Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Diam Artinya Kamu Butuh Apa-Apa


__ADS_3

“Sial—“


“Tutup pintunya!”


Teriakan Velo teredam suara bantingan pintu yang memeriahkan pagi di lantai dua.


Velo hilang keseimbangan, dia hendak meraih baju yang berada di lemari sebelum Hartadi menerobos masuk tanpa ketukan permisi menandakan kehadiran pria itu.


Gerakan refleks Velo membuat kruk yang tersemat di bawah ketiaknya terlepas. Sedangkan, satu kakinya yang menopang bobot tubuh gemetar goyah sampai kemudian tubuhnya meluruh ke lantai tanpa mampu ditahan. Betapa cepat kejadian itu sampai menggapai handle lemari pun tidak sempat.


“SSShhhhhiiiitTTTt... Sakit banget Ya Lord....” decak Velo ingin menumpahkan jeritannya kembali.


Akhirnya, Velo memilih misuh-misuh untuk mengurangi kesal akibat kelalaiannya. Dia lupa mengunci pintu kamar selagi akan memakai pakaiannya. Biasanya dia tidak gagal dengan terjatuh seperti itu, biarpun Mbok Niniek terlambat mendatangi kamarnya dan bertepuk tangan mendapatinya selesai berpakaian.


Dan sepertinya, Velo tidak akan sanggup bangkit dengan jaminan kekuatannya sendiri. Maka dari itu, dia memastikan penampilannya terlebih dahulu bila ingin meminta bantuan Hartadi.


Namun seketika menghadirkan frustasi, tubuh atas Velo hanya tertutupi bra yang melapisi area terintimnya.


“Duh... Ada-adanya, mana Mbok udah berangkat ke pasar lagi... gimana kau mau berdiri!!” ucapnya sambil berusaha menarik kruk ke sampingnya untuk dijadikan tumpuan saat dia berdiri, tapi rasa nyeri seakan memperingatinya untuk tidak gegabah. “Ck... Masih sakit banget nih kaki, kapan sembuhnya sih? Jangan kelamaan dong! Kalau kata orang rezeki dipatok ayam, ini gue bisa-bisa keberuntungan gue yang dipatok waktu. Yuk sembuh yuk.. please!!”


“Kamu nggak apa-apa, Vel?” Velo melihat kearah pintu yang telah terbuka kecil.


“Mmmh... Nggak apa-apa, Mas.” Jawabnya bimbang antara ingin meminta tolong pada pria yang ada dibalik pintu itu atau menunggu kepulangan Mbok Niniek saja.


Pagi ini Hartadi mendatangi kamarnya bukan sekedar menjemput untuk menikmati sabtu pagi bersama. Pria itu menggantikan rutinitas Mbok Niniek yang seharusnya menuntunnya keluar kamar. Pasalnya, dokter orthopedi yang ditunjuk Hartadi yang menangani frakturnya telah datang. Hal itu melipatgandakan kebimbangan Velo kalau bersikeras menunggu Mbok Niniek.


Tidak etis kan, mengulur-ngulur waktu dokter Frans yang memiliki jadwal praktik paten.


“Beneran? Kamu kok kayak nggak yakin gitu ngomongnya.”

__ADS_1


“Nggak usah nungguin Mbok Niniek pulang baru ngomong. Aku bisa bantuin kamu. Kalau butuh apa-apa bilang aja.” Lanjut Hartadi meyakinkan Velo. “Velo?” ucapnya masih sabar menunggu sambil membiarkan kedua tangannya menetap di samping tubuh. Tidak terdengar suara Velo lagi. “Diam artinya kamu butuh apa-apa, atau nggak butuh apa-apa?”


Menunggu kepastian Velo, Hartadi istirahatkan sisi tubuhnya pada kusen pintu. Tanpa sepengetahuan Velo, dia masih merutuki keteledorannya dalam batin.


Alih-alih mengetuk pintu selayaknya yang selalu dia terapkan, tadi entah ke mana fokusnya pergi hingga melenggang bebas tanpa permisi. Dia tidak melupakan fakta, kalau ini bukan pertama kalinya mereka mengalami pengalaman serupa.


Di Hotel saat di Samarinda, Hartadi dilempari tuduhan mencuri start oleh Velo. Tuduhan paling keji, bukan? Pandangannya hanya tidak sengaja berlabuh pada Velo yang lupa mengenakan bra di dalam kaosnya, bukan bermaksud ‘sengaja’. Dia tengadahkan kepala sembari menahan senyuman geram bercampur geli tiap kali diingatkan kejadian tersebut.


Pagi ini, apakah dirinya akan kembali dicerca mencuri start lagi? Karena, mata laparnya meraup ‘semuanya’ dengan jelas.


****


Sudah berulang kali Velo tegaskan, dia tidak memperdulikan ucapan miring orang lain terhadapnya. Gunjingan bukan hal asing bagi Velo, dia sering menerima di depan hidungnya, tidak lagi hanya di belakang punggung. Profesinya mendampingi ‘seorang pria’ di lingkungan kantor, menjadi kesalah pahaman telak akibat nama besar Bratadikara yang dia pikul tanpa sengaja.


