
Velo menurunkan pandangan pada kedua tangan Hartadi, dia sedang meredam gejolak yang mulai membuat lidahnya terasa pahit. “Saya bingung harus mulai dari mana. Gampang untuk diri saya jujur ke Bapak, tapi fisik saya suka nggak support.”
“Maksudnya?” Hartadi tak memahami apa hubungannya berkata jujur dengan fisik Velo.
“Daniah emang tau Bapak bukan karena saya keceplosan. Maaf, tadi saya sempet bohong. Saya kenal Daniah… karena Daniah pernah nolong saya—"
“Iihh, Bebz!” Daniah memotong perkataan Velo dengan suara melengking, kemudian tergesa-gesa mendekati Velo dan berusaha semaksimal mungkin mengabaikan mahluk Adam yang jantan dan tampan di sisi Velo.
“Lo yang bener mau maksain ngomong? Gue nggak sanggup liat muka lo, mulai pucet tuh!” Daniah tidak mengada-ngada, Velo kehilangan rona yang sebelumnya menghiasi wajahnya. “Atur napas pelan-pelan Bebz. Kalau emang pengen muntah, langsung aja lo muntahin. Nggak bagus ditahan.”
“Masih oke kok, Dan.” Tepis Velo dan mencuri pandang pada Hartadi, tapi tidak menolak dibimbing Daniah untuk mengatur napasnya.
Kali ini Hartadi memposisikan diri sebagai pengamat tanpa benar-benar mengerti apa yang terjadi. Jika Hartadi menempatkan praduga awal, Velo sepertinya mengalami trauma atau kecemasan yang berkaitan dengan Daniah. Terlihat dari Daniah yang begitu menghawatirkan kondisi Velo.
Apa sih ini? Batin Hartadi tidak ingin bersikap arogan.
Namun sangat bertanya-tanya hingga otaknya merangkai banyak kemungkinan. Bisa saja kondisi Velo disebabkan oleh Adiputra, tetapi dia belum tau apa yang menghubungkannya dengan Daniah. Velo tadi mengatakan Daniah pernah menolongnya, tapi pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diberikan oleh pria itu?
Hartadi mengurut pangkal hidungnya, lalu memutuskan memanggil nama sesosok pria yang tengah membantu Velo. “Daniah?”
“Bapak manggil nama aku?!” Daniah terkesiap tak bisa mengatur ekspresi wajahnya.
Tangan Daniah yang sedang mengusap punggung Velo ikut berhenti dan tanpa sungkan mencolek dagu perempuan itu. “Bebz, laki lo manggil nama gue! Harus gimana dong jawabnya? Boleh pakai suara ngedesah gitu nggak, Bebz?”
“Dani Firmansyah!” peringat Velo.
“Ck… Males deh gue kalo lo sebut-sebut tuh nama. Jahat lo ya?” Daniah merengut, tapi akhirnya pria itu memiringkan duduknya menghadap Hartadi. “Ada apa Pak? Kok saya dipanggil-panggil?”
Hartadi tidak peduli pria itu mau bersikap centil padanya, toh dia tengah berkonsentrasi untuk hal yang lebih penting. “Kenapa nggak kamu aja yang menjelaskan ‘apapun’ itu ke saya kalau Velo nggak bisa?”
“A… aku?!” dengan gugup Daniah menunjuk dirinya sendiri, tidak menyangka malah dia yang diinginkan Hartadi menggantikan Velo. “A-aduh, susah banget sih tugasnya?!”
Hartadi secara tidak sadar mempertajam tatapannya. “Kenapa susah?”
“Mmh.. Soalnya…” Daniah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tiba-tiba saja ingin kabur dari apartement Velo.
Velo mengepal tangannya dipenuhi tekad untuk mengungkapkan sendiri pada Hartadi. Tidak mungkin Daniah yang dibebankan karena dia terlalu lemah— tidak mampu berdamai dengan kenangan yang sudah membusuk.
Velo sudah berhasil menggandeng Hartadi untuk menjadi suaminya, haruskah dia tetap tunduk pada kenangan kelamnya sendiri?
Hartadi bersedia menceburkan diri dalam masalah Velo. Selapis demi selapis kebenaran sudah diterima Hartadi, tapi Velo masih menyimpan satu lapis kebenaran lagi. Mungkin hari ini Velo akan mendengar kembali umpatan-umpatan kasar Hartadi. Cara pria itu melepaskan kekesalannya untuk sang kakak.
__ADS_1
“Dan,” Velo menyentuh Punggung tangan Daniah. “Lo bisa tinggalin gue sama Pak Har berdua dulu?”
