Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Meremehkan Sang Ibu


__ADS_3

Wening tolehkan kepalanya pada Velo, menanti respon cucunya itu. Namun dia hanya menghela napas ketika sang cucu hanya mengedikkan bahu dengan santai. “Har, kamu nggak suka Ibu melakukan hal yang sama untuk Velo?”


Tepat sekali, sudah pasti Hartadi tidak senang. “Biarin Velo cari sendiri, Bu. Kalau ada yang harus Ibu jodohkan secepatnya, ya siapa lagi kalau bukan cucu laki-laki pertama keluarga ini.” Ucap Hartadi menyandarkan punggung, dia perjelas suatu hal yang harus menjadi prioritas para orang tua.


“Sebelum Arow buat kecerobohan, lebih baik Ibu selamatkan duluan. Arow pegang aset keluarga, jangan sampai dia salah memilih istri. Perempuan matrealistis dan matre itu beda, Bu.,"


Velo urung ikut campur. Mana dia sangka Hartadi akan membabat ucapan Wening setajam itu. Biarkan saja pria itu menyelesaikan apa yang telah dia mulai tanpa dia harus repot menimpali. Mulutnya pun kembali melahap roti gandumnya.


Lumayan sulit berakting tidak punya ketertarikan dengan seseorang, tapi itulah konsekuensi dari hubungan yang dirajutnya dalam kehati-hatian. Masih tersisa beberapa hal yang perlu mereka berdua kukuhkan, untuk itu berita komitmen mereka harus di simpan agar ayah tirinya tidak menjegat di langkah awal.


Gerakannya jemari Velo yang sedang mengusap sudut bibirnya dari remahan roti melambat, ketika teringat proses membuka komitmen di hadapan seluruh keluarga Bratadikara nanti. Kalau saja kakak-kakak Hartadi ikut campur, bisa runyam urusannya karena satu dari mereka tidak menyukai Velo.


Parnita Bratadikara, perempuan itu tidak setuju kalau Ibunya menjadi istri kakaknya karena bergelar janda satu anak. Gelar yang tidak bisa dihapus.


‘Mas bisa dapat perempuan lain, perempuan yang lebih darinya! Kenapa harus milih dia sih? Aku nggak paham sama seleramu, Mas.’


‘Janda kaya apa pengaruhnya untuk kita? Pokoknya aku ngak mau Mas nikah sama dia! Mas pikirin lagi deh.’


‘Aku nggak mau kenal sama anak itu, kamu bisa jauhkan aku dari dia, Mas?’


Dan dulu, Velo memang masih terlampau dini untuk mencerna semuanya, namun masih terasa perihnya sampai sekarang.


“Terlepas dari siapa yang lebih pantas untuk dijodohkan, Ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk keluarga kita. Pertimbangan Ibu nggak saklek hanya siapa keluarganya, tapi pribadinya pun penting. Lihatlah keponakan kamu, Har.” Pinta sang Ibu tiba-tiba. “Dia pantas yang terbaik kan?”


“Terbaik versi Ibu dan versi Velo nggak akan sama. Well, semoga cucu Ibu mendapat laki-laki terbaik. Entah versi siapa nanti.” Ucap Hartadi menyudahi perdebatannya sambil mengangkat air mineralnya dan menyunggingkan senyum untuk sang Ibu. “Jangan cemberut dong, Bu. Aku hanya mengutarakan opiniku aja atas kebaikan Ibu untuk cucu tersayang.”


“Mengutarakan opini apaan,  kamu jelas meremehkan Ibu.” Ucap Wening mencibir putranya, lalu memulai sarapannya sambil memasang muka masam.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan berkat keseriusan orang-orang di meja makan yang tengah menikmati makanannya.


Triawan melihat jam dinding, sebentar lagi anak dan cucunya sudah harus berangkat ke kantor. Dan rumahnya akan menjadi sepi lagi karena perselisihan kecil tadi.

__ADS_1


“Vel, kemaren kamu bawa mobil sendiri?” teringat bagaimana cucunya datang kesini.


“Velo naek transportasi online, Yang. Mobil nginep di bengkel dari semalem.” Ucap Velo menjawab dengan lancar.


Dan sempet-sempetnya Velo melirik Hartadi. Ya, duduk berseberangan memudahkan mereka untuk saling mengirim sinyal. Sejak mereka tiba di ruang makan, mereka persis dua intel yang sedang menyamar untuk mengelabui target. Yang paling memalukan, otak Velo sering sekali kurang ajar karena mengingat keintiman mereka semalam.


Menghela napas, Velo tengah berusaha menghalau rona yang siapa tau menghias pipinya karena memikirkan ulah tangan Hartadi. Velo tidak bisa dikatakan lugu, biarpun belum mempraktekannya sampai ke inti. Apalagi saat dia mendapati Hartadi dalam keadaan segar. Tidak terlihat tanda kalau dia terjaga hampir semalman.


