
"Apa ini? Kenapa kami dibawa ke sini?!" bentak Pria paruh baya itu.
Sementara sang wanita hanya menatap nisan yang bertuliskan
...إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ...
...Akhmad...
...Bin...
...L. Williams...
...Lahir : 07-07-1970...
...Wafat : 12-08-2010...
"Kenapa??"
"Apa ini lelucon?! Kau bilang akan membawa kami menemui putra kami...!!" bentaknya.
"Saya minta maaf Tuan, jujur saya tidak tau harus bilang apa saat Tuan Besar dengan antusias ingin menemui putra anda... Tapi apa daya saya ketika saya menemukan fakta kalau Tuan Muda sudah---" ucap anak buah itu sambil berlutut menunduk memohon maaf.
"Kenapa kamu tega L... Kenapa kamu tega meninggalkan kami lebih dulu... kamu tau kami sangat menantimu pulang... Tapi kenapa kami harus melihatmu terbujur kaku disini?" tangis mulai tidak terbendung dari Wanita paruh baya itu memeluk batu nisan.
__ADS_1
sang pria paruh baya pun hanya menjatuhkan kedua lututnya diatas tanah dengan muka menyesal dan tangis yang sudah tidak terbendung.
***
"Non,"
"Ya, kenapa Mba?" Velo menatap asisten rumah tangganya yang berlari kecil menghampirinya. Dia melirik Hartadi yang ikut memalingkan wajahnya, pria itu bahkan bergeser ke tepi pintu mobil.
"Non, masih lama di luar?" Ucapnya sambil tergopoh-gopoh mendatangi mobil dan berhenti sambil mengatur napas. Kruk masih dipegang erat menggunakan kedua tangan. "Bapak minta Non masuk. Ibu juga udah nyiapin camilan, katanya biar makan bareng sama adiknya Bapak. Ibu pesen jangan langsung pulang, udah mau deket jam makan siang."
"Bentar ya, Mba." Pandangannya jatuh pada jemarinya yang terserang Tremor. Punggungnya dia sandarkan dan menengadahkan kepalanya ke atas, menarik dan membuang napas untuk mengurangi segala perasaan campur aduk yang mendekam di hatinya. "Sebentar ya, Mba. Aku pusing."
Asisten rumah tangga itu mendadak cemas. Terlihat dari wajah putri majikannya, perempuan itu memang terlihat tidak sehat. Apalagi dia baru pulang dari rumah sakit. "Oh iya Non, apa mau mba bantu ke dalam buat ambilkan obat?"
"Mba, bisa tolong tutup kuping dulu?!" Ucapnya sambil meluruskan kepalanya melihat kearah sang asisten yang hanya mengikuti apa yang diminta putri majikannya itu.
"Kenapa?" Tanya Hartadi mulai waswas saat Velo menoleh padanya. Entah salah lihat atau itulah yang didapatinya kini. Tetapi pandangan tidak biasa menguasai manik mata perempuan itu.
"Saya nggak bisa tidur nyenyak disini. Saya nggak mau disentuh Papih lagi. Saya takut jadi pengkhianat. Kasihan Mamih kalau saya tinggal bareng Papih. Aku nggak tau lagi harus gimana Pak... Kasian Mamih..." Ucapnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Namun kewarasannya masih mengikat kuat. Dia hampir dibutakan ketakutan yang bisa menenggelamkan pikiran sehatnya.
Selama besama, Velo disuguhkan bukti bahwa yang paling pantas menghadapi ayah tirinya benarlah Hartadi. Dia percaya jika pria itu katakan baik-baik saja. Tapi masalahnya, dia pernah tinggal dan hidup di rumah itu. Dirinya pula yang mengalami hal-hal tidak terduga sehingga pergi ke dapur di malam hari pun bagai kegiatan yang menakutkan. Sentuhan-sentuhan sekilas sempat dia alami, naasnya tidak sekali dua kali. Setiap tidak ada mata yang menyoroti, ayah tirinya akan berusaha menjangkau. Entah itu pinggulnya, lengannya atau bokongnya. Velo menahan mual sampai ke ujung lidah.