Daniah menggeleng tak tega. Meskipun Daniah sadar betul mulutnya seakan membisu untuk menggantikan Velo, menceritakan apa yang perempuan itu alami pada malam ketika dia sedang berteduh akibat hujan.
“Serius, Bebz?” Daniah ingin menangis.
“Iya gue serius.” Velo sendiri tidak seratus persen menjamin kondisinya baik-baik saja jika keras kepala memaksakan diri, tapi melawan kenangan kelamnya telah menjadi keputusan final.
“Ya udah, gue balik dulu ya Bebz. Pokoknya kalo lo kenapa-kenapa, lo harus telepon gue, segera! Gue pasti langsung meluncur kesini buat nenangin lo. Oke?!” Daniah bangkit dari duduknya, memberikan dukungan untuk Velo dari pandangan matanya yang tak lupa melempar senyum manis pada Hartadi.
***
Dan tidak ada yang tau berapa lama mereka terdiam dalam keheningan, terhitung sejak Daniah berpamitan dan pergi dari apartement Velo.
Dari sisi Hartadi, pria itu merasa sudah memberikan waktu yang cukup bagi Velo untuk membuka diri dan siap memberitahu sesuatu yang sialnya membuat dia penasaran.
Merasa sudah lama menempatkan Hartadi dalam ketidakjelasan, Velo berusaha rileks dan kembali menatap Hartadi seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. “Pak?”
“Hm..” Hartadi membalas seadanya.
“Daniah menolong saya dari Papih.”
“Pih, kita bukan mau dinner sama Mamih kan?” Velo tidak tenang luar biasa dan batinnya menjerit, dia beringsut menjauh dari Adiputra yang duduk di sisinya tanpa kata seakan apa yang diperkirakan Velo memang benar.
Mobil sedan dimana Velove dan Adiputra berada di dalamnya sekarang, mobil yang juga menjemput Velo sepulang kerja tadi, tidak pernah Velo lihat sekalipun terparkir di garasi rumah mereka. Sopir yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka dengan sengaja, hanya seraut asing yang tertutupi masker.
Bagaimana Velo bisa kecolongan seperti ini?
Telapak tangan Velo mulai terasa dingin, dia hampir yakin tremor akan menyerangnya tak lama lagi. Senjata Velo sekarang tidak lebih dari permainan waktu dan kalau bisa dia harus berbuat sesuatu yang mengundang perhatian orang lain dari luar mobil.
“Velo…” dengan lembut yang mencekam, Adiputra memanjangkan tangannya untuk menangkap tangan kiri Velo, namun perempuan itu menyembunyikan tangan tersebut dan membuat Adiputra membuang napas sedikit kasar. “Semakin dewasa, Papih nggak mau kamu malah nggak nurut.”
“Aku bukannya nggak nurut Pih, tapi prilaku Papih yang buat aku berontak! Contohnya sekarang, ngapain kita di depan ruko sepi begini?” Velo meninggikan suaranya tanpa peduli air mata menggenang di pelupuk mata. “Sadar Pih, Velo minta Papih untuk sadar. Tolong!”
Adiputra seakan menulikan telinganya, pria itu tidak memberikan respon yang diharapkan Velo untuk sadar. Pandangan memuja semakin diarahkan Adiputra untuk Velo, memuaskan matanya dengan kecantikan alami Velo, serta memindai kemolekan anak tirinya tersebut.
Adiputra tak ambil pusing atas perasaannya yang menyimpang.
Velo memastikan pakaiannya cukup sopan. Tapi, kedua mata Adiputra memandangnya seolah dia mengenakan pakaian bikini. Tersudutkan memang menyumbat otak Velo untyk berfikir, karena dia takut jika Adiputra merangsek padanya ketika lengah dan berhasil melecehkannya hingga akhir.
Walau Velo mengerahkan seluruh tenaga, apakah tenaganya dapat menandingi tenaga seorang pria?
__ADS_1
“Papih selalu ngejaga kamu dari laki-laki ingusan yang sangat sombong bisa menyentuh dan milikin kamu, Velo. Kamu berharga untuk Papih.” Ujar adiputra diselingi kebencian yang tidak luput dari suaranya saat menyebut ‘laki-laki’.
“Velo berharga di mata Papih, karena Velo anaknya Papih kan? Kita pulang ya?” Velo tak ingin pesimis, semangatnya belum surut untuk membujuk Adiputra agar memulangkannya.
“Papih nggak bisa melepas Velo.” Ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Velo. Hidung Adiputra dapat mencium wangi khas dari Velo yang membuatnya penasaran belakangan ini, apakah parfum yang memikat ini?
