
Duduk di ruang meeting di depan semua para staf perusahaan yang penting sambil tangannya memutar bolpoin yang ada di atas meja dan terus saja tersenyum sendiri tanpa memperhatikan orang yang tengah menjelaskan masalah keuangan perusahaan kepada dirinya saat itu.
"Ahaha.... Aku memang cerdas, bocah itu tidak akan bisa kabur sama sekali, karena ruangannya sudah aku kunci dengan baik bahkan jendelanyapun sudah aku segel. Haha." Batin tuan Kaiden memikirkan tentang Olivia saat itu.
Dan dia merasa sangat senang karena sudah mempersiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke ruang meeting meninggalkan Olivia sendiri di dalam ruangan kantornya tersebut. Sedangkan disisi lain Dep terus saja mengerutkan kedua alisnya sambil terus menatap dengan lekat ke arah tuan Kaiden yang nampak sama sekali tidak fokus selama staf keuangan di depan tengah mengutarakan penjelasan kepada dirinya.
Langsung saja Dep segera mendekati tuan Kaiden dan berusaha untuk menyadarkannya dengan memanggil nama tuan Kaiden dalam nada bicara yang semakin kencang, sebab tuan Kaiden sudah di panggil beberapa kali oleh dia sebelumnya, namun sama sekali tidak menggubris sedikit pun.
"Tuan... bagaimana menurutmu, apakah semua penjelasan dari sifat administrasi keuangan ini sudah sesuai dengan yang semestinya? Tuan apa kau mendengarkan penjelasan tadi? Tuan Kaiden. TUAN Kaiden Kandensus!" Teriak Dep yang cukup kencang tepat di samping telinga tuan Kaiden sekaligus.
Barulah setelah itu tuan Kaiden segera tersadarkan dan dia langsung menatap ke arah Dep dengan wajah yang kebingungan dan kedua alis yang dia naikkan cukup tinggi hingga dia justru malah menyuruh staf keuangannya itu untuk menjelaskan kembali presentasinya di mulai dari awal.
"Hah? Ada apa? Beraninya kau berteriak sekencang itu padaku, ayo ulang lagi presentasinya!" Jawab tuan Kaiden dengan tegas dan dia segera memperbaiki posisi duduknya itu dengan cepat.
Dep pun kembali memberikan kode kepada orang yang tengah presentasi di depan untuk memulainya kembali dari awal, sebab dia juga tidak bisa membantah ucapan dari tuan Kaiden dan hanya bisa menuruti semua ucapannya meski saat itu Dep sendiri cukup merasa kesal sebab dia tidak ingin mengulang lagi dan menghabiskan cukup banyak waktu yang akan memperlambat pulangnya hari ini termasuk pekerjaan dia yang lainnya.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain gadis 19 tahun itu yang sudah mengetahui bahwa dirinya di kurung dalam ruangan tersebut, dia hanya bisa menggerutu dengan sangat kencang dan terus saja mengamuk sendiri untuk melampiaskan semua emosi dalam dirinya yang sudah terbendung sejak lama.
"Aaarrkkkk dasar manusia brengsek, tidak punya hati, manusia biadap! Kenapa dia mengurungku di sini, aku kan bukan pencuri ataupun penjahat, aaarrghhhh menyebalkan. Aku sangat membencinya, awas saja kau aku tidak akan diam saja, pokonya aku ingin kabur!" Teriak gadis tersebut yang mengamuk sendiri juga berteriak sangat kencang.
Dia langsung saja berusaha mencari jalan keluar lain dari kantor tersebut, mencoba untuk membuka jendela disana, namun saat Olivia membuka gorden transparan itu dia mendapatkan jendelanya ternyata sudah di permanenkan dan sama sekali tidak dapat dia buka saat itu, semuanya benar-benar tersegel dan sudah tidak bisa di gerakkan sama sekali olehnya, membuat dia merasa sangat frustasi dibuatnya dan terus saja mengeluh begitu banyak. "Aish...jendela pun sudah dia segel begini? Wah..wah..dia benar-benar sudah mempersiapkan semuanya, kalau begini aku mana bisa kabur, huaaa..aku ingin mati saja jika begini." Rengek gadis tersebut kembali mengeluh dan dia terus saja merasa begitu kesal dan campur aduk tidak menentu.
