
Beberapa detik yang terasa panjang, Velo menatap Hartadi dengan mulut terkunci. Keningnya mengerut dalam, mencerna dibalik ucapan Hartadi.
Jika Velo menyimpulkan garis besarnya, Hartadi tak ingin dirinya saja yang mengambil tugas untuk menentukan rencananya ke depan, pria itu ingin bersama-sama. Itu sebabnya dia meminta ‘lampu hijau’ dari Velo untuk melakukan apa.
Lantas Velo mengembangkan senyumnya. Sepertinya perasaan iri dan sensitifnya hasil dari pemandangan di kediaman Resha tadi, telah berhasil mengelabui maksud baik Hartadi.
Hartadi bukan tidak berinisiatif dalam hubungan mereka, terapi pria itu urung dengan pertimbangan jika Velo mungkin tak seratus persen setuju dengan langkahnya. Kenapa Velo jadi kekanak-kanakan begini?
“Kenapa senyam-senyum sendiri? Jangan bikin saya takut.” Tegur Hartadi dengan sesungguhnya tidak takut sama sekali.
Malah senyuman Velo terukir cantik dari bibir yang masih sering mengganggu ketenangan Hartadi. Namun dia ingin mengembalikan Velo dari apapun yang sedang menguasai pikiran perempuan itu.
“Pengen senyum aja.” Velo menghela napas lega, dia menggeser duduknya ke dekat Hartadi. “Bisa ulang pertanyaan Bapak sebelumnya?”
“Ck… mulai deh, kebiasaan kamu Vel, bikin saya ngulang omongan lagi” kepala Hartadi menggeleng pelan. “Jadi kamu mau saya ngapain selain pulang? Karena selain anter kamu pulang, memang ada rencana pulang ke rumah. Durhaka kalo saya nggak nengokin orang tua.”
“Kalo misalnya Bapak nggak keberatan, saya mau atur pertemuan Bapak sama Mamih. Saya pengen kali ini Bapak ketemu Mamih bukan berlabel adik iparnya, tapi calon suami saya, boleh Pak?” ucap Velo sambip memperhatikan Hartadi.
“Boleh, kamu atur aja waktu dan tempatnya. Lebih bagus lagi di luar rumah kamu. Saya berharap Cuma mamih kamu yang dateng, karena saya nggak mau Mas Adi tau dulu, Oke?” Ucap Hartadi tanpa ragu.
“Iya, saya pastiin Mamih aja yang dateng. Tanpa orang lain, apalagi Papih.” Balas Velo menyanggupi di rasa hangat yang menyelusup ke dalam hati tanpa diundang.
Ya… Mau apapun latar belakang pernikahan yang terkesan ‘kilat’ antea dirinya dan Hartadi, Velo tetap ingin calon suaminya menemui ibu kandungnya untuk meminta restu.
“Setelah ketemu Mamih, Bapak mau atur pertemuan saya sama Eyang?” Tanya Velo penasaran. Sementara Hartadi terdiam berfikir sejenak.
“Duduk bareng orang tua saya terjadi kalau pertemuan sama Mamih kamu lancar. Pokoknya tergantung situasi aja. Hopefully, semuanya lancar.”
Velo mengamini dalam hati, lalu langsung mengucapkan apa yang terlintas dalam kepalnya. “Eyang Putri masih sering minta Bapak buat ketemuan sama perempuan yang—”
“Enggak. Udah nggak pernah.” potong Hartadi sudah tau inti dari pertanyaan Velo.
Sang Ibu semakin hari memang semakin mengkhawatirkan kesendirian Hartadi tanpa seorang pendamping. Satu tahun terakhir ini ibunya tidak lagi mengirim profil dan kontak perempuan yang sudah dipilihkannya.
__ADS_1
Namun, sang ibu tetap mempertanyakan kapan sekiranya Hartadi akan menikah. Tidak peduli sudah sekian kali Hartadi menjelaskan bahwa dia baik-baik saja, meskipun hidup sendiri.
“Soalnya, saya tau banget selera Eyang Putri setiap pilihin perempuan buat Bapak. Saya nggak insecure atau overthinking, tapi saya masih sedikit khawatir Eyang Putri nggak terima hubungan kita. Pantas nggak saya buat Bapak, pantas nggak Bapak buat saya.” Ucap Velo sambil mengulum bibir seraya memikirkan perempuan yang paling menerima kehadirannya dalam keluarga Bratadikara, sebab tak semua orang dapat menyukai cucu yang dibawa mantu dari pernikahan sebelumnya.
“Kamu mau bikin saya ketawa ya, Vel?” Hartadi menyipitkan mata setengah geli.
“Saya lagi serius Pak, nggak ada niat ngelucu. Kenapa sih?” ucao Velo terdengar sengit.
“Lagian kamu kurang kerjaan,” tandas Hartadi semakin membingungkan Velo.
“Ck… Apaan sih! Apanya coba yang bikin ketawa? Darimana juga yang kurang kerjaan?! Nggak ngerti deh lama-lama.”
Hartadi meraih botol air mineral yang semoat dia beli saat dalam perjalanan menuju apartement, kemudian menyodirkannya ke arah Velo yang melihat botol itu dengan kerutan kedua halisnya.
“Iih, saya nggak minta minum!” tolak Velo sambil mendorong pelan air mineral di tangan Hartadi.