Dia pikir Hartadi mengalami hal yang serupa dengannya, tapi sepertinya hanya dirinya yang terpengaruh dan enggan kembali tidur.


“Diantar sopir Eyang ya, Vel.” Ucap Triawan yang hendak menghubungi sopirnya yang tinggal di bangunan terpisah, tapi masih satu tanah di kediamnnya.


“Aku aja yang anter Velo, Pak.” Ucap Hartadi buru-buru menyelesaikan sarapannya dan sebelum Ayahnya menghubungi sang sopir.


Sementara Triawan tidak lekas mengiyakan, karena perhatian sang ayah fokus pada Hartadi dan Velo. Mengamati lebih dalam lagi sampai akhirnya mengundang tawa geli dari istrinya.


“Udahan nih ngambeknya, Har?!”


“Enam tahun kamu ngelengos setiap ngeliat Velo, udah Bapak ingatkan untuk tinggalkan sikap itu, tapi kamu begitu lagi. Terus kenapa sekarang mencair?” ucap Triawan sambil mengetukkan jari-jarinya menunggu penjelasan dari Hartadi.


“Aku mulai bosen aja ngediemin Velo. Lagian cucu Bapak yang duluan ngedatengin aku dan minta damai.” Jelas Hartadi sambil membenarkan dasinya.


“Loh, saya nggak minta damai, saya Cuma—”


Cuma minta kesediaan Bapak jadi suami, bukan berarti saya minta damai. Yang musuhin saya duluan kan Bapak! (Velo)


Velo tarik napasnya dalam-dalam ketika pandangan sang Nenek dan Kakek terfokus padanya. Dan karena tidak mau dicurigai akhirnya Velo menerima alasan itu.


“Aku emang minta damai duluan, karena siapa tau aku ditarik lagi ke perusahaan.”


“Gosipnya, Mas Har baru aja mecat Sekretaris barunya yang berani godain dia. Lagian berani banget perempuan jaman sekarang ya?” ucap Velo santai seolah Hartadi tidak berada di sana.

__ADS_1


Dan, menerima informasi putranya digoda perempuan tidak jelas diluar sana. Seketika Wening meledak.


“Benar kamu pecat, Har? Kalau kamu nggak pecat perempuan seperti itu, Ibu yang samperin langsung ke kantor kamu.”


Hartadi langsung menatap sinis perempuan yang berada di seberangnya itu. Akibat bocornya mulut perempuan itu, pagi ini Hartadi mempunyai tugas lain yaitu menenangkan hati Ibunya.


***


Mengikuti langkah sang atasan keluar dari ruang meeting, Velo ikut memelankan laju kakinya ketika atasannya memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arahnya.



“Ada yang harus saya bicarain sama kamu. Ikut saya dulu ke ruangan ya, Vel?”


“Baik, Pak.” Ucap Velo menatap muka sang atasan lebih pucat dari biasanya.


Sebenarnya Velo memang sudah bertanya sebelum meeting, tapi Pria itu menekankan bahwa kondisi kesehatannya tidak bermasalah.


Mendapat persetujuan yag diinginkan, Pria itu kembali menuju lift. Tidak etis terpisah lift dengan atasannya, Velo pun mensejajari atasannya itu sehingga bersama-sama memasuki lift yang telah terbuka di depan mereka. Dia perhatikan punggung sang atasan, atasan yang baik hati tersebut pasti sedang tidak dalam kondisi prima.


Sesampainya pada lantai khusus petinggi Almeda yang terdiri dari tiga kakak beradik, Velo membiarkan Sang Atasan keluar lebih dulu lalu dia mengikutinya dari belakang. Benaknya terfokus pada berita apa yang akan disampaikan oleh atasanya itu. Tapi Velo sangat yakin kalau hal itu berhubungan dengan kondisi kesehatannya.


Tiba di ruang kerja atasannya, Velo mendahului pria itu dan membukakan pintu. Tapi tak lama kedua alis Velo bertaut ketika ada seseorang yang sudah menunggu di ruang kerja Damar.


Seingatnya tidak ada pemberitahuan dari reseptionist jika ada tamu yang ingin menemui atasannya.


“Maaf Pak, saya kurang tau bagaimana ada orang yang yang bisa masuk ke sini. Kalau Bapak nggak kenal, saya akan minta beliau untuk tunggu di luar.”


Tidak ingin bertindak semaunya, Velo bergeser ke samping agar Damar tidak melihat tamu yang mendiami ruangan pria itu. Sosoknya memang masih muda, tetapi wajah santainya mencerminkan sesuatu.


Damar pun menatap sejenak tamu yang dipikir Velo orang asing. Senyumnya terpatri penuh pemakluman teruntuk sekretarisnya.

__ADS_1


__ADS_2