Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Meminta Ijin


__ADS_3

“Har, mba boleh tau kenapa Velo jadi seperti ini?” ucap Asri sambil mengangkat punggungnya yang semula membungkuk di samping ranjang Velo.


“Tentu aja, hak mba buat tau.”


Asri Menyerongkan kursi di samping ranjang ke arah Hartadi sambil mencari posisi enak untuk mendengarkan cerita dari adik iparnya itu.


“Mba langsung gemetaran pas di telepon kamu tadi. Pikiran Mba udah kemana-mana, apalagi Velo sering nyetir sendirian.”


“Siang ini Velo nggak nyetir mobil, Mba.” Tekan Hartadi diiringi gelengan kepala.


“Sebentar…” Asri terdiam berpikir sambil mengerjap kebingungan. “Velo kayak gini bukan karena kecelakaan mobil?”


Hartadi menarik napas sambil membenarkan duduknya yang tadinya bersandar di sandaran sofa sekarang menjadi tegak. Dia menatap Asri mulai serius meski kebohongan yang akan dia tumpahkan. “Kami nggak sengaja ketemu di jam makan siang. Situasinya lagi hujan deras. Ada pengendara motor yang berniat ngambil dompet dan handphone Velo waktu dia berjalan kaki, tapi ujung-ujungnya malah Velo yang celaka. Dan, aku belum berhasil lacak mereka.”


“Semuanya murni kecelakaan kan, Har? Nggak ada yang mau ngejahatin anak mba kan? Jujur, Mba mulai mikir yang nggak-nggak sekarang.” Ungkap Asri mulai membagi  kegelisahannya pada Hartadi. Sesungguhnya, tiap tatapan mata Asri pada sang putri sudah cukup mencerminkan gejolak hati.


Halis Hartadi menyatu penuh pertimbangan. “Kenapa Mba bisa kepikiran ada yang jahatin Velo? Apa dia pernah bilang sesuatu?”


Asri menarik napas berusaha mengatur napasnya dari luapan  sesak yang dia rasakan di dadanya. Bibirnya bergetar Cuma buat membicarakan anak sulungnya.


“Mba Cuma takut ada yang nggak suka Velo, contohnya aja persaingan di kantor. Velo sangat pandai menutupinya dari Mba, Har. Masalah yang menimpa dia itu sulit buat Mba ketahui. Bukanya Mba diam, hanya saja Velo selalu dan nggak pernah lelah buat ngeyakinin Mba kalo semuanya bisa dia atasi dan hadapi sendiri dan tanpa penjelasan apa-apa.  Anak ini memang nakal Har, dia maunya membagi hal yang nyenengin hati Mba aja.”


“Dari kecil Velo emang tumbuh melihat Daddynya sakit, Mba juga dulu sibuk ngurus Daddynya. Dan tanpa sadar Velo jadi belajar simpan sedih maupun beban yang dia rasain supaya nggak satupun orang yang dia repotin. Terutama Mba, Mamihnya. Sangat jelas dia ketahui, kalau Mba sangat berat menjalani hidup.”

__ADS_1


Asri sebenarnya tidak mau terlihat sedih di depan keluarga suaminya, tapi matanya sudah memanas sehingga hampir menjatuhkan air mata. Dalam hidup yang keras ini, Velo selalu menomor satukan dirinya di atas segalanya.


Percaya, sangat percaya.


Hartadi tidak meragukan seujung kuku pun pembelajaran hidup Velo semasa kecilnya memang meracuni perempuan itu. Pasangan kekasih maupun yang udah menikah sering kali melakukan silent treatment sebagai senjata membunuh dalam mengeraskan hati.


Sikapnya mengunci mulut dan memberikan punggung di saat pasangan tergerak membuka komunikasi semasa konflik terjadi. Dapat berhari-hari dan mungkin berminggu-minggu lamanya.


Nyatanya, Hartadi memahami sikap tersebut tetaplah bagian dari kekerasan emosional.


Memang tak mengherankan jika Velo menerapkan sikap yang sama dalam hubungannya dengan sang Ibu Asri, walaupun bentuk dan tujuannya berbeda dari silent treatment yang sebenarnya. Hartadi percaya bahwa Velo melakukan itu semata-mata agar kerapuhan hatinya tidak tertembus oleh sang Ibu.


Tapi dampaknya, Asri bagaikan di atas perahu yang terombang-ambing untuk menentukan sikap di depan Velo. Asri menemui penolakan yang tiada akhir setiap ingin mendengarkan curahan hati putrinya. Merangkul sepenuhnya tidak bisa, menjauh pun tidak mungkin mampu.


