
Saat Olivia bertanya dengan penuh kegelisahan, sang rektor justru malah tersenyum lebar padanya bahkan sampai bangkit berdiri mempersilahkan Olivia untuk duduk di samping tuan Kaiden saat itu.
"Ahh.. Tidak ada apa-apa, silahkan duduk dulu tuan Kaiden yang meminta saya untuk memanggil kamu, ayo-ayo silahkan. Kalau begitu bapak pergi ke luar sebentar silahkan mengobrol dengan leluasa." ucap sang rektor segera pergi dari ruangan tersebut.
Dia sengaja memberikan waktu dan ruang bebas bagi tuan Kaiden karena sudah mengerti jika tuan Kaiden membutuhkan semua itu saat ini, sedangkan Olivia sendiri mulai menatap tuan Kaiden dengan tatapan tajam, dia tidak menduga jika tuan Kaiden akan datang ke kampus untuk menemui dia saja seperti ini.
"Tuan apa maksudmu datang ke kampus begini, sampai harus melewati rektor untuk memanggilku, apa kau tidak tahu dampak apa yang akan terjadi kalau kau begini?" ucap Olivia dengan suaranya yang sedikit meninggi.
"Wah...wah... Bagus, sekarang kau bahkan sudah berani membentakku ya? Hei apa kau sudah lupa siapa yang mengalihkan kau, hah? Dasar tidak tahu terimakasih." balas tuan Kaiden nampak marah saat itu.
Tapi semarah-marahnya tuan Kaiden pada Olivia dia tetap tiba bisa balik membentak gadis kecilnya, jadi dia malah merajuk dan langsung memalingkan pandangan ke arah lain dengan mengepalkan kedua lengan sangat kuat untuk melampiaskan emosi dalam dirinya.
Olivia tetap saja merasa kesal dia berusaha menahan amarahnya dengan mengatur nafas beberapa kali kemudian mulai bicara lagi dengan tuan Kaiden. "Huuhh baiklah ada apa kau mencariku kemari, aku kan sudah bilang padamu, aku masih ujian dan ujiannya hanya berlangsung satu jam saja ini baru juga setengahnya kau sudah muncul dan memanggilku di tengah-tengah ujian, wajar jika aku marah bukan?" balas Olivia padanya dan mencoba untuk menjelaskan semuanya.
"Aku kemari untuk menjemputmu bukan mengganggu ujianmu, jika kau merasa ujianmu itu lebih penting dibandingkan aku yang jelas-jelas suamimu dan orang yang telah mengurusmu selama ini, ya silahkan saja kau kembali ke sana. Aku akan pulang." balas tuan Kaiden nampak sangat dingin dan dia jauh berbeda dari biasanya.
Dengan cepat Olivia menahan tangannya dia tidak mungkin membiarkan tuan Kaiden pergi dalam keadaan moodnya yang tidak jelas seperti itu, dia pun berusaha membujuknya lagi dan meminta maaf kepadanya, walaupun sebenarnya itu sangat menyebalkan tetap tidak ada cara lain lagi yang bisa dia lakukan untuk membuat tuan Kaiden berhenti memberikan tatapan dingin itu padanya dan berprilaku seakan tidak memperdulikan dia saat ini.
"Tuan tunggu, baiklah aku akan pergi denganmu, ujiannya juga sudah selesai aku hanya bisa berharap semoga aku bisa lulus walaupun ada beberapa soal yang tidak belum selesai aku kerjakan tadi, ayo kita pulang aku minta maaf karena meninggikan suara padamu, tadi aku terpancing emosi." ucap Olivia bicara lebih lembut dan pelan padanya.
Tuan Kaiden terus saja terdiam sama sekali tidak mau menatap ke arah Olivia, dia nampak dingin dan memalingkan pandangan sejak tadi, wajahnya dipenuhi kekesalan tidak henti membuat Olivia semakin bingung bagaimana cara membujuknya, di tambah saat itu dia masih berada di ruangan rektor dimana disana ada cctv yang terpasang membuat gadis kecil itu tidak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
"Tuan ayolah, kenapa kau terus memalingkan pandangan dariku seperti ini, aku kan hanya ingin meminta maaf padamu lagi pula aku ke kampus itu untuk ujian bukan untuk hal lainnya, tolong kamu mengerti posisiku." tambah Olivia lagi sambil terus berusaha membuat tuan Kaiden agar menatapnya saat itu.
