakin berjalan pelan dan terus saja memegangi tangannya sendiri dengan begitu erat, sambil mulai memanggil nama tuan Devon beberapa kali untuk memastikan apakah tuan Devon masih ada di belakangnya atau tidak.


__ADS_2