Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Bikin Calon Istriku Ciut


__ADS_3

“Neng, saran Mbok mending ditelepon aja Den Har nya. Mbok perhatiin Neng udah ngantuk. Takutnya Den Har memang pulang lebih malam. Kasihan Neng kalo nunggu lama lagi...”


“Hah... Iya, Mbok. Aku bakal telepon Mas Har kok.” Hati Velo sontak saja menghangat. Velo tolehkan kepalanya pada Mbok Niniek. Tutur kata dan kesabaran Mbok Niniek memperlakukannya, mau tidak mau menghidupkan kesedihannya kala mengingat sang Ibu.


Hanya dia yang tau respons ibunya mengenai keputusannya memilih tinggal bersama Hartadi. Bukan sebuah dukungan agar lekas pulih yang dia dapat.


Melainkan ungkapan kecewa sang Ibu yang langsung menebar pedih untuknya.


Tak terelakkan, dia telah membaca berkali-kali pesan terakhir Ibunya yang sampai sekarang belum dibalasnya.


Mami


Kamu berani tinggal seatap sama laki-laki yang belum menikahi kamu. Begini maunya kanu, Vel?


Apa Mamih udah salah mendidik kamu selama ini? Apa susahnya bersama Mamih di rumah?


Udahlah, sekarang semuanya terserah kamu.


Ibunya tidak tau apa-apa. Velo tidak menyimpan sakit hati, karena yang dia perjuangkan tidak semata-mata kepentingan dirinya saja. Juga, untuk kesejahteraan Ibunya.


Jika mengikuti hati, sisi lemahnya bisa menjadi-jadi. Karena pesan berakhir kata ‘terserah’, dapat diartikan tidak peduli lagi.


Menyemangati diri sendiri merupakan pilihan, Velo pun tidak ingin menggubris lebih lama. Itu sebabnya, Velo meraih handphone di samping tubuhnya.


Nada tersambung mengudara, Velo nikmati saja hingga nada tersebut digantikan suara berat si pemilik nomor. Buru-buru Velo memberikan suara dengan menempatkan telunjuknya di depan bibir, lalu dia lemparkan pertanyaan pertama kepada pria itu.


“Mas Har lembur?”

__ADS_1


“Kenapa nanya Mas lembur?”


Tanpa bisa dicegah, Velo merotasikan bola matanya. Kebiasaan Hartadi yang sering kali menimbulkan rasa kesal, yaitu senang membalik-balikan pertanyaan. Pijatan enak dari Mbok Niniek yang pada akhirnya meredam niatnya membalas dengan sarkasme.


“Lama banget pulangnya!”


“Kalau lama memangnya kenapa?”


“Ck... Males ah, jawabannya balik nanya mulu! Bikin omongan saya muter-muter aja!”


“Kamu kangen?”


Velo langsung membekap mulutnya, apalagi dia mendapati Mbok Niniek menyembunyikan wajahnya akibat tidak mampu membendung tawa. Sebelum membalas tebakkan asal Hartadi, dia menelan ludah untuk mempertahankan suaranya tetap tersuarakan normal.


“Ih, sama siapa?”


“Ya kan? Kamu kangen sama Mas. Makanya, kamu pengen tau kapan Mas pulang. Mau kamu kasih apa kalau tebakan ini bener?” separuh beban tubuh Hartadi dilimpahkan pada kusen pintu di mana tempatnya bersandar.


Ya... sejak menerima panggilan Velo, sejujurnya dia baru selangkah memasuki rumah. Daripada terburu-buru mengunjungi kamar Velo masih mengenakan sepatu, dia kerahkan pertanyaan ulang demi mengganti alas kakinya dengan sandal rumah.


Lucunya, Velo kesal atas taktik tersebut. Dia pun cukup kaget menemui Mbok Niniek berada di kamar perempuan itu seraya memijat. Betapa semesta mendukungnya, dia puas tidak menegak setetes alkohol malam ini. Alkohol memang hanya sekian persen merangsang hasrat seksualnya.


Akan tetapi, dia sekarang merasa terselamatkan memilih bersih dari alkohol. Velo terbaring nyaman menerima kepiawaian Mbok Niniek dalam memijat, sungguh pemandangan yang menguji bila alkohol ikut berperan. Kulit Velo yang terolesi minyak tampak berkilat, merayu pandangan mata untuk membentuk khayalan kurang ajar. Untung saja ‘tidak’ bagi otaknya yang masih segar, dia tidak mengkhayalkan apapun. Tapi, mungkin segelas air tetap dia perlukan agar tenggorokannya tidak serat.


“Ck... pede banget, Mas. Siapa juga yang kangen?” Velo tergelak yang berselang detik dibalas gedikkan bahu oleh Hartadi. Mbok Niniek hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah kekanakan mereka. Seakan kematangan umur tersingkirkan, digantikan oleh karakter asli masing-masing.