Biarpun pundi-pundi rupiah yang dihasilkannya bersih tanpa menjual kemolekan tubuh, tiap langkah kehidupan Velo tidak luput dikomentari. Dia saja yang belajar menganggap enteng semuanya. Sebetulnya mudah bagi Velo menduduki kursi yang Bratadikara siapkan bersama kakak pertama Hartadi dan sepupu laki-lakinya, Arrow.


Dan Naasnya, kini dia alami hal mengerikan.


“Hmm, kebaca banget ada apa-apa kalau kamu mulai irit ngomong.” Ucap Hartadi mulai menyimpulkan. “Aku mau masuk. Kamu udah pake cel— ck... pakaian lengkap?” lanjutnya sambil mendecak lidah.


Mulutnya hampir kebablasan lalu menggeleng kepala mengusir bayangan yang berkelebat dalam benaknya sambil tersenyum sinis.


“Tunggu bentar, Mas. Tapi jangan kemana-mana. Tetep disitu aja!”


“Iya, nggak perlu buru-buru. Dokter Frans orangnya santai, dia ngerti kamu belum bisa gerak cepat. Terus udah disuguhin minum sama camilan, jadi anteng.” Ucapnya panjang lebar. Ya, Kadang pada situasi yang tidak tertebak, Hartadi beralih menjadi penuh pengertian.


‘Jangan ngeguruin Mamih, Vel. ART nggak dua puluh empat jam nemenin kamu. Pulang atau Mamih bener-bener nyerah sama kamu.’


‘Kamu yang minta Bara ngehibur Mamih, kan?’

__ADS_1


‘Adik kamu barusan keliatan banget usahanya.’


Voice message ibunya pagi ini menyeruak dalam ingatan. Selayaknya seorang ibu pada umumnya, Velo meyakini bila yang sesungguhnya membuat Asri kecewa—hingga vertigo kembali menghantui, adalah dirinya yang tidak segan hidup serumah bersama seorang pria. Tanpa izin, tanpa ikatan, dan mengundang segala kemungkinan berbau seksual terjadi. Bukan persoalan dia tidak pulang ke rumah saja.


Velo pun menyeret tubuhnya mendekati lemari. Dia panjangkan tangan, upayanya meraih handle lemari yang tampaknya cukup kuat dijadikan pegangan. Napas Velo dihembuskan sekali dengan berat, ingin menyemangati diri sendiri.


“Ck...!! Asshh!! Bisa Vel, lo pasti bisa! Daripada Mas Har pergokin lagi lo pake ginian doang. Iihh! Malu-maluin.” Gerutunya menyemangatinya untuk berusaha bangkit.


“Please pulang, Mbok. Maaf aku selalu sok bisa. Sekarang giliran kesusahan aku nyari-nyari Mbok... hiks hiks..”


Di pintu kamar, Hartadi mengangkat kepala yang semula tertunduk menatap lantai. Dia tolehkan kepalanya, membuat wajahnya berhadapan dengan celah pintu. Sudut di mana Velo berada tidak terjangkau mata. Bersyukur atas itu, karena dia menolak paginya tercemari isi pikiran vulgar khas pria.


“Vel, kamu orang yang nerima dikasih-kasih barang nggak? Semacam hadiah di waktu ulang tahun.”


“Tergantung niat orang yang kasih hadiah. Kalau sekedar Cuma-Cuma atau maksud baik tertentu, bisa aku terima. Tapi kalo ada maunya apalagi hal nggak bener, makasih deh.” Velo mengatur napas seraya bersandar lemas pada pintu lemari.


Bergidik tanpa mampu ditahan, pendingin ruangan membuat lantai yang dia duduki menusuk kulit. Matanya lalu mengerjap penasaran. “Kenapa emang, Mas?”


“Nggak,” ucap Hartadi singkat sambil mengusap pelipis merasa konyol, dia tentu tidak memaksa Velo lekas mengijinkannya masuk.


“Mau kasih handphone baru buat kamu. Dari kemaren aku perhatiin, kamu makin jarang pegang hape. Layar hape kamu udah nggak responsif kan?”


“Oh... ternyata soal aku yang jarang pegang hape ya? Pantes aku ngerasa kamu ngeliatin terus dari kemaren, kayak ngeobservasi sesuatu. Tapi aku diem aja, nggak mau sibuk nanya.” Ucap Velo mencairkan suasana hati menyisipkan gurauan.


“Abisnya pelajaran yang aku punya as a secretary—orang yang jam kerjanya lagi tinggi, nggak boleh direcokin kalau nggak terima dibales sinis. Apalagi, karakter orang kayak kamu.”


“Capek kalau ‘gelut mulut’ sama Mas ya, Vel?” Hartadi mendengus atas kalimat singgungan yang akurat tersebut. Dia membalas Velo menggunakan istilah yang sempat mereka perdebatkan di meja makan—gelut mulut.


“Kamu juga pantes nggak sevokal biasanya. Lagi nyoba ngerti situasiku?”

__ADS_1


__ADS_2