
“Kamu ini pintar bikin laki-laki geer,” ledek Hartadi sambil menarik tangannya dari Velo. “Jadi dari list mantan kamu, nggak ada yang punya jiwa pejuang?”
“Saya nggak bisa salahin seratus persen kemampuan mereka, atau mereka yang kelewat lembek kayak yang Bapak bilang tadi. Sekali papih kasih ultimatum, masa lalu mereka dibabat sampai habis.” Ucap velo sambil tersenyum kecut.
“Iya, saya tau kamu pernah bilang. Tapi, apa nggak ada pacar kamu yang berusaha duduk bareng Mas Adi? Istilahnya untuk mengambil restu? Setau saya Mba Asri ada di rumah terus.” Hartadi menyipit, karena sudut pandang Velo membuat imej Adiputra seolah ‘bisa segalanya’.
“Sebelum sempat ke tahap mengambil restu, biasanya Papih datengin pacar saya di tempat kerja. Di ajak ngomong empat mata secara spontan. Di situ Papih selalu tekan pacar saya, peringatin mereka nggak pantas buat saya.” Velo menegaskan. “Dan, janji mau mempersulit kerjaan atau ngancam dari kejelekan mereka.”
Enggan menyudahi, Hartadi masih ingin memenuhi beragam tanya dalam kepalnya. “Mas Adi datengin mereka tiba-tiba, di tempat kerja pula, dan mereka mengiyakan aja?”
Velo melipat kedua tangannya di atas meja, memandang Hartadi dengan sinar geli yang tidak di tutupi. “Sadar kan nama keluarga Bapak terpandang? Pacar saya nggak mungkin nolak kedatangan orang yang mau nemuin mereka atas nama ‘Bratadikara’.”
Hartadi melirik mantan kekasih Velo sejenak. “Memang bukan bergantung ekonomi dan status sosial, tapi saya liat mantan kamu orang mampu. Dia nggak nyoba gebrakan apa-apa?”
“Namanya Caesar, Pak. Keluarganya punya bisnis konstruksi. Orang mampu, tapi nggak punya keberanian.” Velo mencuri lihat anak perempuan di samping Caesar, kedua matanya pun melembut. “Berani lapang dada menerima masa lalu mantan saya, nggak menjamin dia mau mempertaruhkan segalanya untuk saya.”
Hartadi tidak lantas memberikan responnya, dia amati perempuan yang duduk di depannya itu untuk beberapa waktu yang lama.
Entah apa yang memikat pikirannya kali ini, Hartadi ingin sekali memamerkan hubungan mereka di depan mata mantan kekasih Velo. Memantik kecemburuan pria itu lebih dari sekarang.
Jika Hartadi menjadi pria itu, dia akan mengusahakan berbagai macam jalan keluar seutuhnya Velo berhasil dimiliki. Walau ancaman Adiputra membayang-bayang. Pasalnya, sepenggal ucapan Velo yang begitu tulus menerima calon pendampingnya, menjadikan perempuan itu berhak diperjuangkan.
Tak harus memastikan pada Velo, Hartadi tau pria yang dibicarakan mereka itu adalah bukti dari mantan yang paling membekas. Harapan besar Velo yang pernah tersia-siakan.
Hartadi sedikit menunduk ke arah Velo ditengah meja yang membatasi. “Jangan pernah menaruh harapan besar terhadap seseorang, Velo. Mau itu siapa pun, apalagi saya. Kamu nggak akan tau kapan dikecewakan dan disakiti, karena harapan kamu nggak sesuai dengan ekspetasi yang diwujudkan orang itu.” Velo pun hanya mengangguk.
__ADS_1
“Dulu saya memang naif, Pak. Sekarang harapan saya Cuma saya sendiri, dan Tuhan. Tapi, Bapak termasuk orang yang saya semogakan.” Hartadi hanya terdiam tanpa berkata-kata, dia harus memutar otak cerdasnya untuk menjawab Velo.
“Saya pasti berusaha juga untuk komitmen kita.”
“Ah, masa sih?” ucap Velo sengaja menggoda Hartadi untuk mengurangi ketegangan yang muncul dari kebisuan pria itu sebelum mampu menguasai dirinya sendiri.
“Kamu maunya gimana?” Hartadi membalik situasi dengan cepat. “Dari raut muka kamu kayaknya kamu puas denger saya bilang gitu deh. Saya masih inget juga sama omongan kamu Vel, yang katanya kamu mau nguasain saya sendirian. Udah berhasil belum?”
“Lah, kok nanya saya?”
