
(Velove POV)
"Pak, Saya ke sini bukan mau ngajak perang loh sama Bapak, saya ke sini cuma mau buat nyari suami, dan sekarang Orang itu udah ada di hadapan Saya. So... Apa ada peluang buat Saya jadi istri Bapak kan? Toh kita sama-sama masih sendiri."
Jujur, langsung nembak cowok dan terus terang kayak gini bukanlah hal yang gue sukai. Tapi demi calon suami yang gue pilih sendiri gue rela ngelakuin semua hal yang bertentangan sama prinsip gue yang ngemis-ngemis sama cowok cuma buat jadi suami gue.
Mata gue sengaja nggak berpaling dari matanya yang meminta penjelasan lebih memancarkan ketajaman yang seakan menusuk ulu hati. Tapi Gue nggak gentar cuy... Gue bakalan hadapi amukan dia setelahnya.
Saat Gue diem Gue biarin tatapan dia mengeksplore sepuasnya. Yupz boleh dibilang saat ini Gue cukup percaya diri dan juga nggak ada yang harus di sembunyikan dari tampilan Gue. Gue nggak mau basa-basi lagi kalo udah menempati kursi panas ini, sebab sepasang netra di depan Gue tengah memaku intens. Duduk tenang menjadi kunci, birpun wajah Gue, pakaian Gue, dan tentunya tekad Gue seakan-akan ditelanjangi hanya dengan satu tatapan saja.
Hmm... Mendatangi Pria yang udah lama nggak berkomunikasi itu jujur sangat menantang Gue. Karena kehadiran Gue di sini bukan untuk bermain-main atau mengajukan damai, mengingat perbuatan Gue di masa lalu membuat Pria di hadapan Gue itu menyambut kehadiran Gue layaknya musuh.
Ini Bukan perkara usia Gue yang mau menginjak 30 tahun, atau label 'Perempuan Darurat Menikah' . Gue lagi nyari calon yang sangat pantas menurut Gue, Pria yang tepat, pria pilihan Gue sendiri, dan optimis kalau Gue pulang ke jakarta nanti, Gue bakalan bawa berita baik.
(Author POV)
__ADS_1
Velo semakin yakin untuk membujuk pria yang sedang mengerutkan dahi seakan berpikir keras itu, agar setidaknya mempertimbangkan kata-katanya. Dan tentu saja Velo lakukan secara sadar, tanpa peduli sirat di mata pria itu kini meremehkannya, atau mungkin pria itu benar-benar akan mendampratnya tak punya otak. Andai mulutnya sesumbar, ia pasti akan bilang tidak takut menerima cacian. Kesiapan mental Velo mencapai kata matang, karena itu senjatanya bisa mendarat di Kalimantan.
"Kamu offer Saya jadi suami?"
"Tepat. Bapak ngewakilin aspek-aspek yang saya incer dalam sosok suami." Velo menyandarkan punggung, demi mengurangi dentam samar jantungnya berhadapan dengan pria sekelas Hartadi Lewandowski Bratadikara. Sulit sekali menyambangi Pria itu siang ini. Berkat peraturan berlapis bagi setiap tamu yang ingin menemui Pria itu, tetapi Velo tidak ingin waktunya tersia-siakan. Ia hanya mencetuskan nama Ayahnya, lalu hubungan apa yang mereka miliki. Sehingga loloslah dia memasuki ranah pria itu.
"Aspek-aspek apa yang kamu maksud? Saya nggak paham. Kalau nge-offer sesuatu, pastikan dulu dengan jelas supaya kamu nggak ditolak. Apalagi saya nggak gampang terima offer dari 'Orang Asing'." Mata Pria yang bernama Hartadi itu memincing sekilas. Masih dikuasai tanda tanya besar atas eksistensi Velo di pulau yang jauh dari Ibu Kota ini. Apalagi Perempuan itu mengenakan pakaian yang tak cocok untuk dipamerkan di lingkungannya sekarang, terlebih bibir yang di poles menggunakan entah apa itu tampak merekah dan mengkilap sehat.
Tidak mudah membalas mata Hartadi, tetapi Velo tetap mempertahankan mereka dalam satu pandangan tanpa gentar. 'Brand New Hermes Birkin 30 Crocodile Porosus Lisse' terpangku di atas kedua pahanya yang merapat, di bebat rok span beige asimetris. Merasa penampilannya sah-sah saja, anehnya pandangan Hartadi membiaskan bahwa ada sesuatu yang keliru.
Sudut bibir Hartadi membuat seringai sangar. "Kamu nilai saya? Apa nggak salah?"