Semua cara sudah berusaha untuk dilakukan oleh gadis tersebut, dia sudah mencoba untuk membuka jendela disana selama dua puluh menit lamanya, tetapi dia terus saja tidak bisa membukanya, dia juga sudah berusaha untuk mendobrak pintu keluar dari dalam tetapi bukannya pintu itu terbuka, justru malah tubuhnya sendiri yang terpental ke belakang dan dia jatuh tersungkur ke lantai.
Di waktu yang bersamaan, sepertinya gadis manis itu sedang tidak beruntung, karena ketika dia jatuh ke belakang dan meringis kesakitan, pintu itu akhirnya terbuka dan muncul tuan Kaiden dan Dep yang baru saja kembali dari meeting penting mereka.
Tentu saja tuan Kaiden mengerutkan kedua alisnya cukup kuat begitu pula dengan Dep, mereka berdua menatap dengan penuh pertanyaan di kepala masing-masing saat melihat seorang gadis kecil yang hanya memiliki tinggi badan 155 cm itu justru sudah terkapar di lantai dan meringis memegangi bagian belakangnya.
Tuan Kaiden yang menyaksikan hal itu dia langsung saja berjongkok di hadapan gadis tersebut dan mulai memanggil namanya, membuat Olivia kaget hingga terperanjat ke belakang di buatnya, karena sebelumnya gadis kecil itu tidak menyadari bahwa di hadapan dia sudah ada tuan Kaiden dan Dep yang baru saja masuk saat itu.
"Hei, apa yang terjadi denganmu?" Tanya tuan Kaiden kepadanya saat itu.
__ADS_1
"Astaga... Aahh tuan sejak kapan kau ada disini?" Ucapnya terperangah sangat kaget dengan mata terbuka lebar dan perasaannya yang mulai merasa cemas tidak karuan.
Dia takut tuan Kaiden akan mengetahui bahwa dirinya sempat berniat untuk mencoba kabur dari ruangan tersebut, sehingga dengan cepat Olivia langsung berusaha untuk bangkit berdiri secepat yang dia bisa, meskipun sebenarnya saat itu b*kongnya terasa sakit dan pinggangnya juga masih begitu ngilu.
Namun karena takut ketahuan, dia menyembunyikan rasa sakitnya itu dan langsung saja bangkit berdiri hingga sekaligus pinggangnya terasa sangat sakit.
"Aaahhh..." Teriak Olivia sangat kencang dan dia langsung saja hampir jatuh ke samping karena merasa sangat lemas.
Tuan Kaiden langsung saja menariknya dan menahan tubuh Olivia dengan sigap, sambil terus memberikan tatapan tajam dengan datar dan terus memberikan banyak kecurigaan kepada gadis tersebut tanpa henti.
"Hei, ada apa denganmu kenapa kau sampai kesakitan seperti ini?" Tanya tuan Kaiden sambil langsung saja menggendong tubuh Olivia dengan cepat dan mendudukkan dia di sofa ruangannya dengan segera.
Olivia sendiri terus saja merasa kelimpungan, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas pertanyaan dari tuan Kaiden saat itu, jadi dia hanya memilih untuk diam meski tuan Kaiden terus bertanya kepadanya dan dia hanya bisa memberikan sebuah alasan konyol yang dia katakan saat itu secara refleks.
"Hei, kenapa kau terus diam saja? Barusan aku bertanya padamu, kenapa kau bisa sampai kesakitan seperti ini, dan kenapa tiba-tiba bisa ada di lantai?" Tanya tuan Kaiden kepadanya semakin serius dan semakin merasa curiga.
__ADS_1
Meski tuan Kaiden sudah tahu bahwa gadis di hadapannya itu pasti akan mencoba untuk kabur, namun dia hanya ingin mendengarnya secara langsung dan sengaja mendesak gadis itu untuk memohon reaksi apa yang akan dia katakan kepadanya untuk menutupi kebohongan yang dia lakukan di hadapannya saat ini.
"Ayo jawab, kenapa kau diam saja? Apa jangan-jangan kau..." Ucap tuan Kaiden semakin mendesaknya hingga dengan cepat Olivia langsung menjawabnya sekaligus.