“Mbok, Velo udah makan empat sehat lima sempurna belum?” Hartadi menyematkan senyuman jenaka, namun dia tidak asal menanyakan hal tersebut. Menyimpan handphone ke saku celana, Hartadi melangkah masuk sambil melepas kancing pada pergelangan tangan kemejanya. “Kalau Velo belum makan, sekarang bakal aku culik ke bawah.”

__ADS_1



“Aku belum makan.” Ucap Velo sangat cepat, karena itu picingan curiga Hartadi mengarah cepat padanya. Mbok Niniek turut mengangkat kepala, mata tuannya melukis tanya yang dia abaikan begitu saja. Sesuai niatnya, malam ini mereka harus berbincang mengenai pernikahan— yang lebnih intens, lebih serius, dan lebih pasti. “Temenin aku makan ya, Mas?”


“Oke. Mas juga belum makan.” Jawabnya tidak mengambil waktu untuk menerka-nerka, dia sangat mudah membaca sesuatu yang terselubung dari perempuan itu.


Bunyi tarikan kursi mengisi kesunyian ruang makan ketika Hartadi mendudukan perempuan yang diboyongnya dari lantai dua. Memutari meja untuk sampai di kursi seberang, Hartadi memiliki firasat bahwa akan terjadi diskusi terbuka antara dia dan Velo malam ini. Atas ancar-ancarnya tersebut, dia memilih kursi yang berhadapan dengan Velo. Dia pun sengaja diam, membiarkan Velo mengekspos gemelut dalam benaknya agar tertuang melalui ucapan. Seringnya Velo ingin dimengerti tanpa menjelaskan detail, bagaimana dia bisa paham?


Duduk berpose tangan terlipat di atas meja, Velo membenahi letak duduknya hingga senyaman mungkin. Bukan sekali dia memergoki Hartadi meneliti wajahnya intens, tetapi pria itu tidak langsung menyudutkan dengan beragam pertanyaan.


Hartadi hanya menjalankan tugas membantunya turun ke lantai satu diselingi obrolan ringan. Velo suka-suka saja kegiatan kecil tersebut. Apalagi bisa bertumpu pada punggung Hartadi yang sempat dia mimpikan. Biasanya dia tidak bersikap secentil ini, tapi Hartadi memang jenis pria yang tidak mudah dilewatkan.


“Mau makan apa?” punggung Hartadi bersandar pada kursi makan. Satu tangannya berada di atas meja. Lengan kemejanya pun sudah dilipat sebatas siku sebelum memboyong Velo ke ruang makan. Pandangannya kali ini lurus, menunggu pilihan Velo.


“Sekarang boleh makan apa aja, Vel. Nggak harus nasi.”


“Aku pengen mie rebus kari pake potongan rawit ya, Mbok. Malam ini aku harus makan yang pedes-pedes.” Velo mengulas senyum percaya diri beserta tekad yang tersirat dari netranya. Berusaha meredam teriakan hatinya sebab begitu berdebar. Pusat atensinya bukanlah Mbok Niniek yang berdiri di sisi meja makan menunggu titah memasak, namun ada pada Hartadi. “Biar lidahku makin lincah dipakai ngomong.”


Mengunci rapat bibirnya sembari mengeratkan geraham, Hartadi ingin sekali membalas aura siap tempur yang dikuarkan Velo. Ada-ada saja sikap menghibur yang perempuan itu tunjukkan, walaupun dia tau benar Velo sedang tidak bercanda. Dia jadi sangat penasaran apa yang ingin dibahas Velo, karena itu dia pancing dengan halus.


“Saya mie goreng, Mbok. Tanpa telur dan cabe. Kalau makan yang mengandung pedes, bisa-bisa aku ngomong pedes sama lawan bicara saya. Velo jelas tau gimana pedesnya omongan saya. Dan, aku nggak mau bikin calon istriku ciut.”


“Baik, Neng, Den Har. Mbok ke dapur dulu.” Mbok Niniek tidak lupa berpamitan.


Asisten rumah tangga itu tergesa-gesa menjauhi ruang makan dan memasuki dapur, karena merasa majikannya membutuhkan ruang privasi untuk membicarakan sesuatu. Mengintip keluar seraya membuka kabinet atas, Mbok Niniek bergidik tidak ingin ikut campur.


“Hm... Ada baiknya kita minum dulu.” Velo meraih dua gelas yang tersusun di sentral meja makan oleh tangan-tangan Mbok Niniek. Gelas pertama dia berikan untuk Hartadi, satunya lagi dia tempatkan di depannya. Dia menuang air putih yang sumbernya dari teko hingga satu persatu gelas terisi penuh. “Minum, Pak?”

__ADS_1


Hartadi hanya meminum satu tegukan singkat dari gelasnya, Hartadi menyingkirkan gelas tersebut sampai ke tepi meja agar tidak mengganggu pandangannya. Menghela napas demi mengupayakan sabar, anehnya dia mengikuti alur yang dijalankan Velo. Mencegah keinginannya sendiri untuk menyerobot basa-basi perempuan itu.


__ADS_2