Sayangnya membujuk tuan Kaiden memang sangat sulit, bukannya membaik tuan Kaiden malah bangkit secara tiba-tiba dan dia langsung menjauh dari Olivia sehingga membuat gadis kecil itu merasa di hindari, dengan perasaan kesal bercampur cemas Olivia segera mengejar tuan Kaiden bahkan dia harus berjalan cepat untuk mengimbangi langkah kaki tuan Kaiden yang begitu lebar.
"Aishh... Benar-benar menyebalkan kenapa sih dengannya, tidak biasanya mudah marah seperti ini, aishhh mana jalannya cepat sekali lagi, tuan tunggu!" teriak Olivia berusaha mengejarnya.
Tanpa Olivia sadari dari kejauhan ada Serli yang baru saja kembali dari kamar mandi, dia melihat Olivia keluar dengan seorang pria bertubuh tinggi tegap lengkap kacamata serta masker yang menutupi wajah pria tersebut, langsung saja dia mengikutinya sebentar sampai dia kehilangan jejaknya.
Namun yang ada di pikiran Serli saat itu benar-benar di luar nalar dia justru malah menduga jika Olivia pergi bersama sang rektor kampus tersebut, dia menyimpulkan semuanya sendiri lalu panik dan terburu-buru kembali ke kelasnya menemui Malara untuk menyampaikan kabar tersebut. "Wahh, benar-benar anak ini, pantas saja dia mampu kuliah disini ternyata simpanannya rektor, ini tidak bisa dibiarkan aku harus memberitahukan Malara soal ini agar dia tidak percaya lagi dengan perempuan j*Lang itu." ucapnya dengan wajah penuh kebencian dan segera berlari meninggalkan tempat tersebut.
Di ruang kelas tepat ketika dosen sudah bubar, Serli langsung berdiri di depan pintu kelas menghadang pada mahasiswa yang hendak keluar dari sana dan dia meminta sedikit waktu pada teman-teman seperguruannya untuk tetap berada di kelas dengan alasan akan ada berita penting yang ingin dia sampaikan pada mereka. Sebagian mahasiswa yang memilikinya kesibukan lain dan tidak terlalu tertarik dengan gosip memilih tetap pergi namun sebagian besar dari mereka justru mendengarkan permintaan Serli karena mereka cukup penasaran, apalagi belakangan ini ada banyak sekali gosip hot yang beredar di kampus mereka, yang tidak tahu tentang berita di sana sering kali di anggap mahasiswa culun atau tidak gaul dan akan sedikit yang menemaninya.
"Hei Serli cepat katakan, berita apa yang mau kau sampaikan, jangan menyita waktu kita terlalu lama." teriak salah satu mahasiswa disana disusul dengan yang lainnya.
"Apa maksudnya Serli memperlihatkan foto itu, bukankah itu Olivia?" batin Malara yang juga melihatnya.
Semua orang banyak yang mulai bertanya dan semakin penasaran, Serli tersenyum jahat dan mulai menjelaskan maksud yang dia tuju.
"Oke sabar teman-teman, ini aku baru ingin menjelaskannya, kalian tahu bukan laki-laki di foto ini adalah rektor terhormat di kampus kita, dan kalian tahu siapa wanita yang memegang tangannya ini, yaa dia adalah seseorang yang aku kenal dulu sempat cukup dekat denganku, tapi dia menggoda ayah sahabatku sendiri Malara, lalu sekarang kalian lihat kan dia sedangkan mengejar target baru, dan foto ini adalah buktinya." jelas Serli mengatakan semuanya bahkan sampai menyeret masalah Malara di depan semua orang.
Membuat Malara kesal mendengarnya dan dia segera berlari menghampiri sahabatnya itu lalu menegur dia dengan kuat.