Kenangan itu menumpuk luka yang ingin dihapusnya. Selama kuliah, Velo mengkonsultasikan pengalamannya dan tenang bersama arahan dari seorang psikiater. Senyumnya terkembang cerah, dapat membaur dengan teman-teman, dan mampu mempercayai laki-laki. Namun, luka memang dasarnya membekas. Sulit dihapuskan dari ingatan. Dan bila terus berada di dalam rumah, seru-seruan mengkhianati ibunya kerap menghantui malam sepinya. Itu mulanya dia berteman dengan rokok, daripada terbaring diatas ranjang dengan pikiran kosong. Velo menggenggam kedua tangan Hartadi. Air matanya tidak menggenang, namun dia tengah mempertahankan otaknya mencerna situasi untuk menemukan jalan lain.
__ADS_1
"Kunci pintu, tidur sama adik-adik saya, semuanya pernah saya usahain. Tapi tetep nggak bisa tenang. Mau lari, bawa saya lari! Saya nggak mau disini, Pak! Bapak mau bantu kan? Tolongin, Pak..."
"Vel," Hartadi meloloskan tangannya dari Velo. Dia pijat pangkal hidungnya sekilas. Gemuruh kemarahan mulai menggelitik ketenangannya. Kesungguhan di mata perempuan itu mengirim tusukan pada uluh hatinya. Dipegangnya kedua sisi bahu Velo, membuat perempuan itu untuk tetap tenang. "Di rumah ini, Mas Adi tetep nyoba sentuh kamu dulu? Bukan di malam itu aja? Perjelas, Vel. Daripada saya samperin Mas Adi ke dalem. Kamu tau saya berani bonyokin dia sekarang di depan Mba Asri kan?"
Sontak saja sesuatu mencelos dalam diri Hartadi saat kepala Velo mengangguk kuat. Velo membenarkan praduganya, menyuarakan sepenggal pengalaman ketika menghuni rumah ini. Membuat napas Hartadi terputus-putus, belum menyeimbangkan gulungan emosi.
"Saya punya pilihan lain untuk kita hari ini."
"Kamu percaya semua bakal baik-baik saja sama saya kan? Cukup percaya saya." Hartadi menatap wajah Velo. Perempuan itu dingin, suhu tubuhnya tidak sehangat yang dirasakan Hartadi sebelum ini. Rahangnya mengeras, menyadari keputusannya akan beresiko. Namun, egonya mendukung satu hal yang berkecamuk dalam kepalanya sekarang.
"Mau pergi dari sini." Ulang Velo mempercayai pria itu. Keinginannya bulat untuk menolak terperangkap di rumah itu.
"Rapihin duduk kamu lagi. Handphone dan tas kamu ada kan? Belum dibawa Mba Asri kan?" Hartadi membantu Velo membenarkan duduknya yang sudah menyerong. Matanya kemudian mengikuti telunjuk Velo, mengarah pada tas yang tergeletak tidak jauh darinya. "Bagus, tunggu bentar. Saya samperin mba."
"Mba, udah." Hartadi memberi kode agar asisten rumah tangga itu melepas kedua telapak tangannya dari telinga. Dia meraih kruk diiringi ekspresi kebingungan lawan bicaranya. "Ini saya ambil, mba sekarang boleh masuk. Dan tolong sampaikan Velo dibawa pulang sama saya adiknya pak Adiputra. Mau nengokin Velo boleh, tolong datengnya ke rumah saya."
"I... Iya Pak." Asisten rumah tangga itu membalas gugup. Agak terintimidasi tinggi pria dihadapannya, berikut wajah kelam yang tercetak jelas tanpa berusaha beramah tamah.
Kembali ke dalam mobil dan duduk di sisi Velo, Hartadi meletakkan kruk di bangku belakang. Setelahnya dia ambil tangan kiri Velo menautkan jari jemari mereka bersamaan. Tidak ada debat percaya mempercayai lagi, bersedia duduk berdampingan dengan pintu mobil tertutup menjadi bukti saling mempercayai. Dan tanpa memunda lagi, Hartadi meminta Mardi menjalankan mobil.
"Ke rumah saya, Mar. Nanti mampir ke sederhana dekat sana, saya laper."
Velo mencekik diam-diam. Ck... Nasi Padang!
__ADS_1
***