"Ya, nggak salah. Saya kasih nilai A buat Bapak. Wajar, Saya ini kan perempuan yang lagi nyari calon suami. Apa nggak berhak minta yang mendekati sempurna versi saya sendiri? Biar hakikatnya manusia nggak ada yang sempurna, tapi bukan berarti 'hampir sempurna' itu nihil." Velo menynggingkn sudut bibirnya. "Laki-laki yang disegani berkat materi dan latar belakang keluarga Pak Har milikin itu. Kebetulan, saya emang memprioritasin laki-laki lahir dari keluarga old money. Kalau OKB, potensi macem-macemnya lebih banyak."
"Cih... Kamu lugas banget ya, Vel. Enak banget kamu dateng-dateng ke saya langsung minta hal yang seserius ini? Tujuan kamu yang sebenernya apa?" Hartadi mendengus kesal dan mengurut pangkal hidungnya sambil menyepelekan Velo. Pria itu nyaris kehilangan kecakapannya dalam berkata-kata menyadari Velove Bratadikara berani melobinya untuk title 'Suami'. Dari Sejarah hubungan mereka pun, Velo tidak terdeteksi memiliki hati padanya atau mungkin ini cara perempuan itu mendapatkan hal lainnya.
__ADS_1
Ya.. Pria itu berpikir kalau Velo batu loncatan. Mungkin saja ya...
"Ya cari suamilah pak... Kok nanya lagi sih?!" jawab Velo sambil memindahkan tas di pangkuannya ke kursi kosong di sisinya. Berganti menumpangkan satu kakinya ke atas kaki yang lain sambil menyamankan posisi duduknya. Dia benar-benar menolak untuk terintimidasi oleh sosok Hartadi, walaupun hatinya tetap mendesirkan kerisauan. Bibirnya menipis, bagaimana pun juga dia harus menggiring Hartadi agar mau menerimanya.
"Hah... Jelasnya pencarian calon suami saya ini ada sebabnya. Ada yang pengen saya proteksi. Itu alasan saya jauh-jauh ke sini dan masuk ke lingkungan yang sama sekai asing, cuma untuk ketemu Bapak. Saya ke sini nggak asal pergi loh Pak, Saya datengin Bapak pakai usaha. Velo yakin suaranya tidak seperti orang mereka, karena dirinya datang dengan ketegaran seorang perempuan dewasa yang sedang mengejar target dalam hidupnya.
"Apa yang kamu proteksi? Kamu aja datang tanpa permisi. Masih untung kamu saya kasih kesempatan duduk di ruangan ini. Kamu inget udah berapa lama kita nggak berkomunikasi?" ucap Hartadi dengan intonasi tinggi karena sudah jelas wanita itu mengacaukan agenda hari seninnya yang sangat padat merayap seperti jalan jakarta...
Batin Velo menyindir sikapnya yang tak langsung mengutarakan inti. Baginya, kejujuran di balik keinginan besarnya menjadikan Hartadi suami harus dikatakan dengan hati-hati pada kesempatan yang tepat. Berhadapan dengan pria saklek semacam Hartadi, Velo haruslah cerdik membaca ritme pria itu.
Sementara Hartadi yang masih duduk di belakang meja kerjanya, memastikan sekali lagi jadwal agendanya hari ini yang sudah tersusun secara detail di atas trackpad macbooknya. dia tidak akan mengabaikannya hanya gara-gara kehadiran Velo. Gerakan tangan Hartadi terdiam saat tidak mendengar balasan satupun dari Velove.
"Diam? Silahkan keluar kalau nggak ada lagi yang bisa keluar dari mulutmu. Jujur, saya nggak ada waktu buat ngurusin kamu. Saya punya prioritas lain."
Velo tersenyum kecut, tidak asing memang menemui Hartadi yang tak ramah dan terkesan anti terhadapnya. Dia merasa baik-baik saja tanpa mengukur sakit hati. Andaikan Hartadi mengusirnya pergi, Velo akan tidak tau malu datang lagi kembali.
Dengan pemikiran tersebut, Velo berdiri dan berjalan untuk lebih dekat dengan Hartadi yang masih dudyk menatap layar macbook dengan ekspresi gelapnya. Hadirnya disini memang sudah bertolak, namun Velo sudah memantapkan hati karena dia menyambangi Hartadi untuk mencari jalan keluar terbaik dari persoalan peliknya. Velo membutuhkan tangan yang tepat.
__ADS_1
"Kamu mau sampai kapan di kantor saya, Vel?" tegur Hartadi datar. Sekali lagi dia melihat Velo intens, perempuan dengan pakaian modis berdiri penuh tekad dihadapannya. "Kerjaan saya hari ini nggak cuma dengerin kengawuranmu aja. Kantor ini punya pergerakan yang cepat setiap harinya dibandingkan dengan pusat jakarta. Kamu nggak bisa lama-lama menahan saya di ruangan ini."