“Minum, kamu kayaknya kurang konsen,” paksa Hartadi yang kembali menyodorkan kembali air mineralnya ke arah Velo.
Hartadi menuruti Velo dengan menjelaskan apa yang diinginkan perempuan satu itu selagi mengawasinya minum.
“Kamu mau bikin saya ketawa, karena kurang kerjaan mengkhawatirkan hal yang nggak perlu ya?”
“Rasa khawatir saya wajar kok,” sanggah Velo membela diri.
“Bukan kamu yang harus khawatir. Tapi saya, ibu pasti serang saya habis-habisan nanti. Apalagi ibu tau liarnya saya dan kamu kesayangan ibu.” Hartadi refleks mengambil botol air mineral beserta tutupnya dari tangan Velo setelah perempuan itu selesai minum, lalu menutup botol tersebut tanpa diminta.
“Kesayangan bukan artinya mantu idaman. Tapi, saya udah siap kok ngelewatin apapun kondisi dan konsekuensinya.” ucap Velo menatap Hartadi dengan keteguhan niat.
Jauh sebelum Velo berangkat ke Samarinda dengan misi menegosiasikan Hartadi menjadi suaminya, Velo sudah memperkokoh mentalnya menghadapi orang tua Hartadi. Terselip keresahan dalam diri Velo, tapi harus dia kalahkan agar tidak mundur.
Selama ini Velo sering disodori calon-calon yang pantas oleh ibu Hartadi. Namun pada akhirnya Velo memilih anak bungsunya tersebut. Entah seperti apa Ibu Hartadi nanti, tapi Velo tidak mengharapkan adanya perubahan sikap.
***
__ADS_1
“Cieeeehhh… tambah glowing aja nih, yang abis cuti!” ucap Livia sarkas.
Sementara Velo hanya menyandarkan sebelah sisi tubuhnya ke dinding lift sambil melambaikan tangannya dengan gerakan sensual. Berusaha menggoda Livia yang masuk lift basement B1.
Kali ini penampilan keseluruhan Velo yang di pindai oleh Livia, dibalas Velo dengan memutar tubuhnya seakan model yang memperagakan pakaian desainer. Id Card sebagai karyawan Almeda group yang terkalung dalam lehernya pun sedikit bergoyang.
“Cih… geli banget! Ngapain sih lo?” Livia bersungut-sungut, tetapi akhirnya mentertawakan tingkah konyol Velo.
“Ya lagian lo, baru dateng udah inspeksi style gue.” Velo menggerutu seraya menenteng tas dan menggenggam tumbler minumnya. “Gimana kabar lo sama Aruna tanpa gue, Liv?”
“Sangat baik, Vel. Hidup kita lebih mudah selama lo cuti. Nggak ada yang ribut nyari makan siang rendah kalori, nggak ada yang takut kena sinar matahari, nggak ada yang rempong pengen—”
Velo menyenggol Livia dengan sikutnya Ketika pintu lift kembali terbuka. Spontanitas yang berhasil membungkam Mulut perempuan itu. Kalau mereka sudah bersama, sindir-menyindir yang manis sudah biasa terjadi dan tidak ada yang sakit hati.
Beberapa karyawan masuk ke dalam lift, Bergabung dengan Velo dan Livia yang dikenal oleh para karyawan tersebut meskioun tak satu departement. Level sekretaris direksi dipandang paling bergengsi, meskioun menjadi sasaran gosip yang paling panas.
Wangi parfume bercampur aduk di dalam lift, memberi efek pusing bagi Velo yang sering tidak cocok dengan wewangian. Lantas Velo menempatkan punggung tangannya di bawah hidung, berusaha mengurangi wangi yang tercium.
“Ck… Pusing deh gue.” Bisik Velo memberitahu Livia yang nampak tenang menghadapi keramaian di dalam kotak besi tersebut.
“Pusing karena efek Parfume yang nano-nano sekarang atau lo lagi ‘isi’?” Livia membalasnya tanpa melirik Velo, perempuan itu tengah memandangi angka-angka yang berubah di layar LED lift.
“Iya, gue ‘isi’…” Velo mendapat pelototan tak percaya dari Livia. Kalau mereka hanya berdua di dalam lift, sudah dipastikan perempuan itu akan mengguncang-guncang bahunya meminta penjelasan.
Livia bergeser ke arah Velo perlahan sampai mempertemukan kedua bahu mereka, lalu mencolek lengan Velo yang terhalangi blazer. “Ngibul, omongan gue becanda loh tadi, lo nggak serius isi kan? Pacar nggak punya berlagak isi. Isi perut lo fitbar kali!”
Velo hampir terkekeh Dengan tebakan fitbar yang tidak meleset. Pada pagi hari, Velo akan mengkonsumsi satu bungkus fitbar dan susu rendah lemak. Tapi, Velo yang usil segera menjawab sombong.
“Cih, siapa bilang gue nggak ounya pacar?”
“Waaahhh, jangan-jangan lo cuti kemarin ad something ya?” desis Livia seraya menggandeng lengan Velo agar tidak kabur, sebab pintu lift sudah terbuka di lantai khusus petinggi Almeda Group yang juga menjadi tempat mereka bekerja.
cung siapa yangau crazzy up???? 🤔🤔🤔
__ADS_1