“Evaluasinya tetap di tangan kamu,” ucap Hartadi sambil mendorong ponselnya yang berada di atas meja ke arah Velo. “Handphone saya juga mau di cek sekalian nggak? Siapa tau aja kamu kecolongan.”
Velo tidak melirik handphone Hartadi sedikit pun, dia hanya menatap pria itu sangsi. Karena pasti Hartadi hanya sekedar iseng, jika suaranya terdengar ringan. Memang tidak begitu berbeda dengan Hartadi dengan mode serius, Velo hanya cepat menyadarinya saja.
“Dilihat aja handphonenya kalo penasaran,” tantang Hartadi.
Velo menjauhkan handphone Hartadi. “Nggak mau kalau di suruh liat, tapi nggak dikasih passcode nya. Apaan Cuma kebagian lockscreen.”
Kontan saja Hartadi menghalangi tawa yang hampir menyembur dengan kepalan tangan. Ada saja yang bisa dijadikan bahan untuk membalasnya telak. Velo memang termasuk unik dan tidak membosankan.
Tipikal perempuan yang sudah pasti meningkatkan darah tinggi Hartadi, karena dia akan sesering mungkin dibuat keki.
“Kamu pasti tau. passcode saya terdiri dari tanggal, bulan dan tahun kelahiran Ibu.” Ucap Hartadi sambil melihat Velo yang tersenyum tulus ke arahnya saat tau kode sandi untuk Handphonenya.
__ADS_1
“Iya, saya tau. Tapi, beneran Bapak kasih izin saya buat cek cek handphone saya kayak istri pecemburu gini?” Velo mendapati anggukan yakin dari Hartadi, maka dari itu dia tidak lagi sungkan untuk meraih handphone Hartadi.
“Cek sepuas kamu, Vel.” Hartadi tidak menahan diri untuk tersenyum, walaupun Velo tidak mengetahuinya karena perempuan itu tengah sibuk menggulirkan jari telunjuk di atas layar handphone.
Selama statusnya keluarga maupun atasan, Hartadi tidak pernah mencari tau sejarah hubungan Velo dengan pria-pria lain. Namun Hartadi mengerti perempuan itu tak pernah menilai sebuah hubungan berbekal keindahan luar semata.
Hartadi berani mengatakan jika saja Velo tidak di persulit oleh Adiputra, perempuan itu pasti sudah menikah dan mengisi hari-harinya dengan interaksi hangat dengan sang suami. Tidak harus menyelami komitmen tanpa cinta dengannya, kehidupan yang akan abu-abu karena dia telah lama tidak mencintai.
“Dimakan rawonnya, Pak! Nanti keburu dingin kan jadi nggak enak.” Ucap Velo sambil menyimpan handphone Hartadi setelah inspeksi singkatnya.
“Ini mau makan,” Hartadi mengangkat sendoknya. Tidak sepanik Velo, Pria itu dengan santai memotong kuning telur asin dan menyuapkannya ke dalam mulut.
“Gimana Vel?” tanya Hartadi Selang menelan makanan, merujuk handphonenya.
“Aman,” jawab Velo mengabaikan senyum di sudut bibir Hartadi. “Ck… Jadi lupa kan tujuan ke sini mau makan” Velo tidak memperdulikan sekitarnya lagi yaitu keluarga kecil Caesar yang dia maksudkan. Dia lalu menahan ringisan, karena mengabaikan makan lebih dari yang seharusnya.
Namun mata Velo menangkap wadah kecil berisi sambal. Melihat Hartadi belum mengambil sambal tersebut, dia lalu mengangkat wadah kecil itu dan membaui aroma yang menguar. Samvil menghela napas dia menaruh lagi wadah itu ke atas meja.
“Kirain saya sambal terasi. Kalau iya, bisa mules-mules tuh perut Bapak. Dulu kan meeting sempet batal, gara-gara Bapak nggak sengaja makan sambal terasi.”
“Iya, saya inget. Padahal saya meeting sama rekanan Singapore yang udah di jadwalin dari jauh-jauh hari. Tapi untung sih, kamu langsung beliin obat sembelit.”
“Inisiatip saya itu, soalnya Bapak nggak keluar-keluar dari kamar mandi,”
“Saya benci sambal terasi,” ucap Hartadi sambil mendecakkan lidah.
__ADS_1
Keduanya terlibat percakapan santai sambil menikmati makanan yang tersaji. Diselingi pengalaman-pengalaman yang pernah mereka bagi berdua.
Tak lama… tepat ketika Velo membersihkan sudut bibirnya dengan tissue, suara seseorang terjatuh dan tangis yang mengudara terdengar.