Memang serba salah, karena itu pun akan menyakiti Asri. Sebenarnya Hartadi mengerti yang diharapkan Velo adalah keutuhan hati sang Ibu agar tidak berdarah-darah.


Mengetahui pandangan dari sisi Asri, apakah Hartadi sudah diberikan akses sepenuhnya oleh Velo untuk menyelami kompleksnya kehidupan perempuan itu.


Rasanya, Hartadi baru sekedar dijatuhi cap persetujuan alih-alih langsung dibukakan pintu oleh Velo. Dia bahkan tidak mampu melupakan redupnya perempuan itu saat menatapnya di pelataran resto Jepang, dan seakan itulah Velo yang kini dibicarakan Asri. Mode perempuan itu di saat enggan membagi beban.


“Aku bisa jamin  kalau kecelakaan itu nggak didalangi  persaingan kerja.” Ucapnya memaksa senyuman, Hartadi ukir sekian detik sekedar membenahi atmosfer kelabu di sekitarnya. “Dari yang aku liat sebagai saksi, mereka murni ingin mengambil dompet dan I’m Velo yang sedang dia tenteng gitu aja. Siapa pun bisa mencuri kesempatan untuk berbuat jahat saat ada kesempatan, Mba.”


Dusta akan menjadi nama tengah Hartadi mulai sekarang.

__ADS_1


***


HARTADI POV


Bercita-cita sebagai seorang bebisnis atas bidang yang ditekuni, gue mulai mempelajari seluk beluk dunia bisnis semenjak usia remaja. Dengan dibimbing oleh Haryasa Bratadikara, gue belajar hal-hal dasar yang harus diadaptasi pebisnis sampai seauatu yang amat riskan.


Pebisnis memang harus pandai memutar otak, mengenali satu per satu kesempatan agar membuahkan untung dibandingkan  berfikir buntu.  Oleh sebab itu, gue udah terbiasa ditempa untuk berfikir cepat. Diperlukanwaktu satu jam buat gue untuk siap memainkan dua bidak catur yang berbeda demi Velo yang sedang terluka.


Gue harus bergegas dengan niat yang akan gue lalui dengan Velo untuk kepentingan kita berdua yang sudah terlanjur terusik. Gue biarkan Velo terlelap damai menepikan segala bebannya, sementara gue nggak akan membiarkan Adiputra besar kepala karena tidak melakukan usaha apapun. Memutuskan bidak catur pertama, Gue membatasi ruang gerak orang bayaran Adiputra melalui kemampuan orang-orang lapangan yang baru kali ini gue kerahkan untuk keluarga sekandung.


Sedari dulu emang gue  berharap nggak satupun dari keluarga gue yang memprovokasi hingga kami harus bersitegang. Entah perkara bisnis ataupun pribadi, karena gue anti beramah tamah kalau sudah disikut. Namun sekarang nama Adiputra sudah jadi pengecualian. Berurusan dengan bandit seperti Mas Adiputra yang dipandang nggak bercela dimata keluarga, dan gue mesti pandai walaupun menambahkan dusta disana sini. Bertekad untuk berkepala dingin, gue sengaja mendatangkan Asri ke rumah  Sakit sebagai bidak catur yang kedua.


“Mba Asri, kehadiran Mba disini sangat penting. Selain kondisi Velo yang memang harus diketahui Mba sebagai orang tuanya, ada hal lain yang aku perlu bicarakan. Tepatnya, aku ingin meminta ijin Mba.”


 “Ijin apa, Har?” wajah mba Asri berubah serius dan mengerutkan kedua halisnya menilik.


“Ijin untuk memperkuat komitmen dengan putri Mba. Aku berniat memperistri Velo.” Ucap gue tegas dan penuh keyakinan.


“Memperistri?” ucap Mba Asri kaget saat mendengar kata ‘memperistri’.


“Benar, Mba.” Sebisa mungkin ga ada keraguan di mata gue yang sedang ditelisik Mba Asri.


“Ka… Kamu dan Velo?” Mba Asri mulai terbata. “Nggak mungkin, Har. Nggak mungkin. Nggak mungkin kamu menikahi anak Mba.” Melihat reaksi Mba Asri gue ga akan terpengaruh, gue menghela napas untuk siap-siap menjelaskan padanya.

__ADS_1


“Aku dan Velo punya kesamaan visi dan misi hidup, Mba. Kami sepakat untuk membawa persamaan ini menuju level yang pasti.”


“Aku juga ingin menghormati kehadiran anak Mba di sisiku, karena itu aku ingin menikahinya. Kenapa Mba anggap nggak mungkin?”


__ADS_2