
Berbeda dengan Seno dan Nyonya Asila, meski mereka merasa uang dan kekayaan yang mereka miliki saat ini tidak seberapa dan sangat kurang tetapi Olivia yang hanya bisa makan dan tinggal menumpang bersama dengan tuan Kaiden, dia justru malah merasa biasa saja, padahal saat ini dia sudah tidak memiliki orang tua, tidak ada tempat tinggal dan tidak tahu akan menghadapi dunia seperti apa lagi.
Semua mimpi dalam dirinya yang selalu dia harapkan dan selalu diam pendam sudah tidak bisa dia lakukan lagi, meski usianya masih 19 tahun tetapi dia merasa dia harus dituntut menjadi wanita dewasa dengan paksaan, menjadi istri dari pria yang usianya jauh lebih tua darinya dan harus ikut dalam projek juga meeting ke luar kota bersama tuan Kaiden seperti yang dia lakukan saat ini, di malam itu Olivia tiba-tiba saja bermimpi bertemu dengan kakaknya lagi yang sudah meninggal dunia sejak kejadian kebakaran di rumah lamanya tersebut. Rasa bersalah dalam diri Olivia masih belum hilang sepenuhnya, dia merasa sangat bersalah dan terus berpikir bahwa dia adalah sebab utama mengapa kakaknya meninggal dunia malam itu.
"Kak....kakak jangan pergi aku mohon tolong temani aku, aku tidak bisa hidup tanpa kakak di sampingku, aku tidak mau tersesat sendirian, kak tolong jangan pergi di luar hujan kak, ada banyak air jangan kak!" Teriak Olivia terus saja menjerit dan memanggil kakaknya berkali-kali.
__ADS_1
Karena suaranya yang begitu nyaring, tuan Kaiden yang tidur di sampingnya menjadi sangat terganggu dan langsung terbangun dari tidurnya, dia mulai mengerjapkan mata beberapa kali dan menatap ke samping, sudah melihat Olivia memegangi selimut dengan begitu erat dan matanya yang menangis sambil terpejam, membuat seorang tuan Kaiden menjadi cemas dan panik tidak karuan. "Astaga, apa yang terjadi dengannya, apa dia baik-baik saja? Hei gadis kurcaci bangun kau kenapa, Olivia?" Ucap tuan Kaiden segera berusaha untuk membangunkan gadis kecil tersebut.
Tapi sayangnya Olivia sudah terhanyut cukup dalam dalam mimpinya tersebut, sehingga cukup sulit untuk tuan Kaiden menyadarkannya, bahkan saat itu tuan Kaiden terpaksa harus menyiram wajah Olivia dengan air dingin agar bisa menyadarkan dia dari mimpi buruknya tersebut.
"Aarrkkkk...hah..hah....kakak? Dimana kakaku, dimana kakak?" Teriak Olivia yang akhirnya terbangun namun dia malah berteriak mencari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
Dia menghembuskan nafas dengan lesu disaat tuan Kaiden mulai mencoba bertanya tentang kondisinya saat itu.
"Hei, apa kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, kakak siapa yang kau cari?" Tanya tuan Kaiden yang begitu penasaran dan sangat mencemaskan Olivia.
"Tidak ada tuan, aku hanya mimpi kakaku meninggalkan aku lagi." Balas Olivia dengan lesu dan terus tertunduk begitu kusut.
__ADS_1
Tuan Kaiden tidak bisa mengatakan apapun lagi karena dia sendiri tidak paham apa yang sebenarnya tengah dirasakan oleh gadis kecil tersebut dan sama sekali tidak mengerti apa yang harus dia lakukan agar bisa membujuknya dan membuat dia lebih senang, tetapi disaat tuan Kaiden baru saja mau menyuruhnya untuk kembali tertidur saja, Olivia justru tiba-tiba saja terperanjat bangkit dari ranjang dan berlari ke balkon kamar, dia menarik tirai disana sangat kuat dan melihat ke luar kamar dimana saat itu di luar tengah terjadi badai kecil di pesisir pantai, dimana air laut sudah naik dan ada hujan yang disertai angin kencang menghembuskan di luar sana.
Kejadian itu mengingatkan Olivia akan kejadian pahit yang dia alami di masa lalu, sehingga dia langsung jatuh terkulai lemah di lantai balkon kamar tersebut beberapa detik setelah melihat kondisi badai di luar dimana hujan dan anginnya terasa sangat sama persis dengan kejadian malah menyedihkan itu.