__ADS_1
"Berhenti Serli, kenapa kamu melakukan semua ini, bisa saja Olivia bukan seperti yang kamu bayangkan, dia tadi memang di panggil rektor ke ruangannya bukan, mungkin saja ada masalah dalam administrasi atau hal lainnya, kau tidak bisa menyimpulkan begitu saja, apalagi hanya modal foto seperti ini!" tegas Malara membelanya.
Serli tidak senang dengan ucapan Malara yang membuat para mahasiswa lain menjadi mengikutinya tapi dia tidak mau kalah dan tetap saja bisa memalingkan pembicaraan itu juga membuat semua orang terhasut akan ucapan busuknya tersebut.
"Iya benar apa yang dikatakan Malara, aku saja pernah mengejar rektor sampai ke parkiran karena dia memberikan surat peringatan kepadaku sebab selalu telat membayar administrasi." balas salah satu mahasiswa disana yang di timpali oleh sebagian yang lain.
"Hei... Aku melihat dengan jelas dia keluar dari ruangan rektor sambil berteriak memanggil rektor dengan sebutan tuan, apa kau pikir hal itu pantas? Lagi pula dia itu baru saja masuk di universitas ini dan bukannya dia mendapatkan beasiswa? Harusnya dia tidak memiliki masalah dalam hal keuangan seperti itu kan? Lalu kenapa harus rektor yang secara langsung meminta datang ke ruangannya, bukankah pihak administrasi yang bisanya meminta datang dulu untuk mendata, kita tidak bisa sembarang menemui rektor bukan?" balas Serli yang kembali berhasil membuat semua orang malah mempercayai ucapannya.
"Benar juga sih apa yang Serli katakan, saat itu aku juga tidak benar-benar bertemu rektor malah diurus dengan wakilnya dan itu di kantor administrasi bukan di ruangan rektor." balas salah satu mahasiswa menyetujui ucapan Serli.
Yang lainnya pun mengangguk setuju dan mereka mulai saling berbisik mengobrol satu sama lain dengan menjelekkan Olivia dan gosip itu bisa menyebar dengan sangat cepat, Serli tersenyum kecil mengangkat sedikit ujung bibirnya, menandakan rasa puas karena niatnya sudah tercapai, sedangkan Malara langsung membentak dia lagi.
"Serli apa yang kamu lakukan? Tidak baik menyimpulkan semua ini hanya dari pandangan dirimu saja? Kita harus menanyakan secara langsung pada Olivia dahulu." ucap Malara saat itu.
"Malara apa lagi yang kamu pikirkan, apa kamu masih bisa mempercayai dia, apa yang terjadi dengan kasus ayahmu masih belum cukup hah?" balas Serli masih saja tidak mendengarkan ucapan pengingat dari Malara.
"Tapi Ser... Aku yakin kejadian dengan ayahku mungkin Olivia benar bukan dia yang menggodanya tapi ayahku yang salah karena mencoba mendekatinya, aku sangat mempercayai Olivia, aku tumbuh besar dengannya, jadi aku..." ucap Malara yang tidak sempat selesai sebab Serli langsung memotongnya dengan bentakkan keras.
"Cukup Malara, kau ini sudah buta, kau terlalu lemah dan begitu mempercayai wanita itu, padahal semuanya sudah jelas dia itu memang j*Lang!" bentak Serli sangat kencang.
Bukannya mendengarkan apa yang dikatakan Malara, Serli justru malah kesal dengan sahabatnya sendiri dan dia terus meninggalkan Malara yang langsung terdiam saat mendapatkan ucapan seperti itu bisa keluar dari mulut sahabat yang dia pikir sangat baik dan sama baiknya dengan Olivia.
__ADS_1
"Serli kenapa aku merasa semakin kesini kamu bukan dirimu yang dulu aku kenal lagi." gerutu Malara sambil berdiri diam tertunduk dengan lesu.
Semua orang sudah pergi dari kelas itu dan hanya tinggal Malara seorang diri sebagai orang terakhir yang keluar dari sana masih dengan memasang wajah layu tanpa semangat sedikitpun, dia tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan saat ini.