
Gadis 19 tahun itu pergi ke kamarnya dan membanting pintu sangat kencang, dia di penuhi oleh emosi dalam dirinya, menjatuhkan diri ke ranjang begitu saja sambil cemberut dan menggerutu tiada henti. "Arrggghhh... Dasar manusia menjengkelkan, bisa bisanya dia mengambil kesempatan dari diriku begitu saja, sial sial sial!" gerutu Olivia tiada henti sambil terus mengucek selimut di ranjangnya.
Tuan Kaiden sama sekali tidak berpikir banyak dia pikir Olivia hanya akan marah sejenak kemudian kembali baik lagi dengannya, namun sampai beberapa hari berlalu selama itu Olivia sama sekali tidak menyapa tuan Kaiden sedikitpun padahal selama itu mereka sering kali berpapasan ketika berada di dalam rumah, bahkan ketika sarapan sekalipun, Olivia tidak pernah menghiraukan keberadaan tuan Kaiden, dia hanya fokus dengan makanan yang ada di depannya, setelah selesai makan dia langsung bangkit berdiri dan pergi dari sana, setelah beberapa hari hal seperti itu terus terulang, kali ini barulah tuan Kaiden menyadarinya, dia baru merasakan perbedaan dari hubungannya dengan Olivia yang mulai renggang dan semakin jauh dari hari ke hari, saat Olivia melenggang pergi tuan Kaiden terus memperhatikannya dan dia mulai berani menanyakan tentang gadis kecilnya pada bibi Jil yang masih membereskan bekas sarapan mereka diatas meja.
"Bi, ada apa dengannya? Apa dia ada masalah?" tanya tuan Kaiden sambil terus menatap punggung Olivia yang semakin menjauh.
"Maaf tuan tapi saya tidak tahu, beberapa hari ini nona Olivia juga tidak banyak bicara dengan saya." balas bibi Jil dengan jujur.
Mendapatkan jawaban seperti itu, tuan Kaiden semakin bingung dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar lalu segera pergi ke kantornya, sayangnya selama di kantor pun dia tidak dapat fokus dengan pekerjaannya tersebut sebab pikirannya terus saja terpusat pada Olivia, dia melamun panjang sambil duduk di depan komputernya sampai tidak lama sekretaris Dep menyalanya beberapa kali karena hendak memberikan proposal yang sudah dia kerjakan.
"Tuan.... Tuan Kaiden... Tuan." ucap sekretaris Dep sambil terus mendekatinya di samping meja.
__ADS_1
"Ahh... Iya ada apa Dep?" balas tuan Kaiden dengan wajahnya yang sedikit lingkung karena dikagetkan sekaligus seperti tadi.
"Tuan apa anda melamun? Apa yang membuat anda tidak fokus seperti ini, tidak seperti biasanya."
"Ah.... Tidak apa-apa Dep, ini hanya masalah di rumah saja, nanti juga akan selesai sendiri, mau apa kau kemari?" balas tuan Kaiden sengaja mengesampingkan pikirannya.
Sekretaris Dep yang mengerti bahwa tuannya tidak ingin berbagi cerita, dia pun segera menyerahkan proposal yang sudah dia buat kepada tuan Kaiden sekaligus menjelaskan mengenai rencana berikutnya untuk memperbaiki beberapa proyek dan tugas yang diberikan oleh tuan Kandensus kepada mereka, semuanya sudah di persiapkan dengan baik oleh sekretaris Dep dan perbaikan pembangunan juga pemasaran lainnya sudah mulai di jalankan, hanya memerlukan persetujuan lanjutan dari tuan Kaiden untuk memperluas jaringan proyek tersebut dikenalkan pada perusahaan besar lainnya, supaya mereka bisa mendapatkan lebih banyak dukungan dari perusahaan berpengaruh. Sehingga jika tuan Kandensus benar-benar lepas tangan atas proyek besar yang gagal ini maka perusahaan dalam pimpinan tuan Kaiden bisa mendapatkan sepenuhnya keuntungan dari sana.
Dengan begitu tuan Kaiden mulai memeriksanya dengan begitu teliti, membaca satu per satu lembaran kertas disana dan terus memahaminya dengan baik sembari memikirkan gambaran yang bisa saja terjadi di kedepannya jika dia menyepakati ide dari sekretaris Dep ini, mereka mulai mendiskusikan hal itu sangat serius hingga menghabiskan waktu beberapa jam, sampai akhirnya mendapatkan kesimpulan dan kesepakatan yang baik.
Sekretaris Dep langsung mengangguk dan dia segera membereskan berkas yang berantakan di atas meja sambil sesekali kembali memperhatikan tuan Kaiden yang kembali melamun lagi, membuat sekretaris Dep sangat penasaran dan tidak bisa diam saja ketika melihat tuan besarnya seperti itu.
__ADS_1
"Tuan maaf jika saya lancang, tapi anda boleh menceritakan apa yang membuat anda gelisah kepada saya, siapa tau saya bisa memberikan sedikit solusi untuk permasalahan anda." ujar sekretaris Dep memberanikan diri.
Akhirnya tuan Kaiden mau angkat bicara juga, karena dia sudah terlihat putus asa, tidak tahu apa yang bisa dia lakukan agar membuat Olivia bisa bersikap kembali seperti sebelumnya, dan dia sendiri bahkan tidak tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai membuat Olivia tiba-tiba menjaga jarak seperti ini darinya.
Tuan Kaiden menceritakan kejadian tadi pagi saat di meja makan juga kejadian di beberapa hari sebelumnya dimana Olivia terus menghindari dirinya dan sudah tidak pernah makan malam bersama dengannya. Sekretaris Dep ikut kebingungan sampai mengerutkan kedua alisnya hampir menyatu, sebab rasanya penjelasan yang diberikan oleh tuan Kaiden tidak utuh.
"Tunggu tuan apa kau yakin nona Olivia merajuk secara tiba-tiba kepada anda? Apa sebelumnya kalian bertengkar dahulu?" tanya sekretaris Dep mencoba untuk mencaritahu sumber masalah utamanya.
Tuan Kaiden mulai berpikir keras sambil menatap sekretaris Dep sangat serius, hingga dia ingat dengan kejadian beberapa hari lalu.
"Astaga... Dep beberapa hari lalu, aku pernah mengerjai dia, sampai dia membanting pintu kamarku sangat keras, apa mungkin dia marah padaku karena hal itu?" balas tuan Kaiden mulai mendapatkan pencerahan.
__ADS_1
"Nah, mungkin saja karena hal itu tuan, sebaiknya anda membujuk nona Olivia secepatnya karena setahuku seorang wanita jika dibiarkan merajuk terlalu lama bisa saja perasaan dia kepadamu akan semakin hilang lalu mereka bisa benar-benar pergi dan tidak memperdulikan anda lagi selamanya." balas sekretaris Dep memberitahu apa yang dia ketahui tentang seorang wanita yang merajuk saat itu.
Mendengar hal itu tuan Kaiden langsung membelalakkan matanya sangat lebar, antara perasaan takut dan cemas yang menjadi satu, disisi lain tuan Kaiden sangat gengsi jika harus meminta maaf lebih dulu apalagi jika harus membujuk Olivia, tapi disisi lain dia juga tidak ingin jika sampai hubungannya bersama Olivia semakin renggang, apalagi dengan ucapan yang dikatakan sekretaris Dep, membuat dia semakin khawatir.