“Pih, Velo mohon inget Mamih…”
Velo menggeleng panik dengan posisi menghadap Adiputra, akan membahayakan jika Velo membelakangi Papih tirinya. Satu tangan Velo yang gemetar meraba doortrim untuk menemukan handle pintu, tapi ketika dia tarik, pintu mobil tak dapat terbuka. Berkali-kali ditariknya, pintu mobil tetap melekat dengan sempurna dan berhasil memenjara Velo.
Velo lantas melihat ke bagian depan mobil. Bodoh sekali, Velo sampai tidak sadar kalau mesin mobil sudah dimatikan dan sopir brengsek tadi yang mengunci dari luar. Menyadari itu, Velo hampir kehilangan tenaga dan semangat yang membuatnya bersadar lemas. Air matanya sudah hampir ke bibir, membiarkan Velo merasakan asin dari kesedihannya sendiri.
“Cantik. Menangis pun kamu tetap cantik, Vel.” Puji Adiputra kelewat hilang akal. Rok pensil beige yang membalut pinggang ramping Velo sampai ke betis Velo, membuat Adiputra menjatuhkan sentuhan pada kaki indah perempuan itu.
“Argh!” Adiputra mendapat perlawanan dari tendangan heels Valentino Garavani yang berhasil mengenai tulang rusuknya, lalu Adiputra menatap Velo tidak terima. “Velo… kamu berani nendang Papih?!”
“Iya aku berani!” Velo menelan tangisnya sendiri, masih berusaha tegar menjauhkan papih tirinya. ”Kenapa aku nggak berani melukai Papih? Di saat yang sama Papih mau melukai aku?”
“Papih sayang sama kamu Vel, papih nggak akan rela kamu dimiliki laki-laki lain. Selama Papih ada, kamu hanya milik Papih.” Bisik Adiputra menghadirkan desir mengerikan ke sekujur tubuh Velo.
Tidak ada sayang, Velo hanya melihat nafsu yang menggila.
Untuk kali ini, Adiputra tidak berbaik hati lagi. Adiputra menarik siku Velo agar lebih dekat, dia paksa Velo untuk berbaring dibawahnya dengan kesadaran penuh. Kedua tangan Velo yang memberontak dan mendorongnya sekuat tenaga, tidak mengurangi niat dan energinya menundukan Velo.
Rasanya Velo tidak pernah sehina ini. Velo meraung dan mencakar Adiputra seakan dirasuki setan. Dia bahkan takut pita suaranya putus, membuatnya tidak bisa meneriakan kata ‘tolong’ kepada siapapun. Velo tidak ingin merasakan sentuhan Adiputra yang kurang ajar menjamah paha dan bagian dadanya.
“Pih, lepasin Velo Pih, Lepasin…”
Adiputra tidak mendengar.
Velo membayangkan wajah Mamih dan ketujuh adik laki-laki kembarnya, itu sebabnya dia menumpahkan seluruh airmata yang tersisa. Satu tangan Velo menggapai-gapai keatas, dia melihat celah di kaca jendela mobil, meskipun air mata memburamkan penglihatannya.
“Papih tergila-gila sama kamu Vel, semakin hari kamu semakin membuay Papih.” Bisik Adiputra entah yang keberapa kali, perut Velo tergelitik untuk memuntahkan sesuatu setiap bisikan tersebut membuai pendengarannya.
Tidak sampai disitu, Velo merasa diambang kematian kerika figur ayah untuknya menggesekan sesuatu dibalik celana bahannya ke atas paha Velo. Seketika jeritan Velo memenuhi sedan itu, dia jijik luar biasa dan tidak pernah membayangkan akan dilecehkan seperti ini.
Dengan perasaan terhina, Velo menampar wajah Adiputra sekeras yang dia mampu dan membuat pria itu oleng untuk beberapa saat. Velo mengambil kesempatan instan untuk duduk dan memukul-mukul kaca, lalu dia menjulurkan tangannya keluar melalui kaca yang sengaja diturunkan—mungkin agar oksigen tetap masuk, meskipun mesin dimatikan.
Velo ikut mendekatkan wajah ke celah yang tidak seberapa itu, lalu meneriakan harapan terakhirnya, karena tangannya mulai terkuras. “Tolong saya, Tolong, Tolong…”
Yang membuat tangisnya menjadi-jadi, ketika ada tangan lain yang menyambut tangannya dan pemilik tangan tersebut membawa ukulele usang dengan stiker hello kitty.
__ADS_1